Sepulang dari masjid pada Senin subuh, Papa tidak langsung masuk rumah. Ia duduk di bangku teras dengan sarung yang ujungnya terkena embun, dan Adam, yang biasanya langsung menyeret kaki ke kamar untuk tidur lagi, ketahuan dari cara langkahnya melambat.
“Duduk.”
Adam duduk. Dari dapur Mama mengantar dua cangkir teh tanpa mengucap sepatah kata pun, hanya menepuk punggung anak bungsunya sekali, lalu pergi. Janji untuk menahan lidah, rupanya, dijalankan Mama sampai ke teh.
“Sore ini kamu mau bilang apa ke Diana?”
“Adam mau minta maaf soal Hana, Pa. Soal calon istri itu. Terus Adam mau jelasin kenapa waktu itu Adam sampai bohong, soalnya Adam kan lagi ...”
“Berhenti di kata ‘jelasin’.” Papa menyeruput tehnya. “Maaf yang disertai pembelaan itu cuma cara lain untuk minta dipuji. Kalau kamu sudah menjelaskan, lalu dia bilang tidak apa-apa, kamu merasa selesai. Padahal yang selesai hanya rasa bersalahmu, bukan urusannya.”
“Jadi Adam harus bilang apa?”
“Yang salah, katakan salahnya. Berhenti di situ.” Papa menatap halaman yang mulai terang. “Dan jangan datang untuk mendengar bahwa kamu orang baik. Datanglah untuk mendengar apa pun yang mau dia katakan.”
Adam memegang cangkirnya dengan dua tangan. Tehnya terlalu manis, tetapi ia menghabiskannya.
===
Sorenya, Adam duduk di dalam mobil di depan sebuah rumah bercat putih gading dan menghabiskan sembilan menit untuk satu pekerjaan: tidak membuka pintu.
Ia sudah menyiapkan tiga pembukaan. Yang pertama lucu, yang kedua sopan, yang ketiga hampir seperti pidato. Sepanjang jalan ia mengujinya di depan spion dan semuanya terdengar seperti orang yang membela diri. Jadi ia menghapus ketiganya dari kepala dan turun dengan tangan kosong.
Pagar rumah itu setengah terbuka. Seorang lelaki yang Adam kenal, bertubuh tinggi dan masih memakai kemeja kerja yang lengannya digulung, sudah berdiri di ambang pintu seolah mendapat kabar lebih dulu. Dari belakangnya terdengar suara televisi yang dikecilkan.
“Masuk, Dam,” kata suami Diana. “Berandanya aja ya. Pintu aku buka, aku di dalam.”
“Siap. Makasih, Bro.”
Lelaki itu menepuk bahu Adam sekali, lalu menghilang ke ruang tamu. Ia tidak menutup pintu. Adam, yang pernah duduk di beranda yang sama sebagai lelaki lain dengan senyum lain, menyadari betapa rapi cara orang ini menjaga rumahnya.
Diana keluar membawa dua gelas teh dingin di atas nampan. Rambutnya digelung asal, daster rumahnya bermotif bunga kecil, dan ia kelihatan lebih tenang daripada Diana yang Adam ingat. Ia meletakkan nampan di meja rotan dan duduk di kursi seberang.
“Muka lo kayak mau dieksekusi,” katanya.
“Gue memang mau.” Adam duduk. “Boleh gue ngomong dulu sampai habis? Kalau lo potong, gue nggak jadi ngomong.”
Diana mengangkat alis, tetapi mengangguk.
“Pertama,” kata Adam. Suaranya keluar lebih kecil dari yang ia rencanakan. “Di resepsi lo, gue bilang ke lo Hana itu calon istri gue. Itu bohong. Gue pakai dia buat nunjukin ke lo gue baik-baik aja. Gue rangkul dia tanpa izin, di depan lo, dan dia kaget setengah mati. Dia nggak salah apa-apa, dan lo juga nggak salah apa-apa. Itu salah gue.”
Diana tidak memotong. Gelas di tangannya berembun.
“Kedua. Lima tahun kita bareng, gue nggak pernah serius sama lo. Gue enak-enak aja jalan, ngajak makan, ngomong sayang, tapi kata nikah nggak pernah sekali pun keluar dari mulut gue. Gue anggap itu bisa nanti. Dan waktu lo pergi, gue marah, padahal lo nggak ninggalin orang yang berani. Lo ninggalin orang yang cuma betah.” Adam menelan ludah. “Gue minta maaf, Di. Bukan supaya lo bilang gue nggak apa-apa. Gue cuma nggak mau bawa ini terus.”
Selesai. Tidak ada bagian ketiga. Ia sudah membuang yang ketiga di jalan.
Beberapa detik berlalu. Di kejauhan seorang anak menjerit tertawa mengejar layang-layang. Lalu Diana menaruh gelasnya di meja, memegang perutnya, dan tertawa. Tawa itu keras, lepas, dan jauh dari yang Adam bayangkan.
“Di ...”
“Maaf, maaf.” Diana mengusap sudut mata. “Dam, gue udah tahu itu bohong.”
“Hah?”
“Sejak lo rangkul dia di resepsi gue. Gue lihat mukanya. Perempuan yang tunangan sama lo nggak bakal pucat begitu dan nggak bakal menjauh sedetik kemudian.” Ia menggeleng, masih tersenyum. “Dan lo tahu apa yang bikin gue ketawa di dalam hati waktu itu? Lo kelihatan panik. Adam Rizki Pratama yang gue kenal lima tahun, panik gara-gara ketahuan bohong sama perempuan yang bahkan bukan pacarnya.”
“Skak mat,” gumam Adam, dan mukanya memanas.
“Terus soal lima tahun.” Senyum Diana menipis, bukan jadi pahit, melainkan jadi sungguh-sungguh. “Gue mau jujur juga. Gue nggak pergi gara-gara ada orang lain. Gue pergi karena tiap kali gue ajak lo ngomongin masa depan, lo bercanda. Dua tahun gue nunggu lo mulai. Tiga tahun berikutnya gue cuma nunggu gue capek.” Ia menatap pintu terbuka di belakang Adam, ke arah televisi yang berdengung. “Gue nggak benci lo. Gue cuma nggak bisa nikah sama orang yang nyaman jadi pacar.”
Kalimat itu menusuk dengan cara yang aneh, bersih dan tanpa dendam. Adam merasa seolah seseorang membuka jendela di ruangan yang pengap selama bertahun-tahun.
“Terima kasih udah jujur,” katanya.
“Terima kasih udah datang.” Diana menyesap tehnya. “Hana tahu lo ke sini?”
“Dia yang nyuruh. Bukan buat dia. Dia bilang selesaikan buat gue sendiri.”
“Pinter.” Diana tertawa lagi, lebih pelan. “Perempuan yang bilang begitu itu yang lo dengerin, Dam. Yang nggak mau lo rangkul tanpa izin. Dulu gue juga ngerasa risi waktu lihat cara lo ngelihat dia, padahal gue yang nggak pernah lo lihat begitu.”
Adam diam. Dari dalam rumah suami Diana batuk kecil, sengaja, tanda ia belum pergi dan belum mengintip.
Mereka mengobrol sepuluh menit lagi tentang hal-hal kecil, rumah, kantor, dan seorang kucing yang tiap malam mencuri sandal. Adam tertawa di bagian kucing, lalu tersadar bahwa itu tawa pertamanya hari ini yang tidak ia ambil dari persediaan. Dari balik pintu, suami Diana menyodorkan sepiring pisang goreng tanpa menampakkan wajah, dan Diana menerimanya dengan gaya kurir.
“Dia dengerin tiap kata, lo tahu,” bisik Diana.
“Gue tahu. Gue rasa dia orang baik.”
“Dia orang yang nggak pernah bercanda soal nikah.” Diana menyodorkan piring itu ke Adam. “Makan, Dam. Muka lo kurus.”
Ketika Adam berdiri, Diana mengantarnya sampai pagar.
“Dam.”
“Hm?”
“Jangan jadi lelaki yang nyaman. Jadi lelaki yang berani.”
===
Adam menyalakan mesin tetapi tidak menjalankan mobil. Lampu sein kirinya berkedip sia-sia di kaca spion. Ia menunggu rasa yang biasa muncul kalau ia mengingat Diana, sesak, rindu, atau marah yang manis, dan tidak ada yang datang. Hanya sebuah ruangan kosong yang bersih, dengan jendela terbuka.
Ia menelepon Papa. Dering kedua langsung diangkat.
“Pa. Adam sudah selesai.”
“Alhamdulillah.” Suara Papa tenang, seperti orang yang sudah menunggu di depan telepon sejak siang. “Dia bilang apa?”
“Dia ketawa, Pa. Dia sudah tahu semuanya dari dulu.”
“Orang yang sudah selesai memang bisa tertawa.” Ada jeda. “Pulang, makan. Dan Dam, tinggal satu lagi.”
Adam menatap ponselnya. Di layar, di bawah nama Papa yang sedang menyala hijau, ada notifikasi yang sudah empat belas kali ia abaikan. Satu nama yang selama ini ia kunci dalam senyap. Pesan terakhirnya baru masuk sepuluh menit yang lalu.
Dam, aku mau ketemu. Rabu, di kafe kamu, jam sepi. Kali ini jangan menghindar.