Adam tidak membalas pesan itu. Blokir pada nomor itu sudah ia buka sejak Hana menyuruhnya menyelesaikan urusan Diva, supaya tak ada pintu yang ia kunci diam-diam, dan ia tidak menutupnya lagi. Ia tidak mengganti kata sandi, tidak menyuruh Robi menjaga pintu. Rabu pukul dua lewat sepuluh, jam ketika kafe nyaris kosong dan mesin pendingin es krim berdengung paling keras, ia duduk di meja dekat jendela dengan secangkir teh susu dan buku kecil bersampul cokelat pemberian Papa, dan menunggu.
Ia sudah memikirkan kemungkinan terburuk sejak Senin malam. Diva yang menangis di parkiran. Diva yang menelepon Mama. Diva yang muncul di acara komunitas dengan foto-foto. Setiap kemungkinan ia taruh di rak kepala dan ia beri label, supaya tidak ada yang bisa mengagetkannya. Tetapi ada satu label yang tidak bisa ia isi: apa yang akan ia lakukan kalau ancaman itu bukan untuk dirinya.
Di sudut kanan ada dua mahasiswa dengan laptop dan satu gelas yoghurt yang dipakai bergantian. Robi mengelap mesin kopi yang sudah bersih. Sita tidak di balik pantry seperti biasa; ia berdiri di dekat rak es krim dengan alasan menghitung stok, tetapi matanya mengikuti pintu kaca.
“Mbak Hana nggak masuk hari ini,” katanya, entah kepada siapa. “Nganter Ibu kontrol. Untung, ya.”
“Untung, Sit,” kata Adam. Dan ia sungguh bersyukur, dengan rasa yang tidak ingin ia selidiki.
Lonceng di pintu berdenting pukul dua lewat dua puluh. Diva masuk dengan rok panjang warna krem dan blus putih, rapi sekali, seperti orang yang berdandan untuk pertandingan. Ia tidak melihat ke kasir. Ia berjalan lurus ke meja jendela dan berhenti di seberang Adam, kedua tangannya menggenggam tali tas.
“Duduk, Va.”
“Aku berdiri.”
“Ya sudah.” Adam menutup bukunya. “Gue dengar lo.”
Kalimat itu jelas bukan yang Diva harapkan. Rahangnya mengeras dalam satu detik, dan seluruh kecantikan yang tadi dipasang rapi runtuh jadi sesuatu yang lebih mentah.
“Kamu nggak balas pesanku empat belas kali.”
“Iya.”
“Kamu bilang di mobil waktu itu aku bukan siapa-siapa buat kamu. Terus kamu tinggal begitu aja, padahal aku ...” Suaranya naik, dan dua mahasiswa itu serentak mengangkat kepala. “Padahal aku datang ke setiap acaramu. Aku nunggu kamu berjam-jam. Aku yang bawain kamu makan siang waktu kamu sibuk bikin kafe ini. Dan sekarang aku dengar kamu sibuk sama perempuan alim itu, yang katanya dibatalin keluarganya sendiri di depan semua orang!”
“Jangan sebut dia,” kata Adam. Tidak keras. Tapi kalimat itu menggantung dengan bobot yang membuat Sita berhenti bernapas.
“Kenapa? Karena itu benar?”
“Karena namanya Hana. Dan lo belum pernah bicara dengannya.”
Diva memukul meja dengan telapak tangan. Gelas teh susu bergetar, tetapi tidak jatuh. “Aku capek dibohongi! Kamu bilang kamu serius sama aku, kamu bilang aku beda, kamu pegang tanganku di depan Mama kamu ...”
“Gue nggak pernah bilang serius.” Adam menarik napas, dan dalam hati ia mendengar suara Papa. Yang salah, katakan salahnya. Berhenti di situ. “Tapi gue nggak pernah bilang tidak. Itu salah gue. Gue tahu lo suka gue sejak resepsi Diana, dan gue biarkan, karena gue kesepian dan lo hadir. Gue kasih lo harapan yang nggak pernah mau gue penuhi. Gue minta maaf, Va. Itu bukan karena lo kurang apa-apa. Itu karena gue nggak jujur.”
Diva menatapnya. Matanya basah, tetapi ia menolak mengedip.
“Aku nggak mau maafmu.”
“Gue nggak minta lo terima.”
“Kamu berubah.” Itu terdengar seperti tuduhan, dan seperti rasa sakit. “Dulu kamu ketawa kalau aku marah. Sekarang kamu ngomong kayak ustadz.”
“Gue masih berantakan, Va. Gue masih telat bangun, masih salah baca ayat, masih ngomong sembarangan kalau gugup.” Adam menunjuk buku cokelat di meja. “Bedanya, sekarang ada yang nyatat.”
“Jadi urusan kita selesai? Gitu doang?”
“Selesai. Gue nggak akan telepon, nggak akan balas, dan gue harap lo bisa tenang.” Ia berhenti. “Dan gue harap lo ketemu orang yang berani bilang lo cukup dari awal.”
Hening. Di luar jendela, tukang parkir meniup peluit untuk sebuah mobil yang mundur terlalu dekat. Bahu Diva naik turun, lalu turun pelan, dan ketika ia berbicara lagi, suaranya serak dan dingin.
“Aku masih simpan semuanya.”
“Semuanya?”
“Pesan-pesan manismu. Tangkapan layarnya. Foto kamu sama perempuan-perempuan di kafe ini, di kafe lama, di acara teman-teman kamu.” Ia mengangkat dagu. “Aku bisa kirim ke siapa pun. Ke Mama kamu. Ke perempuan itu. Ke walinya, kalau kamu pikir dia punya wali.”
Robi berhenti mengelap. Sita meletakkan buku stok perlahan di rak dan menahan napas.
Adam memandang perempuan di depannya, dan baru pada detik itu ia sadar bahwa ia tidak takut. Ia sudah tidak punya apa-apa yang bisa direbut, kecuali satu hal, dan hal itu bukan sesuatu yang bisa dikirim lewat tangkapan layar.
“Silakan,” katanya.
“Apa?”
“Silakan. Itu masa lalu gue, Va. Semuanya benar, dan gue nggak akan bilang itu bohong. Kalau lo mau kirim, itu hak lo. Tapi gue nggak akan balik ke lo karena takut.” Suaranya turun satu tingkat, tetapi tetap tegak. “Dan satu lagi. Jangan sentuh keluarga gue. Mama gue nggak salah apa-apa.”
Diva menegakkan tali tasnya. Untuk sesaat Adam melihat sesuatu goyah di wajahnya. Lalu perempuan itu berbalik.
Di pintu, tangannya sudah menyentuh gagang kaca ketika ia menoleh sekali lagi.
“Kita lihat,” katanya, setiap kata ditekan hati-hati, “apakah perempuan alim itu tetap mau.”
Lonceng berdenting. Pintu menutup. Dua mahasiswa itu kembali menatap laptop dengan sangat tekun.
===
Adam tetap duduk sampai tangannya berhenti dingin. Adzan Asar mengalun dari masjid di ujung jalan, dan ia berdiri lebih cepat daripada yang ia rencanakan.
“Rob. Sari. Asar.”
Mereka naik ke mushola lantai dua dengan langkah yang tidak biasa, pelan dan agak kikuk, seperti orang yang baru saja menonton sesuatu yang tidak boleh dibicarakan. Adam mengambil wudhu di keran yang airnya terlalu dingin dan berdiri di depan. Bacaannya terbata di ayat kedua, ia mengulang, dan tidak ada yang tertawa. Dalam sujud terakhir ia tidak meminta Diva diam. Ia meminta Hana tidak terluka, dan ia meminta dirinya tidak lari.
Selesai salam, ia duduk lama di sajadah. Di bawah, lonceng pintu berdenting dan suara Sita menyambut pelanggan dengan terlalu ceria. Ia membuka buku cokelat itu dan menulis dengan pensil: Rabu. Diva datang. Gue nggak lari. Gue nggak bohong. Lalu, di bawahnya, setelah ragu: Gue takut sekarang. Bukan buat gue.
Sita muncul di ambang pintu mushola, membawa gelas air putih dan wajah yang pucat.
“Mas Bos ...”
“Sit. Jangan cerita ke Mbak Hana dulu. Biar gue yang bilang, pelan-pelan, dengan pintu terbuka.”
Sita menggigit bibir. Ia menunduk, memainkan ujung celemeknya, lalu mengangkat wajah dengan sorot yang tidak ia dapat dari mana pun selain dari sekian bulan mengamati dua orang yang keras kepala.
“Sita nggak janji, Mas,” katanya. “Soalnya perempuan tadi bilang ‘perempuan alim’, dan kalau Mbak Hana tahunya dari orang lain, nanti yang kena marah Sita.”