“Mbak Hana.” Suara Sita pelan sekali, seperti orang bersembunyi di kamar mandi. “Sita nggak tahan. Mas Bos udah nyuruh Sita diam, tapi Sita nggak bisa.”
Hana menjepit ponsel di antara bahu dan telinga, tangannya masih berlumur tepung. Di sebelahnya Ibu menimbang gula. Sita tidak pernah menelepon sebelum jam sembilan, kecuali ada yang pecah, terbakar, atau tumpah, dan jam di dinding dapur baru menunjuk pukul tujuh.
“Ta? Ada apa?”
“Mas Bos nggak cerita ke Mbak, ya? Sita tahu dia nggak bakal cerita.”
Hana mengelap tangannya dengan serbet dan melangkah ke teras belakang. “Tarik napas. Cerita pelan-pelan.”
“Kemarin siang ada perempuan datang. Cantik, rapi, pakai rok krem. Dia marah-marah ke Mas Bos di meja jendela, di depan mahasiswa. Dia bilang Mas Bos berubah, dia bilang dia simpan semua pesan lama dan bisa dikirim ke Mamanya Mas Bos, ke walinya Mbak, ke siapa saja, dan pas mau pergi dia bilang ...” Sita menelan ludah. “Dia bilang ‘kita lihat apakah perempuan alim itu tetap mau’. Pasti Mbak Hana yang dimaksud.”
Hana tidak langsung menjawab. Angin pagi menggoyang jemuran Ibu, dan ia melihat sebuah kaus kaki melayang turun ke tanah tanpa seorang pun memungutnya. Ia tidak perlu bertanya siapa perempuan itu. Rok krem. Rapi seperti hendak bertanding. Ia pernah mendengar suara itu bertengkar dengan Adam, dan ia pernah melihat tangan yang sama menggenggam tali tas seperti menggenggam senjata.
“Adam gimana?”
“Dia tenang banget, Mbak. Terlalu tenang. Dia bilang ‘silakan’. Habis itu dia salat Asar lama dan nulis di buku cokelatnya.” Sita terisak kecil. “Sita takut, Mbak.”
“Ta.” Hana menurunkan suaranya. “Terima kasih sudah cerita. Kamu nggak salah. Jangan bilang ke Mas Bos kalau aku sudah tahu, ya. Aku yang akan tanya dia nanti, di tempat yang benar.”
Sambungan terputus. Hana berdiri lama di antara jemuran. Ada sesuatu yang berbunyi pelan di dadanya, bukan takut, bukan juga marah, melainkan kewaspadaan yang rapi dan dingin.
“Siapa, Han?” tanya Ibu dari dalam.
“Sita, Bu. Cuma urusan kafe.”
Ibu tidak bertanya lebih jauh. Tetapi ketika Hana kembali ke dapur, Ibu menggeser stoples gula mendekatinya, sesuatu yang selalu ia lakukan ketika hati anaknya sedang berat.
Siang itu mereka mengerjakan kue sus untuk tabligh akbar, seratus lima puluh buah, dengan hanya empat pesanan lain di buku catatan. Hana mengocok adonan lebih keras daripada perlu. Ibu, yang biasanya cerewet soal tenaga, membiarkannya sampai lengan Hana sendiri yang menyerah.
“Malam ini kamu jadi datang?”
“Hana belum tahu, Bu.” Hana menaruh sendok kayu. “Di sana pasti banyak yang bisik-bisik. Kalau Hana nggak datang, mereka bilang Hana malu. Kalau datang, mereka bilang Hana nggak tahu malu.”
“Mana yang lebih ringan?”
“Datang. Tapi bukan karena mereka.”
“Nah.” Ibu mengangkat loyang dari oven dengan sarung tangan tebal. “Kamu pegang konsumsi bukan buat membuktikan apa-apa. Kamu pegang karena ada yang harus makan. Itu saja alasan yang cukup di hadapan Allah.”
===
Malamnya, masjid komplek penuh sampai ke halaman. Spanduk tabligh akbar tiga bulanan terpasang miring di pagar, dan di bawahnya deretan meja panjang berisi dus-dus kue yang Hana susun sejak Maghrib. Ia datang karena Mira menelepon tiga kali dan Sheira dua kali. “Kamu yang pegang konsumsi tiap tabligh akbar,” kata Sheira tanpa basa-basi. “Kalau kamu nggak datang, mereka akan bilang itu karena gosip.”
Jadi Hana datang, dengan gamis krem dan kerudung yang disetrika tegas. Ibu-ibu berbisik di barisan belakang, dan ia menerima setiap bisikan seperti angin: terasa, lalu lewat. Mira berdiri di sampingnya membagikan gelas, dan ketika dua ibu menoleh terlalu lama, Mira cuma tersenyum manis dan menyodorkan bolu.
“Tolong ya, Bu. Habis ini kue sus.”
Minuman malam itu datang dari Milk’s Heaven, pesanan yang Hana sendiri tandatangani tiga pekan lalu bersama panitia, sebelum semua kekacauan. Robi menurunkan dua krat es susu dari sepeda motor dengan wajah yang tegang namun sopan. “Mbak Hana, ini titipan dari kafe,” katanya, lalu cepat-cepat mundur.
Hana baru sadar siapa yang berdiri di luar pagar ketika ia menegakkan punggung dari krat. Seorang lelaki bersandal jepit dan kemeja koko hitam, mengambil jarak lima meter dari gerbang, tangan di saku. Ia tidak masuk. Ia tidak memanggil. Ia hanya berdiri di bawah lampu jalan, dan tidak melangkah lebih jauh dari garis yang sudah ia janjikan pada dirinya sendiri.
Adam.
Hana menimbang. Janji lelaki itu hanya tiga: tidak ke rumah, tidak mengirim apa pun, tidak lewat orang lain. Minuman ini pesanan lama, dan yang berdiri di gerbang adalah donatur yang menunggu krat terakhir turun. Ia tidak melanggar apa pun. Itu yang paling mengganggu.
Hana melangkah ke gerbang dan berhenti di ujung bayangan pagar. Pintu masjid terbuka di belakangnya, penuh suara orang bershalawat.
“Terima kasih,” katanya.
Adam menatapnya sebentar, matanya cekung dan hangat. “Terima kasih,” jawabnya.
Hanya itu. Hana kembali ke meja kue dengan telapak tangan yang lembap.
===
Lutfi menyapa sebelum ceramah dimulai. Ia berdiri di dekat meja konsumsi dengan jaket panitia, tinggi dan ramah seperti dulu, lalu menurunkan suaranya.
“Han. Aku dengar kabarnya. Aku turut prihatin.”
“Terima kasih, Fi. Alhamdulillah, Ibu sudah sehat.”
“Kamu kuat.” Lutfi tersenyum, tulus, tanpa maksud lain. “Kalau panitia kurang apa-apa, bilang ya.”
Hana menunggu. Menunggu debar yang selama bertahun-tahun datang tiap kali lelaki itu menyebut namanya, menunggu lutut yang lemas dan jantung yang melompat. Tidak ada yang datang. Yang ada hanya rasa hangat yang sopan, seperti menyapa seorang kakak kelas yang dulu baik.
Arin menyusul dari belakang, perutnya sudah sedikit menonjol di balik gamis lilac. Ia tidak mengatakan apa-apa tentang pembatalan. Ia hanya meraih tangan Hana dan menggenggamnya dengan kedua tangan.
“Mbak Hana. Aku nggak tahu mau bilang apa. Tapi aku doain Mbak.”
“Aamiin, Rin. Kamu jaga diri. Jangan terlalu capek.”
“Sudah empat bulan, Mbak.”
“Masya Allah. Selamat.” Dan ia mengatakannya dengan bersih, tanpa tarikan di tenggorokan. Hana menatap Arin yang tersenyum malu, lalu Lutfi yang menggandengnya pergi ke deretan depan, dan menyadari sesuatu yang terasa seringan kapas. Ia mencari lukanya, dan tidak menemukannya.
Dari panggung, pengisi ceramah berkata lewat pengeras suara: “Jika Allah menahan sesuatu dari kita, bukan karena Dia kikir. Mungkin Dia sedang menyiapkan tempat yang lebih lapang untuk kita.”
Mira meremas lengan Hana, dan Hana tertawa kecil dengan mata basah.
“Ada getar?” bisik Mira, memandang punggung Lutfi di deretan depan.
“Tidak ada getar yang dulu, Teh. Yang ada syukur.” Hana mengambil napas panjang. “Hana kira Hana harus lupa dulu baru bisa lega. Ternyata cukup berhenti memegangnya.”
“Kalau hati sudah cukup, yang tersisa bukan benci, tapi doa.” Mira menyodorkan gelas kosong untuk diisi. “Doakan yang baik buat dia dan istrinya. Itu cara paling bersih buat menutup pintu.”
Hana mengisi gelas itu perlahan, dan ia mendoakan keduanya, sungguh-sungguh, dengan lancar.
===
Selesai acara, Ahmad dan dua remaja masjid membereskan panggung, sementara Hana melipat taplak bersama Sheira. Gerbang sudah sepi. Lampu jalan di bawahnya kosong, dan Hana, yang tadi ingin berpura-pura tidak melirik, melirik juga.
Ponselnya bergetar di saku. Rika. Besok ke rumah gue. Jangan banyak alasan.
“Cari siapa, Han?” tanya Sheira, yang melipat taplak di seberangnya.
“Cari taplak.”
“Taplaknya ada di tanganmu.”
“Oh,” kata Hana, dan menunduk memandangi kain itu seolah baru pertama kali melihatnya.