“Ate Hana!”
Rehan menabrak kaki Hana sebelum pagar rumah Rika sempat tertutup, kedua tangan kecilnya memeluk lutut dengan sekuat tenaga balita yang baru bangun dari tidur siang. Hana berjongkok dan menggendongnya, dan Rehan langsung menyodorkan sebuah mobil plastik tanpa roda.
“Rusak. Ate benerin.”
“Nanti Ate coba. Mama mana?”
“Di dalam. Marah.”
Hana tersenyum kecil. Ia melangkah masuk ke ruang tengah yang berantakan oleh mainan dan baju bayi yang dijemur di kursi, dan menemukan Rika duduk bersila di sofa dengan bayi merah di pangkuan, mata menyala seperti seorang jenderal yang baru memutuskan menyerbu. Suaminya, di dapur, mengangkat satu tangan dari balik pintu lemari es sebagai salam singkat, lalu dengan bijak menghilang ke halaman belakang membawa Rehan.
“Duduk,” kata Rika.
Hana duduk.
“Lo makan tadi pagi?”
“Makan.”
“Bohong. Itu piring tepung di muka lo.” Rika menunjuk dengan dagu. Hana meraba pipinya dan memang ada bedak tepung yang tersisa. Ia tertawa, dan tawa itu membuat bahunya turun satu sentimeter dari posisi tegang yang ia bawa sejak pagi.
“Ka, gue ...”
“Gue udah tahu semuanya. Pembatalan, IGD, kafe, surat mundur, kalimat bodoh lo di meja jendela, Adam, izin buat nunggu. Gue udah dengar dari Sita, dari Mira, dari Bu RT yang nelepon cuma buat nanya ‘itu beneran?’” Rika menimang bayinya pelan. “Jadi gue nggak mau nanya lagi lo gimana. Gue mau nanya satu hal. Lo mau dia?”
“Maksud lo?”
“Bukan harus. Bukan karena kasihan, bukan karena Bu Malik baik, bukan karena orang-orang bilang cocok. Mau.” Rika menekankan kata itu seperti memaku. “Kalau Adam nggak ada hubungannya dengan kafe, keluarga, kejadian kemarin. Cuma Adam. Lo mau?”
Hana membuka mulut untuk menjawab secara reflek, dan tidak ada yang keluar. Di dinding seberang, jam berdetak. Dari halaman belakang terdengar Rehan menjerit senang.
“Gue takut, Ka.”
“Takut apa?”
“Dipilih terus ditinggal.” Kalimat itu keluar lebih kecil dari yang ia maksud. “Lutfi nggak pernah milih gue. Zafran milih gue, terus berhenti di depan semua orang. Dua-duanya orang baik, dua-duanya punya alasan, dan dua-duanya sama aja buat gue: gue berdiri di ruang tamu dan semua pergi. Kalau Adam ...” Ia menarik napas. “Kalau gue bilang mau, dan suatu hari dia capek? Kalau dia bangun pagi dan sadar gue bukan orang yang dia kira? Gue nggak punya sisa buat dibuang ketiga kalinya.”
Rika menatapnya lama. Lalu ia memindahkan bayinya ke bahu kirinya, menepuk punggung kecil itu, dan berbicara dengan nada yang tidak galak sama sekali.
“Han. Lo inget waktu gue hamil Rehan dan takut setengah mati?”
“Lo nangis tiap malam.”
“Dan suami gue bilang apa? ‘Takut itu wajar, Ka. Tapi jangan biarin dia yang milih.’ Gue benci kalimat itu waktu itu.” Rika menyeringai. “Sekarang gue paham. Takut boleh ikut naik mobil, Han, tapi jangan dikasih nyetir. Kalau dia yang nyetir, lo bakal lari dari apa pun yang bisa menyakiti, padahal yang bisa menyakiti sering juga yang bisa nyembuhin.”
“Itu hampir sama dengan kata Ibu di makam.”
“Bagus, berarti dua orang yang paling lo percaya sepakat.” Rika mengangkat satu jari. “Dengerin. Lo nggak harus milih Adam karena nggak takut. Lo milih dia lewat proses. Ustadzah, Ibu, Paman, pendamping, pintu terbuka, waktu. Kalau dia ternyata capek, ketahuan sebelum akad, bukan sesudah. Itu bedanya lo sekarang sama lo dulu. Dulu lo nunggu dipilih. Sekarang lo yang nentuin jalannya.”
Hana menunduk. Ia mengusap pipi dengan punggung tangan.
“Perempuan itu ngancam, Ka. Mau kirim semua pesan lamanya ke Bu Malik, ke Paman, entah ke siapa lagi.” Hana meremas ujung kerudungnya. “Dan gue nggak tahu isinya apa. Gue nggak tahu seburuk apa masa lalunya.”
“Lo mau tahu?”
“Gue mau dengar dari dia, bukan dari tangkapan layar.”
“Itu jawaban orang yang udah milih, tahu nggak.” Rika menyengir, lalu bayinya menggeliat dan merengek pendek, dan ia menimangnya sambil berbisik, “Sabar, Nak, Mama lagi ngomong sama Ate.” Dari dapur terdengar bunyi panci jatuh, disusul suara suaminya, “Aman, aman.” Rika memutar bola mata. “Dia kemarin masukin kaus kaki gue ke mesin cuci bareng sarung. Gue hampir nonjok.”
Hana tertawa sampai terbatuk.
“Dia tipe yang bakal nyakitin lo, nggak?” tanya Rika akhirnya, lebih pelan.
“Dia nggak nyentuh gue, Ka. Dia nggak datang ke rumah walau gue larang. Dia berdiri lima meter dari gerbang kemarin dan cuma bilang terima kasih.” Hana tertawa kecil, serak. “Dia diancam perempuan yang bilang punya semua pesan lamanya, dan dia bilang silakan.”
“Nah.” Rika mengangguk puas. “Itu bukan lelaki yang kabur kalau susah.”
===
Sore itu Ibu sedang menyiram kembang sepatu ketika Hana turun dari ojek. Ia tidak menoleh, hanya mengarahkan selang ke pot berikutnya sampai Hana berdiri di sampingnya.
“Dari Rika?”
“Iya, Bu.”
“Jadi?”
Hana menelan ludah. Dalam perjalanan pulang ia sudah menyiapkan tiga kalimat pembuka, dan semuanya hilang saat ia melihat tangan Ibu yang mulai berbintik, memegang selang dengan sabar.
“Dulu Ibu bilang Hana dipilih keadaan dua kali,” katanya. “Hana mau memilih, Bu. Lewat Ustadzah. Dengan Paman. Dengan semua aturannya. Hana mau coba, Hana mau lihat apakah ... apakah Adam yang Allah kirim atau bukan.”
Ibu mematikan keran. Tetesan terakhir jatuh ke tanah merah dengan bunyi kecil. Ia memandang putrinya dengan mata yang jernih sekali.
“Dua kali kamu dipilih keadaan,” katanya pelan. “Kali ini pilihlah.”
“Hana takut, Bu.”
“Ibu juga. Ibu takut tiga kali waktu Ayahmu datang.” Ibu menyentuh pipi Hana dengan punggung jari yang basah. “Takutnya jangan disuruh pergi, Nak. Ajak ia duduk, tapi jangan beri ia kemudi.”
“Ibu nggak keberatan Adam? Dia bukan yang Ibu bayangkan, mungkin.”
“Yang Ibu bayangkan dulu juga bukan Ayahmu.” Ibu menggulung selang dengan gerakan yang sudah ia ulang ribuan kali. “Ibu bayangkan lelaki berjas yang pandai bicara. Yang datang lelaki berpeci dengan ember di tangan. Sudah, sana, telepon Ustadzah sebelum kamu ganti pikiran. Kalau kamu menunda, ia membesar.”
===
Hana menelepon Ustadzah Aisyah dari kamarnya, duduk bersila di atas ranjang dengan pintu terbuka. Suaranya sedikit gemetar pada kata pertama dan tegas pada kata terakhir.
“Ustadzah, Hana ingin membuka proses ta’aruf dengan Adam. Hana punya syaratnya.”
“Alhamdulillah.” Tidak ada keterkejutan di suara Ustadzah, hanya hangat yang tenang. “Sebutkan, Nak.”
“Pertama, sampai Paman puas, tidak sebelumnya. Kedua, pendamping selalu hadir, tidak ada pertemuan berdua. Ketiga, Hana boleh berhenti kapan saja, tanpa harus menjelaskan sepanjang malam. Keempat, Hana cuti dari Milk’s Heaven selama prosesnya, supaya urusan kerja tidak bercampur dengan hati.”
“Semuanya masuk akal. Ta’aruf bukan akad, Hana. Ia pintu yang boleh dibuka pelan-pelan dan boleh ditutup kembali dengan baik.” Ustadzah terdiam sebentar. “Kalau Pak Haji setuju, Ustadzah hubungi Adam hari Ahad. Pamanmu sudah tahu?”
“Hana telepon beliau setelah ini.”
Paman menjawab pada dering kelima, dan mendengarkan sampai Hana selesai tanpa memotong, yang justru lebih menakutkan. Sesudah itu ia mengembuskan napas panjang yang terdengar seperti keluhan seorang guru terhadap murid yang sudah ia peringatkan.
“Yang duduk di seberang lorong rumah sakit itu.”
“Adam, Paman. Dia sudah menjalani empat puluh hari dari ayahnya, tanpa memberi tahu siapa pun.”
“Empat puluh hari itu syarat ayahnya, bukan syarat Paman.” Paman berdeham. “Baik. Paman setuju, tapi Paman yang menentukan kapan cukup. Dia datang membawa orang tuanya, dia duduk di depan Paman, kita lihat apa yang keluar dari mulutnya waktu tidak ada yang membantu. Kalau Paman tidak puas, selesai, tanpa perdebatan.”
“Iya, Paman.”
“Dan Hana.” Suara Paman melunak setengah nada. “Jangan sembunyikan apa pun dari Paman. Kakak Paman sudah tidak ada. Biar Paman yang jadi tembok.”
“Insya Allah, Paman.”
“Sudah. Telepon Ustadzahmu lagi, bilang Paman setuju. Ahad dia boleh menghubungi anak itu.” Sambungan putus tanpa salam, kebiasaan Paman sejak dulu, dan Hana duduk memandangi ponsel yang masih hangat di tangannya. Dari ruang tengah terdengar Ibu mulai mengaji pelan, dan itu cukup.