Ponsel Adam berbunyi pukul sembilan lewat sepuluh pada Ahad pagi, tepat ketika ia mengunyah roti bakar yang gosong di satu sisi dan Papa sedang membaca koran sambil pura-pura tidak mendengarkan apa pun. Nama di layar bukan nama yang biasa menelepon di hari libur. Ustadzah Aisyah.
Roti itu jatuh ke piring. Hawa, yang sedang menyuapi Rama telur dadar di ujung meja, mengangkat kepala dengan sendok masih di udara.
“Angkat, Dam,” kata Papa tanpa menurunkan korannya.
“Assalamu’alaikum, Ustadzah.” Suara Adam keluar setengah oktaf lebih tinggi dari yang ia rencanakan.
“Wa’alaikumussalam, Nak Adam. Maaf mengganggu pagi-pagi. Boleh Ustadzah bicara sebentar? Kalau ada keluarga di dekat Nak Adam, silakan didengarkan. Ini urusan yang sebaiknya tidak disembunyikan.”
Adam menoleh. Papa sudah melipat korannya. Mama berdiri di ambang dapur dengan teko di tangan, tidak bergerak. Adam menekan tombol pengeras suara, dan suara tenang Ustadzah memenuhi ruang makan seperti air masuk ke gelas kosong.
“Hana meminta Ustadzah menyampaikan bahwa ia bersedia membuka proses ta’aruf dengan Nak Adam. Dengan syarat. Pertama, sampai walinya, Pak Haji Ridwan, merasa cukup. Kedua, setiap pertemuan didampingi dan tidak ada yang berdua. Ketiga, Hana boleh berhenti kapan saja tanpa harus dijelaskan. Keempat, ia cuti dari Milk’s Heaven selama proses berjalan.”
Hening. Satu detik, dua detik. Adam mendengar jam dinding berdetak, lalu mendengar sesuatu yang jatuh di belakangnya. Teko Mama, yang untungnya hanya menyentuh keset.
“Saya terima semuanya,” kata Adam. Suaranya parau. “Termasuk cuti. Saya akan tanda tangani hari ini kalau perlu, Ustadzah. Saya cuma ...” Ia berhenti. “Saya perlu tahu satu hal. Apa dia menyuruh Ustadzah bilang sesuatu soal Zafran? Soal yang kemarin?”
“Tidak. Hana memilih ini sendiri, Nak. Ia tidak menyuruh Ustadzah membujuk siapa pun.” Ada senyum dalam kalimat itu. “Ustadzah minta Nak Adam menyusun CV hari ini. Jujur. Tidak perlu bagus. Hana lebih suka yang apa adanya.”
“Siap, Ustadzah.”
“Dan Nak Adam. Ta’aruf itu bukan hadiah atas empat puluh hari. Itu kesempatan untuk dilihat lebih dekat. Jangan terlalu gembira, jangan terlalu takut.”
“Insya Allah.”
Sambungan terputus. Ruang makan sunyi sekali. Rama, yang tidak mengerti apa pun, menusuk telurnya dengan garpu dan berseru, “Om kenapa mukanya merah?”
Mama menangis lebih dulu. Ia tidak bersuara; ia hanya berdiri di tempat dengan tangan menutup mulut dan bahu berguncang, lalu duduk begitu saja di kursi terdekat. Papa meletakkan telapak tangannya di atas tangan Mama.
“Ma ...”
“Mama janji,” kata Mama di antara isak. “Mama janji nggak cerita ke siapa-siapa. Nggak ke pengajian, nggak ke arisan, nggak ke tukang sayur. Mama nggak akan buka mulut lagi sampai ada yang kasih izin.”
“Mama kalau janji, tukang sayur juga ikut tegang,” tambah Hawa, dan Adam tahu kalimat itu dilempar untuk menutup air matanya sendiri. Hawa memandang Adam dan menggeleng, setengah tertawa. “Kamu, Dam. Kamu nanti yang disidang walinya. Mbak dengar dia guru, pensiunan, dan galak.”
“Jangan nakut-nakutin.”
“Mbak nggak nakutin. Mbak nyiapin.”
Mas Ardi, yang sejak tadi hanya menyuap nasi goreng dengan khidmat, akhirnya bicara. “Dam. Kalau sidang nanti lo gugup, tarik napas, hitung sampai tiga, terus bilang yang benar. Itu aja yang gue lakuin waktu dulu.”
“Waktu Mas dulu disidang siapa?”
“Papa lo.” Mas Ardi menunjuk dengan garpu. “Dia nanya gue gaji berapa. Gue jawab ‘cukup’. Dia bilang ‘cukup itu berapa’. Gue hampir pingsan.”
Papa, di ujung meja, mengangkat satu alis dan menyembunyikan senyum di balik cangkir kopinya.
===
Sebelum duduk menulis, Adam salat dhuha di kamarnya dengan pintu tertutup. Ia berniat dua rakaat, tetapi sujud terakhir lebih lama dari yang ia rencanakan. Pikirannya tidak mengucapkan apa-apa selain satu hal yang berulang seperti denyut: ia tidak meminta Hana menerimanya. Ia hanya meminta supaya dirinya layak dilihat.
Pintu diketuk pelan. Mama berdiri di sana dengan mata yang masih bengkak, membawa segelas air putih seperti orang yang tidak tahu harus membawa apa.
“Dam. Mama boleh masuk?”
“Boleh, Ma.”
Mama duduk di tepi ranjang dan menatap sajadah. “Kalau Hana menolak, Mama yang paling berdosa. Mulut Mama yang bikin semuanya runyam. Mama sudah minta maaf ke Ibu Ranti, tapi ke kamu belum.”
“Ma.” Adam bergeser duduk di lantai di depan Mama, tidak menyentuh, hanya berada di dekatnya. “Mama nggak salah sendirian. Adam yang dulu nyebut Hana calon istri tanpa tanya dia. Mama cuma bangga sama fotonya. Itu bedanya.”
“Tetap saja ...”
“Mama janji nggak cerita ke siapa-siapa. Itu cukup. Itu bukan hukuman, Ma. Itu cara Mama bantu.” Adam tersenyum tipis. “Dan kalau suatu hari Mama pengin cerita ke tukang sayur, telepon Adam dulu. Biar Adam yang bilang jangan.”
Mama tertawa sambil mengusap hidung. Ia menaruh gelas air di meja kecil, mencium kening anak bungsunya, dan keluar tanpa kata, lebih ringan daripada saat masuk.
===
Siang itu Adam duduk di meja kerja Papa dengan laptop yang bersih dan kursor yang berkedip di halaman kosong. Ia mengetik nama lengkapnya, umur, pendidikan, usaha. Dua belas baris pertama selesai dalam sepuluh menit. Lalu ia sampai di kolom yang tidak ada di formulir mana pun.
Ceritakan tentang diri Anda.
Jari-jarinya berhenti. Dari belakang, aroma sabun Hawa muncul bersama bayangan di layar.
“Hobi,” baca Hawa dari balik bahunya. “Salat tepat waktu, dalam proses. Mengaji, dalam proses. Bangun subuh, dalam proses. Dam, semua kolom kamu isi ‘dalam proses’.”
“Itu fakta.”
“Itu jujur sampai bikin Mbak pengin peluk kamu.” Hawa menepuk bahunya dan pergi, tapi tidak sebelum menambahkan, “Tulis yang jelek juga, Dam. Dia kan nggak bakal kaget. Dia udah lihat semuanya.”
Adam menatap layar. Ia mengetik, menghapus, mengetik lagi. Papa duduk di sofa kecil di sudut ruang kerja, tidak mengatakan apa pun, hanya membaca mushaf dengan pensil di tangan. Itu pensil yang sama yang mencoret bacaan Adam tiap malam. Lama-lama bunyi goresannya jadi irama yang menenangkan.
Dua jam kemudian halaman kedua sudah berisi hal yang tidak pernah ia tulis untuk siapa pun.
“Saya pernah berpacaran lima tahun dengan seseorang tanpa pernah serius. Saya terbiasa mendekati perempuan dengan kata-kata manis dan sebagian masih tersimpan di ponsel mereka. Saya tidak menyombongkannya dan tidak membelanya. Saya juga pernah menyentuh Hana tanpa izin.” Kalimat berikutnya ia ketik paling lambat, karena isinya menghitung satu per satu hal yang ingin ia lupakan dan ia menolak menghapusnya.
Adam membacanya dua kali. Jantungnya berdetak seperti orang yang berjalan di tepi atap.
“Pa.” Suaranya hampir tidak keluar. “Boleh baca?”
Pak Malik meletakkan pensilnya. Ia mengambil laptop, menurunkan kacamata dari dahi ke hidung, dan membaca. Lama. Sangat lama. Adam menghitung tiap detik, dan setiap kali Papa mengangkat alis, ia mendengar Hana membaca kalimat yang sama.
Akhirnya Papa menutup laptop dan menatapnya di atas bingkai kacamata.
“Kalau Hana tetap mau sesudah baca ini,” katanya pelan, “itu bukan karena CV-mu bagus.”