Sebuah map cokelat terselip di bawah lengan Ustadzah Aisyah ketika ia duduk di ruang tamu rumah Hana pada Sabtu sore, enam hari sesudah isinya diketik di laptop Adam dan berpindah ke Ustadz Hasan, ke pencetak, lalu ke sini. Ibu menuangkan teh. Paman, yang tiba kemarin malam dengan sekarung kentang dan wajah yang masih tegang, duduk di kursi kayunya dengan kedua tangan bertumpu di lutut dan koran terlipat di sisi, belum disentuh.
“Ustadzah sudah baca?” tanya Hana.
“Sudah. Dan Ustadzah tidak akan menilai apa pun.” Ustadzah menyodorkan map itu dengan kedua tangan. “Ada tiga halaman. Yang pertama biodata, yang kedua tentang dirinya, yang ketiga doa. Baca di tempat yang membuatmu nyaman, Hana. Jangan di sini.”
Hana membawanya ke kamar dan menutup pintu sampai tinggal sejengkal. Ia duduk di tepi ranjang dengan punggung lurus, seperti sedang menunggu hasil ujian, dan membuka halaman pertama.
Foto Adam di pojok kanan atas: kemeja putih, rambut dirapikan, senyum yang jelas-jelas sudah disuruh jangan terlalu lebar. Hana hampir tertawa. Ia tahu foto lain lelaki itu, yang tidak pernah dicetak, yang tersimpan di galeri ponselnya sejak malam resepsi Diana, dengan Rama menggelantung di lengan dan Adam yang menyeringai bodoh ke kamera. Ia belum pernah menghapusnya. Ia memutuskan tidak akan memikirkan alasannya.
Kolom demi kolom ia baca pelan. Nama, usia, pendidikan, usaha. Lalu di bagian hobi, ia berhenti.
Tiga baris berturut-turut berakhir dengan dua kata yang sama: dalam proses.
Hana menutup mulutnya dengan telapak tangan dan tertawa tanpa suara, bahunya bergetar. Siapa pun yang menyuruhnya menulis begitu, kalau bukan Hawa, pasti seseorang yang sangat mengenal lelaki ini. Setelah itu ia membalik halaman kedua.
Tulisan di sana panjang. Adam menyebut dirinya sebagai orang yang menjalani lima tahun hubungan tanpa pernah membicarakan masa depan. Ia menyebut kebiasaan menggoda perempuan dengan kata manis, dan bahwa sebagian dari kata-kata itu masih tersimpan di ponsel orang lain. Ia tidak menjelaskan alasannya. Ia tidak menulis tetapi saya sedang kesepian.
Lalu paragraf yang membuat Hana mengangkat kepala dari kertas.
Saya pernah menyentuh Hana tanpa izin. Pertama menarik tangannya, kedua merangkul bahunya di depan banyak orang, ketiga menepuk bahunya ketika ia tersedak, walau yang terakhir saya maksudkan untuk menolong. Ia menolak, dan ia benar. Saya minta maaf. Saya tidak sedang meminta dimaafkan hari ini, dan saya tidak akan mengulanginya sampai ia sendiri yang mengizinkan, di hadapan walinya.
Di hadapan walinya. Hana membaca bagian itu tiga kali. Selama berbulan-bulan, kejadian di mobil dan di resepsi itu tinggal di pojok kepalanya sebagai duri kecil, bukan karena sakit, melainkan karena tak pernah ada yang menyebutnya seterang itu. Ia sendiri sudah memaafkannya jauh sebelum sadar. Tapi mendengar, atau membaca, bahwa orang yang melakukannya tahu persis di mana batasnya, itu hal yang berbeda.
Matanya basah. Ia mengusapnya dengan punggung tangan, lalu mengambil pulpen dan kertas kosong dari laci.
Dua pertanyaan, ia putuskan. Tidak lebih. Ia menulis yang pertama dengan satu tarikan, mencoret satu kata, menulisnya lagi.
Apa yang kamu lakukan kalau saya menolak permintaanmu dan kamu merasa kamu benar?
Yang kedua ia tulis lebih lama.
Apa yang kamu takutkan dari pernikahan?
Sebelum keluar, ia membuka halaman ketiga yang sengaja ia tunda. Isinya sebuah doa, satu paragraf pendek, ditulis dengan huruf yang lebih kecil dari halaman-halaman sebelumnya, seperti orang yang takut terlalu keras berharap.
Ya Allah, jika Hana adalah yang Engkau tulis untuk saya, jadikan saya layak sebelum Engkau pertemukan. Jika bukan, jagalah ia dengan cara yang lebih baik dari yang bisa saya tawarkan, dan jangan biarkan saya jadi duri di jalannya.
Hana menutup halaman itu. Ia butuh waktu lama sebelum bisa berdiri.
Ia melipat kertas pertanyaan dan keluar kamar. Ruang tamu terdiam sejenak. Ustadzah membaca dua baris itu dengan alis terangkat, mengangguk, dan menyimpannya di dalam map tanpa komentar. Paman, yang sudah mengambil CV untuk giliran membaca, tiba-tiba mendengus keras.
“‘Bangun subuh, dalam proses.’ Paman belum pernah lihat orang menulis begitu di kertas resmi.”
“Itu jujur, Dik,” kata Ibu. “Daripada tulis ‘rajin’ lalu ketahuan di rumah.”
“Jujur atau cari simpati?”
“Kalau cari simpati, dia tidak akan menulis soal tangannya,” sahut Ibu pelan, dan Paman, untuk sekali itu, tidak membantah.
“Malam ini Ustadzah antarkan ke rumah Ustadz Hasan,” katanya. “Besok pagi jawabannya sudah di tanganmu. Dengan tulisan tangannya sendiri, Hana. Itu aturan yang Ustadzah buat supaya jawabannya tidak dipoles orang lain.”
===
Ahad pagi, Ustadzah kembali sebelum sarapan selesai. Ia membawa selembar kertas kecil bergaris yang dilipat dua dan terbasahi sedikit di satu sudut, mungkin oleh keringat jempol.
Paman mengulurkan tangan lebih dulu. “Berikan. Paman yang baca.”
“Dik Ridwan, itu surat untuk Hana,” kata Ibu.
“Jawabannya bukan hanya untuk Hana. Jawabannya untuk keluarga ini.” Paman memasang kacamata di hidungnya dan meluruskan kertas itu di atas meja makan. Hana duduk di seberangnya dengan tangan di pangkuan, tidak mampu berpura-pura sibuk dengan nasi.
Paman membaca keras-keras, dengan suara guru yang membacakan dikte.
“‘Untuk pertanyaan pertama. Saya akan marah, karena saya selalu marah dulu. Setelah itu saya akan pergi ke mushola atau ke rumah Papa selama satu jam, bukan untuk kabur, tapi supaya yang keluar dari mulut saya bukan kemarahannya. Lalu saya pulang dan kita bicara. Saya tidak akan tidur dalam keadaan kita belum selesai bicara, kecuali kamu yang meminta jeda.’”
Ibu mengangguk pelan sekali. Hana menelan ludah.
“‘Untuk pertanyaan kedua. Saya takut jadi nyaman. Saya pernah jadi pacar yang nyaman selama lima tahun, dan orang yang saya sayang akhirnya pergi karena itu. Lelaki yang nyaman berhenti berusaha, dan istrinyalah yang menanggung sisanya. Saya tidak ingin jadi suami seperti itu. Kalau suatu hari kamu melihat saya mulai nyaman, tolong ketuk.’”
Paman berhenti, melepas kacamata, dan mengusap pangkal hidung. Setengah halaman. Itu seluruhnya.
“Jawabannya pendek,” kata Ibu.
“Pendek bukan berarti jujur.” Paman menatap kertas itu seolah sedang mencari coretan. “Rapi. Tidak ada yang dicoret, tidak ada kata yang berlebihan. Anak ini punya otak.” Ia meletakkan kertasnya di meja dan memandang Hana. “Tapi Paman tidak percaya pada yang rapi sebelum Paman lihat sendiri. Jawaban itu mudah ditulis semalaman. Menjalaninya yang susah.”
“Paman,” kata Hana pelan. “Dia bilang ‘ketuk’. Mas Zafran juga pakai kata itu waktu nadzor.”
“Dua lelaki memakai kata yang sama, berarti mereka bersahabat atau punya guru yang sama.”
“Bersahabat, Paman.”
“Hm.” Paman mengangkat bahu. “Kata yang sama bisa keluar dari hati yang berbeda. Zafran mengucapkannya karena ia rapi. Anak ini mengucapkannya karena ia pernah ditinggalkan.”
Ustadzah, yang sedari tadi diam di ujung meja, tersenyum kecil. “Meminta maaf tanpa menuntut diterima itu tanda sesal yang jujur, Pak Haji. Menuliskan ketakutan sebelum ditanya itu tanda orang yang sudah berani melihat dirinya sendiri.”
“Ustadzah kan memihak.”
“Ustadzah memihak yang benar. Kalau ternyata salah, Pak Haji yang tahu lebih dulu.”
Paman mendengus, tetapi sudut bibirnya bergeser setengah senti, yang bagi siapa pun yang kenal Pak Haji Ridwan sama dengan senyum lebar. Hana menunduk dan menyembunyikan wajahnya di balik cangkir.
“Jadi?” tanya Ustadzah. “Nadzor, Pak Haji?”
“Jumat malam. Di ruang tamu ini. Orang tuanya semua datang, dan pintu dibuka lebar.” Paman melipat kertas itu dan menyelipkannya ke saku kemeja, bukan ke map. “Kertas ini Paman bawa. Biar Paman bisa cocokkan dengan matanya.”