Lima hari sesudah surat tangan itu, Jumat malam, Paman Ridwan menggeser sofa ruang tamu dua kali sebelum merasa puas. Ia menata ruangan seperti guru menata bangku ujian: sofa panjang di sisi kiri untuk tamu, kursi kayu favoritnya di tengah menghadap pintu, Ibu dan Hana di sisi kanan, dan pintu depan terbuka lebar sampai gordennya berkibar tiap kali motor lewat di jalan.
“Anak itu duduk di sini,” kata Paman sambil menepuk kursi plastik di depannya, kursi tunggal tanpa sandaran lengan. “Berhadapan dengan Paman. Bukan dengan Hana.”
“Dik, itu kursi tukang air,” protes Ibu.
“Justru karena itu.”
Mereka tiba tepat pukul tujuh lewat lima belas. Pak Malik berjalan di depan dengan kemeja koko putih, Bu Malik di sampingnya menggenggam tas kecil sampai kuku jarinya putih, lalu Hawa, dan paling belakang, Adam dengan batik cokelat yang jelas-jelas pinjaman karena lengannya kepanjangan. Ustadzah Aisyah dan Ustadz Hasan sudah menunggu di kursi tambahan. Dan di antara kaki Hawa, bersembunyi dengan tidak sempurna, ada kepala kecil bergigi ompong.
“Rama,” desis Hawa.
“Rama mau lihat Ate Hana.”
“Nanti. Duduk diam.”
Hana, yang menyajikan teh dari dapur, hampir menjatuhkan nampan. Ibu menahan senyum dengan sekuat tenaga.
Setelah salam, Ustadz Hasan membuka acara dengan doa dan satu pesan yang ia ucapkan perlahan. “Nadzor itu melihat, bukan menghakimi. Kita melihat apa adanya, bukan apa yang kita harapkan. Yang tampak jujur belum tentu benar, tapi yang menyembunyikan pasti ada yang ditutupi.” Ia menoleh pada Paman. “Silakan, Pak Haji.”
Paman menautkan jemari di perut dan menatap Adam tanpa berkedip. Hana, duduk di samping Ibu dengan lutut rapat, merasa ruangan ini mengecil sampai tinggal satu garis lurus dari mata Paman ke mata lelaki di kursi plastik itu.
“Nak Adam. Terakhir kali kamu meninggalkan salat, kapan?”
Adam tidak langsung menjawab. Ia menarik napas, dan Hana melihat ibu jarinya menekan telapak tangan sendiri.
“Kemarin Zuhur mundur setengah jam, Pak Haji, karena rapat. Meninggalkan sama sekali, dulu sering. Sejak lebih dari dua bulan lalu tidak lagi. Saya tidak akan bilang saya tidak pernah telat. Saya masih sering. Saya pasang dua alarm, dan itu belum cukup.”
“Dua belum cukup?”
“Sekarang tiga, Pak Haji. Yang ketiga Papa saya, yang ketuk pintu.”
Pak Malik, di sofa, memejamkan mata sebentar seperti orang menahan tawa dan malu bersamaan. Paman membetulkan letak pecinya.
“Uang. Berapa penghasilanmu sebulan?”
“Tidak tetap, Pak Haji. Dua kedai, satu masih mencicil gedung ke Papa. Kadang naik, kadang turun. Hana pemegang bagi hasil di salah satunya, itu hasil kerjanya, bukan hadiah.” Adam berhenti. “Saya akan tunjukkan buku keuangannya kapan pun Bapak minta.”
“Dan perempuan.”
Ruangan menahan napas. Bu Malik menggenggam lengan Hawa. Hana menunduk dan menatap kedua tangannya di pangkuan.
“Saya pernah berpacaran lima tahun dan dekat dengan beberapa perempuan sesudahnya, Pak Haji. Saya tidak menghitungnya, dan itu bukan hal yang pantas dibanggakan. Itu sudah saya tulis di CV.” Adam menatap lurus ke mata Paman. “Kalau salah satu dari mereka datang ke pintu ini, saya akan keluar dan bicara di depan Bapak. Saya tidak akan bersembunyi dan tidak akan membiarkan Hana yang menghadapi.”
Paman mengetukkan jarinya di lengan kursi, pelan, tiga kali. “Kalau mereka membawa cerita yang tidak kamu sukai?”
“Saya akan bilang itu benar kalau memang benar.”
Bu Malik terisak. Ia berusaha menahannya dengan punggung tangan, dan gagal. Hawa menepuk punggungnya dan bergumam, “Ma, Ma, nanti Paman Ridwan kira kita ngancem,” tapi suaranya sendiri serak.
“Pak Haji.” Pak Malik membuka matanya. “Anak saya berantakan. Ia ceroboh, banyak bicara, dan tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari ibunya. Kalau Bapak menolak, saya terima dengan lapang. Tapi tolong bukan karena Bapak menilai dia kurang berusaha. Empat puluh hari itu ia jalani utuh.”
“Itu Paman sudah tahu.” Paman menatap lama lelaki seusia kakaknya yang sudah tiada itu. “Paman hanya ingin dengar dari mulutnya sendiri apa yang ia tidak sukai dari dirinya.”
Rama, yang selama ini bertengger di balik lutut ibunya, tiba-tiba menjulurkan kepala.
“Ate Hana jadi aunty beneran?”
Hening setengah detik. Lalu Hawa menutup wajah dengan kedua tangan, Ustadz Hasan batuk panjang, dan Ibu menunduk dengan bahu bergetar. Paman Ridwan, yang tidak tersenyum sepanjang acara, menoleh ke bocah itu dengan wajah yang tetap tegang.
“Siapa namamu?”
“Rama!”
“Kamu tahu tidak, anak kecil yang bertanya waktu orang dewasa sedang bicara itu tandanya apa?”
“Tandanya Rama pintar!”
“...Tandanya kamu boleh duduk di sini.” Paman menunjuk sandaran sofa di samping Ibu. “Tapi tidak boleh bicara.”
Rama langsung berlari ke sisi Ibu Ranti dan duduk dengan punggung tegak seperti prajurit. Hana, di seberang, menggigit bibir bawahnya sampai terasa.
===
Dua puluh menit yang diberikan untuk mereka berdua datang sesudah teh kedua, dan kali ini Paman sendiri yang memilih tempatnya: dua kursi di ujung ruang tamu, berseberangan, jarak tiga langkah, pintu terbuka di antara mereka. Para orang tua duduk di seberang ruangan. Ustadzah membuka jam tangannya dan meletakkannya di meja. Hana mengamati lelaki di depannya, yang kini, tanpa Paman, terlihat sedikit lebih kecil di batik pinjaman itu.
Beberapa detik pertama tidak ada yang bicara. Hana menyadari ia sedang menatap lipatan batik Adam, dan karena tak tahu harus memulai dari mana, ia memilih yang paling bodoh.
“Batiknya pinjaman?”
“Punya Mas Ardi.” Adam menarik lengan yang kepanjangan itu. “Batik gue sendiri sebelas, semuanya warna kuning, hijau, sama biru langit. Mama bilang itu bukan baju nadzor, itu baju kondangan di pasar malam.”
Hana menahan tawa dengan telapak tangan di mulut dan gagal setengah. Di seberang ruangan Bu Malik menegakkan punggung dan berpura-pura melihat langit-langit.
“Boleh saya yang bertanya dulu?” kata Adam, kali ini lebih pelan.
“Silakan.”
“Apa yang bisa saya lakukan supaya kamu tidak merasa dipaksa?”
Hana tidak menyangka. Semua persiapannya jatuh sekaligus: ia sudah siap ditanya cita-cita, jadwal, atau hal-hal yang biasa ditanyakan orang di ruangan seperti ini. Bukan itu.
“Kasih gue ruang buat bilang tidak,” katanya pelan, “tanpa harus menjelaskan. Dan tanpa lo langsung menganggapnya akhir dunia.”
“Gue ... maksud saya,” Adam mengoreksi, lalu meringis kecil karena Ibu di seberang ruangan menaikkan alis, “saya nggak akan mengunci pintu itu. Lo yang pegang kuncinya. Maksud saya, kamu. Dan kalau kamu butuh waktu buat pikir, saya nggak akan tanya tiap hari.”
“Lo bakal tanya tiap hari?”
“Hampir. Papa melarang. Dia bilang orang yang ditanya tiap hari jawabannya jadi ‘ya’ karena capek.”
Hana menatapnya, setengah tidak percaya, setengah tersentuh. Dari seberang ruangan, Ustadzah mengamati jam tangannya yang sudah berjalan sebelas menit. Hana melirik, hanya sekali, sekilas, ke kerah batik yang kebesaran dan ke telinga lelaki itu yang memerah di tepinya.
“Nggak usah ganti-ganti panggilan, kali,” katanya. “Gue yang pusing.”
“Dua-duanya masih dalam proses,” kata Adam.