“Anak itu lumayan,” kata Paman Ridwan pada Ahad pagi, sambil membelah roti dengan pisau seolah membelah dalil. “Lumayan bukan berarti lulus. Jangan ge-er.”
“Hana tidak ge-er, Paman.”
“Pipimu merah.”
“Itu panas dari oven.”
Ibu, yang sedang membalik pisang goreng, batuk kecil dengan punggung menghadap mereka. Sebelum Paman sempat menimpali, bel pagar berbunyi dua kali, ceria, dan dari halaman terdengar suara yang Hana kenal sejak semester pertama kuliah.
“Assalamu’alaikum, Tante! Ini Riana sama Risa!”
Mereka masuk membawa keranjang buah yang terlalu besar dan wajah yang terlalu antusias. Riana mencium tangan Ibu, Risa memeluk Hana sampai kerudungnya miring, dan keduanya baru sadar ada seorang lelaki tua berkacamata di kursi kayu ketika sudah sampai di tengah ruang tamu.
“Eh, Om ini ...”
“Pamannya Hana,” jawab Paman. “Silakan duduk, Nak.”
“Kami dengar Tante sempat masuk rumah sakit,” kata Risa sambil menyodorkan jeruk. “Kami nggak berani telepon, takut ganggu. Tadi pagi baru kebayang buat mampir.”
“Alhamdulillah sudah sehat,” sahut Ibu. “Terima kasih, ya.”
Percakapan mengalir ringan sampai Riana, yang tidak pernah bisa menyimpan apa pun lebih dari lima menit, mencondongkan badan dan berbisik dengan volume yang jelas-jelas tidak berbisik.
“Han, kata Risa lo lagi deket sama Adam ya? Adam yang punya kafe susu itu? Yang kuliah bareng kita?”
Hana membeku. Dari sudut matanya ia melihat Paman menurunkan cangkir tehnya. Gerakan itu pelan, tapi kamar seperti turun satu derajat.
“Siapa yang bilang?” tanya Hana, terlalu cepat.
“Sheira. Dia kan sering lihat lo di kafe itu. Eh, tapi hati-hati lho, Han, jangan salah paham, Adam itu dulu ...” Riana menempelkan tangan ke mulut, tapi terlambat. “Maksud gue, dulu waktu kuliah dia itu, ya ampun, playboy kampus. Cewek anak sana, anak sini, anak mana-mana, semuanya pernah. Terus ada satu yang sampai nangis di depan fotokopian. Lo inget kan, Ris? Iya kan?”
“Riana,” desis Risa.
“Apa? Kan fakta.”
Tidak ada yang bicara. Ibu menatap pisang goreng. Hana menatap jeruk. Paman Ridwan, dengan gerakan yang perlahan sekali, melepas kacamatanya dan menyekanya dengan ujung sarung.
“Nak Riana,” katanya. “Tolong ulangi dari bagian ‘nangis di depan fotokopian’.”
===
Dua puluh menit kemudian, setelah Riana pamit dengan wajah semerah tomat dan Risa tinggal untuk “menjelaskan” di teras, Paman memanggil Hana ke ruang tamu dan menyuruhnya duduk.
“Paman bukan marah.”
“Paman kelihatan marah.”
“Paman kecewa pada diri sendiri, karena baru mendengar ini dari kawanmu, bukan dari lelakinya.” Paman menautkan jemari. “Tapi mari adil. Telepon temanmu itu. Satu yang lebih tenang. Pasang pengeras suara. Paman mau dengar apa adanya.”
Hana mengangkat ponsel dan menyalakan pengeras suara. Risa menjawab pada dering kedua dari teras, jelas masih berada sepuluh langkah dari sana.
“Han?”
“Ris. Tolong bilang yang sebenarnya soal Adam. Paman di sini.”
“Halo, Om.” Risa menarik napas. “Jujur ya, Om. Adam itu playboy kampus, tak bisa saya bela. Banyak cewek dekat sama dia, banyak yang sakit hati. Tapi ...” Ada jeda panjang, dan suaranya jadi lebih tenang. “Akhir-akhir ini saya sering ke Milk’s Heaven buat ngerjain tesis. Saya lihat dia ajak pegawainya salat, saya lihat dia ngelayanin ibu-ibu panti sampai belepotan. Dia berubah, Om. Saya nggak bilang saya tahu alasannya. Tapi saya lihat sekarang dia beda.”
Paman menatap ponsel itu seolah benda itu berbohong. “Beda itu bisa bertahan atau tidak.”
“Itu yang saya nggak tahu, Om. Cuma Allah yang tahu.”
“Terima kasih, Nak.”
Telepon ditutup. Paman terdiam beberapa saat, dan Hana menunggu ledakan yang tidak datang.
“Paman tidak mau memutuskan dari cerita orang. Juga tidak dari surat yang rapi.” Paman mengangkat satu jari. “Empat Jumat. Empat kali berturut-turut dia datang ke rumah ini, makan di meja yang sama, membantu apa saja yang Ibumu suruh. Paman mau lihat bagaimana dia memperlakukan rumah yang tidak ada penontonnya. Kalau lulus empat kali, Paman bicara lagi.”
“Dan kalau tidak?”
“Selesai, tanpa membahas.”
Ustadzah Aisyah tiba menjelang Zuhur dengan tas rantang kain di tangan. Ketika mendengar syarat Paman, ia menelepon Adam di teras dengan pengeras suara. Hana duduk di sisi Ibu, mendengarkan lelaki itu menjawab dari seberang, sama sekali tidak ragu.
“Empat Jumat, Ustadzah? Siap. Saya bawa apa untuk dimasak, Pak Haji?”
“Bawa tangan,” sahut Paman. “Dan sabar.”
===
Rantang itu diletakkan Ustadzah di meja makan dengan hati-hati, seperti menaruh telur.
“Dari Bu Salma,” katanya. “Yang ketiga sejak Ibu pulang dari rumah sakit.”
Hana menahan napas. Ibu memandang rantang itu, lalu menoleh pada selembar kartu putih yang terselip di bawah tutupnya. Hana membaca dari bahunya.
Semoga Ibu lekas sehat. Saya belum berani datang.
“Buburnya ayam,” kata Ustadzah. “Dengan bawang goreng yang banyak. Ustadzah hanya mengantar, Hana. Bu Salma tidak menitip pesan lain.”
“Zafran?” tanya Hana, terlalu pelan.
“Sehat. Ia datang ke kajian dan duduk di belakang. Ia belum berani menyapa Ustadzah.” Ustadzah menatap rantang itu dengan wajah yang lembut dan lelah. “Mereka sedang belajar mengaku salah, Nak. Itu pekerjaan yang lebih lambat daripada belajar membuat bubur.”
Ibu tidak berkomentar. Ia mengambil mangkuk dari rak, menuang bubur itu perlahan, duduk, dan makan satu sendok. Hana menunggu. Ibu mengunyah lama. Menelan.
“Asinnya pas,” katanya akhirnya, hanya itu. Ia meneruskan makan dengan wajah datar, dan Hana melihat bahwa mata ibunya basah, tapi tidak jatuh.
===
Sore itu, kios di jalan raya terbuka untuk pertama kalinya setelah sekian lama Hana hanya memandanginya lewat jendela mobil. Pemiliknya, seorang lelaki paruh baya berpeci putih, mengangkat rolling door yang berkarat sambil berkata, “Sudah lama kosong, Mbak. Syukur ada yang mau.”
Di dalamnya hanya ada lantai keramik retak, satu etalase kaca berdebu, dan sebuah dapur sempit di belakang yang dindingnya masih berbekas minyak penyewa lama. Hana berdiri di tengah ruangan itu dengan tas di dada dan membayangkan oven di pojok kiri, meja adonan di bawah jendela, dan deretan toples vla di rak. Ibu menyusul masuk, melihat dapur belakang, dan berkata tanpa ditanya, “Kompornya harus dua tungku. Satu tidak cukup.”
“Iya, Bu.”
“Dan lantainya diganti.”
“Iya, Bu.”
“Dan nanti Ibu yang urus kuenya yang kecil-kecil, kamu yang besar.” Ibu berjalan keluar, tetapi Hana sempat melihat ia mengusap kusen pintu dengan telapak tangan, pelan, seperti mengusap kepala seorang anak.
Hana menandatangani surat sewa di atas meja lipat dengan pulpen yang tintanya hampir habis. Ibu dan Paman menandatangani sebagai saksi, Paman membaca tiap pasal dengan kacamata baca dan mencoret satu kata dengan puas. Uangnya dari tabungan yang ia sisihkan sedikit demi sedikit dan dari amplop bagi hasil pertama yang dulu Adam serahkan. Hana tidak memikirkan siapa yang menyumbang berapa. Ia hanya memikirkan kunci dingin di telapak tangannya.
“Selamat, Nak,” kata Paman, dan ia menepuk kepala Hana dengan gerakan yang sama seperti ketika ia masih SMP. “Kakakmu pasti bangga.”
“Terima kasih, Paman.”
“Jangan terima kasih dulu.” Paman melipat salinan kontrak dan menyelipkannya ke saku. “Jumat depan kita lihat apakah anak itu datang membawa tangan atau membawa alasan.”