“Dia datang,” kata Ibu dari dapur, dan itu bukan pertanyaan.
Sepeda motor berhenti di depan pagar tepat pukul empat lewat lima menit. Hana, yang sedang menyayat vla di ruang makan dengan pisau yang terlalu tajam untuk tangan yang terlalu gugup, tidak perlu menoleh untuk tahu siapa. Lima hari sejak kunci kios berpindah ke tangannya, ia sudah menghabiskan tiga sore mengepel lantai keramik yang retak, dan sudah cuti dari Milk’s Heaven cukup lama sampai refleksnya menoleh tiap kali ada yang berdenting.
Paman Ridwan, yang sudah duduk di kursi kayu sejak pukul dua dengan sebuah koran yang tidak ia baca, menurunkan kacamatanya. Hana menahan napas. Dari balik tirai ia melihat Adam turun dari motor dengan helm masih di tangan dan dua kantong plastik besar yang hampir menyeret tanah.
“Assalamu’alaikum, Pak Haji. Bu.”
“Wa’alaikumussalam.” Paman tidak berdiri. “Itu apa?”
“Belanjaan, Pak Haji.” Adam mengangkat kantong-kantong itu sedikit. “Beras, telur, tepung, gula, minyak, mentega. Kata Ustadzah Bapak bilang bawa tangan. Saya bawa dua, lengkap dengan isinya.”
“Hadiah?”
“Hadiah itu kalau ada pitanya, Pak Haji. Ini belanjaan. Bisa ditagih struknya.” Adam merogoh saku dan mengeluarkan nota yang sudah lecek, yang membuat Ibu di balik pintu dapur tersedak tawa. Paman memandang nota itu lama, lalu menunjuk dengan dagu.
“Taruh di dapur. Terus ambil sapu di belakang pintu dan bersihkan halaman. Ibu Hana nanti akan memberimu pekerjaan lain.”
“Siap.”
Hana melihat dari jendela samping ketika lelaki itu menyapu halaman dengan gerakan yang jelas bukan gerakan orang yang biasa memegang sapu. Daun kamboja berhamburan ke arah yang salah, ranting-ranting terseret, dan ia sempat berhenti untuk membetulkan tali sandal sambil bergumam sendiri. Paman mengamatinya dari beranda tanpa kata. Pada menit kedelapan, Paman bangkit, mengambil sapu lidi lain, dan menyapu satu sisi halaman dengan satu gerakan panjang.
“Ayunkan dari bahu, bukan dari pergelangan,” katanya. “Rumah itu dibangun dari hal-hal kecil. Siapa yang menyapu, siapa yang menutup pintu, siapa yang mematikan lampu terakhir.”
“Siap, Pak Haji.” Adam menirukan, dan debu pun mengalir ke arah yang benar.
===
Di dapur, Ibu memasang celemek kedua di leher Adam dan menunjuk sebuah panci kecil di atas kompor.
“Hana mau bikin kue sus untuk pesanan kecil. Kamu bantu masak adonannya. Air, mentega, garam, tepung. Aduk terus, jangan berhenti, jangan diam walau lengan pegal.”
“Berapa lama, Bu?”
“Sampai adonannya lepas dari dinding panci. Kamu akan tahu.”
Hana, di ruang makan sebelah, pura-pura sibuk menata toples dengan pintu terbuka lebar. Paman duduk di kursi dekat ambang, koran terbuka, mata tidak bergeser dari halaman yang sama sejak lima belas menit lalu. Adam mengaduk dengan sendok kayu. Satu menit. Dua menit. Adonan itu menggumpal ke satu sisi dan menempel di dasar, seperti punya kehendak sendiri.
“Bu, ini ... bergerak sendiri.”
“Itu pertanda kamu mengaduk terlalu bersemangat. Pelan, Nak. Bayangkan kamu sedang membujuk.”
“Membujuk adonan?”
“Membujuk apa pun yang kamu mau tetap di tempatnya.” Ibu menyentuh sendok itu dengan dua jarinya dan menggeser arah putaran. “Begitu.”
Adonan itu akhirnya menyatu, licin dan berkilat, lalu lepas dari dinding panci dengan bunyi pelan seperti napas lega. Adam menoleh pada Ibu dengan wajah yang terlalu bangga untuk lelaki dewasa.
“Bu, ini sudah?”
“Sudah.”
“Saya bikin kue.”
“Kamu baru mengaduk adonan.” Tetapi Ibu tersenyum, dan Hana, dari balik ambang, memalingkan wajah ke dinding supaya tawanya tidak terdengar. Adam menoleh, matanya bertemu mata Hana sekejap, dan keduanya buru-buru melihat ke arah lain.
Paman membalik halaman korannya dengan bunyi berlebihan.
===
Makan malam diatur Ibu di meja panjang ruang makan, dengan pintu ke ruang tamu tetap terbuka dan Paman di ujung meja seperti hakim di ujung sidang. Ada sayur lodeh, ikan goreng, tempe, dan sambal yang sengaja Ibu kurangi pedasnya karena maag Paman. Hana duduk di sebelah Ibu, Adam di seberang mereka, dan Paman menatap piring kosong di depan lelaki itu.
“Yang memimpin doa, kamu.”
Adam menelan ludah. “Siap, Pak Haji.”
Ia membaca doa makan dengan suara pelan, sedikit terlalu cepat di kata tengah. Paman mengangkat tangan.
“Ulang. Pelan. Doa itu bukan balapan.”
Adam mengulang. Kali ini ia menahan napas di satu kata yang tadi terlewat, dan Hana, yang duduk tiga kursi dari sana, mendapati dirinya ikut menahan napas.
“Nah.” Paman mengambil sendok. “Doa sebelum makan bukan syarat supaya makanan enak. Itu syarat supaya kita ingat siapa yang memberi. Lupa itu penyakit yang paling sering diderita orang yang sehat.”
Mereka makan dengan sedikit bicara. Adam menghabiskan dua piring nasi dan tidak menyentuh sambal sama sekali, karena Ibu telah mengatakan Paman tidak boleh pedas, dan Adam, rupanya, menafsirkan itu sebagai aturan berlaku untuk seisi meja. Ibu memperhatikannya diam-diam dan menyimpan komentarnya.
Sesudah piring-piring diangkat, Adam berdiri lama di ruang tamu di depan foto berbingkai kayu di dinding, foto lelaki berpeci dengan senyum malu-malu. Pintu depan masih terbuka. Paman duduk di kursinya, pura-pura membaca.
“Beliau Ayah Hana?”
“Iya.” Hana, yang membawa nampan gelas, berhenti di ambang dapur. Ia tidak menyangka suaranya akan keluar sebiasa itu. “Meninggal waktu Hana SMP.”
“Boleh saya tahu orangnya seperti apa?”
Pertanyaan itu tidak termasuk daftar apa pun yang Hana siapkan. Ia menaruh nampan, menegakkan punggung, dan menjawab dalam tiga kalimat, karena lebih dari itu ia tidak sanggup.
“Ayah suka diam, tapi kalau tertawa seluruh rumah ikut. Dia menyiram kembang sepatu sambil bersenandung dengan lirik yang selalu salah. Dia sering bilang, orang jujur itu sering rugi, tapi tidurnya nyenyak.”
Adam mengangguk pelan, memandang foto itu. “Saya ingin ketemu beliau.”
“Beliau pasti suka kamu,” sahut Ibu dari dapur. “Atau pasti tidak. Ayahnya Hana itu tidak suka orang yang gampang disukai.”
“Berarti saya masih ada harapan, Bu,” kata Adam, dan Paman, tanpa menoleh dari koran, berdeham dengan volume yang sulit disebut bukan tawa.
===
Adam pulang pukul sembilan. Paman mengantarnya sampai pagar dan berdiri di sana sampai lampu motornya hilang di tikungan. Hana, yang membereskan gelas, mendengar pamannya kembali masuk dan duduk di teras dengan bunyi berat.
Ponsel Paman berbunyi. Bukan nada panggilan, melainkan dua denting pendek pesan masuk. Ia mengeluarkannya dari saku baju koko, memicingkan mata, dan membuka layar.
Hana berdiri dengan gelas basah di tangan, tidak jadi menaruhnya di rak. Selama ini Paman membaca pesan sambil mengomentari huruf yang terlalu kecil, sambil mengeluh soal pulsa, sambil membacakan isinya keras-keras kalau ada kabar baik. Malam ini ia membacanya tanpa sepatah kata, dan kesunyian itu lebih ribut daripada keluhan apa pun.
Hana melihat dari jendela ruang tamu. Ia melihat bahu pamannya menegak. Ia melihat jempol pamannya menggeser layar ke bawah, pelan, sekali, dua kali, tiga kali, sementara wajahnya berubah dari lelah menjadi sesuatu yang lain, yang pernah ia lihat sekali saja, ketika Paman mendengar kabar Ayah sakit.
“Paman?”
Paman tidak menoleh. Ia menatap layar yang cahayanya memantul di kacamata.
“Tidak apa-apa, Nak. Tidurlah.” Suaranya datar sekali. “Besok pagi Paman mau bicara.”