Paman Ridwan sudah duduk di teras ketika Hana keluar membawa teh, dan dari cara lelaki itu memegang ponselnya, dengan dua tangan, jauh dari badan, seperti memegang sesuatu yang bisa menggigit, Hana tahu semalam pamannya tidak tidur.
“Letakkan di situ.” Paman menunjuk meja kecil di antara dua kursi. “Duduk.”
Hana duduk. Dari dalam rumah terdengar Ibu mengaduk sesuatu di panci dengan bunyi sendok yang terlalu pelan, bunyi orang yang sengaja ingin ikut mendengar.
“Paman sudah salat istikharah tiga kali sejak semalam,” kata Paman. “Jawabannya sama setiap kali. Hentikan.”
“Hentikan apa, Paman?”
“Semuanya. Paman akan telepon Ustadzah Aisyah sebelum Zuhur dan bilang proses ini selesai. Kakakmu tidak membesarkan anak perempuannya untuk dijodohkan dengan lelaki yang punya ...” Paman berhenti, menarik napas lewat hidung. “Lihat sendiri.”
Ia menyodorkan ponselnya. Hana menerimanya dengan ujung jari.
Di layar ada percakapan dengan nomor yang tidak tersimpan, tanpa foto profil, tanpa nama. Pesan pertama masuk pukul sembilan lewat tujuh menit malam tadi: tangkapan layar obrolan panjang berwarna hijau dan putih. Hana membesarkannya dengan dua jari. Nama di bagian atas, Diva. Pesan-pesan Adam di bawahnya pendek-pendek dan manis. Kamu cantik banget hari ini. Jangan cemberut dong. Gue kangen suara lo. Ada gambar hati. Ada satu pesan yang jauh lebih panjang, tentang kapan Adam akan menjemput Diva nonton, dan kalimat terakhirnya membuat tengkuk Hana dingin: Lo satu-satunya yang bikin gue betah.
Tangkapan layar kedua, ketiga, keempat, semuanya serupa. Lalu tiga foto. Adam di sebuah kafe dengan tangan di sandaran kursi seorang perempuan berambut panjang. Adam tertawa lebar di depan dua perempuan lain di foto yang kelihatannya diambil dari jauh. Dan foto terakhir: Adam duduk berhadapan dengan seorang perempuan di restoran, kemeja rapi, dua gelas minuman, kepalanya menunduk seperti orang yang sedang bicara dengan sungguh-sungguh. Waktu foto itu diambil tertera di sudut: Ahad, 12.41.
Hana menghitung tanpa sengaja. Ahad. Tiga hari setelah Adam berdiri di pantry dan berkata pertanyaannya serius.
“Paman belum tahu siapa perempuan itu,” kata Paman, “tapi Paman bisa menebak. Tiga hari setelah dia bilang serius kepadamu, dia makan siang berdua dengan perempuan lain. Sekarang Paman tanya, apa yang mau kamu bela?”
“Hana belum membela siapa-siapa, Paman.”
“Paman tidak mau kamu membela. Paman mau kamu selamat.”
===
Hana membaca pelan-pelan, sekali lagi dari awal. Ia membawa ponsel itu ke ruang makan, duduk di depan meja yang masih ada remah tepung dari semalam, dan menaruh buku catatan kecil yang biasa ia pakai untuk daftar belanja di sebelahnya. Ibu meletakkan segelas air di dekat sikunya tanpa bicara, lalu berdiri di belakang kursi.
“Ibu boleh lihat?”
“Sebentar, Bu.”
Ia menyalin satu per satu. Tangkapan layar pertama: tanggal di bawah obrolan menunjukkan hari-hari lama, dari masa ketika Hana belum kenal Adam sebagai siapa-siapa selain om Rama. Kedua: sebelum acara anak panti. Ketiga: sebelum Diana menikah. Foto kafe pertama itu bahkan memperlihatkan Adam dengan rambut yang lebih panjang. Tidak satu pun dari semua itu bertanggal sesudah Adam bilang ia serius.
Kecuali foto terakhir.
Hana menulis angka-angka itu berderet di kertas, dan mendadak ia melihat sesuatu yang tidak sejajar. Semuanya lama, rapi, dipilih. Yang satu itu baru, dan satu itu dipotret dari jarak yang pas, dari sudut yang pas, oleh orang yang tahu persis kapan harus menekan tombol.
“Bu,” katanya pelan. “Ini bukan semua yang ada. Ini yang dipilih.”
“Dipilih siapa?”
“Orang yang mau Paman marah.”
Ia menggulir ke atas lagi, ke daftar waktu pesan yang masuk. Pukul 21.07. Pukul 21.09. Pukul 21.11. Lalu satu baris kecil abu-abu di pukul 21.58 yang hampir tidak kelihatan: Pesan ini telah dihapus. Satu menit sebelumnya, pukul 21.57, ada pesan lain yang kini juga tak terbaca.
Hana mengangkat kepala. “Paman sempat membaca yang ini?”
“Paman lihat sebelum hilang.” Suara Paman terdengar dari ambang pintu, rendah. Ia sudah masuk dan berdiri di sana dengan tangan di pinggang. “Isinya cuma tiga kata: Ada satu lagi. Satu menit, lalu dihapus. Paman pikir ia salah kirim.”
“Orang yang salah kirim tidak menulis ‘ada satu lagi’, Paman. Orang yang menulis itu sedang mengancam. Lalu dia tidak sanggup.”
“Dia sanggup kirim hal sebanyak itu.”
“Iya,” kata Hana. “Tapi yang satu itu dia hapus.”
Paman tidak menjawab. Ibu memandang Hana lama, lalu menaruh satu telapak tangan di bahunya, hangat dan kering. Paman berbalik ke teras dengan bahu yang masih tegak, dan pintu kasa berderit di belakangnya.
“Kamu tidak apa-apa, Nak?” bisik Ibu.
“Hana baik-baik saja, Bu.” Ia menunjuk foto terakhir dengan ujung pulpen. “Cuma hari Ahad itu. Hari itu Ustadzah menelepon pagi-pagi, Ibu menangis di dapur, dan Hana belum berani membuka CV yang masuk. Siangnya Adam makan di restoran, sambil bicara sungguh-sungguh dengan perempuan itu.” Ia menarik napas. “Hana nggak cemburu, Bu. Hana cuma ... tahu persis kenapa Paman marah. Kalau Hana jadi Paman, Hana juga mau berhenti.”
“Tapi Hana tidak berhenti.”
“Karena angkanya ganjil, Bu. Yang baru cuma satu. Dan yang satu itu justru yang paling mirip kencan.”
Ibu tersenyum sedikit, senyum capek yang sama seperti ketika ia pulang dari rumah sakit. “Ayahmu juga begitu kalau ada kabar tidak enak. Dia suka menghitung dulu sebelum marah. Dan sering benar.”
===
“Dalam Al-Qur’an Allah berkata,” ucap Hana sambil menutup buku catatannya, dan ia sendiri heran suaranya tidak gemetar, “kalau ada orang datang membawa kabar, periksalah dulu. Jangan sampai kita menimpakan sesuatu kepada suatu kaum karena tidak tahu, lalu menyesal. Ustadzah yang mengajarkan itu, Paman. Hana tidak mau memutuskan dari beberapa foto yang dikirim orang yang tidak mau menyebut namanya.”
“Paman tidak memutuskan dari foto. Paman memutuskan dari lelaki yang membiarkan hal-hal begini terjadi.”
“Kalau begitu biarkan Hana dengar lelakinya.” Hana menatap pamannya. “Satu kali. Di depan Paman, di depan Ustadzah. Tidak di kafe, tidak berdua. Kalau jawabannya tidak masuk akal, Hana sendiri yang akan menelepon Ustadzah.”
Paman menatapnya lama. Matanya, yang malam tadi tampak seperti mata orang yang sedang kehilangan, kini terlihat seperti mata lelaki yang menimbang. Lalu ia menarik kursi dan duduk, pelan, dengan bunyi lutut.
“Syaratnya,” katanya.
“Apa pun, Paman.”
“Kamu duduk. Kamu diam. Yang bertanya Paman, bukan kamu. Kalau kamu membela dia sepatah kata saja, pertemuan itu bubar.”
“Hana duduk diam.”
“Dan kalau ia berbohong sedikit saja ...”
“Hana yang tutup pintunya sendiri, Paman.”
Paman mengambil ponselnya dari tangan Hana. Ia menelepon Ustadzah Aisyah dengan pengeras suara, dan suara perempuan itu terdengar dari seberang dengan nada tertahan, jelas sudah menduga ada yang tidak beres sejak sebelum telepon diangkat. Setelah Paman menyebut kiriman itu dengan satu kalimat pendek dan kaku, ada hening yang panjang.
“Besok pagi, setelah subuh, di rumah saya,” kata Ustadzah akhirnya. “Biar saya sendiri yang menelepon Adam. Dan Ustadz Hasan ikut.”
“Panggil papanya juga,” kata Paman. “Kalau anak itu mau dihakimi, biar ayahnya melihat.”
Sambungan ditutup. Tiga menit kemudian ponsel Paman berdenting. Ustadzah menulis, dan Paman membacakannya keras-keras dengan nada orang yang tidak mau membiarkan dirinya terkejut.
“Adam bilang: Saya datang. Saya sudah tahu apa isinya, Ustadzah. Saya akan bawa Papa.”
Ibu menoleh pada Hana. Hana menatap meja, pada angka-angka yang tadi ia tulis berjajar di kertas.
“Sudah tahu isinya?” ulang Paman, dan kali ini kalimat itu terdengar bukan seperti tuduhan, melainkan pertanyaan yang benar-benar tidak ia ketahui jawabannya.