Ruang tamu Ustadzah Aisyah biasanya dipakai untuk pengajian, dan pagi itu Hana baru sadar betapa sempitnya ruangan itu kalau kursinya disusun berhadap-hadapan. Karpet hijau digulung ke pojok. Empat kursi rotan berjajar di satu sisi untuk Paman, Ustadz Hasan, dan dua yang masih kosong. Di sisi seberang, hanya ada satu kursi, tepat menghadap Paman. Dan satu bangku kecil di dekat jendela, yang Ustadzah tunjuk untuk Hana tanpa suara.
“Duduk di situ, Nak,” bisiknya. “Dari situ kamu bisa melihat semuanya dan tidak harus bicara.”
Pintu depan dibiarkan terbuka sampai ke dinding. Di luar, matahari baru naik di atas pagar, dan Hana, yang sejak subuh menghafal satu kalimat, kalau Paman bertanya, jangan jawab, mendapati kalimat itu sudah menguap dari kepalanya.
Mereka datang pukul tujuh kurang lima. Pak Malik masuk lebih dulu dengan peci hitam dan wajah yang tenang, terlalu tenang untuk orang yang semalam kemungkinan besar tidak tidur. Di belakangnya Adam, bukan dengan kaus atau kemeja kantor, melainkan baju koko abu-abu yang rapi dan celana bahan, dan Hana tahu itu bukan upaya tampil baik. Itu cara seseorang menghormati ruang tempat ia akan dihukum.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam,” jawab Paman. “Duduk.”
Adam duduk. Ia tidak memandang Hana. Ia memandang Paman, lalu Ustadz Hasan, lalu telapak tangannya sendiri.
“Pak Haji, boleh saya bicara dulu?”
“Tidak. Paman yang bertanya.” Paman mengeluarkan ponselnya, membuka percakapan itu, dan meletakkannya di meja bundar di antara mereka dengan layar menghadap Adam. “Kamu kenal ini?”
Adam menunduk. Hana melihat rahangnya mengeras sekejap, lalu mengendur.
“Kenal, Pak Haji. Semuanya.”
“Yang mana yang benar?”
“Semuanya benar.”
Ustadz Hasan mengangkat alis. Pak Malik menutup mata satu detik.
===
“Obrolan ini,” kata Adam, dan suaranya pelan tetapi tidak gemetar, “dengan Diva, jauh sebelum saya mengenal Hana dengan benar. Saya yang menulis kalimat-kalimat itu. Semuanya. Saya tidak akan bilang saya bercanda atau sedang mabuk atau itu bukan saya. Itu saya, dulu.”
“Foto-foto ini?”
“Foto pertama itu Diva, di sebuah kafe, dan tangan saya di sandaran kursinya. Rambut saya masih panjang waktu itu, Pak Haji. Saya tahu betul apa maksud tangan itu, dan saya tidak akan membela diri. Foto kedua di Coffee’s Heaven. Dua pelanggan minta foto bareng karena kopi mereka gratis di hari ulang tahun, dan saya tertawa karena yang satu menumpahkan kopinya ke meja. Bisa ditanya ke pegawai saya.” Ia mengambil napas. “Foto ketiga ...”
Ia berhenti. Baru sekarang ia mengangkat mata, dan matanya bertemu mata Hana di bangku dekat jendela. Hana tidak membuang muka.
“Foto ketiga itu Desi. Ahad. Tiga hari setelah saya bilang kepada Hana pertanyaan saya serius.” Suaranya turun. “Itu hari saya mengakhiri semuanya dengannya, Pak Haji. Saya mengajak dia makan siang karena saya mau bilang berhenti di tempat umum, bukan lewat pesan, dan bukan di tempat sepi. Saya duduk di restoran paling ramai yang saya tahu. Saya bilang saya minta maaf karena sudah memberi harapan dan saya tidak akan datang lagi. Dia kecewa, dia mengangguk, dia pergi duluan. Itu semua.”
“Kamu punya bukti?”
“Saya punya nomor Desi.” Adam merogoh sakunya dan meletakkan ponselnya di meja, menyorongkannya ke arah Paman. “Silakan telepon dia sekarang, Pak Haji. Atau minta Ustadzah yang menelepon. Saya tidak akan mengatakan apa pun sampai selesai.”
Paman memandang ponsel itu. Lalu memandang Pak Malik.
“Anak saya punya masa lalu, Pak Haji,” kata Pak Malik pelan. “Saya tidak datang untuk membersihkannya. Saya datang karena ia membukanya sendiri, di depan Bapak, dan tidak menyuruh siapa pun berbohong untuknya. Di rumah kami, itu hal baru.”
Ustadz Hasan merapatkan jemarinya di atas lutut. “Boleh saya tambahkan satu hal?” Tidak ada yang menolak, jadi ia melanjutkan dengan nada yang sama seperti ketika ia membuka kajian. “Taubat tidak menghapus fakta bahwa seseorang pernah berbuat. Taubat menghapus dosa dan menutup pintu kembalinya. Yang kita periksa pagi ini bukan apakah Adam pernah salah, tetapi apakah pintunya sudah ditutup. Dan satu foto, Pak Haji, tidak cukup untuk menilai itu.”
Paman tidak menjawab. Tetapi ia tidak menyentuh ponsel Adam. Ia hanya menggeser cangkir tehnya setengah jengkal, kebiasaan yang Hana kenal sejak kecil, tanda Paman sedang menukar satu pendapat dengan pendapat lain di kepalanya dan belum rela mengakuinya.
“Kamu sudah memberi tahu orang tuamu sebelum ini?” tanya Ustadz Hasan kepada Adam.
“Sudah, Ustadz. Tadi malam setelah Ustadzah menelepon. Waktu Diva mengancam di kafe tempo hari, saya sudah bilang ke Papa bahwa dia punya pesan lama. Papa cuma tanya, ‘Kamu takut?’ Saya bilang takut. Papa bilang, ‘Bagus. Takut itu tandanya kamu masih punya sesuatu untuk dijaga.’”
“Itu benar,” kata Pak Malik, dan hanya itu.
===
“Siapa yang mengirimnya?” tanya Paman.
Adam menarik napas. “Saya hampir pasti, Diva. Pesan dan tangkapan layar itu hanya ada pada dua orang. Foto Desi diambil dari meja sebelah kiri. Waktu itu ada seorang perempuan mengangkat ponsel, saya kira ia memotret makanannya. Saya kenal wajahnya sekilas, temannya Diva.”
“Dan apa yang dia mau?”
“Mungkin saya kembali. Mungkin saya sakit. Saya belum tahu mana yang lebih dia butuhkan.”
“Kamu bisa menjamin tidak ada lagi?”
Hening. Burung di pohon jambu depan jendela berkicau dua kali, lalu diam seperti ikut menunggu.
“Saya tidak bisa menjamin tidak ada lagi yang datang, Pak Haji,” kata Adam. “Orang yang punya masa lalu seperti saya tidak bisa menjamin itu. Saya hanya bisa menjamin tidak ada yang akan saya sembunyikan. Kalau datang satu lagi, Bapak tahu dari saya sebelum Bapak tahu dari orang lain.”
Paman menyandarkan punggung. Ia menatap Adam lama, begitu lama sampai Hana, yang seharusnya duduk diam, merasa ingin membela dengan satu kalimat saja dan menggigit bagian dalam pipinya.
“Hana,” kata Paman, tanpa menoleh. “Sekarang kamu boleh bicara.”
Hana berdiri dari bangku kecil itu. Lututnya terasa seperti lilin. “Hana tidak akan menelepon Desi,” katanya. “Hana percaya cerita Adam.” Ia melihat Adam menegang sekejap. “Tapi Hana mau tahu siapa yang mengirim kiriman ini kepada Paman, dan apa maunya. Karena orang yang punya foto itu tidak berhenti di satu pesan.”
“Dia sudah berhenti,” kata Paman. “Tadi malam dia berhenti.”
“Dia menghapus yang terakhir, Paman. Itu bukan berhenti. Itu ragu.”
Ustadz Hasan menoleh pada Hana dengan sorot mata yang baru, lebih hati-hati, lebih menghargai. Pak Malik, di kursinya, tersenyum samar pada lantai.
Hana melangkah ke pintu belakang, bukan karena marah, bukan karena takut, tetapi karena ia merasa kalau ia berdiri satu menit lagi di ruangan itu, ia akan menangis di depan laki-laki yang belum berhak melihatnya begitu.
Kebun kecil Ustadzah di belakang rumah penuh pot lidah mertua dan sebatang pohon belimbing yang buahnya bergelantungan hijau. Hana berdiri di bawahnya dengan dua tangan di pagar, dan di balik punggungnya terdengar langkah ringan dan napas orang yang tahu kapan sebaiknya tidak bicara.
“Kamu keluar karena marah?” tanya Ustadzah akhirnya.
“Bukan.”
“Karena kamu percaya?”
“Karena Hana percaya, Ustadzah.” Hana tertawa pendek, serak. “Dan Hana takut. Bukan takut dia berbohong. Takut kalau ternyata percaya itu bukan pilihan Hana, tapi cuma karena Hana sudah terlalu lama ingin dipilih.”
Ustadzah memandang belimbing itu sebentar. “Kalau begitu pertanyaannya bukan percaya atau tidak, Nak,” katanya. “Pertanyaannya, siapa yang sedang kamu percaya, Adam, atau dirimu sendiri. Dan hari ini, sebelum Senin, kamu masih punya waktu untuk menjawabnya.”