Senin siang, sehari sesudah kiriman tanpa nama itu dibongkar di rumah Ustadzah, Diva memilih meja dekat pintu, dan itu sudah memberi tahu Adam banyak hal sebelum perempuan itu sempat bicara.
Orang yang berniat tinggal lama memilih meja di sudut. Orang yang berniat pergi cepat, atau berniat menyerang lalu pergi, memilih meja yang bisa ditinggalkan dalam tiga langkah. Adam menarik kursi di seberangnya pukul dua belas lewat sepuluh, saat Coffee’s Heaven sedang paling ramai: dua belas meja terisi, mesin espresso mendesis tanpa henti, dan di meja kecil dekat pilar, tepat di belakang bahu kiri Diva, Mbak Hawa duduk dengan laptop terbuka dan segelas es teh yang sama sekali tidak ia minum.
“Ramai banget,” kata Diva. Ia mengaduk kopinya yang sudah dingin. “Sengaja ya? Biar aku nggak berani teriak?”
“Biar lo nggak sendirian kalau mau teriak,” kata Adam. “Gue nggak mau dibilang menyudutkan.”
Perempuan itu tertawa pendek, tanpa suara. Ia cantik, selalu cantik, tetapi pagi ini ada lingkaran hitam yang tidak berhasil ditutup bedak, dan kuku yang biasanya rapi dikunyah sampai pendek. Adam menyadarinya dengan sakit yang aneh. Bukan sakit rindu. Sakit karena ia tahu sebagian dari lingkaran itu miliknya.
“Kamu sudah tahu aku yang kirim,” kata Diva.
“Sabtu pagi gue tahu.”
“Dan kamu tetap mau ketemu.”
“Gue datang buat minta maaf, Va.”
Diva memutar bola mata. “Kamu sudah minta maaf beberapa pekan lalu. Dengan nada yang sama, dengan wajah yang sama, dengan kata ‘selesai’ dan ‘silakan’. Kamu pikir itu cukup?”
“Nggak.” Adam menaruh dua tangannya di atas meja, di tempat yang bisa dilihat. “Itu bukan minta maaf. Itu menutup pintu. Yang gue lakukan dulu sama lo, itu yang harusnya gue minta maaf.”
Diva diam.
“Gue kasih lo harapan,” lanjut Adam, pelan. “Berkali-kali. Gue tahu lo suka sama gue, dan gue pakai itu. Waktu gue kesepian gue datang. Waktu gue nggak butuh, gue hilang. Gue bilang kata-kata yang nggak gue maksud. ‘Lo satu-satunya yang bikin gue betah’, itu kalimat gue, dan itu bohong. Maaf. Gue nggak minta lo maafin hari ini. Gue cuma nggak mau lo salah paham bahwa gue datang buat bela diri.”
“Terus kamu sekarang suci?” Suara Diva naik setengah nada. Seorang pelayan di meja sebelah menoleh. “Karena perempuan berjilbab itu? Karena dia bilang jangan sentuh dia, kamu langsung ...”
“Bukan karena dia.” Adam menggeleng. “Dia cuma yang bikin gue sadar gue sebenarnya takut. Sejak dulu. Takut kalau ada yang tahu gue seperti apa.” Ia mengangkat bahu, tipis. “Dan lo punya itu semua. Semua foto, semua pesan. Silakan. Kirim lagi. Kirim ke siapa pun. Gue udah bilang ke Papa, ke Pak Haji, ke Ustadzah. Semuanya udah tahu. Gue nggak takut lagi, Va. Itu yang paling nggak lo kira, kan?”
Mbak Hawa, di balik pilar, berhenti mengetik. Adam tidak menoleh, tetapi ia bisa merasakan kakaknya menahan napas.
===
Awalnya Adam mengira Diva akan berdiri dan menumpahkan kopinya. Ia sudah menyiapkan diri untuk itu: kemeja yang bisa basah, tangan yang tidak boleh terangkat, mulut yang tidak boleh membalas. Tetapi Diva hanya menatapnya, dan wajahnya yang tadinya keras perlahan melunak. Matanya mulai merah.
“Aku nggak kirim satu lagi,” katanya.
“Gue tahu. Lo hapus.”
“Aku ketik sampai ke tombol kirim.” Suaranya parau. “Aku lihat nama ‘Pak Haji’ di atas kolom pesan, dan tiba-tiba aku kebayang ayahku. Kalau ada orang kirim hal begitu soal aku ke ayahku. Terus aku hapus. Tanganku gemetar sampai ponsel jatuh ke lantai.” Ia mengelap sudut mata dengan punggung tangan, kasar, seolah menghukum matanya. “Aku jahat banget ya, Dam.”
“Lo bukan jahat. Lo terluka, dan gue yang bikin.”
“Jangan sok bijak.” Tapi tidak ada tenaga di kalimat itu. “Aku suka kamu sejak kamu masih sama Diana. Kamu tahu? Dari acara ulang tahunnya yang kamu tertawa sampai sakit perut. Aku pikir, aku bisa bikin kamu ketawa kayak gitu. Tapi kamu nggak pernah ketawa kayak gitu sama aku.”
Adam tidak menjawab. Ia tidak punya jawaban yang benar, dan ia sudah belajar dari Papa: kalau tidak punya jawaban yang benar, jangan beri jawaban yang manis.
“Dan aku lihat perempuan itu,” lanjut Diva, hampir berbisik. “Hana. Waktu itu di resepsi Diana, kamu rangkul bahunya dan dia tarik diri. Kamu minta maaf, Dam. Kamu minta maaf sama dia. Seumur-umur kamu nggak pernah minta maaf sama aku. Aku ... iri. Bukan sama dia. Sama caranya orang menghormati dia.” Ia menarik napas yang tersendat. “Aku mau seseorang hormat sama aku juga, tapi aku nggak tahu caranya minta. Jadi aku ngancam.”
“Va.”
“Jangan bilang jangan nangis.”
“Gue nggak mau bilang itu.” Adam menggeser kotak tisu dari ujung meja sampai ke depan tangan Diva, tanpa menyentuh tangannya. “Gue mau bilang, lo pantas dihormati. Dari orang yang bener, bukan dari gue. Dan lo bisa minta itu tanpa nakut-nakutin siapa pun.”
Diva menyambar selembar tisu. Ia menangis lama dan nyaris tanpa suara, dan Adam duduk menemaninya dengan tangan di pangkuan, membiarkan bunyi mesin espresso dan percakapan orang lain menutupi isaknya. Pelayan di meja sebelah sudah berpaling. Mbak Hawa sudah berhenti pura-pura mengetik, menatap layar laptop dengan mata yang mulai merah.
===
Setelah tangisnya reda, Diva mengambil ponselnya dari tas. Jempolnya bergerak ragu di atas layar, lalu cepat.
“Nomor Ustadzah Aisyah?” tanyanya, tanpa mengangkat mata.
Adam mengeluarkan kontaknya dan menyodorkan layar. Diva mengetik. Lama. Menghapus. Mengetik lagi. Setelah hampir lima menit ia memutar ponsel itu menghadap Adam, dengan tangan yang masih gemetar tapi tidak mundur.
Assalamu’alaikum, Pak Haji Ridwan dan Ustadzah Aisyah. Saya Diva. Kiriman pada Jumat malam itu dari saya. Semua yang saya kirim memang benar adanya, tetapi saya sengaja memilih yang paling buruk dan menyembunyikan konteksnya. Saya juga menghapus satu pesan karena saya tidak sanggup mengirimnya, dan saya minta maaf untuk semuanya. Saya tidak berharap dimaafkan. Hana tidak salah apa-apa.
“Lo yakin?” tanya Adam.
“Aku nggak yakin sama apa pun hari ini.” Diva menekan tombol kirim. Dua centang abu-abu. “Tapi aku yakin yang ini.”
Ia berdiri, mengambil tasnya, dan baru dua langkah dari meja ketika berbalik. “Dam. Kalau suatu hari dia tanya, bilang aku nyesel.”
“Lo bisa bilang sendiri.”
Diva tersenyum tipis, sedih, lalu pergi lewat pintu yang tadi ia pilih supaya bisa lari.
Mbak Hawa sudah berdiri di samping Adam sebelum ia sempat menarik napas. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya duduk di kursi bekas Diva, mendorong gelas kopi dingin itu ke samping, dan menaruh tangannya di atas punggung tangan adiknya, hangat, berat, seperti ketika Adam kecil dan baru jatuh dari sepeda.
“Mbak denger semuanya,” katanya.
“Iya.”
“Kamu nggak membela diri sekali pun,” lanjut Hawa. “Dari awal sampai akhir. Mbak hitung.”
“Mbak ngitung?”
“Mbak kira kamu bakal ngeles sampai tiga kali.” Hawa mengerjap cepat, lalu tertawa, lalu menyeka hidung dengan buku jari. “Tidak apa-apa. Mbak cuma baru sadar adik Mbak sudah besar.”
Ponsel Adam bergetar di meja. Ustadzah Aisyah. Ia membaca pesannya dua kali, sebab kalimat pertama terlalu pendek untuk dipercaya.
Pak Haji membaca pesan Diva tiga kali. Beliau hanya minta saya sampaikan: Jumat ini tetap jalan. Bawa tangan.
Satu baris lagi menyusul di bawahnya, dan baris itu yang membuat Adam akhirnya menarik napas penuh: Hana sudah menjawab Ustadzah tadi pagi. Jawabannya dua kata, percaya dulu, dan sisanya Hana minta dibicarakan di depan Paman pada Jumat.