“Bawa tangan,” ulang Paman Ridwan dari kursi kayunya, memandang lelaki di ambang pintu dari ujung kacamata sampai ujung sepatu. “Mana tanganmu?”
Adam mengangkat kedua tangannya setinggi dada, kosong, telapaknya terbuka. Di belakang kakinya, menempel seperti perangko, berdiri Rama dengan kaus bergambar dinosaurus dan gigi ompong yang kelihatan sampai ke pelipis.
“Ini, Pak Haji. Dan itu tangan kecilnya, dipinjamkan Mbak Hawa. Katanya ada arisan, Rama tidak mau ditinggal, dan Rama bilang kalau tidak boleh ikut Om dia mau mogok makan sampai Ahad. Makanya saya pakai mobil Mama, bukan motor.”
“Itu bukan tangan,” kata Paman. “Itu cucu orang.”
“Kakek Haji!” seru Rama, dan sebelum ada yang sempat melarang, ia menerobos melewati kaki Adam, melewati Ibu yang muncul dari dapur sambil tertawa tertahan, dan memanjat paha Paman seperti memanjat bukit favoritnya. “Kakek Haji punya peci! Boleh Rama pakai?”
Hana, yang berdiri di ambang ruang makan, melihat sesuatu terjadi di wajah pamannya. Bukan senyum. Paman bukan lelaki yang tersenyum dengan mudah. Tetapi garis di antara dua alisnya, yang sejak Sabtu pekan lalu menjadi seperti jahitan, perlahan mengendur.
Empat hari sudah lewat sejak pesan permintaan maaf Diva masuk ke ponsel Paman. Selama itu Paman tidak sekali pun menyebut nama Adam, dan Hana tahu lebih baik tidak menanyakannya.
“Pecinya kebesaran,” kata Paman, sambil memasangkan peci hitam itu ke kepala Rama yang langsung tenggelam sampai alis. “Tunggu sepuluh tahun lagi.”
“Sepuluh tahun itu lama, ya?”
“Lebih lama dari menunggu kue sus matang,” sahut Ibu. “Ayo, Rama, bantu Enin ambil piring.”
Adam masuk selangkah, melepas sepatu, dan berdiri kikuk di tengah ruangan seperti orang yang tidak yakin boleh duduk. Paman melirik jam dinding.
“Tiga lewat lima puluh,” katanya. “Lebih awal dari minggu lalu.”
“Siap, Pak Haji. Saya takut kena macet.”
“Tidak ada macet di jalan itu.”
“Saya takut kena macet di kepala, Pak Haji.”
Paman batuk kecil, dan Hana, di balik ambang, harus berpura-pura membetulkan jilbab supaya wajahnya tidak kelihatan.
===
Makan malam kali ini lebih ramai karena Rama. Anak itu duduk di antara Adam dan Ibu, makan tempe goreng dengan kedua tangan, dan terus mengajukan pertanyaan dengan volume yang tidak mengenal rem.
“Ate Hana, kenapa Kakek Haji nggak punya cucu?”
“Rama.” Adam menahan tawa. “Makan.”
“Kakek Haji punya keponakan,” jawab Paman sebelum Hana sempat bicara. “Itu cukup.”
“Keponakan itu Ate Hana?”
“Iya.”
“Berarti Kakek Haji itu Om-nya Ate?” Mata Rama membulat. “Berarti sama kayak Om Adam! Om Adam itu Om-nya Rama!”
“Betul,” kata Ibu. “Pintar.”
“Berarti kalau Ate Hana jadi aunty-nya Rama, terus Kakek Haji itu apanya Rama?”
Hening satu detik. Lalu Paman mengangkat sendoknya, menatap Rama dengan wajah paling serius yang pernah Hana lihat, dan menjawab, “Kakek Haji itu orang yang menyuruh kamu habiskan tempenya.”
Rama menghabiskan tempenya. Ibu menutup mulut dengan serbet. Adam menunduk ke piring, bahunya berguncang tanpa suara, dan untuk kali pertama sejak pesan misterius itu datang, Hana mendengar Paman tertawa kecil, sependek batuk, sehangat sejengkal api kecil di tungku.
Sesudah piring-piring diangkat, Rama dibawa Ibu ke ruang tengah untuk menggambar. Hana menarik napas, mengumpulkan semua keberaniannya di satu titik, dan berkata, “Paman. Bu. Hana mau bicara. Di sini, di depan Paman dan Ibu, dengan Adam. Tolong jangan potong dulu sampai selesai.”
Paman menatapnya, lalu menatap Adam, lalu mengangguk pelan. “Bicaralah.”
===
Hana tidak menyiapkan kalimat pembuka, sebab semua kalimat yang ia siapkan ternyata terlalu rapi untuk apa yang ingin ia katakan.
“Orang yang membuat Hana patah hati namanya Lutfi,” katanya. “Adam sudah tahu namanya sejak di lantai dua. Ibu sudah tahu. Paman belum. Dia ketua panitia tabligh akbar di masjid komplek. Ganteng, baik, murah senyum, semua orang suka. Hana suka dia sejak SMA. Sejak SMA, Paman, tanpa dia tahu, tanpa Hana pernah sekali pun membiarkannya tahu.”
Ibu menaruh tangannya di atas meja, tidak menyentuh siapa-siapa.
“Yang belum pernah Hana ceritakan kepada siapa pun,” lanjut Hana, “adalah malam undangan resepsinya masuk ke grup. Hana nggak langsung menangis. Hana berdiri di dapur, di depan oven yang masih hangat, dan melanjutkan mengisi vla seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah Ibu tidur Hana duduk di kamar mandi, mengunci pintu, dan memohon pada Allah supaya Hana dilupakan oleh dirinya sendiri. Bukan supaya Lutfi menoleh. Supaya Hana nggak ingat rasanya.” Suaranya bergetar, tetapi tidak jatuh. “Hana nggak ceritakan itu ke Ibu karena Hana malu. Hana nggak ceritakan ke Ustadzah karena Hana takut dikira nggak ikhlas. Hana mau Adam tahu, supaya kalau suatu hari Hana tiba-tiba diam atau pergi dari ruangan, dia tahu bukan karena dia.”
Tidak ada yang menyela. Paman, yang seharusnya paling gelisah, menatap meja tanpa bergerak.
“Dan satu lagi,” kata Hana. “Waktu Zafran membatalkan, yang paling menyakitkan bukan dibatalkannya. Setelah syoknya lewat, Hana justru nggak heran. Seperti Hana sudah menunggu itu sejak lama. Hana merasa, ‘Oh, jadi ini sudah dua kali.’ Dan Hana berpikir mungkin memang Hana yang selalu kurang.” Ia mengangkat dagu. “Itu yang Hana bawa. Kalau Adam merasa itu terlalu berat, Adam boleh mundur hari ini, di depan Paman, tanpa ada yang menyalahkan.”
Hening.
Adam tidak menyela. Hana sudah menduga ia akan segera menjawab, dengan kalimat penghibur, atau lelucon untuk mengusir suasana. Tetapi lelaki itu duduk diam, dan Hana melihat jakunnya naik turun dua kali, dan lama kemudian baru ia bicara dengan suara yang jauh lebih rendah dari biasanya.
“Gue nggak merasa lebih tinggi dari lo,” katanya. Ia berhenti, melirik Paman, mengoreksi. “Saya nggak merasa lebih tinggi dari kamu, Han. Sejak SMA, sedang saya baru kenal kamu belum lama. Saya nggak punya hak menilai berat atau ringannya.”
Paman mengangkat alis, tetapi diam.
“Saya cuma minta satu hal.” Adam menatap meja, lalu mengangkat mata, dan Hana melihat bahwa matanya basah tetapi ia tidak berusaha menyembunyikannya. “Sepertiga malam itu, waktu kamu menangis. Jangan lagi kamu tanggung sendirian. Saya sekarang sering terjaga di sepertiga malam, sejak mengaji di depan Papa. Kita beda rumah, tapi mungkin sajadah kita sudah pada jam yang sama. Kalau suatu malam kamu nggak kuat, kamu nggak perlu cerita apa-apa. Kamu cuma perlu ingat, di rumah lain ada orang yang juga lagi minta hal yang sama.”
Ibu menarik napas pelan, seperti seseorang yang sudah menunggu kalimat itu bertahun-tahun, dari seseorang yang bukan dirinya.
“Hati yang pernah patah itu bukan hati yang cacat, Nak,” katanya pada Hana, lembut. “Itu hati yang sudah pernah belajar. Bedanya, kamu belajar lebih awal dari kebanyakan orang.”
===
Adam pulang pukul sembilan lebih sedikit, dengan Rama tertidur di bahunya dan kaus dinosaurus yang basah oleh air liur. Hana berdiri di pagar menunggu lampu belakang mobilnya menghilang di tikungan, sampai suara Paman memanggil dari teras.
“Sudah selesai kirimannya?”
“Sudah, Paman. Diva sudah mengaku sendiri. Ustadzah juga sudah bilang semuanya jelas.”
“Dan kamu?”
“Hana memilih lanjut, Paman.” Ia berbalik dan melihat pamannya duduk di kursi kayu dengan kedua tangan di lutut. “Bukan karena kasihan. Bukan karena takut dikira lemah. Karena Hana sudah menghitung, dan hasilnya tetap sama.”
Paman diam lama. Di langit, satu bintang berkedip dan hilang di balik kabel listrik.
“Ahad subuh,” kata Paman akhirnya. “Bangunkan Paman jam empat. Paman mau salat berjamaah di masjid komplek, dan Paman mau anak itu ikut. Cuma kami berdua. Kamu tidak perlu tahu apa yang kami bicarakan.”