Pukul empat kurang sepuluh, Hana mengetuk pintu kamar tamu dua kali, pelan, dan belum sempat ketukan ketiga pintu itu sudah terbuka. Paman Ridwan berdiri di dalamnya dengan sarung terlipat rapi, peci hitam di kepala, dan wajah orang yang tidak butuh dibangunkan karena memang tidak tidur nyenyak.
“Dia datang?”
“Belum, Paman. Masih pukul empat kurang ...”
“Bukan itu.” Paman menyelipkan kunci ke saku. “Kamu menyuruhnya datang?”
“Hana tidak menyuruh siapa-siapa. Paman yang minta Adam ikut. Ustadzah yang menyampaikan kemarin.”
Paman mengangguk sekali, singkat, lalu berjalan ke teras. Hana mengikutinya dengan segelas air hangat di tangan, dan di depan pagar, dalam gelap yang masih biru, ia melihat sosok tinggi berdiri dengan sarung kotak-kotak dan baju koko putih. Motor diparkir jauh di ujung jalan. Adam rupanya menolak membuat bunyi mesin di depan rumah orang yang masih tidur.
“Assalamu’alaikum, Pak Haji.”
“Kamu sudah wudhu?”
“Sudah, Pak Haji. Di rumah.”
“Wudhu lagi di masjid. Air tidak ada yang rugi.”
“Siap.”
Mereka berjalan berdampingan menyusuri gang, dua sosok bersarung yang bayangannya memanjang dan memendek di bawah lampu jalan. Hana memandang mereka dari balik pagar sampai pamannya memegang siku Adam untuk menyuruhnya berhenti di tikungan, hanya untuk merapikan lipatan sarungnya yang miring. Gerakan itu sangat kecil. Hana tidak yakin ia boleh melihatnya, tetapi ia melihatnya.
===
Masjid komplek pada Ahad subuh hanya diisi lima belas orang, kebanyakan bapak-bapak yang sudah beruban dan seorang remaja yang tertidur duduk di saf paling belakang. Adam berdiri di sebelah kanan Paman. Tidak ada yang menyuruhnya. Ia hanya tahu, sebab semalam ia bertanya kepada Papa tentang adab berdiri di sebelah orang yang lebih tua, dan Papa menjawab sambil membaca koran, “Dekat tapi jangan menyentuh, dan jangan mendahului.”
Imam membaca surat yang panjang. Adam, yang sejak sebulan terakhir hafal tiga surat pendek lebih dari ia hafal seluruh nomor teman SMA-nya, mengikuti dengan kepala menunduk dan dada yang aneh: bukan tegang, bukan takut, hanya penuh. Ketika ia sujud, dahinya menyentuh sajadah yang dingin, dan ia sempat berpikir sesuatu yang tidak ia rencanakan: kalau hari ini ditutup dengan kata tidak, ia tetap ingin berada di rumah ini, di saf ini.
Usai salam, Paman tidak langsung bangkit. Ia berzikir lama dengan bibir bergerak tanpa suara, lalu menoleh sedikit.
“Duduk di teras. Setelah ini.”
Teras masjid menghadap ke halaman kecil yang berbatu, dengan dua bangku semen dan pohon mangga besar yang daunnya meneteskan embun. Langit sudah kelabu pucat. Paman duduk dengan punggung lurus, kedua telapak tangan di lutut, dan menatap lurus ke halaman, bukan ke Adam.
“Kamu tahu apa kata Rasulullah tentang dua rakaat sebelum Subuh?” tanya Paman.
“Pernah dengar, Pak Haji. Tapi saya belum hafal lafaznya.”
“Lebih baik dari dunia dan seisinya. Dua rakaat saja.” Paman mengusap janggut tipisnya. “Orang sering berpikir dunia itu yang dikejar. Padahal ia yang menunggu kita selesai salat.” Ia diam sebentar. “Paman mau tanya satu hal. Jawab apa adanya. Kalau jawabanmu bagus tapi bohong, Paman tahu.”
“Siap.”
“Kenapa kamu?” Paman menoleh. Matanya kelabu seperti langit di belakangnya. “Ada lelaki yang lebih dulu. Zafran. Mapan, rapi, belajar agama jauh sebelum kamu, membaca buku rumah tangga sebelum ia bertemu keponakan Paman. Dia dipilih Ustadzah dan dibawa baik-baik. Kenapa bukan dia?”
Pertanyaan itu telah ditanyakan Adam kepada dirinya sendiri ratusan kali di sepanjang malam. Ia mengira ia sudah punya jawaban yang bagus. Tetapi pagi ini, di depan lelaki tua yang jemarinya tidak berhenti mengurut sendi lutut, jawaban bagus itu terasa seperti pakaian yang kebesaran.
“Saya nggak bisa bilang saya lebih baik dari Zafran, Pak Haji,” katanya pelan. “Dia lebih baik dari saya di banyak hal. Dia sahabat saya. Saya tahu betul.”
“Itu bukan jawaban.”
“Iya, Pak Haji. Itu pembuka.” Adam menarik napas. “Karena saya tidak bisa jadi orang lain. Saya sudah coba jadi banyak orang, dan semuanya capek. Dan karena sejak kenal Hana ...” Ia berhenti, memilih kata. “Dia bikin saya mau jadi orang yang layak. Bukan sekadar menang. Saya pernah menang, Pak Haji. Saya pernah dapat yang saya mau. Rasanya kayak minum air asin. Makin banyak, makin haus.”
Paman tidak menjawab. Di atas mereka, seekor burung gereja melompat dari dahan ke dahan, meneteskan embun di punggung tangan Adam.
“Kamu tahu apa yang Paman takuti?” kata Paman, akhirnya. “Bukan masa lalumu. Paman sudah lihat masa lalumu, dua kali, di meja Ustadzah dan di pesan perempuan itu. Paman takut kamu mencintainya karena kamu lagi mau menang atas Zafran, atau karena kamu kasihan, atau karena kamu ingin bersih lewat dia.”
“Saya takut itu juga, Pak Haji.” Adam menggeleng. “Makanya saya jalani empat puluh hari itu waktu dia belum tahu, waktu dia belum jadi apa-apa buat saya selain orang yang saya hormati. Kalau saya cuma mau menang, saya nggak akan mundur waktu dia ta’aruf dengan Zafran.”
“Kamu mundur karena aturan.”
“Karena aturan, dan karena Zafran sahabat saya. Sakit sekali, tapi saya nggak menyesal.”
Lama sekali Paman menatap halaman. Kemudian ia mulai bicara, bukan kepada Adam, bukan juga kepada siapa-siapa.
“Kakak Paman,” katanya, “ayah Hana, yang mengajari Paman salat. Paman kecil, nakal, suka kabur sebelum Maghrib. Dia tidak pernah marah. Dia hanya menarik tangan Paman, berdiri di sebelah, dan bilang, ‘Lihat aku, Dik. Ikut saja.’ Dua puluh tahun Paman tidak pernah meninggalkan salat karena kalimat itu.” Ia tersenyum dengan satu sudut bibir, tipis, getir. “Waktu dia sakit, dia memanggil Paman ke kamar dan menyuruh Paman duduk. Dia tidak minta apa-apa soal harta. Dia cuma bilang, ‘Dik, jaga anak perempuanku. Jangan biarkan dia menikah karena takut sendirian. Dan jangan biarkan dia menikah dengan lelaki yang tidak mau diajari.’”
Adam mendengar napasnya sendiri keluar tersendat.
“Paman sudah keliru satu kali,” lanjut Paman. “Paman setuju proses dengan Zafran karena Paman lihat dia lelaki yang sudah jadi. Ternyata yang sudah jadi pun bisa patah.” Ia menoleh. “Kamu belum jadi. Tapi kamu mau diajari. Itu yang kakak Paman minta.”
Adam menunduk, dan bahunya bergetar tanpa suara.
===
Matahari baru naik setinggi pagar ketika mereka kembali ke rumah. Hana duduk di teras dengan dua gelas teh yang uapnya sudah menipis, dan ia berdiri begitu mendengar langkah di jalan, lalu mundur setengah langkah supaya jarak di antara mereka tetap seperti seharusnya. Ibu muncul di ambang pintu dengan celemek yang terikat miring.
Mata Adam merah. Mata Paman sama.
“Paman bilang apa?” tanya Hana, kepada Adam, dengan suara yang ia usahakan terdengar biasa.
“Katanya kamu nggak perlu tahu.” Adam mengusap hidungnya dengan buku jari. “Dan saya bilang siap.”
“Dia bilang begitu?” Hana menatap pamannya.
“Memang,” kata Paman, melepas sandalnya dengan sangat teliti. “Ada hal-hal yang ditanyakan lelaki kepada lelaki, dan perempuan tidak perlu menimbangnya.” Ia melewati ambang pintu, berhenti, dan menoleh, tidak kepada Hana, tidak kepada Ibu, tetapi kepada Adam yang masih berdiri di anak tangga terbawah.
“Dua Jumat lagi,” katanya.