Tiga rantang kain itu Ibu cuci sendiri Senin pagi, dengan sabun yang ia habiskan dua kali lipat dari biasa, lalu ia jemur di teras sampai kering, lalu ia lipat dengan sudut yang rapi dan ia tumpuk di atas meja tamu seperti barang bukti.
“Bu,” kata Hana, “itu rantang, bukan pusaka.”
“Kalau Ibu nggak punya pekerjaan untuk tangan, tangan Ibu bikin pekerjaan sendiri.” Ibu meluruskan taplak meja sudah tiga kali. “Kamu yakin duduk di kursi yang sama?”
“Hana yakin, Bu.”
Ustadzah Aisyah menelepon Ahad malam, tepat setelah Paman berangkat pulang ke luar kota dengan bus terakhir dan satu pesan kepada Hana di pintu, singkat, “Telepon kalau butuh.” Ustadzah bilang Zafran ingin datang bersama ibunya, Senin selepas Asar, jika Hana mengizinkan. Hana tidak menjawab saat itu. Ia menjawab setelah salat Isya dan istikharah dua rakaat, dengan satu kalimat, Insya Allah datanglah.
Mereka tiba pukul empat lewat dua puluh. Hana mendengar mobil berhenti dan tidak bergerak dari ruang tengah sampai Ibu memegang bahunya. Dari balik tirai ia melihat Bu Salma turun lebih dulu. Ibu itu mengenakan gamis cokelat tua yang sama seperti hari pembatalan, tetapi bahunya lebih sempit sekarang, dan di tangannya tidak ada tas, tidak ada surat, hanya sapu tangan yang diremas-remas sampai kusut. Zafran berjalan satu langkah di belakangnya dengan kemeja putih dan wajah yang jauh lebih kurus dari yang Hana ingat.
Ustadzah menyambut mereka di teras. Pintu dibiarkan terbuka.
Ruang tamu itu masih sama. Kursi yang sama, taplak yang sama, burung gereja yang sama berisik di atap. Hanya orangnya yang berbeda, atau mungkin hanya cara mereka duduk: Bu Salma di tepi kursi, siap bangkit, Zafran dengan tangan terkepal di lutut. Ibu duduk di seberang dengan punggung lurus. Hana di sebelah Ibu.
Tidak ada yang bicara sampai Bu Salma berdiri.
===
“Bu Ranti.” Suaranya parau. Ia berdiri di tengah ruangan, dan tangannya, yang menggenggam sapu tangan, gemetar sampai kain itu bergerak sendiri. “Saya tidak tahu harus mulai dari mana. Saya sudah menyusun kalimat sepanjang malam dan semuanya sudah hilang.”
“Duduklah, Bu Salma,” kata Ibu.
“Tidak, Bu. Izinkan saya berdiri.” Bu Salma menelan ludah. “Hari itu saya datang ke rumah Ibu dengan surat yang saya tulis sendiri. Saya bilang pada anak saya itu demi menjaga keluarga. Itu bohong. Saya takut. Saya mendengar cerita dari orang-orang, saya mendengar pesan suara yang panjang dan membuat dada saya sesak, dan saya tidak berhenti dulu untuk bertanya apakah cerita itu benar. Saya menghukum anak Ibu atas hal yang belum saya periksa.” Ia mengangkat wajah, dan matanya merah, sudah merah dari sebelum ia datang. “Saya menyebabkan Ibu jatuh. Saya tidak akan minta Ibu bilang bukan salah saya.”
Ibu tidak bergerak. Hana, yang duduk di sampingnya, merasakan seluruh tubuh ibunya menjadi sekeras kayu.
“Bubur itu,” lanjut Bu Salma, hampir berbisik. “Yang dikirim lewat Ustadzah. Saya yang masak, Bu. Tiga kali. Kartunya cuma dua kalimat karena saya tidak berani menulis lebih, dan saya tidak berani mengantar sendiri.”
“Saya tahu itu dari Ibu sejak kartu pertama,” kata Ibu. “Dan buburnya enak, Bu.”
Bu Salma terdiam.
“Saya habiskan semuanya,” lanjut Ibu, suaranya masih datar, tetapi Hana melihat jari-jari ibunya di atas pangkuan melepaskan genggaman satu per satu. “Orang tidak bisa memasak bubur tiga kali seperti itu kalau hatinya hanya dendam.” Ia berhenti. “Tapi saya belum bisa bilang semuanya sudah selesai. Jatuh di ruang tamu rumah sendiri itu bukan sesuatu yang bisa saya lupakan hanya karena buburnya enak.”
“Saya mengerti, Bu.”
“Beri saya waktu.”
Bu Salma mengangguk dan tidak menanyakan berapa lama. Ia menunduk, lalu, perlahan seperti seseorang yang baru kehilangan tenaga, duduk kembali. Ustadzah Aisyah, di kursi paling ujung, menutup mata dan berbisik istighfar.
===
“Saya yang akan menjelaskan sisanya,” kata Zafran.
Ia berdiri, dan Hana melihat Bu Salma menoleh cepat, seolah hendak mencegah, lalu menjatuhkan tangan. Zafran tidak berjalan ke tengah ruangan. Ia berdiri di dekat kursinya sendiri, tegak, tetapi kali ini tidak seperti hari itu, ketika ia menatap satu per satu wajah di ruangan. Kali ini ia hanya menatap Hana.
“Ibu saya tidak ridha,” katanya. “Itu benar, dan itu bukan alasan yang bisa saya sembunyikan di balik apa pun. Tapi bukan itu satu-satunya alasan. Ada yang lebih jujur, dan itu bagian saya.” Ia menarik napas. “Saya tahu sejak di parkiran Coffee’s Heaven bahwa Adam menyukaimu. Saya tahu, dan saya memilih tidak memberi tahu. Saya bilang pada diri sendiri itu demi menjaga proses. Sebenarnya saya takut kamu memilih orang lain sebelum saya sempat dipilih.”
Hana menahan napas. Ia tidak menyangka kejujuran itu sampai sedalam ini.
“Dan sesudah kamu menjawab pertanyaan saya dengan jawaban yang jujur,” lanjut Zafran, “saya sadar saya tidak sanggup menikahi perempuan yang menjawab dari janji, sementara sahabat saya, yang saya tahu betul, mencintainya dengan cara yang jauh lebih sunyi. Saya tidak mencintaimu seperti seharusnya seorang suami, Hana. Saya sayang seperti kakak pada adik. Dan saya baru berani mengakuinya pada diri sendiri di subuh hari itu.”
“Kenapa di depan semua orang, Mas?” Pertanyaan itu keluar dari mulut Hana sebelum ia bisa menahan.
“Karena saya takut mulut orang.” Zafran tersenyum pahit. “Kalau saya mundur diam-diam, orang akan bilang kamu yang ditolak, atau kamu yang menolak, atau kamu yang bermasalah. Dengan bicara terang, saya ingin semua orang tahu, Hana tidak bersalah apa-apa. Saya pikir itu cara menjaga namamu.” Ia menggeleng pelan. “Itu cara yang salah. Saya melukaimu di depan Ibu dan Pak Haji, dan saya tidak memberi kabar apa pun sebelumnya. Saya bisa menelepon Ibu Ranti malam sebelumnya. Saya bisa meminta Ustadzah menyiapkan. Saya memilih jalan yang membuat saya terlihat berani, bukan jalan yang membuatmu terlindungi.”
Hana menunduk. Di ujung matanya, ia melihat Ibu memejamkan mata dan membuka lagi.
“Saya tidak minta dimaafkan hari ini,” kata Zafran. “Saya hanya mau kamu tahu saya tidak mengerti apa yang saya lakukan sampai Ibu terjatuh.”
Ruangan itu diam begitu lama sampai Hana mendengar bunyi kipas angin yang berputar dan detik jam di dinding. Ia teringat dirinya yang menangis di rumah Ustadzah, yang mengocok adonan sampai larut, yang mendengar bisik-bisik di pasar. Semua rasa itu ada, dan ia membiarkannya ada, tanpa mengusir satu pun.
“Bu Salma,” katanya akhirnya. “Mas Zafran.”
Mereka menoleh.
“Allah memerintahkan kita memaafkan,” kata Hana pelan. “Tapi Allah tidak menyuruh kita pura-pura tidak terluka. Saya terluka. Lukanya masih ada, dan mungkin besok ada lagi.” Ia menegakkan punggung. “Tapi saya memaafkan, Mas. Saya memaafkan niatnya, dan saya simpan cara itu sebagai pelajaran, bukan dendam. Dan satu lagi, saya tidak lagi bertanya kenapa. Selama ini pertanyaan itu yang paling banyak saya bawa. Hari ini saya letakkan.”
Zafran memejamkan mata sebentar. Dan ketika ia membukanya lagi, matanya basah, dan ia tidak berusaha menyeka.
“Terima kasih,” katanya, nyaris tanpa suara.
Di pintu, ketika Bu Salma dan Ustadzah sudah lebih dulu melangkah ke teras, Zafran berhenti di ambang. Ia menggaruk tengkuk, kebiasaan lama yang membuatnya tiba-tiba terlihat seperti lelaki yang dulu hanya Hana kenal lewat halaman CV, bukan lelaki yang berdiri di ruang tamunya hari itu.
“Satu hal lagi. Saya boleh menemui Adam?”
“Itu urusan kalian berdua, Mas.”
“Saya minta izin kamu. Dia sahabat saya, tapi dia juga lelaki yang kamu ...” Zafran menahan sisa kalimat itu. “Saya tidak mau datang ke tempat yang tidak boleh.”
Hana teringat Adam yang duduk sendirian di lorong rumah sakit, dengan jaket abu-abu di bangku sebelah. “Datanglah, Mas,” katanya. “Dia akan pura-pura nggak senang, lalu menumpahkan kopi.”
Zafran tertawa. Pendek, serak, tapi tawa sungguhan. “Dia memang selalu menumpahkan kopi.”