Zafran memarkir mobilnya di depan Coffee’s Heaven pukul tiga kurang sepuluh, mematikan mesin, dan duduk di balik kemudi selama sebelas menit tanpa berbuat apa-apa.
Ia menghitungnya karena memang suka menghitung. Itu kebiasaan yang ia pelajari dari kantor: kalau gugup, hitung apa pun yang bisa dihitung. Tiga pohon palem kecil di depan pintu. Dua motor di tempat parkir. Satu papan tulis di trotoar bertuliskan kapur, Promo Kopi Susu Gula Aren, Hari Ini Saja, yang jelas bukan tulisan tangan Adam, sebab Adam tidak pernah serapi itu.
Tangannya memegang sebuah tumbler hitam. Ia membawa kopi sendiri, hasil seduhan tadi pagi di dapur ibunya, karena Hana bilang Adam akan pura-pura tidak senang, dan Zafran pikir lelucon adalah satu-satunya kendaraan yang masih bisa mengantarnya melewati pintu itu.
Bel pintu berdenting. Aroma kopi hangat dan susu memeluknya begitu masuk, dan seorang barista muda mengangkat kepala.
“Selamat sore, Mas. Mau pesan ...?”
“Saya cari Adam.”
“Mas Bos di lantai dua, di mushola.” Barista itu menatap tumbler di tangan Zafran dengan alis berkerut. “Mas bawa kopi sendiri?”
“Kopi saya lebih bermartabat,” kata Zafran, dan melangkah naik sebelum ia sempat berubah pikiran.
===
Adam duduk bersila di lantai mushola kecil di lantai dua, membelakangi pintu, dengan mushaf terbuka di pangkuan dan pensil di telinga. Zafran berhenti di ambang. Punggung sahabatnya lebih kurus dari yang ia ingat, dan sebuah jaket abu-abu tersampir di sandaran kursi di pojok. Ia menelan ludah.
“Assalamu’alaikum.”
Adam menoleh. Untuk dua detik wajahnya tidak menunjukkan apa pun, seperti layar ponsel yang belum menyala. Lalu mushaf itu ia tutup pelan-pelan, ia berdiri, dan semua urusan mimik yang biasa ia pasang di depan orang, cengiran, alis naik, dagu terangkat, hilang satu per satu.
“Wa’alaikumussalam.” Suaranya serak. “Zaf.”
“Dam.”
Tak ada yang bergerak. Zafran mengangkat tumbler di tangannya setinggi dada.
“Gue bawa kopi sendiri.”
“Lo bawa kopi ke kedai kopi?”
“Punya lo kebanyakan susu.”
“Itu namanya kopi susu, Zaf.”
“Itu namanya penghinaan terhadap biji.”
Sudut bibir Adam bergerak sedikit. Zafran melangkah maju, mengulurkan tangan kanan, dan Adam menjabatnya, tidak kencang, tidak cepat, tetapi lama. Genggaman Adam hangat dan sedikit gemetar. Zafran merasa beban di dadanya akhirnya terlepas, dan ia sadar betapa lama ia membawanya.
“Katanya kalau dua muslim bertemu lalu berjabat tangan,” kata Zafran, memaksa suaranya tetap ringan, “dosa-dosa mereka rontok seperti daun kering dari pohon.”
“Dosa lo atau dosa gue yang rontok duluan?”
“Dosa gue. Dosa lo sedikit. Cuma ngeselin.”
Adam tertawa kecil, pecah di tengah, lalu terdiam, dan matanya mulai basah. “Zaf, gue ...”
“Biar gue yang bicara dulu.” Zafran mengangkat tangan. “Gue kehilangan sahabat dalam seminggu itu, Dam. Seminggu. Gue pikir gue menjaga proses, padahal gue memilih diam waktu lo jujur di parkiran. Gue pikir gue menjaga Hana, padahal gue menjaga muka gue sendiri. Lo urusin administrasi rumah sakit ibunya Hana yang jatuh gara-gara gue, lo duduk di ujung lorong tanpa minta apa-apa, dan gue ...” Suaranya tersangkut. “Gue nggak mau kehilangan lo lagi. Itu aja.”
Adam menarik tangannya, mengusap muka dengan lengan baju. Ketika ia bicara, suaranya serak dan sengaja dibuat sekasar mungkin.
“Gue nggak ngapa-ngapain. Gue cuma duduk.”
“Itu yang paling susah.”
“Lo yang batalin, lo yang minta maaf, lo yang datang ke sini. Gue yang ...”
“Lo yang bilang jangan mundur karena lo.” Zafran menunjuk dengan tumbler. “Gue ingat tiap kata. Lo bahkan nggak minta gue lanjut. Lo minta gue lanjut sepenuh hati. Dan gue nggak sanggup, itu salah gue, bukan salah lo. Jadi berhenti mikir lo nyuri sesuatu dari gue. Gue yang nggak sanggup megang apa yang bukan hati gue.”
Adam diam.
“Dia gimana?” tanya Adam akhirnya, pelan, tanpa menatap.
“Dia memaafkan gue, di ruang tamu yang sama.” Zafran duduk di kursi pojok, tumbler di pangkuan. “Pakai satu kalimat yang bikin gue pengin pulang dan nulis ulang seluruh hidup gue. Katanya, Allah menyuruh kita memaafkan tapi nggak menyuruh kita pura-pura nggak terluka.”
“Itu Hana.”
“Itu Hana,” ulang Zafran. “Dan lo dikasih kesempatan yang nggak gue punya, Dam. Jangan lo siakan. Lo bikin dia nangis, gue datang. Bukan sebagai mantan calon. Sebagai kakak.”
“Lo nggak pernah jadi kakak siapa-siapa.”
“Makanya gue lagi latihan.”
Adam menggeleng, tetapi senyumnya mulai kelihatan. “Gue lagi nggak mikir kesempatan. Gue lagi mikir empat Jumat.”
“Dua Jumat lagi.”
“Lo tahu dari mana?”
“Ustadzah bocor. Orang alim tuh kalau bocor, bocornya penuh doa.”
“Gue udah minta izin Hana buat ke sini,” tambah Zafran, seakan jawaban tadi belum cukup.
“Lo minta izin Hana buat ketemu gue?”
“Gue nggak mau datang ke tempat yang nggak boleh.” Zafran mendengus. “Dan dia kasih gue peringatan soal lo. Katanya jangan kaget.”
“Gue nggak akan ...”
Adam menyenggol meja kecil di sampingnya dengan siku. Segelas kopi susu di atasnya, yang sudah dingin sejak entah kapan, miring, tumpah, dan membasahi karpet.
Hening. Lalu Zafran, yang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak tertawa, tertawa sampai harus memegang kusen pintu.
“Dam. Lo. Itu ... bahkan belum selesai kalimat lo.”
“Diam, Zaf.”
“Gue yang tampan ini,” kata Zafran terengah di sela tawa, dengan tangan di dada seperti sedang bersumpah, “baru aja bikin sahabatnya tumpahin kopi cuma dengan berdiri di pintu. Ini kekuatan. Gue harus tulis di CV.”
Adam tertawa. Tawa yang tidak bisa ditahan, keras, tulus, menendang-nendang dari dalam dada dan membuat bahunya berguncang. Seorang barista muda mengintip dari tangga dengan alis terangkat, lalu mundur lagi, jelas memutuskan ini bukan urusannya.
Zafran memandang sahabatnya tertawa dan sadar sudah berminggu-minggu ia tidak melihat itu. Matanya perih. Ia berpura-pura mencari tisu.
===
Adzan Asar berkumandang dari masjid di seberang jalan ketika mereka sedang mengelap karpet dengan tisu dapur. Adam berhenti, memandang jam dinding, dan menoleh.
“Lo salat di sini?”
“Gue bawa sarung di mobil.”
“Lo bawa sarung ke kedai kopi?”
“Gue siap segala keadaan.”
Mereka berwudhu bergantian di keran kecil di pojok. Barista dan seorang pegawai dapur ikut naik dan berdiri di saf belakang, dan Zafran, yang berdiri paling kanan, baru sadar tidak ada yang menyuruh ia jadi imam. Adam sudah melangkah ke depan, berdiri menghadap kiblat, dan bertakbir.
Zafran memejamkan mata. Suara Adam mengalun pelan, cepat di beberapa tempat, lambat di tempat lain. Ada kata yang ia lewati terlalu singkat, ada huruf yang ia ucapkan setengah. Tetapi tidak ada satu pun yang ia lewatkan karena malas. Setiap kesalahan terdengar seperti sebuah usaha, dan Zafran, yang tahu betul rasanya membaca dengan benar karena malu, bukan karena cinta, merasakan sesuatu mengendur di dadanya.
Usai salam, para pegawai bersalaman dan turun. Adam masih duduk bersila, menunduk, mengusap wajah dengan kedua tangan. Zafran bergeser mendekat, tidak terlalu dekat.
“Boleh gue kasih tahu satu hal?”
“Tentang bacaan gue?”
“Waladhdhaalliin.” Zafran mengucapkannya pelan-pelan, dengan huruf dhaad yang tebal dan panjang. “Lo bacanya pendek. Itu mad lazim, enam ketukan. Panjangin. Pelan-pelan aja. Nggak ada yang memburu.”
“Enam?” Adam menatapnya dengan mata terbelalak. “Gue cuma tahu dua. Lo mau gue salat sampai Maghrib?”
“Justru itu, Bro,” kata Zafran, dan lelucon di mulutnya terasa seperti memang miliknya lagi. “Itu yang namanya salat.”