Meja makan rumah Ibu dikosongkan dari toples dan gelas sejak pukul tiga, hanya taplak putih, sebuah buku tulis bergaris, dan satu pulpen yang tutupnya dibuka-tutup Paman dua kali sebelum ia bicara. Ia baru turun dari bus sebelas lewat lima belas, dan belum sempat melepas kacamata bacanya.
“Nanti, kalau anak itu datang,” katanya pada Hana, “jangan sediakan teh dulu. Paman mau bicara soal uang.”
“Uang apa, Paman?”
“Semua. Dari yang ia pegang sampai yang ia utang.” Paman menarik napas. “Kakakmu dulu bilang, orang yang baik hati dan miskin itu masih bisa diselamatkan, tapi orang yang baik hati dan tidak jujur soal uang akan menyeret orang lain.”
Maka ketika Adam muncul di pintu pukul empat kurang tujuh menit, ia mendapati sesuatu yang belum pernah terjadi di rumah itu: meja makan kosong dari toples dan gelas, hanya ada taplak putih, buku bergaris, dan Paman yang menatapnya seperti menatap neraca.
“Duduk.”
Adam duduk. Di tangannya ada map plastik biru tebal yang tadi ia pegang dengan dua tangan, hati-hati sekali. Hana, di dapur, meletakkan nampan dan tidak sengaja mengintip dari celah pintu.
“Saya bawa dua hal, Pak Haji.” Adam membuka map itu dan menyodorkan sebuah buku kecil bersampul kulit tiruan. “Yang pertama buku cicilan gedung Milk’s Heaven. Tiap setoran ke Papa ada tanggal, jumlah, dan paraf beliau. Yang kedua laporan keuangan kafe tiga bulan terakhir, lengkap dengan nota pengeluaran renovasi. Saya fotokopi, Bapak boleh bawa.”
Paman membuka buku kecil itu. Halaman demi halaman ia balik pelan, jari telunjuknya mengikuti baris angka. Pulpen di tangan kirinya bergerak sendiri, mencatat sesuatu di buku bergaris.
“Kenapa ada pekan yang kosong di sini?”
“Karena pekan itu semua uang saya habis di ruang serbaguna, Pak Haji. Lihat nota yang di halaman lima. Tukang, cat, dua pendingin ruangan. Saya nggak setor, dan saya bilang ke Papa langsung. Papa tulis di bawahnya, ‘Boleh, asal jujur.’ Itu tulisan Papa.”
Paman menyipitkan mata di balik kacamata, membaca tulisan tangan yang miring di sudut halaman. Ia diam lama. Kemudian ia membuka laporan kafe dan membaca pelan-pelan, dan Hana, yang kini tidak lagi berpura-pura tidak mengintip, melihat alisnya naik di satu baris.
“Labanya tipis.”
“Betul, Pak Haji. Tapi naik tiap bulan sejak acara anak panti. Saya nggak mau menutup-nutupi. Kalau nanti ada bulan yang turun, Bapak boleh tanya kenapa.”
“Dalam hadis,” ucap Paman, tanpa mengangkat mata dari kertas, “siapa yang mengambil harta orang lain dengan niat membayarnya, Allah akan menolongnya membayar. Kamu punya niat itu. Paman melihatnya di halaman ini.” Ia menutup buku. “Tapi niat saja tidak cukup. Harus ada jadwalnya.”
“Ada, Pak Haji. Lunas paling lambat sebelum ...”
“Sebelum apa?”
“Sebelum saya cukup percaya diri melamar anak Bapak dengan kepala tegak.” Adam tersenyum canggung. “Maaf. Keponakan.”
“Anak,” kata Paman datar. “Dia sudah seperti anak.”
===
Paman menutup buku tulisnya dan menautkan jemari di atas meja.
“Sekarang Paman beri tahu apa yang Paman minta, kalau anak ini jadi menikah dengan kamu. Satu, Hana boleh punya kios sendiri, usahanya sendiri, uangnya sendiri, dan kamu tidak boleh menyuruhnya berhenti. Dua, kalian tinggal dekat Ibunya, tidak lebih dari ...”
“Setuju, Pak Haji.”
Paman berhenti. “Paman belum selesai.”
“Maaf, Pak Haji, tapi jawabannya sama.”
“Tiga, tidak ada pindah kota. Tidak ada kerja di luar pulau, tidak ada ...”
“Setuju.”
“Nak.” Paman melepas kacamatanya, menekan pangkal hidung. “Dengar sampai habis. Orang yang setuju sebelum mendengar itu sembrono, atau sedang jatuh cinta.”
“Dua-duanya, Pak Haji,” kata Adam, dan sebelum ia sempat menyesali kalimat itu, Paman mendengus panjang, bukan marah, tetapi seperti seseorang yang mencoba menahan tawa dengan seluruh wajah.
Di dapur, Hana menutup mulutnya dengan telapak tangan dan mundur dari celah pintu.
Ibu yang selama itu duduk di ujung meja dengan rajutan di pangkuan, meletakkan jarumnya. Ia tidak berbicara cepat. Ibu tidak pernah berbicara cepat jika yang ingin ia sampaikan adalah hal yang penting.
“Nak Adam. Ibu mau tanya satu hal.”
“Silakan, Bu.”
“Hana itu kalau capek mulutnya tajam, kalau marah diamnya lama. Kalau sakit dia pura-pura kuat, sampai kita sendiri yang ketakutan. Sanggup kamu sabar menghadapi itu? Bukan hari ini, bukan waktu masih senang. Waktu dia sakit, waktu anakmu rewel, waktu uang tipis, waktu kamu sendiri capek.”
Adam tidak langsung menjawab. Ia menunduk, memandang punggung tangannya sendiri, lalu mengangkat wajah, dan Hana, yang kini berdiri di ambang dapur tanpa menyembunyikan diri, melihat ia memilih jujur sebelum ia memilih manis.
“Jujur ya, Bu. Saya bukan orang yang sabar. Saya bangun siang. Saya lupa janji kecil. Saya bisa nyebelin kalau lagi capek.” Ia menarik napas. “Tapi alarmnya masih tiga, Bu, seperti yang saya bilang ke Pak Haji. Alarm ketiga masih Papa, dan sekarang Papa mulai minta bayaran per ketukan.”
Ibu mengangkat alis.
“Soal sabar,” lanjut Adam, “saya belajar dari Ibu waktu mengaduk adonan. Kata Ibu, bayangkan sedang membujuk. Bukan memaksa. Saya nggak akan bilang saya bisa. Saya bilang saya mau belajar, dan saya sudah mulai.”
Ibu menatapnya lama. Lalu ia mengambil kembali jarum rajutnya, bergumam, “Anak ini pandai menjawab kalau dipepet,” tetapi sudut bibirnya terangkat, dan Hana tahu itu pujian.
Paman menyentuh buku catatannya dengan ujung pulpen. “Subuh Ahad kemarin kamu datang. Subuh Senin?”
“Saya salat di masjid dekat rumah, Pak Haji.”
“Selasa?”
“Selasa nyaris terlambat. Sirene menang telak.”
“Rabu dan Kamis?”
“Berjamaah, bersama Papa. Dua hari berturut-turut Papa tidak perlu menggedor pintu.”
Paman mencoret sesuatu. “Cukup. Paman tidak butuh yang sempurna. Paman butuh yang tidak berhenti.”
===
Teh baru disajikan setelah Paman mengangguk. Hana membawa nampan dari dapur, meletakkan gelas satu per satu: Paman, Ibu, Adam, lalu dirinya sendiri. Sesudah itu ia menaruh teko di meja kecil dekat ambang pintu dan, entah mengapa, tidak langsung duduk.
Adam sedang menjelaskan kepada Paman bagaimana ia membagi sepuluh persen penghasilannya untuk panti Kasih Bunda, sejak Bu Endang bercerita tentang atap yang bocor. Suaranya rendah dan teratur. Ia menunjuk-nunjuk angka di kertas dengan pensil yang tadi tersampir di telinganya, dan sehelai rambut jatuh di dahinya, dan ia mengusirnya dengan punggung tangan tanpa menyadari. Matanya, ketika bicara tentang anak-anak panti, melunak seperti air yang dipanaskan pelan-pelan. Jari-jarinya berbintik tinta pensil, kuku di telunjuk kanannya sedikit patah, bekas mengaduk adonan yang belum juga ia hafal tekniknya. Hana menyadari ia hafal letak bintik-bintik itu, dan itu membuatnya heran sendiri.
Hana memerhatikan Adam ketika ia tertawa kecil karena Paman mengoreksi satu istilah. Ia memerhatikannya ketika lelaki itu menunduk menuliskan sesuatu, ketika ia mengusap tengkuk, ketika ia menoleh sedikit ke arah dapur, hanya sekilas, mencari sesuatu, dan matanya hampir bertemu mata Hana sebelum Hana memalingkan wajah ke teko.
Ia tidak tahu sudah berapa lama.
“Teh tumpah,” kata Paman, tanpa menoleh.
Hana menunduk. Teko di tangannya miring entah sejak kapan, dan teh meluber dari nampan ke lantai keramik dengan bunyi pelan.
“Dari tadi,” tambah Paman, menyesap tehnya.