Selasa sore, empat hari setelah teh yang tumpah itu, rolling door berkarat di jalan raya sudah diganti pintu kaca bening, dan di atasnya, dicat tangan oleh tukang papan yang terlalu bangga pada huruf-hurufnya, terpasang tulisan hijau tua: Dapur Ranti.
“Ibu bilang jangan pakai nama Ibu,” gumam Ibu, berdiri di trotoar dengan celemek yang baru disetrika tiga kali.
“Ibu bilang tadi pagi, kemarin pagi, dan lusa.” Hana tersenyum, memegang sikunya. “Hana tetap pakai nama Ibu.”
“Malu.”
“Kuenya Ibu yang mulai. Hana cuma meneruskan.”
Ibu tidak menjawab. Ia hanya meluruskan celemeknya lagi, dan Hana melihat dagu ibunya bergetar sedikit, sedikit sekali, tetapi cukup.
Kios itu kecil: satu etalase kaca baru yang masih berbau lem, dua meja bundar dengan empat kursi, lantai keramik putih yang digosok sampai Hana bisa melihat wajahnya sendiri, dan di belakang, dapur sempit dengan dua tungku, satu oven, dan meja adonan di bawah jendela persis seperti yang selama ini ia bayangkan. Di dinding di atas etalase ditempel selembar kertas karton dengan gambar yang jelas dibuat anak kecil: sebuah rumah miring, matahari dengan tujuh sinar, dan satu kue sus raksasa yang lebih besar dari rumahnya. Di sudut kertas, dengan krayon merah, tertulis ELIZA.
“Itu hadiah pertama,” bisik Mita, anak panti kelas sembilan itu, yang sejak pukul tiga berdiri di sebelah Hana dengan celemek yang kebesaran dan mata yang tak bisa berhenti menatap etalase. “Eliza menggambarnya tiga malam, Mbak. Kata Bu Endang dia nggak mau tidur sebelum selesai.”
“Bagus sekali.”
“Kue susnya sengaja dibuat besar, katanya biar semua orang kebagian.”
Hana menarik napas. Sebelum pintu dibuka untuk pelanggan, ia memanggil semua yang hadir: Ibu, Bu Endang, Mita, Rendi, Eliza yang bergantung di tangan Bu Endang, dan Ustadzah Aisyah yang datang membawa sebakul bunga melati. Di atas etalase, ia sudah menata lima belas kotak kue sus berpita hijau, lima belas yang pertama dari oven pertama.
“Kotak-kotak ini untuk adik-adik panti,” katanya. “Sebelum kita menjual satu pun.”
“Han,” bisik Ibu. “Itu hampir separuh dari...”
“Ustadzah bilang rezeki tidak berkurang karena dibagi,” kata Hana, dan Ustadzah, di belakang, hanya tersenyum.
Rendi, remaja kelas sebelas yang biasanya pemalu, membawa kotak-kotak itu ke mobil panti satu per satu dengan gerakan hati-hati, seolah mengangkut telur emas. Eliza mengambil satu kotak, memeluknya, dan berkata kepada seluruh dunia, “Ini punya Eliza dulu.”
===
Pembeli pertama datang lima menit setelah pintu dibuka: Bu RT, dengan tiga ibu pengajian di belakangnya. Disusul dua bapak yang kebetulan lewat, seorang pengendara ojek online yang membeli enam kotak untuk dikirim, dan satu keluarga kecil yang berhenti hanya karena anak lelaki mereka menunjuk etalase. Dalam dua puluh menit antrean sudah mengekor sampai ke trotoar.
Hana melayani di balik etalase, dengan Mita membungkus dan Rendi menghitung di mesin kasir, dan karena sibuk, ia hampir tidak menyadari lelaki yang berdiri di ujung antrean, di belakang seorang ibu dengan stroller, dengan kemeja biru muda dan tangan di saku.
Ia menyadarinya ketika antrean tinggal empat orang. Dari jarak itu ia bisa melihat Adam menahan tawa karena seorang anak kecil di depannya menoleh dan menatapnya tanpa berkedip.
“Om kenapa baris di belakang?”
“Karena Om baru datang.”
“Kenapa nggak maju aja?”
“Nggak boleh. Itu namanya nyerobot.”
Ketika tiba gilirannya, Adam maju, menaruh kedua tangan di tepi etalase, dan tersenyum dengan wajah yang sama persis seperti hari ia menawari kerja sama dulu.
“Sekotak kue sus, Mbak.”
Hana menahan senyum. “Isi dua belas atau enam?”
“Dua belas.”
Hana mengambil kotak dan, tanpa pikir panjang, memasukkan empat kue tambahan di sela-selanya, bonus yang biasa Ibu berikan kepada pelanggan lama. Adam melihat itu. Ia mengambil kotak itu, membuka tutupnya sedikit, menghitung dengan mata, dan menutupnya lagi.
“Han.”
“Itu bonus.”
“Bonus buat siapa?”
“Buat yang baris di belakang anak kecil.”
“Gue mau bayar yang dua belas.” Adam merogoh dompet. “Yang empat nanti lo kasih ke orang lain. Lo yang bilang di depan Paman, kios ini punya lo sendiri, bukan bagian dari Milk’s Heaven. Kalau gue dikasih gratis, gue jadi satu-satunya pelanggan yang diistimewakan, dan lo tahu gue nggak suka diistimewakan.”
“Lo suka diistimewakan.”
“Dulu. Sekarang gue latihan.”
Ia membayar penuh, tepat sesuai angka di papan, tidak membulatkan, tidak minta kembalian. Setelah itu ia menggeser ke samping dan membuka tutup kotak untuk melihat sendiri kue pertama yang ia beli dari kios itu. Dengan satu gigitan besar ia mengunyah, terdiam, memejamkan mata sebentar.
“Enak banget, Han.”
“Ibu yang buat adonannya.”
“Gue tahu. Tapi lo yang ngisi vla-nya. Gue bisa bedain.” Ia menelan, menatap Hana beberapa detik lebih lama dari wajar, lalu sadar, berdeham, dan mundur selangkah. “Gue pamit. Gue cuma mau jadi pelanggan pertama.”
“Pelanggan ke tujuh puluh tiga, kata Mita.”
“Pelanggan paling ikhlas,” koreksi Adam, dan keluar bersama kotaknya.
===
Menjelang Maghrib, ketika antrean akhirnya menipis, sebuah mobil berhenti di depan kios, dan dari kursi belakangnya turun seorang ibu bergamis cokelat.
Hana sedang menata etalase saat bel pintu berbunyi. Ia menoleh, dan tangannya berhenti di atas nampan.
Bu Salma berdiri di ambang pintu kaca, sendirian, dengan tas kecil di bawah lengan dan wajah yang sedikit pucat. Di belakangnya, di pinggir jalan, sopir mobil menunggu dengan sopan. Ibu, yang sedang merapikan toples di meja belakang, ikut menegakkan badan.
“Assalamu’alaikum, Nak Hana.”
“Wa’alaikumussalam, Bu Salma.”
“Saya ... boleh beli kue?” Ia tersenyum gugup. “Hari Sabtu ada acara di rumah, keluarga besar, seratus orang. Saya mau pesan kue sus sebanyak yang bisa dibuat.”
Hana melirik ke arah Ibu. Ibu tidak bergerak.
“Seratus orang, Bu?”
“Kalau Nak Hana tidak keberatan.” Bu Salma menarik napas. “Saya mau bayar penuh. Saya tidak mau dikasih potongan, tidak mau gratis. Ini bukan sedekah. Saya pelanggan.” Matanya bertemu mata Hana, jujur dan lelah. “Saya cuma ingin hal ini dilakukan dengan cara yang benar.”
Dari belakang etalase, suara Ibu terdengar, pelan, datar, tetapi tidak dingin. “Pesanan seratus orang itu kami tulis di buku, Bu Salma. Dua hari sebelum acara, harus lunas separuh.”
“Baik, Bu Ranti. Terima kasih.” Bu Salma menunduk, menandatangani buku pesanan dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Pulpen di tangannya bergerak ragu di baris nama. Sebelum pergi, ia berhenti di ambang, dan Hana mendengarnya berkata nyaris pada dirinya sendiri, “Tadi pagi saya sudah tulis di grup pengajian. Saya bilang kue sus terbaik di jalan raya ada di sini. Semoga Nak Hana tidak keberatan.”
Hana tak tahu harus menjawab apa. Yang keluar akhirnya hanya, “Terima kasih, Bu.”
Setelah mobil itu pergi, kios kembali hening sebentar. Hana melangkah ke belakang, ke dapur sempit itu, menyandarkan punggung ke dinding, dan di situ, di antara bau mentega hangat dan tepung, ia merosot duduk di lantai.
Pesanan masuk lewat ponselnya tak henti: dari grup RT, dari Bu Salma, dari ibu-ibu pengajian, dari seorang bapak yang mengetik, Katanya enak, bisa antar? Hana menutup wajah dengan kedua tangan. Ia menangis, terisak pendek, tanpa suara keras. Kios ini. Dapur ini. Mimpi yang dulu ia tulis di halaman terakhir buku catatan, di antara daftar belanja, di antara angka tabungan yang tak pernah cukup.
Mita mengintip dari pintu, mata membelalak. “Mbak? Mbak nggak apa-apa?”
“Nggak apa-apa,” kata Hana, terisak. “Mbak bahagia.”
“Kok nangis?”
“Karena kalau nggak nangis nanti meledak.”
Ibu muncul di belakang Mita, menyerahkan sehelai tisu, dan menunjuk dinding. Karton Eliza, yang tadi ditempel miring dengan selotip, perlahan terlepas satu sudutnya dan menggantung terbalik: rumah miring, matahari tujuh sinar, dan kue sus raksasa kini berada di atas. “Kuenya malah terbalik,” bisik Mita, dan Hana tertawa.
“Kompor dua tungku,” kata Ibu, “ternyata kurang.”
Hana menatap karton itu. Ia menatap Ibu. Lalu tawa meletus dari dadanya, pecah dan basah, dan Mita ikut tertawa tanpa tahu sebabnya, dan Ibu menutup mulutnya dengan celemek.