Wajan hitam itu sudah menunggu di atas kompor, kosong dan mengilap, ketika Hana pulang dari kios pukul tiga lewat sedikit dengan tepung masih menempel di lengan jilbab. Meja dapur bersih dari semua toples. Ibu duduk di ruang makan dengan tangan terlipat, dan di ambang pintu dapur, di kursi kayu yang digeser dari teras, Paman Ridwan membuka koran dengan sikap orang yang sudah memutuskan sesuatu.
“Hari ini Paman mau lihat anak itu sendirian di dapur,” katanya, tanpa menurunkan koran. “Tanpa instruksi. Tanpa bantuan. Kamu dan Ibumu tidak boleh masuk dapur sampai Paman bilang boleh.”
Hana berhenti di anak tangga. Tiga hari sudah lewat sejak Dapur Ranti dibuka, tiga hari yang dihabiskan dengan oven yang tidak pernah dingin dan pesanan yang tidak pernah kosong, dan ia baru saja berpikir bahwa Jumat keempat ini akan berjalan seperti tiga Jumat sebelumnya.
“Memasak apa, Paman?”
“Nasi goreng. Makanan paling sederhana yang paling sering gosong. Pintu tetap terbuka. Paman duduk di sini dan melihat.”
Adam tiba pukul empat kurang lima, tepat saat Hana selesai menyapu remah tepung terakhir dari meja dapur. Ia membawa kantong plastik berisi nasi dingin dari tadi pagi, dua butir telur, bawang merah, bawang putih, cabai, dan satu botol kecap manis. Ia menatap dapur yang kosong, kompor yang sudah menyala di bawah wajan, dan Paman yang duduk di kursi kayu di ambang pintu dengan koran terbuka.
“Siap, Pak Haji.”
“Tiga puluh menit.”
Hana dan Ibu menunggu di ruang makan, duduk berdampingan di kursi dekat jendela. Dari sana mereka bisa melihat punggung Adam, kemeja yang lengannya sudah digulung, dan sendok kayu yang mengaduk-aduk wajan. Ibu menyilangkan tangan. Hana menggigit bibir.
Bunyi tumisan terdengar. Aroma bawang menggoda. Bunyi telur dipecah. Lalu, tiba-tiba, bunyi sesuatu yang tidak seharusnya terdengar: desis panjang, retak-retak, dan bau yang dengan cepat berubah dari harum menjadi tajam.
“Bu ...” bisik Hana.
“Jangan,” sahut Ibu, tanpa menoleh. “Paman bilang jangan.”
Asap tipis naik dari dapur. Adam mengumpat pelan, mengaduk lebih cepat, menumpahkan kecap terlalu banyak, mengumpat lagi, mematikan kompor. Ia berdiri diam menatap isi wajan selama beberapa detik, kemudian menoleh ke arah Paman dengan wajah orang yang baru menyadari pintu penjara baru saja ditutup.
“Pak Haji.”
“Ya?”
“Ini gosong.”
“Paman lihat.”
“Saya mau bilang sebabnya api terlalu besar,” kata Adam. Ia berhenti. Menghela napas. “Tapi sebenarnya saya terlalu lama melihat ponsel waktu menunggu bawangnya harum. Saya salah, Pak Haji. Bukan apinya.”
Paman melipat koran. Dari ruang makan, Hana melihat bahunya turun satu senti.
===
Nasi goreng itu dihidangkan di meja makan dalam tiga piring dan satu mangkuk kecil kerupuk. Warnanya cokelat tua, di beberapa bagian hitam, dan telurnya telah berubah menjadi serpihan kecil yang mengeras. Adam meletakkannya dengan wajah orang yang menyerahkan diri.
“Gosong estetik,” katanya lemah.
Paman mengambil sendok. Ia menyuap satu sendok penuh, mengunyah pelan, menatap kosong ke tengah meja, dan Hana, yang tidak bisa menahan diri, ikut menyuap. Rasanya pahit di ujung, asin di tengah, manis kecap di mana-mana.
“Lumayan,” kata Ibu, setelah suapan kedua. “Bumbunya benar. Apinya yang salah.”
“Terima kasih, Bu.”
Paman menghabiskan seluruh piringnya. Ia melakukannya diam-diam, sendok demi sendok, hingga hanya tersisa butir-butir gosong di sudut. Adam menatap piring itu, kemudian menatap Paman, tidak percaya.
“Pak Haji, Bapak nggak perlu ...”
“Paman bukan sedang memuji masakanmu.” Paman meletakkan sendoknya. “Paman sedang melihat sesuatu yang lain. Kamu bisa saja bilang apinya terlalu besar, kompornya rusak, atau pintu terlalu terbuka dan kamu gugup. Kamu bilang ponselmu. Orang yang bisa mengaku kesalahan kecil di depan orang yang menilainya akan mengaku kesalahan besar di depan istrinya.” Ia mengangkat dagu. “Kamu lulus dapur.”
Adam menunduk. Bahunya bergetar sedikit.
Sesudah piring-piring diangkat, Paman bangkit. “Hana. Ke teras.”
Teras sore itu hangat, dengan bau tanah sehabis hujan kecil. Paman duduk di kursi kayu paling ujung, Hana di kursi di sebelahnya, dan dari ruang makan terdengar bunyi gelas dan piring yang dibereskan Ibu dan Adam dengan hati-hati, bunyi yang tidak ingin mengganggu.
Paman tidak langsung bicara. Ia memandang pagar, pohon kamboja, jalan yang kosong.
“Paman bukan orang yang pandai bertanya halus,” katanya. “Jadi Paman tanya saja. Kamu ingin?”
Hana menunduk. Ia sudah menduga pertanyaan ini sejak Jumat pertama, ia sudah menghafal jawabannya di tiga malam yang berbeda, tetapi kata-kata yang ia siapkan menguap begitu bertemu mata Paman.
“Ingin, Paman,” katanya akhirnya. Suaranya pelan, tapi tidak bergetar. “Dan Hana sudah tidak takut.”
“Dulu kamu takut.”
“Hana takut dipilih lalu ditinggalkan. Dua kali.” Hana menarik napas. “Tapi takut itu tidak hilang karena kita diyakinkan, Paman. Ia hilang karena kita lalui. Hana sudah lihat Adam dibantah, dibongkar, disidang, disuruh menyapu, dan gosong. Dia tidak lari satu kali pun. Dia mengaku.” Ia tersenyum. “Dan Hana juga tidak lari. Dan itu sesuatu yang belum pernah Hana lakukan di depan hal yang menakutkan.”
Paman mengangguk lambat, matanya masih pada pagar.
“Kakakmu pernah bilang kepada Paman,” katanya, “jangan pernah paksa perempuan menikah, dan jangan pernah halangi kalau dia sudah tahu apa yang dia mau. Paman sudah memaksa tiga Jumat untuk melihat kamu ragu, dan kamu tidak ragu.” Ia berdiri. “Panggil anak itu.”
===
Adam keluar ke teras dengan lap di bahu dan wajah pucat, seperti seseorang yang tidak ingin mendengar putusan yang sudah ia tahu. Paman tidak menyuruhnya duduk.
“Paman punya tiga syarat. Dengarkan, jangan jawab sampai selesai.”
“Siap, Pak Haji.”
“Pertama, jaga salatmu. Bukan hanya waktu ada yang melihat. Kalau kamu bangun siang, bangunkan dirimu dengan sirene atau dengan Papamu. Rumah tangga yang tiangnya goyah tidak kuat menahan atap.” Paman mengangkat jari kedua. “Kedua, jangan sembunyikan apa pun darinya. Bukan masa lalu, bukan uang, bukan rasa takutmu. Kamu sudah berjanji pada Paman soal itu di meja Ustadzah. Paman akan menagihnya seumur hidup.”
“Insya Allah, Pak Haji.”
“Ketiga.” Suara Paman melemah seperti ia sedang menimbang sesuatu yang berat. “Jangan pernah angkat tangan padanya. Bukan sekali, bukan saat marah, bukan saat kamu merasa dia melampaui batas. Tangan itu untuk memegang mushaf dan mengaduk adonan, bukan untuk menyakiti. Kalau suatu hari kamu merasa tidak sanggup menahannya, pergi. Keluar rumah. Jalan sampai marahmu habis.”
“Saya tidak akan pernah, Pak Haji.”
“Paman tidak minta kamu bersumpah. Paman minta kamu mengingat.” Paman menatapnya lama, sorot matanya setajam dan selembut orang yang melepas sesuatu yang berharga. “Kalau kamu sanggup ketiganya, Sabtu pekan depan bawa keluargamu melamar.”
Adam tidak bergerak. Hana, di kursinya, melihat tangan lelaki itu yang memegang lap gemetar halus.
“Pak Haji ...” Suaranya nyaris tidak keluar. “Bapak serius?”
“Paman tidak pernah main-main soal kakak Paman.” Paman melangkah ke pintu. “Pulanglah. Istirahat. Sebelum Paman berubah pikiran karena kasihan melihat kamu begitu.”
===
Adam menghentikan motornya di pinggir jalan lima ratus meter dari rumah Hana, di bawah lampu jalan yang berkedip-kedip, di depan sawah kecil yang gelap. Ia mematikan mesin, melepas helm, dan menaruhnya di jok.
Ia tidak tahu kapan tepatnya air matanya mulai jatuh. Ia hanya sadar bahwa jalan di depannya buram, dan bahunya bergetar, dan dadanya penuh sampai terasa mau pecah. Tidak ada suara. Ia menekan punggung tangan ke mulut supaya isaknya tidak keluar, seperti anak kecil yang tidak ingin ketahuan, dan di balik kelopak yang terpejam ia melihat dirinya sendiri di pantry Milk’s Heaven, mengatakan kepada seorang perempuan yang menganggapnya bercanda bahwa pertanyaannya serius.
Ponselnya bergetar di saku. Ia mengeluarkannya dengan tangan basah.
Papa: Papa sudah di teras. Papa tunggu.