Teras rumah Malik malam itu diterangi satu lampu kuning, dan Pak Malik duduk di kursi rotan dengan tangan terlipat di perut, seperti lelaki yang sudah duduk di sana lebih lama daripada yang mau ia akui. Adam mematikan motor di halaman, melepas helm, lalu naik ke teras dengan mata sembap yang tidak bisa disamarkan oleh lampu seremang apa pun.
“Lulus?” tanya Papa.
“Lulus, Pa.” Adam duduk di anak tangga teratas, bukan di kursi. “Pak Haji bilang Sabtu pekan depan Adam disuruh bawa keluarga melamar. Tiga syaratnya Adam hafal. Jaga salat, jangan sembunyikan apa pun, jangan pernah angkat tangan.”
“Hafal saja belum cukup.” Papa memandang halaman yang kosong. “Papa dulu pasang empat puluh hari bukan karena Papa ragu kamu sanggup. Papa pasang supaya kamu sendiri tahu kamu sanggup. Hitungan itu sudah selesai, Dam. Mulai malam ini yang kamu jalani bukan syarat Papa lagi. Itu hidupmu.”
“Adam takut, Pa.”
“Bagus.” Papa menoleh, dan di sudut bibirnya ada sesuatu yang mirip senyum. “Takut itu tanda kamu paham harganya. Yang berbahaya itu yang berangkat tanpa takut.”
Tirai di balik pintu kaca bergerak sedikit. Mama berdiri di sana dengan mata yang jelas-jelas sudah merah sejak tadi, memegang ujung tirai seakan-akan itu pegangan tangga.
“Mama tidak menangis,” katanya, sebelum ada yang bertanya.
“Mama sudah menangis dari maghrib,” sahut Papa, tenang.
“Itu menangis yang lain.” Mama membuka pintu, memeluk Adam yang masih duduk di tangga, dan bicara ke rambutnya. “Besok Mama telepon Hawa. Baju. Kita punya delapan hari, dan Mama tidak mau mengulang foto yang kemarin.”
Papa menepuk lutut. “Lusa Ahad. Sehabis zuhur bawa mushaf itu ke ruang kerja Papa. Kita pilih mahar.”
===
Sabtu lewat dengan pesanan kue dan dua telepon Paman yang isinya sama, yaitu menanyakan apakah Adam sudah terlambat salat Subuh. Baru Ahad pagi Ibu mengeluarkan sebuah kotak kayu dari dasar lemari kamarnya dan membawanya ke ruang tengah dengan dua tangan, seperti membawa nampan berisi gelas kaca.
“Duduk, Han.”
Kotak itu berbau kapur barus dan sedikit cendana. Di dalamnya, terlipat rapi di atas kertas minyak yang sudah menguning, ada mukena putih dengan sulaman melati di tepinya. Benangnya halus, rapatnya hampir tak kelihatan jahitan. Hana memegang sudut kainnya dengan ujung jari saja.
“Ayahmu beli ini dua bulan sebelum ia sakit parah,” kata Ibu. “Dari seorang perajin di pasar lama. Waktu itu kamu masih SMP, masih kurus, masih suka merengek minta dibelikan sepatu. Ibu tanya kenapa beli mukena sebesar itu, dan Ayahmu bilang, ‘Simpan, Bu. Untuk hari Hana duduk disalami orang.’”
Hana tidak bisa menjawab. Lehernya sudah panas. Ia mengangkat mukena itu pelan-pelan dan menempelkan kainnya ke pipi. Baunya kapur barus dan cendana, dan di bawah keduanya ada bau lain yang tidak punya nama, bau rumah ini sebelum Ayah pergi, ketika ada sepasang sandal lelaki di dekat pintu dan seseorang yang bersiul sambil mengganti bohlam.
“Ayah selalu bilang jodoh itu sudah ditulis,” kata Hana lirih. “Tugas kita cuma melangkah dengan cara yang benar.”
“Dan Ayahmu sendiri melangkah tiga kali.” Ibu tersenyum sedikit. “Tapi itu cerita lain.”
“Beberapa kali Ibu hampir mengeluarkannya,” lanjut Ibu. “Tiap kali Ibu bilang pada diri sendiri, bukan sekarang. Ibu bersyukur Ibu menunggu.” Ia menyentuh sulaman melati itu. “Mukena itu pakaian orang yang sedang menghadap, Nak. Pernikahan juga menghadap, hanya saja berdua. Jangan pakai pertama kali untuk difoto. Pakai pertama kali untuk salat syukur.”
“Insya Allah, Bu.”
“Dan jangan menangis di atas kainnya. Nanti sulamannya kusut.”
“Ibu sendiri yang bikin Hana nangis!”
“Ibu hanya bicara.” Ibu menarik tisu dari kotak di meja dan menyodorkannya tanpa menoleh. “Yang bikin kamu nangis itu ayahmu. Sudah belasan tahun, masih juga berhasil.”
===
Ruang kerja Pak Malik berbau kertas dan kopi hitam. Mushaf itu terbuka di atas meja, sampulnya cokelat tua, tepinya sudah lembek karena dipegang tiap malam selama empat puluh hari. Adam membalik beberapa halaman dan menemukan jejak dirinya sendiri: lingkaran pensil di tiap mad yang ia pendekkan, garis bawah di tiap huruf yang ia ucapkan terlalu tipis, dan satu tanda seru kecil di pinggir Surat Al-Baqarah yang di sebelahnya Papa menulis rapi, Kamu terburu-buru. Pelan.
“Mahar yang bercoret, Pa,” kata Adam. “Hana nggak malu?”
“Tanya dia lewat Ustadzah.” Papa memutar kursinya. “Tapi Papa yakin perempuan yang menyuruh calon suaminya salat dhuha lebih suka mushaf yang dibaca daripada yang masih berplastik. Yang bercoret ini bukan cacat. Ini riwayat.” Ia menunjuk kotak di sudut meja, berisi sajadah hijau tua dan tasbih kayu pilihan Hawa. “Alat salatnya sudah. Mushafnya jangan diganti.” Ia mengetuk meja pelan dengan satu jari. “Dengar, Dam. Mahar itu bukan harga. Rasulullah bilang yang paling berkah adalah yang paling ringan bebannya. Yang berat itu yang tidak kelihatan: tanggung jawabmu sesudahnya.”
Pintu terbuka tanpa diketuk. Mama masuk, di belakangnya Hawa membawa lipatan kain di kedua lengan, dan di belakang mereka Rama menyeret sebuah tongkat dari mainan entah apa.
“Pa, tolong putuskan,” kata Mama. “Hawa mau seragam keluarga biru dongker.”
“Ma, itu cuma warna,” kata Hawa.
“Tidak ada biru!” Suara Mama naik satu nada. “Itu warna yang membuat Mama telepon Bu Salma malam-malam. Mama tidak mau lihat biru sampai lebaran haji.”
“Rama mau biru,” kata Rama.
“Rama pakai putih.”
“Rama mau biru kayak di foto!”
Hening sesaat. Adam menunduk menekan pelipis. Hawa menatap langit-langit dengan khidmat. Papa membuka laci, mengeluarkan kacamata, dan memakainya dengan gerak lambat seperti orang yang sedang mencari alasan untuk pergi.
“Hijau sage,” kata Hawa akhirnya, menggelar kain di atas mushaf mahar, lalu buru-buru menariknya kembali. “Hijau sage, Ma. Bukan biru, bukan kuning, nggak ada urusan sama siapa pun. Dan lebih bagus di foto.”
Mama menyentuh kainnya, menimbang, dan wajahnya perlahan melunak. “Satin?”
“Katun halus. Satin nanti gerah, Ma.”
“Baik. Hijau.” Mama menoleh pada Adam. “Dan kamu beli batik sendiri, jangan pinjam Mas Ardi lagi. Lengannya kepanjangan sampai Pak Haji menatapnya.”
===
Telepon Zafran tersambung pada dering kedua, ketika langit di balik jendela kamar Adam sudah jingga dan adzan Maghrib baru saja selesai. Dari seberang terdengar bunyi tumbler dibuka.
“Assalamu’alaikum, Dam. Lo mau minjam sarung?”
“Wa’alaikumussalam. Bukan.” Adam duduk di tepi ranjang dengan mushaf di pangkuan. “Zaf, gue mau bilang sesuatu sebelum lo dengar dari orang lain. Sabtu depan keluarga gue datang ke rumah Hana. Khitbah. Pak Haji, wali Hana, sudah ngasih lampu hijau.”
Diam. Cukup lama, sampai Adam mendengar sendiri napasnya.
“Lo nggak wajib datang,” lanjut Adam cepat. “Gue cuma nggak mau lo kaget. Kalau lo mau absen, gue ngerti.”
“Dam.”
“Ya.”
“Gue bakal datang.”
Adam menutup mata. “Zaf ...”
“Gue pernah berdiri di ruang tamu itu dan ngomong di depan semua orang dengan cara yang salah. Gue mau berdiri di sana sekali lagi sebagai tamu, dan lihat sahabat gue ngomong dengan cara yang benar.” Suara Zafran serak, tapi ada sisa tawa di ujungnya. “Gue duduk di belakang. Gue yang tampan ini nggak mau nutupin pengantin.”
“Calon pengantin.”
“Terserah. Sekarang tutup teleponnya, Dam, lo kedengaran mau nangis lagi.”