Sabtu pagi yang ditunggu itu, delapan hari sesudah malam di teras Papa, Zafran datang pukul sembilan kurang dua puluh, lebih awal daripada siapa pun, dan yang membukakan pintu adalah Ibu. Hana mendengar salamnya dari ruang makan dan berhenti dengan dua gelas di tangan. Ia sudah tahu sejak Kamis, karena Ustadzah menelepon dan hanya berkata, “Zafran minta izin hadir sebagai tamu,” lalu menunggu jawaban Hana yang tak kunjung keluar. Ibu yang menjawab. Ibu bilang, “Persilakan.”
“Assalamu’alaikum, Bu Ranti. Saya ... boleh masuk?”
“Wa’alaikumussalam. Masuk, Nak Zafran.” Suara Ibu rata, tidak hangat, tidak juga dingin. “Duduk di mana pun yang membuat Nak Zafran nyaman.”
“Kalau boleh, di belakang, Bu.”
Ibu menunjuk kursi plastik di dekat pintu tanpa berkata apa-apa, lalu pergi ke dapur dan kembali dengan segelas teh yang ia letakkan sendiri di meja kecil di sebelah Zafran. Itu saja. Tidak ada pelukan, tidak ada kata maaf, tapi Zafran menatap gelas itu seperti orang yang diberi sesuatu yang jauh lebih besar daripada teh.
Hana keluar dari ruang makan dengan nampan kosong di dada. Zafran langsung berdiri.
“Hana.”
“Mas.”
“Saya datang bukan untuk mengganggu.”
“Saya tahu.” Hana menunduk sebentar, lalu mengangkat wajah. “Terima kasih sudah datang, Mas.”
Hanya itu. Sepanjang pekan menjelang Sabtu ini Hana menghitung taplak, mengelap gelas yang sudah bersih, dan menerima telepon Paman tiap malam yang selalu menanyakan hal sama, apakah ia yakin. Pertanyaan itu terjawab di ruang tamu, oleh seorang lelaki yang pernah berdiri di tempat yang sama dengan cara yang salah dan sekarang memilih kursi paling belakang.
Rombongan Malik tiba pukul sepuluh kurang sepuluh. Pak Malik memimpin dengan koko putih, Bu Malik di sampingnya dengan gamis hijau sage yang jahitannya masih mengilap, lalu Hawa, Mas Ardi, dan Adam dengan batik baru yang lengannya, kali ini, pas. Di belakang mereka Rama berjalan sangat lambat dan sangat khidmat, memeluk kantong beludru berisi mushaf dengan kedua tangan seperti membawa bayi. Ustadzah Aisyah dan Ustadz Hasan datang bersamaan dari arah lain.
“Rama,” bisik Hawa, “jangan lari.”
“Rama nggak lari. Rama jalan tugas.”
Paman Ridwan menyambut di ambang pintu dengan sarung dan koko abu-abu, wajahnya setegas orang yang menjaga gerbang. Ia menjabat tangan Pak Malik lama, menatap Adam sesaat, dan ketika matanya jatuh pada Zafran di kursi belakang, alisnya naik setengah senti. Zafran mengangguk dan Paman, setelah menimbang, ikut mengangguk. Itu tampaknya cukup.
Mereka duduk. Hana tidak boleh keluar sampai dipanggil, jadi ia menunggu di balik pintu dapur bersama Ibu, mendengar semuanya sepotong-sepotong, dan menahan tangan Ibu yang menggenggam ujung kerudungnya sendiri.
“Bu, kalau digulung terus, kerudungnya robek.”
“Ibu tidak gugup.” Ibu melepaskan kain itu, melihat bekas kusutnya, lalu menggenggamnya lagi. “Ibu sedang berdoa pakai tangan.”
“Dulu Ibu juga begini?”
“Dulu yang gemetar Ayahmu. Ibu cuma duduk di balik pintu dan menghitung berapa kali ia batuk.” Ibu mengintip lewat celah dan buru-buru menarik kepalanya. “Itu Pak Malik, Han. Dia pegang kertas. Orang yang pegang kertas pasti gugup.”
Di ruang tamu, Ustadzah membuka dengan doa dan satu pesan pendek.
“Khitbah itu janji, bukan ikatan,” katanya. “Janji yang baik dijaga dengan lisan dan dengan jarak. Yang sudah berjanji belum boleh berdua, belum boleh bersentuhan. Tapi boleh saling mendoakan.”
Lalu Pak Malik berdeham. Suaranya, yang biasanya tenang, kali ini sedikit berat. “Pak Haji Ridwan. Bapak, Ibu Ranti, dan keluarga. Kami datang membawa anak kami, Adam Rizki Pratama. Dengan niat baik, dengan izin Allah, kami memohon izin meminang putri Bapak, Rayhana Putri Dewi, untuk menjadi pendamping hidupnya.”
Hening. Paman menarik napas. “Saya wali Hana,” katanya. “Kakak saya tidak bisa duduk di kursi ini. Jadi kata-kata Bapak saya terima sebagai kata-kata kepada kakak saya.” Ia menatap Adam lurus. “Sebelum Hana keluar, ulangi tiga syarat Paman. Di depan semua orang.”
Adam menegakkan punggung. “Jaga salat, bukan hanya saat ada yang melihat. Jangan menyembunyikan apa pun dari Hana, masa lalu, uang, dan rasa takut saya. Jangan pernah mengangkat tangan kepadanya.”
“Yang ketiga, ulangi.”
“Jangan pernah mengangkat tangan kepadanya. Bukan sekali, bukan saat marah, bukan saat saya merasa dia salah.”
“Cukup.” Paman menoleh ke arah dapur. “Hana. Keluar. Yang menjawab bukan Paman.”
Hana keluar membawa nampan berisi teh. Ia menaruh cangkir di depan Pak Malik, di depan Bu Malik, di depan Paman, dan cangkir terakhir di depan Adam, yang menatap cangkir itu dan bukan wajahnya, dengan kedua tangan terkepal di lutut. Hana lalu berdiri tegak.
“Bismillah,” katanya. Suaranya jernih, dan itu mengejutkan dirinya sendiri. “Insya Allah saya bersedia.”
Dalam ruangan itu, entah siapa yang pertama, seseorang terisak. Bu Malik. Hawa langsung memeluk bahu ibunya. Rama menepuk kantong beludrunya seperti memastikan benda itu masih ada, dan berseru, “Berarti Ate jadi aunty!” sebelum Mas Ardi menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Adam mengangkat kepala sedikit, cukup agar hanya Hana yang bisa mendengar. “Kali ini bukan bohong.”
Hana nyaris tertawa, nyaris menangis, dan memilih menggigit bibir. Ia mundur selangkah. “Gue tahu,” bisiknya.
Saat ia menoleh ke belakang, kursi plastik di dekat pintu sudah kosong. Gelas teh di meja kecil itu tandas sampai dasar. Zafran berdiri di ambang pintu dengan sepatu setengah terpakai, dan Ibu, yang entah sejak kapan ada di sana, menyodorkan sekotak karton berpita tanpa suara. Enam kue sus. Zafran menerimanya dengan kedua tangan, mengucapkan sesuatu yang tidak sampai ke telinga Hana, dan Ibu hanya menjawab dengan satu anggukan kecil. Lalu pintu menutup pelan, dan di luar terdengar mesin mobil menyala, sangat lembut.
Rama menyerahkan kantong beludru itu dengan dua tangan kepada Paman, persis seperti yang sudah ia latih tiga kali di dalam mobil. “Ini punya Ate. Tapi kata Om, belum boleh dibuka sampai Om bilang sah.”
“Sampai Om bilang qabul,” koreksi Mas Ardi pelan.
“Sampai Om bilang itu,” kata Rama mantap.
Paman menimang kantong itu seakan beratnya lebih daripada kertas, membuka tali beludrunya sedikit, dan melihat sampul cokelat tua dengan lingkaran pensil di pinggir halaman. Ia membaca satu tulisan tangan kecil di sana, Kamu terburu-buru. Pelan, dan bibirnya bergerak seperti hendak tersenyum. “Pelan,” gumamnya. “Itu yang kurang dari anak muda sekarang.” Ia mengikat kembali talinya, lalu menegakkan punggung. “Adam.”
“Ya, Pak Haji.”
“Mulai hari ini panggil Paman saja, bukan Pak Haji.” Wajah tua itu tidak berubah, tetapi sorot matanya melunak. “Hanya kalau kamu menjaga yang Paman minta. Satu syarat lagi, di depan semua orang. Hana tidak boleh dijauhkan dari ibunya. Rumah mereka harus bisa ditempuh dengan berjalan kaki.”
“Insya Allah, Paman.” Kata itu keluar dari mulut Adam seperti sesuatu yang lama ia simpan di saku.
Tanggal ditetapkan: Sabtu enam pekan lagi, pagi hari, di rumah ini. Ustadz Hasan mencatat. Ketika pertemuan hampir selesai dan semua orang berdiri untuk bersalaman, Ibu dan Bu Malik saling menatap dari ujung ruangan. Bu Malik maju lebih dulu. Ibu maju juga. Mereka bertemu di tengah, canggung, dan memeluk satu sama lain sebentar saja, begitu cepat hingga jarum pentul di kerudung Bu Malik sempat tersangkut di kerudung Ibu.
“Aduh,” kata Bu Malik.
“Jangan bergerak, Bu,” kata Ibu. Jari-jarinya bekerja cepat di bawah dagu Bu Malik, mencabut jarum pentul itu dari kain yang salah, dan Hawa, yang berdiri menonton, berbisik kepada Mas Ardi bahwa di foto nanti hijau sage pasti lebih bagus daripada biru. Dua perempuan itu tertawa sekaligus, tawa dua perempuan yang sama-sama sudah terlalu lama menahan napas.