“Ate di kanan, Om di kiri, Rama di tengah,” kata Rama, dan toko perlengkapan ibadah itu langsung kehilangan separuh lorongnya.
Selasa sore, tiga hari sesudah khitbah, adalah kali pertama Hana dan Adam keluar bersama, dan aturannya sudah diketuk Paman lewat telepon sejak pagi: ada Ibu, ada Rama, ada pintu yang terbuka. Rama menganggap dirinya penjaga ketiga dan mengambil tugas itu dengan sangat serius. Tangan kanannya menggenggam jari Hana, tangan kirinya menggenggam jari Adam, dan ia berjalan di antara keduanya dengan dagu terangkat seperti pagar hidup yang tidak boleh dilangkahi.
“Ram, Om mau lihat sarung di sebelah sana.”
“Rama ikut.”
“Om cuma lima langkah.”
“Rama ikut lima langkah.” Rama menarik tangan Hana juga, dan Hana terpaksa ikut berpindah ke rak sarung, tersenyum sambil menahan geli di bawah tatapan Ibu yang berjalan di belakang mereka dengan tas belanja, pura-pura sibuk membaca label harga.
Toko itu dipilih Hana sendiri. Lewat Ustadzah ia sudah menitip kabar kepada keluarga Malik bahwa ia ingin memilih sajadah mahar dengan tangannya, bukan karena sajadah hijau pilihan Hawa jelek, tapi karena sajadah itu akan ia pakai berpuluh tahun. Adam menjawab lewat Ustadzah juga, tiga kata: “Silakan. Sepuas-puasnya.”
Hana memegang satu per satu. Ada yang beludrunya tebal dan mengilap, ada yang bergambar kubah emas, ada yang dilengkapi lampu kecil dan kompas. Ia akhirnya berhenti pada sajadah katun anyaman berwarna hijau pupus, tanpa gambar, hanya garis tipis di tepi.
“Yang itu?” tanya Adam. “Polos banget.”
“Sajadah itu bukan hiasan,” kata Hana. “Kalau lecek di tempat dahi dan lututnya berarti dipakai. Gue lebih suka sajadah yang kelihatan dipakai daripada yang kelihatan mahal.”
Adam mengangguk pelan dan tidak membantah. Itu sendiri sudah sesuatu yang baru. Dulu ia akan berkomentar, mungkin bercanda soal “Bu Ustadz”. Sekarang ia hanya berkata kepada pegawai toko, “Yang ini, Mas. Dua, kalau ada. Satu lagi untuk ruang tamu Ibu.”
“Ate.” Rama menarik jari Hana. “Kalau Ate jadi aunty, Rama boleh minta dedek bayi gembul?”
Ibu terbatuk di balik rak. Adam menatap langit-langit. Hana merasakan wajahnya hangat dari leher sampai ujung kerudung.
“Itu urusan Allah, Ram,” kata Adam akhirnya.
“Tapi kata Bunda, Allah suka kalau diminta.”
“Bundamu benar,” sahut Hana, setengah menyerah. “Tapi minta pelan-pelan, ya. Satu-satu.”
Rama puas dan melepas jari Hana untuk berlari ke rak tasbih, dan Adam, yang akhirnya bebas, menyusul bocah itu dengan langkah panjang. Dari balik rak Hana bisa melihatnya berdiri di depan pegawai toko, seorang anak muda berompi lusuh yang kikuk melayani pelanggan, bertanya namanya, sudah berapa lama bekerja di sini, dan apakah sempat salat zuhur tadi siang. Pegawai itu terbata menjawab. Adam mendengarkan sampai habis.
“Mira dulu menyuruhmu melihat caranya memperlakukan ibunya,” kata Ibu pelan di sebelah Hana, matanya tetap pada rak. “Ibu tambah satu. Lihat caranya bicara dengan orang yang tidak bisa memberinya apa-apa.”
“Hana lihat, Bu.”
“Bagus. Berarti sekarang Ibu boleh berhenti memperhatikan dia dan mulai memperhatikan kamu.”
===
Warung es kelapa di seberang toko hanya punya empat meja plastik. Ibu mengambil meja paling dekat dengan jalan dan duduk dengan punggung lurus, sementara Hana dan Adam diberi meja di sebelahnya, berhadapan, dengan Rama menempati kursi di ujung dan menghisap sirup dari gelas besar dengan khidmat. Ibu bisa mendengar semuanya. Itu memang maksudnya.
“Rumah yang lo bayangin gimana, Han?” tanya Adam. Ia sengaja menunduk menatap gelasnya. “Gue nanya bukan karena soal mewah atau nggak mewah. Gue pengin tahu aja dari mana kita mulai.”
Hana memutar sedotan. Ia sudah memikirkan jawabannya sejak malam khitbah, tapi baru kali ini disuruh mengatakannya keras-keras. “Dekat Ibu. Yang bisa ditempuh jalan kaki. Cukup ada dapur yang agak besar dan satu kamar buat mukena yang nggak harus dilipat tiap hari.”
“Tiga blok dari rumah Ibu ada satu.”
Hana mengangkat kepala. Adam masih menatap gelas.
“Gue lihat kemarin sore, sendirian, bukan buat dibeli dulu. Cuma lihat. Catnya mengelupas, atapnya perlu dicek, kamar belakangnya agak lembap.” Ia menarik napas. “Tapi dapurnya menghadap timur. Pagi-pagi ada cahaya masuk. Gue pikir ... lo bakal suka.”
“Kamar belakangnya lembap,” sela Ibu dari meja sebelah tanpa menoleh, “berarti ada genting yang bocor. Periksa saluran airnya dulu sebelum bilang suka.”
“Siap, Bu.”
“Dan jangan beli sebelum Paman Ridwan lihat.”
“Insya Allah, Bu.”
Hana menunduk. Ada sesuatu yang bergetar di tenggorokannya, hangat dan tidak bisa diurai, karena ia sadar lelaki ini tidak menawarkan rumah besar atau mobil baru. Ia menawarkan dapur yang menghadap timur. Dari semua yang bisa diucapkan, itu yang tak pernah ia kira akan ia dengar.
“Gue mau lihat,” katanya pelan. “Dengan Ibu dan Paman.”
“Pasti.” Adam akhirnya mengangkat mata, sebentar saja, lalu menunduk lagi. “Han, satu hal. Tadi pagi gue bangun jam empat lewat lima belas. Tanpa alarm.”
“Alhamdulillah.”
“Gue curiga sama diri sendiri. Kayak ada yang nggak beres.”
“Subuh itu bukan soal bangun, Dam,” kata Hana. Ia mencoba terdengar biasa, dan hampir berhasil. “Subuh itu soal siapa yang pertama lo temui di hari itu. Kalau yang pertama Allah, sisanya urusan gampang.”
Adam tidak melucu. Ia hanya memutar gelasnya sekali dan menjawab, “Gue catat.”
Ibu meletakkan sendok dengan bunyi kecil yang tegas. “Sekarang aturan. Selama masa ini tidak ada telepon sesudah Isya. Kalau ada urusan, lewat Ibu atau lewat Hawa. Urusan bagi hasil lewat Ustadzah. Tidak ada pesan panjang tengah malam.”
“Tengah malam gue tidur, Bu,” kata Adam, serius.
“Kamu bangun siang, Nak, bukan tidur nyenyak.”
Hana menunduk menyembunyikan senyum, dan Rama mengangkat wajah dari gelasnya. “Rama jadi kurir! Rama boleh jadi kurir?”
“Tidak,” jawab Ibu, Hana, dan Adam bersamaan.
Tepat saat itu terdengar langkah berlari dan suara yang sangat dikenal dari seberang jalan.
“Mbak Hana! Mas Bos!”
Sita berdiri di trotoar dengan celemek kafe yang belum dilepas dan ponsel terangkat tinggi di tangan kanan, napasnya tersengal seperti habis mengejar bus. Pelanggan warung menoleh. Penjual es kelapa berhenti memeras. Sita menyeberang tanpa melihat kiri-kanan, mendarat di depan meja mereka, dan mengacungkan telunjuk ke dua wajah yang paling merah.
“Sita bilang juga apa!” serunya, matanya sudah basah. “Dari dulu! Sita bilang juga apa, kalian itu pasutri!”
Ibu memesankan segelas es kelapa untuknya tanpa bertanya, dan Sita duduk di kursi sisa dengan dada naik-turun, menyusut hidung memakai ujung celemek. Ia menumpahkan semuanya sekaligus: Mas Bos sudah dua hari tersenyum ke mesin kasir, Robi bikin latte rasa garam karena salah ambil stoples, Sari menaruh tulisan KANGEN MBAK HANA di papan menu dan Mas Bos tidak menghapusnya.
“Gue nggak ngomong apa-apa, Sit,” kata Adam lemah.
“Mas Bos nggak perlu bilang. Muka Mas Bos tuh papan pengumuman.”
Rama menjatuhkan sedotannya. “Ate, ‘pasutri’ itu apa?”
Ibu yang menjawab, tanpa mengubah ekspresi sedikit pun. “Nanti, Nak. Sehabis Sita duduk dan minum.”