“Bu Ranti, saya sudah survei,” kata Bu Malik, membuka map plastik pertama bahkan sebelum duduknya sempurna. “Gedung yang dulu dipakai Diana itu masih kosong untuk Sabtu lima pekan lagi. Lampunya kristal, pelaminannya bisa dikasih tema apa saja, parkirnya luas. Kita pesan delapan ratus undangan saja dulu. Pak Malik sendiri punya sekitar tiga ratus rekan.”
Sabtu pagi itu ia datang dengan tiga map, sekotak bolu, dan Hawa yang berjalan di belakangnya seperti petugas keamanan yang sudah tahu keadaan akan memburuk. Ibu menyambut mereka di teras dengan teko teh yang diseduh sejak subuh. Hana, yang baru meletakkan nampan kue di meja ruang tamu, membaca dua hal dari wajah kedua ibu itu: mereka sama-sama tersenyum, dan senyum itu sama-sama tidak mau kalah.
“Delapan ratus,” ulang Ibu.
“Itu sudah minimal, Bu. Dari pihak kami saja.”
Ibu mengangkat cangkir, menyesap pelan, dan meletakkannya kembali di tatakan tanpa bunyi. “Bu Malik. Kita tidak sedang menikahkan rekan bisnis Pak Malik. Kita menikahkan dua orang.”
“Dua orang yang kebetulan anak saya yang bungsu.”
“Dan anak saya yang tunggal.”
Hawa menunduk ke cangkirnya dengan bahu bergetar. Hana mengambil nampan lagi dan berpura-pura membetulkan susunan kue yang sudah rapi.
“Boleh saya cicip bolunya, Bu?” Bu Malik memotong sepotong bolu yang tadi ia bawa sendiri, lalu memotong sepotong lagi dari piring Ibu, dan mengunyahnya dengan kening berkerut. “Gulanya kurang, ya? Saya biasa menambah dua sendok. Orang sekarang lidahnya sudah terbiasa manis.”
“Kalau gula Bu Malik,” sahut Ibu manis, “tamu pulang bawa diabetes.”
Bu Malik terkesiap. Hawa tersedak teh. Selama dua detik ruang tamu itu hening seperti ruang sidang, dan Hana sudah siap menyelamatkan keadaan dengan alasan apa pun, sampai Bu Malik tiba-tiba terkekeh dan menepuk lututnya sendiri.
“Pantas anak ini pandai!” katanya. “Kamu galak seperti ibumu, Han.”
“Hana tidak galak, Bu,” sahut Ibu. “Hana teliti. Kue susnya saja sampai tujuh belas percobaan sebelum bisa dijual.”
“Tujuh belas?” Bu Malik membelalak. “Vlanya, Bu Ranti, kalau saya boleh bilang, kurang telur sedikit ...”
“Vlanya tujuh belas percobaan, Bu Malik.”
“... tapi enak,” tutup Bu Malik cepat, dan Hawa, yang sejak tadi menahan tawa dengan telapak tangan, akhirnya menyerah dan menunduk di atas meja.
===
“Boleh Hana bicara, Bu?” kata Hana, ketika tawa mereda.
Dua ibu itu menoleh. Hana duduk di kursi kecil di ujung, kedua tangan di pangkuan. Ia pernah mengucapkan keinginan ini sekali kepada Bu Salma, dan dijawab bahwa kursi banyak itu mahal dan makanan pasti ada sisa. Ia mengira dadanya akan sesak seperti waktu itu. Ternyata tidak. Ia hanya perlu membuka mulut.
“Hana cuma punya tiga permintaan. Pertama, semua tamu duduk. Tidak ada yang makan sambil berdiri sambil memegang piring di tangan satu dan tas di tangan yang lain. Kedua, makanan tidak ada yang terbuang. Hana sudah hitung bersama Ibu: porsi dihitung dari jumlah yang benar-benar datang, sisanya dibungkus untuk tetangga dan panti, sebelum sempat basi.” Ia menarik napas. “Ketiga, anak-anak panti Kasih Bunda diundang. Mereka duduk bersama tamu lain, bukan di pojok.”
Bu Malik menurunkan sendoknya. “Kenapa sampai begitu, Nak?”
“Karena kata Rasulullah, seburuk-buruk makanan adalah makanan walimah yang hanya mengundang orang kaya dan meninggalkan orang miskin.” Hana menunduk sedikit. “Hana tidak mau pernikahan yang ia sendiri tidak akan hadir kalau jadi tamu.”
Tidak ada yang bicara. Dari dapur terdengar tetesan air dari keran yang belum rapat. Bu Malik memandang Ibu. Ibu memandang cangkirnya.
“Saya membayangkan gedung,” kata Bu Malik pelan, hampir kepada dirinya sendiri, “karena waktu Hawa menikah dulu kami tidak bisa. Pak Malik masih merintis. Kami cuma pesan tenda di halaman. Saya selalu bilang pada diri sendiri, anak bungsu nanti saya buat yang besar.”
“Ma,” kata Hawa lembut, “tenda kami waktu itu bagus, kok.”
“Bagus dan bocor.” Bu Malik tertawa kecil, matanya basah. “Saya ingin Adam punya yang tidak bocor.”
Ibu menggeser teko ke arah Bu Malik. Gerakan kecil, tapi Hana melihat Bu Malik menatap teko itu seolah ia baru saja dihadiahi sesuatu yang jauh lebih besar.
“Tidak harus gedung, Bu,” kata Hawa, membuka map kedua milik sendiri yang sejak tadi ia sembunyikan di pangkuan. “Mbak sudah ukur. Ruang serbaguna di lantai dua Milk’s Heaven muat seratus dua puluh kursi dengan pendingin ruangan, dan halamannya bisa tenda sampai seratus delapan puluh kursi lagi. Totalnya tiga ratus. Semuanya duduk. Gedung itu milik Papa, jadi tidak ada sewa. Hana yang dulu ikut memilih kursinya. Ruangan yang mereka bangun sendiri bareng-bareng.”
“Anak panti bisa naik tangga atau lewat halaman,” tambah Hana. “Mereka kenal tempat itu.”
“Tiga ratus tamu dari mana, Nak?” tanya Bu Malik, masih ragu. “Rekan Papa saja sudah segitu.”
Hana sudah menghitung ini bersama Ibu semalaman, di meja makan dengan kalkulator tua dan secarik kertas bekas pesanan. “Dari pihak Ibu seratus, Bu: tetangga, jamaah pengajian, keluarga Paman. Dari pihak Bu Malik seratus dua puluh. Anak panti dan pengurusnya enam puluh. Sisanya dua puluh sahabat. Rekan Papa yang tidak kebagian kursi, Insya Allah kami kirimi kue kotak dan terima kasih, bukan undangan kosong.”
“Rekan Papa tidak akan tersinggung?”
“Rekan Pak Malik akan lebih tersinggung kalau berdiri dua jam sambil memegang piring,” ujar Ibu, dan Hawa mengangguk keras-keras.
“Soal biaya,” lanjut Bu Malik, “biar kami yang tanggung tendanya, Bu Ranti.”
“Dibagi dua.” Ibu menegakkan punggung. “Ini pernikahan, bukan sedekah. Anak saya tidak masuk keluarga Bu Malik dengan tangan di bawah.”
“Bu Ranti keras kepala.”
“Bu Malik juga.”
Mereka saling menatap, dua perempuan paruh baya dengan cangkir teh di tangan, dan entah siapa yang pertama kali mengulum senyum. Hana menatap Hawa, dan Hawa menggeleng pelan tanpa suara, seakan berkata: biarkan, ini tanda yang baik.
Bu Malik membuka mulut dan menutupnya lagi. Ia menatap map brosur gedung kristal di pangkuannya, lalu map Hawa, lalu wajah Hana, lalu wajah Ibu. Perlahan ia melepaskan satu helaan napas panjang, dan bahunya turun, tanda seseorang yang akhirnya berhenti menarik tali dari kedua ujung.
“Baik,” katanya. “Milk’s Heaven. Tiga ratus tamu, semuanya duduk. Saya mengalah.” Ia mengangkat telunjuk. “Tapi dengan satu syarat. Ini tidak bisa ditawar.”
Hana, Ibu, dan Hawa menunggu.
“Kue sus. Tiga ratus buah, satu untuk setiap tamu, dan buatan tangan Hana sendiri.”
“Tiga ratus?” Ibu terperangah. “Han, itu tiga kali pesanan seratus kue yang dulu itu.”
“Seratus tiga kali,” gumam Hana.
“Resep vlanya Bu Ranti yang pegang?” tanya Bu Malik. “Saya hanya mau lihat telurnya.”
“Vla itu rahasia Hana, Bu Malik, dan mengintip telurnya namanya sudah mengintip.”
“Tidak akan saya ulangi.” Bu Malik mengangkat dua jari seperti anak sekolah. “Sampai besok.”
“Mama,” kata Hawa pelan, tersenyum lebar. “Mama baru saja menyerahkan walimah anak bungsu ke dua perempuan dan sepiring kue.”
“Dan Mama senang sekali,” jawab Bu Malik, mengambil sepotong bolu lagi dan, kali ini, tidak mengomentari gulanya.