Map cokelat itu tebalnya dua jari, diikat tali merah, dan Paman Ridwan meletakkannya di tengah meja ruang tamu dengan dua tangan, lalu menggeser kacamatanya ke batas hidung. Selasa sore, tiga hari sesudah Bu Malik menyerahkan walimah kepada dua perempuan dan sepiring kue, Paman tiba dari luar kota tanpa memberi tahu siapa pun apa isi tasnya. Ia hanya menelepon Pak Malik dan berkata, “Bapak dan Nak Adam, tolong ke rumah Ibu Ranti pukul empat. Ada yang perlu dibaca.”
Mereka datang tepat waktu. Pak Malik dengan koko krem dan wajah tenang, Adam dengan kemeja yang lengannya digulung dua lipatan, Ustadz Hasan sebagai saksi yang diminta Paman sendiri. Ibu duduk di sofa dengan tangan terlipat. Hana duduk di sampingnya dan menatap tali merah itu, yang entah mengapa terasa seperti pita pada hadiah yang belum tentu menyenangkan.
“Ini perjanjian harta,” kata Paman, membuka ikatan. “Disusun kenalan saya yang paham hukum. Isinya sederhana: harta Hana sebelum menikah tetap milik Hana, usaha kue dan kios tetap atas nama Hana, bagian modalnya di Milk’s Heaven tercatat jelas, dan bila suatu hari rumah tangga ini bubar ...”
“Pak Haji.” Suara Pak Malik tetap lembut, tapi punggungnya menegak setengah senti. “Kami belum sampai akad. Anak kami belum sekali pun menyentuh harta Bu Ranti.”
“Justru karena belum.”
“Saya mengerti kehati-hatian Bapak. Tapi surat yang menyebut ‘bila bubar’ sebelum mereka bersalaman di depan penghulu itu terasa seperti kami datang membawa anak ke orang yang tidak dipercaya.” Pak Malik tersenyum tipis. “Saya tersinggung, Pak Haji. Saya katakan terus terang, supaya tidak jadi dingin di belakang.”
Hana menahan napas. Ibu menegakkan punggung. Ustadz Hasan memandang lantai dengan penuh kesabaran.
Hana tahu kenapa Paman melakukan ini, dan ia juga tahu kenapa Pak Malik tersinggung. Dua-duanya benar. Itu yang paling sulit dari ruangan ini: tidak ada yang salah, dan tidak ada yang bisa mengalah dengan mudah. Ia menatap Ibu dan mendapati Ibu sedang menatap tangannya sendiri, jelas-jelas ikut tersinggung pada kata “bubar”, sama seperti dirinya, dan sama-sama memilih diam.
“Dan saya senang Bapak berkata terus terang,” jawab Paman. Ia tidak marah, hanya datar, dan itu jauh lebih menakutkan. “Kata orang baik bisa dipercaya, Pak Malik. Tapi kertas bisa ditagih. Keponakan saya sudah dua kali kehilangan orang yang berjanji, bukan karena jahat, tapi karena kata tak punya pegangan. Saya tidak mau ada yang ketiga.”
Adam, yang sejak tadi diam, mengulurkan tangan. “Boleh saya baca, Paman?”
Paman menyodorkan map itu tanpa kata.
===
Adzan Asar berkumandang dari masjid komplek ketika Adam baru membuka halaman keempat. Paman menutup map itu dengan telapak tangan.
“Salat dulu. Perkara bisa menunggu, waktu tidak.”
Ustadz Hasan menjadi imam di ruang tamu yang karpetnya digelar terburu-buru. Pak Malik, Paman, dan Adam berdiri sejajar, bahu hampir bersentuhan, tiga lelaki dari tiga umur yang berbeda menghadap arah yang sama. Di kamar Ibu, Hana bermakmum di belakang ibunya, dan dari balik pintu ia mendengar tiga suara lelaki mengucap amin serempak, suara yang sudah lama tidak terdengar di rumah ini.
Dua puluh menit sesudah salam, Adam sudah membaca seluruh isinya. Bukan sekilas, bukan melompat ke bagian akhir seperti yang Hana duga akan dilakukan lelaki yang gampang bosan. Ia membaca halaman demi halaman, sesekali berhenti untuk mengangguk atau menanyakan satu istilah kepada Ustadz Hasan. Jam dinding berdetak. Ibu mulai menghitung gelas yang kosong. Ketika Adam akhirnya mengangkat kepala, wajahnya tidak tersinggung dan tidak menyerah, melainkan penuh perhatian, seperti orang yang baru menyelesaikan soal dan ingin memeriksa jawabannya sekali lagi.
“Saya setuju hampir semuanya,” katanya. “Satu hal yang perlu diluruskan. Pasal enam menulis Hana sebagai ‘karyawan ahli’ Milk’s Heaven selama dua tahun. Itu keliru.”
Paman menyipitkan mata. “Kenapa?”
“Hana bukan karyawan. Waktu dulu kami mulai, ada perjanjian bagi hasil, dan bagian itu tetap miliknya sampai kapan pun. Tapi saya tidak mau Hana kembali sebagai wakil saya.” Ia menoleh sebentar ke arah Hana, lalu memandang Paman lagi. “Dulu ada yang meminta Hana tidak berkantor di bawah lelaki lain. Saya tidak meminta itu. Saya tidak pernah meminta Hana bekerja di bawah saya, Paman. Tidak dulu, tidak sekarang. Hana tetap pemegang bagi hasil dan datang sebulan sekali sebagai konsultan, kalau ia mau. Kios Dapur Ranti miliknya sendiri. Saya hanya ingin ia memiliki yang ia bangun, bukan menyerahkannya.”
“Dan kalau Hana tidak mau datang sebulan sekali?”
“Bagi hasilnya tetap jalan, Paman. Saya yang rugi, bukan Hana.”
“Kamu cepat sekali setuju pada kertas yang mengikat tanganmu.” Paman menyilangkan lengan. “Kenapa?”
“Karena kalau saya takut pada kertas, berarti saya sudah berencana melanggarnya.” Adam menjawab sambil membalik halaman. “Saya tidak ingin merencanakan itu, Paman.”
Paman tidak membalas, tetapi pulpen di tangannya, yang tadi diketuk-ketukkan ke map, berhenti bergerak.
Ustadz Hasan berdeham. “Dalam fikih, harta istri memang terpisah dari harta suami, Pak Malik, Pak Haji. Nafkah kewajiban suami. Harta istri tetap hak istri, dan suami hanya boleh memakainya bila ia rela. Jadi isi surat ini tidak bertentangan dengan agama. Justru menegaskannya.”
Pak Malik menghela napas, dan ketegangan di bahunya perlahan turun. “Saya mengerti, Ustadz.”
“Satu pasal tambahan, Paman,” lanjut Adam, mengambil pulpen dari saku kemejanya. “Gedung Milk’s Heaven masih dicicil kepada Papa. Kalau nanti lunas, saya minta dicatat atas nama kami berdua. Saya dan Hana.”
“Tidak,” kata Hana.
Semua kepala menoleh. Hana sendiri terkejut mendengar suaranya. “Maaf. Maksud Hana ... Hana keberatan. Gedung itu keringat Adam dan Pak Malik. Hana hanya ikut merenovasi satu ruangan. Menaruh nama Hana di sertifikatnya itu ... terlalu banyak.”
“Ruangan itu lo yang menjadikannya mungkin,” kata Adam pelan. “Anak-anak panti pertama kali ke sana karena ide lo. Kafe itu mulai ramai sesudahnya. Dan semua itu bukan modal doang. Gue nggak lupa.” Ia berdeham dan mengoreksi dirinya. “Saya tidak lupa, Paman.”
“Dam,” kata Pak Malik.
Adam tidak menjawab. Ia menatap papanya.
“Papa setuju,” ujar Pak Malik. Ia berkata tanpa ragu, dan ketika Adam menoleh, Hana melihat mata lelaki tua itu lembap. “Gedung itu memang akan jadi milik kalian. Papa tidak sedang menawarkan, Nak Hana. Papa hanya mencatat sesuatu yang sudah benar.”
Hana membuka mulut untuk membantah lagi, dan Ibu menyentuh lututnya dengan ujung jari. Satu sentuhan kecil, cukup untuk menahan.
“Han,” bisik Ibu, hanya untuknya. “Menerima itu juga ibadah. Tidak semua kebaikan harus ditolak supaya terlihat rendah hati.”
“Tapi Bu ...”
“Nanti kamu balas dengan cara kamu. Sekarang diam dan terima.”
Paman Ridwan mengambil surat itu dari tangan Adam, membalik halaman terakhir, dan membaca tulisan tangan yang baru ditambahkan: dua baris, tanda tangan Adam, dan ruang kosong bagi tanda tangan Hana. Lama ia menatap kertas itu, sampai Hana mengira ada yang salah.
“Saya tidak membesarkan keponakan saya untuk jadi bayangan siapa pun,” katanya akhirnya, perlahan, kepada Pak Malik dan kepada ruangan. “Itu satu-satunya hal yang saya janjikan kepada kakak saya saat ia pergi. Bapak tersinggung, saya tahu. Tapi sekarang saya tahu kertas ini bukan penghalang, melainkan bukti.”
Pak Malik bangkit dari kursinya. Ia mengulurkan tangan melintasi meja, dan Paman, setelah satu detik ragu, menyambutnya.
“Kalau begitu saya yang terlambat memahami, Pak Haji.” Genggamannya erat. “Saya malah ingin ikut menagih.”
“Silakan,” sahut Paman. Sudut bibirnya melunak, hanya sedikit, dan tangannya balas mengeratkan genggaman. “Seumur hidup.”