“Cincinnya mana, Han? Khitbah kan biasanya ada cincin,” kata Sheira, menopang dagu di meja pendek ruang pengajian dengan mata yang jelas-jelas sedang mencari bahan gosip.
“Mahar bukan cincin. Mahar mushaf sama seperangkat alat salat.” Hana menyodorkan piring kue ke tengah lingkaran. “Dan lo sudah tanya itu tiga kali, Sheira. Sejak Ahad.”
“Gue nanya tiga kali karena jawabannya bikin gue iri.” Sheira menyipit. “Dan lo udah ganti panggilan belum? Masih ‘Dam, Dam’ atau udah ‘Mas Adam’?”
“Masih Dam. Kayaknya dia nggak bakal tahan dipanggil ‘Mas’ tanpa tertawa.”
Sabtu pagi, empat hari sesudah Paman menaruh map cokelatnya di meja ruang tamu dan menyerahkannya kembali dengan tanda tangan, rumah Ustadzah Aisyah dipenuhi enam perempuan yang duduk bersila di atas karpet hijau: Ustadzah di ujung, Hana, Mira, Sheira, Nania, dan seorang ibu paruh baya yang hanya mengangguk-angguk dan memegang tasbih. Hari ini materinya tentang hak dan kewajiban suami istri. Ustadzah membukanya dengan satu kalimat saja.
“Pernikahan itu bukan lomba siapa yang paling sabar,” katanya. “Pernikahan itu belajar menyebut apa yang kita butuhkan sebelum kecewa menyebutnya untuk kita.”
Nania mengangkat tangan. “Kalau suaminya bangun kesiangan terus, Ustadzah, itu kewajiban istri membangunkan atau cuma saran?”
Sheira terbahak keras. Hana menatap karpet dengan wajah sangat serius. Nania, yang tidak tahu apa pun, mengerjap bingung.
“Membangunkan itu kebaikan, Nak Nania,” jawab Ustadzah sambil menyembunyikan senyum. “Tapi kewajiban pertama menjaga salatnya tetap pada suami sendiri. Istri membantu, bukan menanggung.”
Kajian berlanjut selama satu jam. Ustadzah menjelaskan nafkah, tentang mu’asyarah bil ma’ruf, pergaulan yang baik, tentang bagaimana dua orang dewasa belajar menyelesaikan pertengkaran sebelum matahari terbenam. Hana mencatat, tetapi di halaman ketiga tulisannya mulai miring, dan di halaman keempat ia berhenti menulis sama sekali.
===
Sheira dan Nania pamit lebih dulu. Ibu paruh baya itu menyusul sambil menyelipkan sebungkus pisang goreng ke tangan Hana, entah untuk alasan apa. Tinggal Hana, Mira, dan Ustadzah yang membereskan gelas, dan di dapur kecil itu, di antara bunyi air dan sendok, Hana akhirnya berkata tanpa menoleh.
“Ustadzah. Teh Mira. Boleh Hana cerita?”
Ustadzah mematikan keran. Mira menarik kursi dan duduk.
“Hana sudah bilang ‘ingin’ kepada Paman, dan itu jujur,” kata Hana pelan. “Tapi Hana nggak tahu, Ustadzah. Hana nggak tahu apakah Hana mencintai Adam, atau Hana cuma sedang menerima takdir yang paling dekat. Dengan Lutfi dulu ada getar, tapi sepihak, dan akhirnya hanya menyakiti Hana. Dengan Mas Zafran tidak ada getar, hanya tenang, dan ketenangan itu ternyata tidak cukup untuk dia. Dengan Adam ...” Ia berhenti. “Ada tenang. Ada kesal. Ada senang kalau dia datang. Ada takut kalau dia berubah lagi. Tapi Hana nggak tahu itu apa namanya.”
“Kamu takut salah menamai?” tanya Mira.
“Hana takut menikah dengan orang yang cuma Hana terima karena sudah dua kali tidak dipilih.” Suara Hana serak. “Hana takut dia yang kasihan.”
Ustadzah meletakkan lap, mengeringkan tangan di ujung kerudungnya, dan duduk di kursi di seberang Hana. Tidak ada kata “jangan takut” keluar dari mulutnya, dan Hana bersyukur untuk itu.
“Teh Mira,” kata Ustadzah lembut, “tolong ceritakan apa yang kemarin Ustadzah dengar.”
Mira tersenyum kecil, seperti orang yang baru dipanggil ke depan kelas. Ia melingkarkan kedua tangan di cangkir. “Aku nggak bagus bercerita, Han. Tapi ini jujur. Kamu tahu aku batal dua minggu sebelum akad. Kamu tahu dia menikah dengan orang lain tak lama kemudian. Yang nggak pernah kuceritakan, bahkan ke kamu, adalah bahwa kadang aku masih membuka akunnya.”
“Teh ...”
“Bukan karena cinta. Aku sudah ikhlas, itu benar.” Mira menggeleng cepat. “Aku membukanya untuk memastikan dia bahagia, supaya aku boleh berhenti bertanya apakah aku yang kurang. Dan yang paling memalukan, Han: waktu kutahu dia bahagia, aku lega dan sakit di waktu yang sama.” Matanya basah, tetapi ia tetap tersenyum. “Aku masih menunggu. Aku nggak tahu apa yang kutunggu, mungkin dia yang mau datang sekali lagi padaku, mungkin orang yang belum kukenal. Yang kutahu aku takut getar itu sudah habis kupakai satu kali.”
Hening di dapur. Hana mengulurkan tangannya, menggenggam punggung tangan Mira, dan Mira menggenggam balik.
“Getar tidak habis, Nak Mira,” kata Ustadzah. “Ia tidur. Dan Nak Hana.” Ustadzah menoleh. “Cinta dalam pernikahan itu dirawat, bukan ditunggu seperti hujan. Ustadzah sudah bertahun-tahun menikah dengan Ustadz Hasan, dan tidak ada hari ketika cinta itu otomatis ada. Yang ada hari ketika kami memilih merawatnya. Tetapi.” Ia mengangkat satu jari. “Jangan menikah tanpa getar sama sekali. Karena yang dirawat butuh benih. Pertanyaannya bukan apakah kamu dikasihani, Nak. Pertanyaannya, ketika dia datang, apa yang terjadi di dadamu?”
Hana memejamkan mata. Ia memikirkan lelaki yang menaruh teh panas di bangku rumah sakit tanpa berkata apa pun. Lelaki yang membaca perjanjian harta halaman demi halaman. Lelaki yang berdiri di ambang pintu dengan batik yang akhirnya pas di lengannya.
“Ada sesuatu,” katanya akhirnya. “Hana cuma belum tahu seberapa besar.”
“Itu jawaban yang jujur,” kata Ustadzah. “Dan cukup untuk hari ini.”
“Hana,” kata Mira, bangkit dan mengambil lap, “waktu kamu menyebut ‘senang kalau dia datang’ tadi, suaramu turun setengah nada.”
“Teh Mira nggak bisa dengar nada.”
“Aku guru ngaji anak panti tiap Kamis. Aku bisa dengar nada orang yang mengaku tidak tahu.” Mira tersenyum dan melempar lap itu ke bahu Hana. “Dan kamu mengaku dengan nada yang sama dengan yang dulu kamu pakai waktu bilang ‘ikhlas’ soal Lutfi, sebelum kamu benar-benar ikhlas. Bedanya, kali ini nadamu naik.”
===
Malam itu Hana mencari foto nota sewa kios di galeri ponselnya, dan menemukan sesuatu yang tidak ia cari.
Foto itu diambil di gedung pernikahan Diana, di dekat meja prasmanan, oleh seorang tamu yang tidak ia kenal dan dipinjami ponsel entah oleh siapa. Dalam foto itu Rama duduk di gendongan Hana, memegang pipi Hana dengan tangan berkrim kue. Adam berdiri di sampingnya, menjaga jarak yang rapi, tertawa lepas melihat anak kecil itu. Hana sendiri tidak menatap kamera. Ia menatap Rama, dan senyumnya lebar tanpa ia sadari.
Seperti keluarga bahagia, itu yang dulu ia pikir. Lalu beristighfar. Lalu mencoba menghapus perasaan itu dari kepalanya.
Hana melihat tanggal di pojok layar. Jauh sebelum Zafran. Jauh sebelum kotak kayu Ibu. Sebelum ia membuka CV mana pun. Ia tidak pernah menghapusnya, padahal setiap kali ponselnya penuh dan harus memilih, foto ini selalu selamat.
Ia mengangkat kedua tangan, menengadah, dan berdoa dengan suara yang hampir tidak terdengar. “Ya Allah, kalau ini benih, tumbuhkan. Kalau bukan, jangan biarkan hamba menipu diri hamba sendiri.”
Ponselnya bergetar di telapak tangan. Pesan dari Hawa: Selasa jam 4 Adam fitting jas di rumah Ibu ya. Bilang Ibu jangan masak banyak, nanti Adam lupa fitting karena sibuk makan.
Hana tidak membalas segera. Ia menatap foto itu sekali lagi, tersenyum tanpa suara, lalu mengetik jawabannya: Insya Allah, Mbak Hawa. Ibu akan masak sedikit saja.