Jas gading itu tergantung di pintu lemari Ibu dalam plastik bening, dengan kemeja putih yang sudah disetrika dua kali oleh Hawa dan sehelai kertas rundown yang sudah dicoret, ditulis ulang, dan dicoret lagi. Selasa sore pukul tiga empat puluh, ruang tamu rumah Ibu sudah rapi sejak tiga puluh menit lalu. Taplak diganti. Gelas ditata. Ibu menghitung kursi untuk keempat kalinya.
“Pukul empat tepat,” kata Hawa, duduk bersila di karpet dengan dua jarum pentul di bibir. “Dia sendiri yang minta pukul empat. Katanya dia mau sekali-sekali jadi orang yang datang lebih awal.”
“Yang datang lebih awal ke mana?” tanya Hana, dari dapur.
“Ke mana saja. Ke dunia, Han.”
Hana menahan tawa. Di tangannya ada nampan berisi pisang goreng yang ia goreng sendiri sambil memikirkan, tanpa sengaja, apakah Adam suka pisang goreng dengan atau tanpa taburan gula. Pertanyaan bodoh. Ia menaruh nampan itu di meja, menggeser dua pisang ke sisi lain, dan memperhatikan jam dinding.
“Rundown akad,” kata Ibu, mengangkat kertasnya. “Setengah sembilan tamu. Sembilan pembukaan. Sembilan seperempat khutbah nikah. Setengah sepuluh ijab dan qabul. Sepuluh kurang seperempat doa dan foto. Han, menurutmu Adam sanggup duduk diam selama khutbah?”
“Rama saja sanggup, Bu.”
“Rama punya motivasi. Dia dijanjikan es krim.”
Pukul empat. Pukul empat lewat lima. Pukul empat lewat dua puluh.
“Dia terlambat,” kata Ibu, dengan nada orang yang sedang membaca ramalan cuaca.
“Mungkin macet,” sahut Hawa. Jarum pentul di bibirnya sudah berpindah ke kerah jas. “Biar Mbak telepon.”
Nada sambung tidak muncul. Hawa mengerutkan kening, mengulang, mendengarkan, dan menurunkan ponsel dari telinga.
“Nomornya tidak aktif.”
“Mungkin baterainya habis.” Hana mengucapkannya cepat, terlalu cepat, dan menyesal begitu kalimat itu keluar.
Pukul lima. Mereka sudah salat Asar bergantian dan sudah menghabiskan separuh pisang goreng tanpa merasakan apa-apa. Hawa menelepon Mas Ardi, lalu Pak Malik, lalu Bu Malik, dan jawabannya sama dari ketiganya: Adam berangkat dari kafe pukul setengah tiga, naik motor, dan tidak ada yang melihatnya sejak itu. Hawa masih tersenyum, tetapi senyumnya makin tipis, makin dipaksa.
“Dia tidak pernah terlambat tanpa kabar,” kata Hawa pelan. “Maksudku, dia sering terlambat. Tapi dia selalu kabar.”
Hana mengangguk. Ia berdiri di dekat jendela, menatap pagar, jalan, dan tiang listrik yang sudah ia hafal. Ia mencoba berpikir yang lucu: mungkin Adam tidur siang. Mungkin motornya mogok. Mungkin ia terlalu gugup membeli bunga dan memilih terlalu lama. Setiap pikiran itu bertahan tiga detik sebelum digantikan satu gambar lain yang tidak mau pergi: lorong rumah sakit, Ibu yang jatuh, jaket abu-abu di sandaran bangku.
“Terlambat itu belum tentu lalai, Han,” kata Ibu di belakangnya. Ia menaruh tasbih kayu di telapak tangan Hana tanpa melihat. “Kadang orang terlambat karena ia sedang dipakai Allah untuk sesuatu yang lain. Pegang ini. Zikir.”
===
Menjelang pukul enam, adzan Maghrib belum berkumandang tetapi langit di luar sudah berubah warna. Hana duduk di kursi teras dengan tasbih yang sudah berputar entah berapa kali, mulutnya bergerak tanpa suara. Ia tidak merasa sedih. Ia tidak merasa marah. Yang ia rasakan jauh lebih aneh dan jauh lebih sunyi: kedua tangannya dingin, dan dadanya mengeras, sesak oleh sesuatu yang tidak mau ia namai.
Ia berkata pada dirinya, ini hanya lelaki yang terlambat. Ia berkata, tiga hari lalu kamu belum bisa menjawab Ustadzah apakah kamu mencintainya. Ia berkata, jangan berlebihan.
Ia mengetik pesan yang sudah ia hapus dua kali, lalu mengirim yang ketiga: Lo di mana? Satu centang abu-abu. Hanya satu. Ia menatap angka kecil itu seperti menatap sesuatu yang bernapas.
Lalu terdengar suara motor.
Bukan cara Adam yang biasanya, yang mesinnya ia matikan di ujung gang supaya tidak membangunkan tetangga. Yang ini dipacu terlalu keras, berhenti di depan pagar dengan decit rem yang panjang. Hana sudah berdiri sebelum menyadarinya.
Adam turun dari motornya perlahan. Kemeja kerjanya kotor dari bahu sampai pinggang, cokelat tanah dan sesuatu yang lebih gelap di lengan kiri. Siku kanannya lecet, kulitnya merah mengilap, dengan butir-butir kerikil kecil yang belum dibersihkan. Rambutnya acak, wajahnya pucat, dan ia berdiri di depan pagar dengan tatapan orang yang baru melewati sesuatu yang tidak ingin ia ingat.
Hana tidak sadar ia berlari sampai kakinya berhenti di depan pagar, jarak satu meter dari lelaki itu.
“Lo ke mana?!”
Suaranya melengking. Ia sendiri terkejut mendengarnya. Tapi ia tidak bisa berhenti.
“Dua jam, Dam! Dua jam! Handphone lo mati, Mbak Hawa nelepon semua orang, Papa lo, Mama lo, Mas Ardi, nggak ada yang tahu lo di mana! Lo pikir kita ... Lo pikir gue ...” Kalimatnya patah. Napasnya tersengal. “Lo kira gue nggak ...”
“Hana.” Adam mengangkat kedua tangannya setinggi dada, bukan untuk menyentuh, hanya untuk menunjukkan bahwa ia tidak membawa apa-apa selain dirinya sendiri. Suaranya serak. “Maaf. Gue minta maaf. Ada motor ditabrak mobil di perempatan sebelum rel. Pengendaranya anak kuliahan, jatuh di aspal, nggak sadar. Orang-orang cuma berkerumun sambil rekam-rekam. Gue nggak bisa lewat begitu aja.” Ia menelan ludah. “Waktu ambulans datang dia sadar, Han. Hal pertama yang dia tanya, ‘Mas, motor saya gimana?’ Gue ketawa. Terus gue nangis. Gue nggak ngerti kenapa.”
Hana membeku.
“Gue pakai ponsel gue buat nelepon ambulans, terus nelepon keluarganya dari ponsel dia, terus nelepon rumah sakit.” Adam melirik ponselnya yang layarnya gelap dengan senyum getir. “Baterainya habis sebelum gue sempat nelepon siapa-siapa lagi. Gue tunggu sampai ambulans datang, sampai keluarganya sampai. Gue langsung ke sini begitu bisa. Maaf, Han. Gue seharusnya cari colokan di mana pun. Gue nggak mikir.”
Hana menatap siku yang lecet itu. Menatap noda di kemeja. Menatap wajah yang pucat. Sesuatu di dadanya, yang sejak tadi menahan, akhirnya jatuh dengan pelan dan jelas, dan ia mengerti.
Bukan takut ditinggalkan. Ia sudah dua kali ditinggalkan dan tahu rasanya: sakit, tapi dapat dilewati. Yang membuat tangannya dingin sejak pukul empat adalah sesuatu yang lain. Ia takut kehilangan lelaki ini.
“Duduk,” kata Ibu dari ambang pintu. Ia membawa baskom air hangat, kapas, dan sebotol cairan antiseptik, dengan Hawa berlari kecil di belakangnya, mata merah dan pipi basah. “Siku itu diobati dulu. Pintu tetap terbuka. Han, jangan berdiri seperti itu.”
Adam duduk di kursi teras dan menyodorkan sikunya. Hawa berlutut dengan kapas basah, dan ketika cairan antiseptik menyentuh kulit yang terkelupas, Adam mendesis lewat gigi.
“Jangan menjerit,” bisik Hawa.
“Aku nggak menjerit.”
“Kamu mendesis. Itu menjerit versi sopan.” Suara Hawa bergetar, dan ia cepat-cepat menunduk supaya adiknya tidak melihat wajahnya. “Mbak tadi sudah mau minta Mas Ardi keliling ke semua rumah sakit.”
Adam tidak menjawab. Ia hanya memejamkan mata sebentar, seperti baru sadar berapa banyak orang yang menghitung jam untuknya.
Hana tidak duduk. Ia berdiri dengan kedua tangan menggenggam tasbih sampai manik-maniknya menekan telapak, dan ketika Adam mengangkat wajah untuk menatapnya, ia tidak berpaling.
“Besok,” katanya pelan. Suaranya sudah tidak melengking. “Teras ini. Jam empat. Ada yang mau gue omongin.”
“Hana ...”
“Obati dulu siku lo, Dam.”