Hana menulis tiga kalimat di secarik kertas bekas nota sebelum subuh, merobeknya, lalu menulis lagi, dan pukul tujuh pagi ia sudah menghabiskan enam lembar. Semuanya dimulai dengan “Dam, gue ingin bilang” dan semuanya berakhir di tempat sampah dapur, karena setiap kali ia membacanya dengan suara keras, kalimat-kalimat itu terdengar seperti pidato orang lain.
“Tulisanmu bagus,” kata Ibu, mengambil satu lembar dari tempat sampah dan meluruskannya di bawah lampu dapur. “Tapi tidak ada yang kamu tulis ini kamu maksudkan.”
“Hana tahu.”
“Maka bicara saja. Tanpa kertas.” Ibu melipat nota itu menjadi dua dan meletakkannya di meja. “Ibu duduk di ruang dalam, pintunya terbuka. Ibu akan memilah beras.”
“Beras Ibu sudah bersih dari subuh.”
“Maka Ibu akan memilah dengan lebih teliti.” Ibu berhenti di ambang dapur. “Han. Kejujuran itu pendek, Nak. Yang panjang-panjang biasanya pembelaan.”
===
Rabu pukul empat, teras rumah Ibu diterangi cahaya sore yang miring dan hangat. Satu lembar nota yang tidak jadi dibuang Hana selipkan ke saku gamis, hanya sebagai jimat, dan sampai sore itu berakhir ia tidak pernah mengeluarkannya. Adam datang sendirian dengan motor yang kali ini mesinnya sengaja ia matikan di ujung gang, mengenakan kemeja bersih dan plester cokelat besar di siku kanannya. Ia berdiri di anak tangga terbawah, tidak berani naik sebelum dipersilakan, dan di wajahnya ada ketegangan orang yang menunggu vonis.
“Silakan duduk, Dam.”
“Gue bawa tangan,” kata Adam, mengangkat kedua telapaknya, satu dengan plester besar yang menyembul dari lengan kemeja. “Kata Paman jangan bawa hadiah. Ini yang bisa gue bawa.”
“Tangan lo terluka.”
“Itu bonus.”
Ia duduk di kursi rotan di sisi jauh, merapikan kerah yang sebenarnya sudah rapi, lalu meletakkan kedua tangannya di lutut seperti murid yang dipanggil ke depan kelas. Hana duduk di kursi sebelahnya, dipisahkan meja kecil berisi dua gelas teh yang tidak disentuh siapa pun. Dari balik jendela ruang dalam, terdengar bunyi butir-butir beras jatuh ke nampan dengan ritme yang terlalu rajin.
“Siku lo,” kata Hana. Ia berniat mulai dari yang sepele, supaya suaranya stabil. “Masih sakit?”
“Perih kalau kena air. Gue nyuci muka tadi pagi dan hampir jingkrak.”
“Itu karena lukanya belum kering. Jangan dibasahi.”
“Siap, Bu Ustadz.”
Hana tersenyum, kecil, dan itu membuatnya lebih mudah. Ia menarik napas dalam-dalam.
“Dam. Empat hari lalu Ustadzah tanya, apa yang terjadi di dadaku kalau kamu datang. Aku jawab nggak tahu.”
Ia berhenti. Kata “aku” itu keluar dengan sendirinya, seperti pintu yang terbuka karena angin, dan ia sempat ingin menariknya kembali. Tetapi Adam sudah mengangkat kepala, dan ia tidak bergerak sama sekali, seakan-akan setiap gerakan kecil bisa membuat kalimat itu hilang.
“Kemarin sore,” lanjut Hana, lebih pelan, “waktu kamu nggak datang dan nggak ada kabar, aku mengira yang kutakutkan itu ditinggal. Aku sudah dua kali ditinggal, dan aku tahu rasanya. Sakit, tapi bisa dilewati. Tapi kemarin tanganku dingin, Dam. Dadaku keras. Aku nggak mikir soal dipilih atau dibuang atau malu di depan Paman. Aku cuma mikir, kalau dia nggak pulang ...” Suaranya pecah. Ia menggigit bibir bawah dan memaksa dirinya selesai. “Kemarin aku sadar apa yang kutakutkan. Bukan ditinggalkan. Kehilangan kamu.”
Beras di ruang dalam berhenti jatuh.
“Ustadzah bilang jangan menikah tanpa getar sama sekali,” tambah Hana cepat, sebelum keberaniannya habis. “Aku nggak tahu getar itu bentuknya apa. Ternyata datangnya sebagai marah. Aku membentakmu di depan pagar, Dam, di depan Ibu dan Mbak Hawa. Aku nggak pernah membentak siapa pun selama dua puluh tujuh tahun.”
Adam tidak bergerak. Dalam sorot sore yang miring, Hana melihat mulutnya terbuka, menutup, terbuka lagi. Lelaki yang sanggup mengaku pada Zafran di parkiran, yang sanggup membaca map perjanjian harta halaman demi halaman, yang selalu punya kalimat untuk segala hal, kini tidak punya satu pun. Matanya memerah, lalu basah, dan ia mengusapnya cepat dengan punggung tangan, seperti anak lelaki yang tidak ingin ketahuan.
Kedua tangannya mencengkeram lutut. Ia tidak mendekat, tidak mengulurkan tangan, tidak melakukan apa pun yang tidak diizinkan. Hana melihat betapa kerasnya Adam menahan diri, dan Deg! dadanya sendiri ikut hangat.
“Han,” katanya akhirnya, hampir tidak terdengar. “Gue ... aku ...”
“Ya?”
“Aku boleh bilang satu hal?”
“Boleh.”
“Aku nggak minta kamu terima aku karena takut kehilangan. Aku mau kamu terima aku karena kamu mau.” Adam menelan ludah. “Tapi aku bakal bohong kalau bilang aku nggak seneng dengar itu.”
Hana tertawa, dan tawanya basah. “Aku takut kamu yang kasihan, Dam. Itu yang sebenarnya paling aku takutkan sampai kemarin.”
“Kasihan.” Adam menggeleng pelan, hampir kebingungan. “Han, aku nggak pernah kasihan sama kamu. Aku kagum sama kamu sampai kadang aku takut.” Ia menarik napas panjang yang gemetar. “Papa bilang takut itu tanda kita paham harganya. Aku paham sekarang.” Ia memandang plester di sikunya. “Kemarin waktu aku menahan kepala anak itu di aspal, nunggu ambulans, aku nggak mikir ‘gimana kalau ini aku’. Aku mikir, ‘Hana lagi nunggu di rumah, dan dia nggak tahu apa yang terjadi’. Itu yang bikin aku hampir nggak bisa napas. Bukan takut mati. Takut kamu nunggu.”
Hana meremas ujung kerudungnya. Ia tidak bisa menjawab, dan Adam tampaknya tidak butuh jawaban.
Mereka diam. Teh di gelas sudah dingin. Seekor burung hinggap di pagar dan pergi lagi, dan dari dalam terdengar bunyi beras yang dilanjutkan, pelan-pelan, seolah pemiliknya sedang berpura-pura tidak ada di sana.
“Barusan,” kata Adam, mengangkat satu jari, “kamu bilang ‘aku’.”
“Iya.”
“Dua kali. Tiga, malah.”
“Iya, aku tahu.”
“Aku juga.” Ia mengusap hidungnya. “Gue-lo itu cocok untuk orang yang bisa bercanda tanpa takut. Tapi aku nggak mau ngomong begitu untuk hal yang beginian.”
“Berdua aja,” kata Hana. “Atau di depan keluarga dekat. Di kafe, di depan Sita, Robi, Sari, tetap gue-lo, kalau nggak mereka bakal nyiarin ke seluruh komplek.”
“Dan di depan Paman?”
“Di depan Paman kamu diam.”
“Setuju.” Adam tersenyum, matanya masih basah. “Aku-kamu. Mulai sekarang.”
“Mulai sekarang.”
“Aku laper,” kata Adam, tiba-tiba, seakan baru menyadari tubuhnya ada. “Aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Aku belum makan dari kemarin siang.”
“Dam!”
“Itu jujur. Aku nggak boleh nyembunyiin apa pun, kata Paman.”
Pintu ruang dalam bergeser. Ibu muncul dengan nampan beras di dada, wajahnya sangat datar, seperti orang yang baru saja menyaksikan hal paling biasa di dunia.
“Berasnya sudah bersih,” katanya. “Ibu cuma ingin bilang satu hal. Adam, Paman telepon tadi pagi. Hari Ahad dia mau mendengar kamu membaca dari mushaf mahar. Di ruang tamu. Satu halaman penuh.”
Adam menelan ludah. Wajahnya pucat lebih cepat daripada yang pernah Hana lihat.
“Halaman yang mana, Bu?”
“Paman yang memilih. Dia belum bilang.”
“Itu yang bikin takut,” gumam Adam. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan mushaf kecil, membukanya di halaman acak, dan mulai berlatih dengan suara berbisik, sementara Hana akhirnya tertawa lepas sesudah dua hari menahan napas, dan Ibu pura-pura sibuk dengan berasnya yang sudah bersih sejak subuh.