Mushaf bersampul cokelat tua itu diletakkan Paman di atas bantal kecil di tengah meja ruang tamu, dibuka pada halaman pertama Surat Al-Baqarah, dan Adam menatapnya seperti menatap soal ujian yang tidak sempat ia pelajari. Empat hari sudah lewat sejak Rabu di teras, empat hari yang Adam habiskan dengan mengaji sampai tengah malam di depan Papa, dan Hana, yang duduk di kursi dekat pintu dapur dengan pintu terbuka lebar, bisa melihat telapak tangan lelaki itu berkeringat sampai lembap di pangkuan.
“Satu halaman,” kata Paman. Ia duduk tegak di kursi kayu dengan kacamata di ujung hidung. “Dari awal. Tidak perlu cepat. Tidak perlu merdu. Bacalah.”
“Bismillahirrahmanirrahim,” kata Adam, dan menarik napas panjang. “Alif lam mim.”
“Berhenti.”
Adam berhenti.
“Kamu terburu-buru, Nak. Berhenti di akhir ayat itu berhenti, bukan menyeret ke ayat berikutnya.”
“Iya, Paman. Maaf.” Adam mengulang. “Alif lam mim. Dzalikal kitabu la raiba fih ...”
“Ba-nya.”
“Raiba.”
“Qalqalah. Hentakan kecil, bukan lunak seperti kamu menyebut nama pacar.” Paman mengucapkannya tanpa tersenyum. Ibu, yang duduk di sofa dengan sulaman di pangkuan, tiba-tiba memperhatikan jarumnya dengan sungguh-sungguh. Hana menggigit bagian dalam pipinya.
Adam mengulang. Lalu ia salah lagi di dengung, lalu salah lagi di panjang sebuah huruf yang ia kira pendek, lalu Paman menyuruhnya mengulang dari awal ayat. Setengah jam berlalu. Hana menghitung dalam hati sebelas koreksi, lalu dua belas, lalu kehilangan hitungan karena sibuk memerhatikan sesuatu yang lain: lelaki itu tidak sekali pun berhenti. Suaranya mulai serak, keringat sudah menetes di pelipis, dan ibu jarinya yang menunjuk huruf-huruf bergetar. Tetapi setiap kali Paman berkata “berhenti”, Adam berhenti, mengangguk, menarik napas, dan mengulang tanpa satu pun kata keluhan. Ia tidak menyalahkan mushaf. Ia tidak melirik ponsel. Ia tidak berkata, “Tapi kan saya sudah tahu.”
Di pinggir halaman, tulisan pensil Papa masih ada di tempatnya. Kamu terburu-buru. Pelan.
“Mushaf ini akan jadi milik istrimu,” kata Paman ketika Adam akhirnya mencapai ayat kelima. Ia melepas kacamata dan mengusap pangkal hidungnya. “Dan kamu membacanya seperti orang yang berlari mengejar bus.”
“Insya Allah saya akan belajar, Paman.”
“Paman tidak menguji bacaanmu, Nak.”
Adam mengangkat wajahnya.
“Paman tahu tajwidmu berantakan. Paman dengar sejak huruf pertama. Orang yang tidak pernah diajari dengan benar tidak akan rapi bacaannya dalam seminggu.” Paman meletakkan satu jari di atas mushaf. “Yang Paman uji adalah apakah kamu berhenti ketika dikoreksi, apakah kamu marah, apakah kamu mencari kambing hitam. Kamu mengulang empat belas kali dan tidak mengeluh satu kali pun. Itu yang Paman uji. Kesabaranmu.”
Ibu meletakkan sulamannya. Hana merasakan matanya memanas.
“Allah memerintahkan,” lanjut Paman, kali ini lebih lembut, “warattilil Qur’ana tartila. Bacalah Al-Qur’an dengan perlahan dan jelas. Perlahan dulu, baru jelas. Bukan sebaliknya.” Ia mengetuk pinggir halaman tepat di tulisan Papa. “Cari guru. Sebelum akad, bukan sesudahnya.”
“Paman.” Suara Adam serak. “Boleh saya ulang dari awal sekali lagi? Dengan yang benar?”
Paman memandangnya lama, lalu menyodorkan kembali bantal kecil itu dengan ujung jari. “Silakan.”
Adam membaca. Pelan. Mad lazim yang ia panjangkan sampai enam harakat dengan bibir bergetar, qalqalah yang memantul sedikit di ujung kata, dengung yang masih canggung tetapi sudah ada. Ia salah satu kali, dua kali, lalu mengoreksi dirinya sendiri sebelum Paman sempat membuka mulut. Hana menunduk, karena ia tahu persis sekarang apa yang Ayah maksud dulu: ada bacaan yang bagus karena fasih, dan ada bacaan yang bagus karena berani diperbaiki.
===
Ponsel Adam bergetar pukul satu siang, ketika ia duduk di tangga belakang Coffee’s Heaven dengan sebotol air dingin yang belum dibuka dan tenggorokan yang masih terasa seperti ampelas. Nama di layar membuatnya menatap selama dua detik penuh sebelum membuka.
Zafran: Gue dengar dari Ustadz Hasan lo diuji Pak Haji pagi ini. Gue tawarin dua pekan. Tiap sore, gue bawa mushaf gue sendiri. Gratis. Bayarannya kopi.
Adam membaca pesan itu tiga kali.
Adam: Lo yakin?
Zafran: Gue nggak pernah sembarang nawarin. Kecuali narsis, itu bakat bawaan.
Adam: Jam 4 hari ini. Coffee’s Heaven.
Zafran: Siapin telinga lo, Dam. Bukan mulut. Lo kebanyakan ngomong.
Pukul empat kurang lima, Zafran sudah duduk di meja pojok lantai dua dengan dua mushaf kecil, tumbler kopinya sendiri, dan wajah orang yang akan melakukan sesuatu yang ia anggap lebih penting dari jabatan general manager. Adam datang dengan mushaf cokelat tua di tangan, ragu sedetik di ujung tangga, lalu melangkah.
“Itu mushaf mahar?” Zafran bangkit setengah. “Jangan dibawa ke sini. Itu punya Hana.”
“Paman bilang pakai itu buat belajar.”
“Paman bilang atau lo yang pengin pamer?” Zafran menyipitkan mata, lalu duduk lagi dan menepuk meja. “Ya sudah. Baca. Dari ayat pertama. Gue bakal diam sampai lo selesai.”
Adam membaca. Zafran diam, benar-benar diam, sampai Adam selesai ayat kedua. Lalu Zafran mengangkat satu jari.
“Dam. ‘La raiba fih’. Lo bilang ‘raiba’ kayak lagi nyebut pesanan es.”
“Itu bukan es.”
“Itu qalqalah. Pegang ini.” Zafran mengambil sebutir kacang dari piring kecil di tengah meja, meletakkannya di telapak Adam, lalu menepuk tangan Adam dari bawah supaya kacang itu melonjak sedikit. “Hentakan. Bukan lembek. Bukan keras kayak orang marah. Satu hentakan kecil. Bayangin kacang ini loncat.”
“Gue bayangin kacang.”
“Bayangin kacang yang percaya diri.”
Adam menatap kacang itu, tertawa pendek, dan mencoba. “La raiba fih.”
“Tadi lumayan. Lagi.”
Mereka mengulang selama satu jam. Zafran mengoreksi mad lazim dengan cara memukul meja pelan enam kali, sekali tiap harakat, sampai pelayan di bawah menjulurkan kepala untuk memastikan tidak ada apa-apa. Ia menjelaskan dengung sebagai “suara yang lo sembunyikan di balik hidung supaya nggak dimarahi”. Ia memuji, jarang, dan memarahi, sering.
Di sela istirahat dengan kopi dingin, Adam bertanya pelan, “Bu Salma gimana?”
“Ibu dua kali beli kue sus dari kios Hana minggu ini.” Zafran memutar tumbler di tangannya. “Gue nggak minta. Dia berangkat sendiri. Pulangnya nggak bilang apa-apa, cuma naruh kotaknya di meja makan dan nanya, ‘Kamu mau yang vla biasa atau yang cokelat?’” Ia tersenyum miring. “Itu cara Ibu gue minta maaf berkali-kali tanpa harus bilang maaf.”
“Dan lo?”
“Gue ambil yang cokelat. Sebelum dia berubah pikiran.”
Pada satu titik Adam salah membaca sebuah ayat dengan nada yang tinggi dan bergelombang, dan Zafran menutup wajah dengan kedua tangan.
“Lo baca ‘Ar-Rahman’ kayak lagi pesan ayam goreng.”
“Ya sekalian gue pesan,” kata Adam, dan tawa meledak dari keduanya sekaligus, tawa panjang dan lepas yang membuat meja bergetar. Sari yang kebetulan lewat membawa nampan berhenti dan menatap mereka seolah menyaksikan keajaiban, dua lelaki dewasa tertawa sampai menyeka air mata di atas mushaf.
“Dam,” kata Zafran ketika tawa mereda, suaranya lebih pelan. “Gue ngajarin lo bukan karena gue nebus apa-apa. Gue ngajarin lo karena gue mau ada di akad itu sebagai sahabat, bukan sebagai tamu.”
“Gue tahu.”
“Bagus. Sekarang ulang ayat tiga, dan kali ini ... pelan.”