Eliza lari menyambut mobil mereka sebelum mesinnya benar-benar mati, rambutnya yang dikuncir dua berayun di kiri-kanan, dan satu sandalnya terlepas di tengah halaman panti tanpa ia sadari. “Tante Hana! Tante Hana datang!” teriaknya, dan seluruh Panti Kasih Bunda seakan ikut menoleh dari balik jendela, pintu, dan jemuran.
Sabtu itu datang enam hari sesudah sesi tajwid pertama Adam dengan Zafran, dan daftar tamu bersama Ibu dan Bu Malik baru selesai ditulis semalam. Pagi ini ada satu nama di daftar itu yang tidak bisa dikirim lewat pesan: seluruh penghuni panti. Hana bersikeras mengantar sendiri undangannya. Adam, tanpa diminta, mengajukan diri menyetir. Hawa ikut sebagai pendamping dan duduk di jok belakang dengan kotak kue sus di pangkuan, pura-pura membaca ponsel padahal telinganya berdiri.
“Eliza, sandalmu!” seru Hana sambil membuka pintu mobil.
“Biarin, Tante! Eliza mau cium!”
Eliza menghambur ke pelukannya, dan Hana mengangkatnya dengan satu gerakan, tidak peduli gamisnya terkena tanah. Di belakang anak itu muncul Mita dengan jilbab abu-abu dan senyum lebar yang lama sekali ditahan, dan Rendi yang berdiri satu langkah lebih jauh, seperti biasa, menunggu anak-anak yang lebih kecil dipeluk lebih dulu.
“Mbak Hana,” kata Mita, mencium tangan Hana. “Kata Bu Endang Mbak mau datang bawa kabar penting.”
“Penting banget,” sahut Hana. “Bu Endang mana?”
Ibu Endang menyambut di teras dengan kerudung yang sedikit miring, baru selesai mengurus makan siang anak-anak. Wajahnya sudah lebih berisi dibanding terakhir kali Hana melihatnya. Ia menyalami Hana, lalu menatap Adam yang berdiri satu meter di belakang, membawa kotak undangan berpita krem.
“Selamat datang, Nak Adam. Sudah lama tidak ke sini.”
“Sejak acara di kafe, Bu. Maaf.” Adam menyerahkan kotak itu dengan dua tangan. “Ini dari kami berdua.”
Bu Endang membukanya pelan, membaca baris pertama, dan tangannya yang memegang kartu itu berhenti bergerak. “Walimahan?”
“Insya Allah, dua pekan lagi, Bu. Akad hari Sabtu, walimah hari Ahad.” Hana mengeluarkan satu lembar kertas lain dari map. “Dan ini daftar kursi. Enam puluh kursi dipesan untuk panti. Semua anak, semua pengurus. Bukan tamu tambahan, Bu. Tamu kehormatan.”
Bu Endang menunduk menatap kertas itu sangat lama. “Enam puluh. Anak-anak belum pernah dipanggil sebanyak itu ke pernikahan siapa pun,” katanya akhirnya, dan suaranya pecah di ujung kalimat.
“Mita dan Rendi,” lanjut Hana, menoleh pada keduanya, “Mbak minta kalian jadi penerima tamu di pintu masuk. Pakai batik seragam yang Mbak siapkan. Kalian yang menyalami tamu pertama.”
Rendi berkedip. “Saya, Mbak? Tapi saya nggak biasa ...”
“Kamu yang mengalah paling banyak waktu antre es krim,” kata Hana. “Mbak percaya sama orang yang tahu caranya mendahulukan orang lain.”
Mita menutup mulut dengan kedua tangan. Rendi menunduk, telinganya merah, dan dengan suara sangat kecil mengucapkan, “Siap, Mbak.”
===
Di dapur panti yang sempit, di antara panci-panci besar dan dua kipas angin tua, Bu Endang menyodorkan segelas teh manis kepada Hana dan menahan tangannya sebentar sebelum melepas.
“Nak Hana. Ibu mau cerita sesuatu, dan Ibu tidak tahu harus menyebutnya apa.”
Hana duduk di kursi plastik. Dari jendela ia bisa melihat Adam sedang berjongkok di halaman, mengikat tali sepatu Eliza yang hanya sebelah, dan Hawa berdiri di dekatnya sambil menyaksikan dengan sabar.
“Sejak acara di kafe itu,” Bu Endang menarik napas, “ada orang-orang datang. Ibu kira awalnya hanya satu dua. Seorang ibu dari kafe itu, yang waktu itu duduk di meja belakang, datang membawa beras. Bulan berikutnya dia bawa temannya. Ada bapak yang bertanya apakah anak-anak butuh buku. Ada keluarga yang menawarkan membiayai sekolah dua anak.” Ia menghitung dengan jari. “Atap yang dulu bocor sudah diganti. Tiga keluarga jadi donatur tetap tiap bulan. Dan Nak Adam ...”
“Adam menyetor sepuluh persen,” kata Hana pelan. “Saya tahu, Bu.”
“Bukan itu saja. Dia yang pertama kali bilang ke teman-temannya di kafe, anak-anak ini bukan proyek, tapi keluarga.” Bu Endang mengusap sudut mata dengan ujung kerudung. “Ibu bukan orang yang suka bilang ini keajaiban. Tapi Ibu berdoa bertahun-tahun supaya ada yang melihat anak-anak ini tanpa mengasihani mereka. Dan Allah mengirim kalian, lewat sepiring es krim.”
Hana tidak menjawab. Tenggorokannya sudah terlalu penuh. Ia menggenggam gelas teh itu dengan kedua tangan seperti genggam sesuatu yang bisa tumpah.
===
Eliza menyelipkan selembar kertas lipat ke tangan Hana lewat jendela mobil sebelum mereka berangkat. “Dibuka nanti aja, Tante. Nanti Eliza malu.” Hana menyimpannya di pangkuan, di bawah tas.
Dalam perjalanan pulang, Hawa tertidur di jok belakang dengan kepala bersandar ke kaca, kotak kue sus yang tinggal separuh masih terpeluk di dadanya. Adam menyetir dengan satu tangan di kemudi dan satu lagi di atas persneling, sengaja menjaga mata di jalan.
“Han,” katanya, sangat pelan supaya Hawa tidak terbangun. “Ada yang mau kuceritakan. Sudah lama kupendam, nunggu waktu yang pas.”
“Cerita saja.”
“Penjualan Milk’s Heaven naik hampir dua kali lipat sejak acara panti itu. Ruang serbaguna disewa tiap Sabtu sampai tiga bulan ke depan. Pelanggan baru banyak yang bilang mereka datang karena ‘kafe yang pernah undang anak panti’.” Adam menelan ludah. “Kamis kemarin aku transfer sisa cicilan gedung ke Papa. Lunas, Han.”
Hana menoleh cepat. “Lunas? Bukannya cicilannya sampai tahun depan?”
“Rencananya begitu.” Adam tersenyum tipis, tetap menatap jalan. “Papa sampai nggak percaya. Dia suruh Mama cek mutasi dua kali.”
Hana terdiam. Pikirannya mundur ke bulan-bulan yang rasanya sudah sangat jauh, ke hari ia menghitung anggaran acara panti dengan sedih karena kafe baru belum untung, dan berkata kepada Adam, “Kita hitung ini sedekah. Rezeki urusan Allah.” Ia tidak pernah membayangkan balasannya akan datang berupa angka di rekening orang lain, dan dalam bentuk yang membuat dadanya sesak oleh rasa syukur dan sedikit rasa malu.
“Dam,” katanya pelan. “Jangan salah. Itu bukan karena kita sedekah supaya kaya. Sedekah bukan transaksi.”
“Aku tahu.”
“Allah tidak menjanjikan angka. Dia menjanjikan keberkahan, dan kadang berkahnya bentuknya bukan uang.”
“Aku tahu, Han.” Adam menoleh sebentar, dan matanya hangat. “Tapi aku mau bilang terima kasih. Karena yang mulai bilang ‘kita hitung ini sedekah’ itu kamu. Dulu aku cuma mikir endorse.”
Hana tertawa, dan ia menutup mulutnya dengan punggung tangan supaya Hawa tidak terbangun.
Saat mobil berhenti di depan rumah Ibu dan Hawa terbangun sambil mengerjap, Hana akhirnya membuka kertas itu dengan hati-hati. Di atas kertas putih, dengan krayon yang digoreskan tebal, ada seorang perempuan berbaju putih panjang yang melebar sampai ke ujung kertas, kerudungnya digambar terlalu besar, dan di sebelahnya seorang lelaki bergigi besar mengenakan baju hijau. Di bawahnya, huruf-huruf besar yang miring: TANTE HANA PAKAI BAJU PUTIH.
Di pojok, dengan tulisan yang lebih kecil dan hampir tidak terbaca, Eliza menambahkan: Mukanya Eliza nggak pinter, jadi Eliza kasih senyum aja.