“Tarik napas, Han. Kebayanya bukan baju zirah.”
Hana menarik napas. Kain putih bersulam benang perak itu menempel di pinggangnya, dan Ibu, yang berlutut dengan tiga peniti di bibir, mencubit sedikit bagian sisi kiri sampai Hana berjengit. Di bingkai cermin lemari, gambar Eliza masih menempel dengan selotip kertas. Perempuan krayon berbaju putih itu tersenyum lebar, tanpa mata yang pintar, dan Hana menangkap dirinya tersenyum balik kepada kertas itu sudah entah berapa kali pagi ini.
“Kebesaran di pinggang,” gumam Ibu. “Kamu kurus karena gugup.”
“Hana nggak gugup.”
“Kamu makan setengah roti tadi pagi dan sisanya kamu titip ke Rama waktu dia mampir. Itu gugup.”
Sejak Sabtu di panti, satu-satunya perdebatan yang tak kunjung selesai di rumah itu adalah Bu Malik melawan Ibu soal apakah vla boleh diberi rasa pandan. Pandan menang dua lawan satu. Sekarang tinggal delapan hari menuju akad, dan rumah Ibu sudah berbau melati dan kapur barus.
Ponsel di atas ranjang bergetar. Hana melirik, lalu mengambilnya dengan jari yang tertusuk peniti.
Ustadzah Aisyah: Assalamu’alaikum, Hana. Tadi malam Diva menelepon saya. Ia ingin bertemu Hana, hanya bicara, tidak lebih. Saya belum memberi jawaban apa pun. Istikharahlah dulu, lalu putuskan sendiri. Jangan karena kasihan, jangan karena takut.
Hana membaca pesan itu dua kali. Ibu berhenti menyematkan peniti.
“Siapa?”
“Diva.” Hana duduk di tepi ranjang dengan kebaya yang masih setengah terpasang. “Dia mau ketemu.”
===
Paman menaruh sendoknya setelah Hana selesai bicara, dan bunyi logam di piring itu membuat ruang makan jadi sunyi.
“Tidak,” kata Paman.
“Paman ...”
“Perempuan itu mengirim foto-foto ke ponsel Paman, Nak. Dia memilih mana yang paling buruk, dan dia melakukannya tanpa mengenal kamu. Sekarang dia minta bertemu seminggu sebelum akad. Apa yang ia mau? Memaafkan dirinya sendiri dengan menyuruh kamu mengangguk?”
“Mungkin, Paman.” Hana menunduk, lalu mengangkat kepalanya lagi. “Dan kalau memang itu, Hana tidak keberatan. Dia sudah minta maaf lewat pesan, Paman sendiri yang membacanya. Hana mau mendengarnya langsung, supaya sesudah akad tidak ada nama yang masih Hana simpan dengan rasa tidak enak.”
“Kamu tidak berutang apa pun kepada dia.”
“Hana tahu. Tapi Hana tidak mau masuk ke pernikahan sambil membawa satu pintu yang belum Hana tutup.” Hana menggenggam ujung serbet di pangkuannya. “Hawa akan duduk di meja sebelah. Tempatnya yang terbuka. Satu jam, tidak lebih.”
Paman menatapnya lama. Ibu, di ujung meja, tidak membela dan tidak melarang; ia hanya menuang teh ke gelas Paman yang sudah penuh.
“Dik Ridwan,” kata Ibu lembut, “kakakmu juga begitu. Tidak mau menyimpan utang walau yang berutang bukan dia.”
Paman mendengus, panjang, seperti lelaki yang kalah berdebat dengan kenangan kakaknya. “Besok pagi. Paman antar sampai pintu dan Paman menunggu di mobil.”
===
Coffee’s Heaven belum ramai pukul sembilan, dan hanya satu mesin espresso yang menyala. Hana duduk di meja dekat jendela besar lantai satu dengan segelas teh hangat. Di meja sebelah, tiga meter dari sana, Hawa membuka laptop dan mengetik sesuatu yang kelihatannya tidak penting.
Diva masuk lima menit lebih awal dari janji, dengan gamis hitam polos yang jelas tidak biasa ia pakai, dan rambut yang disembunyikan di bawah kerudung krem yang dipakai agak miring. Ia berhenti di depan meja seperti orang yang lupa naskah.
“Silakan duduk,” kata Hana.
“Aku boleh pesan dulu?” Diva berdeham. “Maaf. Aku mau pesankan kopi buat kamu juga. Aku tahu kamu nggak minum kopi pagi-pagi, tapi aku nggak tahu mau mulai dari mana.”
“Teh sudah ada.” Hana menunjuk gelasnya. “Tapi saya mau kopi kalau kamu bayar.”
Diva tertawa, pendek dan kaget, lalu menutup mulut dengan telapak tangan seakan tawanya tidak pantas. Ia memesan dua kopi dari pelayan dan duduk dengan punggung tegak.
“Aku nggak punya pidato,” katanya setelah kopi datang. Tangannya melingkar di cangkir tapi tidak minum. “Aku mau bilang tiga hal, terus kamu boleh pergi.”
“Silakan.”
“Pertama.” Ia menelan ludah. “Aku mengirim hal yang benar tapi dipilih supaya kamu dan Pak Haji berhenti percaya. Itu kejam. Aku tahu itu waktu menekan kirim. Aku nggak punya alasan yang bagus.”
Hana diam, memberinya ruang.
“Kedua. Aku nggak pernah punya hak atas Adam. Dia nggak pernah janji apa-apa, dan waktu dia memberi harapan, aku yang memilih memegangnya.” Matanya berkaca-kaca, tapi suaranya tetap. “Ketiga, dan ini yang paling susah.” Ia mengangkat wajah. “Aku iri pada caramu dicintai.”
Hana tidak langsung menjawab. Di luar jendela, seorang tukang parkir menepuk-nepuk kap motor yang baru datang.
“Dicintai,” ulang Hana pelan. “Saya sendiri baru belajar kata itu, Diva. Dulu saya malah mengira saya yang tidak pantas dipilih.”
“Tapi dia berubah untuk kamu.”
“Dia berubah karena Allah.” Hana tersenyum tipis. “Kalau karena saya, dia akan berubah selama saya ada. Kalau karena Allah, dia akan terus berubah walaupun saya sedang kesal. Itu bedanya. Dan itu juga yang bisa kamu minta, bukan dari Adam, dari Yang Maha Menjaga hati.”
Diva menutup mata sebentar. Air matanya jatuh satu, dan ia menyekanya cepat dengan serbet kertas.
“Saya memaafkan kamu,” kata Hana. “Bukan karena kamu sudah membayar. Karena saya mau berangkat ke akad dengan tangan kosong.”
“Semudah itu?”
“Tidak mudah. Saya semalam menulis tiga halaman marah dan merobeknya.” Hana mengangkat cangkir kopi yang belum disentuh dan meminumnya sedikit, dan wajahnya meringis. “Dan kopi ini pahit sekali.”
Diva tertawa, tersedak, lalu tertawa lagi sambil menangis, dan dari meja sebelah terdengar bunyi hidung yang disedot pelan. Hawa pura-pura mengetik lebih cepat.
Mereka bicara dua puluh menit lagi tentang hal yang sepele, bunga di halaman Milk’s Heaven, harga vla impor, sampai Diva berdiri dan menyalami Hana sesingkat mungkin, hanya ujung jari, seolah belum yakin boleh.
===
Sorenya, di teras rumah Ibu dengan pintu terbuka lebar dan Ibu menyiram melati pot di tiga langkah dari kursinya, Hana menelepon Adam.
“Han?” Suara Adam langsung muncul, serak dan waspada. “Ada apa? Paman baik-baik saja?”
“Semua baik. Aku cuma mau kasih tahu, aku ketemu Diva tadi pagi.”
Jeda. Terdengar bunyi kursi bergeser di seberang.
“Hawa temani aku. Paman menunggu di mobil sambil baca koran terbalik.” Hana menahan senyum. “Dia minta maaf, Dam. Tulus. Aku sudah memaafkan.”
Napas Adam terdengar panjang, bergetar, dan Hana tahu persis wajah macam apa yang sedang menyertainya.
“Aku nggak minta kamu melakukan itu,” kata Adam akhirnya. “Aku bahkan bilang jangan kalau kamu nggak mau.”
“Aku mau. Itu bedanya.”
“Terima kasih.” Suara itu pecah di tengah. “Bukan buat aku. Buat dia. Diva nggak punya banyak orang yang memaafkannya tanpa syarat, dan aku ... aku nggak bisa memberi dia itu. Kamu bisa.”
“Jangan bikin aku menangis. Mataku nanti bengkak di foto.”
“Bengkak bisa ditutup bedak, Han.”
“Bedak Mbak Hawa dua tingkat lebih terang dari kulitku.”
Adam tertawa, dan tawa itu terdengar seperti lelaki yang baru diangkat bebannya. Sesudah mereka menutup telepon, Hana duduk diam sebentar, menyandarkan kepala ke tiang teras.
“Han,” kata Ibu tanpa menoleh dari melatinya. “Kamis sore kita ke makam Ayah. Paman sudah memutuskan, dan kamu tidak boleh bilang tidak.”
“Kenapa Kamis?”
“Karena Jumatnya dapur kita akan penuh, dan Sabtunya kamu sudah jadi istri orang.” Ibu menegakkan badan dan mengusap tangannya pada kain di pinggang. “Ayahmu pantas dengar kabar itu langsung dari kamu.”