“Yah, ini Hana,” kata Hana, dan suaranya langsung tersangkut.
Ia berlutut di sisi nisan dengan gamis krem yang ujungnya sudah berdebu. Ibu sudah lebih dulu mencabuti rumput di sela batu, tanpa sabit, hanya dengan jari, dan Paman berdiri di kaki makam dengan tangan terlipat di depan perut, menunduk, bibirnya bergerak tanpa suara. Langit sore itu kuning pucat. Dari jalan kecil di luar pagar kuburan terdengar lonceng tukang bakso lewat, dan bunyi itu mengingatkan Hana bahwa ia belum makan siang.
“Hana ke sini mau kasih kabar,” lanjutnya. “Sabtu Hana akad. Sama Adam, yang dulu Hana bilang menyebalkan. Ayah pasti ingat, Hana pernah cerita lewat doa.”
Ia terdiam. Rasanya konyol bicara sendiri pada batu, tetapi dadanya jadi ringan setelah kalimat itu keluar.
Lima hari sudah lewat sejak Hana menutup pintu terakhir yang ia simpan untuk Diva. Sore ini tidak ada daftar apa pun. Ibu menaburkan bunga dari kantong plastik, menyiram air mawar dari botol bekas sirup, lalu duduk bersila di tikar kecil yang ia bawa sendiri.
“Yasin dulu,” kata Paman. Suaranya parau.
Mereka membaca bersama. Paman memimpin dengan nada pelan yang tidak pernah goyah, dan Hana baru sadar betapa miripnya cara Paman melafalkan “salamun qaulam mir rabbir rahim” dengan suara yang dulu ia dengar dari kamar sebelah sebelum subuh, lebih berat, lebih tua, sekarang tinggal di ingatan. Setelah doa selesai, Paman duduk di bangku semen di bawah pohon kamboja dan menepuk bagian di sebelahnya.
“Ziarah itu bukan untuk mereka yang di bawah, Nak,” katanya. “Mereka sudah selesai. Ziarah untuk kita yang masih berjalan, supaya ingat bahwa kita juga sedang menuju tempat ini. Orang yang ingat itu tidak gampang sombong, dan tidak gampang putus asa.”
“Hana ingat, Paman.”
“Ingat sebelum akad itu bagus. Orang yang ingat mati waktu menikah akan menikah dengan lebih hati-hati.” Paman menatap kejauhan, ke deretan nisan yang miring terkena hujan. “Menikah itu bukan pesta. Pestanya cuma sehari. Sisanya salat, utang, dan sabar.”
===
Ibu bercerita setelah Paman pamit sebentar ke warung membeli air mineral.
“Kamu tidak pernah menanyakan malam terakhir Ayah,” kata Ibu. Pandangannya jatuh pada tikar. “Dulu kamu masih SMP. Ibu pikir belum waktunya. Sekarang kamu perlu tahu.”
“Hana nggak tahu harus tanya apa, Bu.”
“Tidak apa-apa. Ibu cerita saja.” Ibu merapikan lipatan jilbabnya. “Malam itu kamu tertidur di kursi dekat tempat tidur Ayah, sambil memegang buku PR. Ayah minta Ibu jangan membangunkanmu. Katanya, ‘Biar dia tidur, Bu, besok ulangan.’ Lalu Ayah minta teh hangat tanpa gula, di gelas yang retak itu.”
“Gelas yang di rak paling atas?”
“Yang itu.” Mata Ibu basah, tetapi suaranya tenang. “Ayah minum sedikit, lalu bilang, ‘Bu, kalau aku duluan, jangan takut sepi. Rumah sepi itu bisa diisi orang yang pulang.’ Ibu marah, Han. Ibu suruh dia berhenti ngomong begitu. Tapi Ayah cuma tersenyum.” Ia menelan sesuatu. “Soal kamu, Ayah hanya berpesan satu hal: ajari Hana membuat sesuatu dengan tangannya sendiri. Perempuan yang punya tangan sendiri tidak akan menikah karena takut.”
Hana menunduk, jarinya meremas ujung gamis. Kue sus pertama yang ia buat dulu, bantat dan berlubang di tengah, selama ini ia kira lahir dari kebiasaan Ibu mengisi waktu. Ternyata di dalamnya ada pesan yang bertahun-tahun disimpan.
“Ibu tidak mengajarimu supaya jadi pengusaha,” kata Ibu. “Ibu mengajarimu supaya pada hari ada orang datang meminta, kamu bisa bilang ya karena mau, bukan karena butuh.”
“Hana bilang ya karena mau, Bu.”
“Ibu tahu. Ibu dengar sendiri di ruang tamu.”
Paman kembali dengan tiga botol air mineral dan wajah yang berpura-pura tidak mendengar apa-apa. Ia menyerahkan botol pertama kepada Ibu, kedua kepada Hana, lalu berdiri di depan nisan kakaknya lebih lama daripada tadi.
“Kang,” katanya pelan. Bukan kepada orang yang hadir, dan Hana menahan napas. “Paman janji di depan nisan ini. Hana akan Paman nikahkan seperti anak Paman sendiri. Paman tidak akan buru-buru. Paman tidak akan menyisakan satu pertanyaan pun yang belum dijawab anak itu. Kalau sampai detik sebelum ijab Paman melihat tanda yang salah, Paman berhenti. Kang sudah tahu Paman keras kepala.”
Ia merapikan sarungnya, menepuk bahu Hana sekali dengan canggung, lalu berjalan ke arah pohon kamboja, memberi mereka sedikit ruang.
Hana kembali menghadap nisan. Ibu duduk di sisinya dan, tanpa diminta, menyodorkan sapu tangan.
“Yah, Adam itu tidak sempurna,” bisik Hana. “Bacaannya masih kayak orang mengejar bus. Bangunnya sering molor, sekarang pasang tiga alarm. Dia suka bicara sebelum mikir.” Ia menarik napas dan senyumnya muncul tanpa diundang. “Tapi dia mau diajari, Yah. Itu yang Ayah pesan, kan? Jangan dengan yang tidak mau diajari.”
“Ayahmu juga susah bangun subuh,” sela Ibu pelan, hampir tertawa. “Pernah Ibu siram pakai gayung. Sejak itu dia taruh ember sendiri di dekat ranjang.”
“Ibu menyiram Ayah?”
“Sekali. Dia berterima kasih.” Ibu mengusap nisan dengan telapak tangan, seperti membenahi selimut. “Lelaki yang mau diajari itu, Han, bisa pelan-pelan jadi imam. Yang tidak mau diajari cuma bisa jadi orang yang duduk paling depan.”
===
Mereka pulang naik mobil pinjaman Pak Malik, yang diserahkan kepada Paman selama ia menginap di kota ini. Ibu duduk di depan, Hana di belakang, dan jalan sore macet pelan di perempatan sebelum rel. Ibu menatap lurus ke depan dan baru bicara ketika mobil berhenti di belakang truk gas.
“Han. Ibu mau mengaku.”
“Apa, Bu?”
“Ibu takut.” Suaranya sangat kecil, tidak seperti suara perempuan yang berani menegur Bu Malik soal vla. “Bukan takut kamu pergi. Ibu bahagia kamu menikah. Ibu takut malam Kamis. Malam ketika kalian pindah dan rumah ini cuma ada Ibu dan jam dinding. Kata Ayahmu rumah sepi bisa diisi orang pulang. Tapi Ibu tidak tahu apakah akan ada yang pulang.”
Hana mencondongkan badan sampai dagunya hampir menyentuh sandaran jok.
“Bu, rumah yang Adam lihat itu cuma tiga blok dari rumah kita. Dapurnya menghadap timur. Hana bisa jalan kaki, bahkan sambil bawa baskom. Malam Kamis itu juga Hana bakal mengetuk pintu Ibu minta garam.”
“Garam kamu punya.”
“Pasti kehabisan.”
“Dan Bu Malik,” tambah Hana cepat, sebelum Ibu sempat membantah. “Dia sudah mengajak Ibu ke pengajian ibu-ibu komplek mereka tiap Jumat. Empat kali dia bertanya. Kata Mbak Hawa, kalau Ibu menolak lagi, Bu Malik akan menjemput Ibu pakai mobil sambil membawa kue sus pandan.”
Ibu menoleh pelan. Matanya masih basah, tetapi sudut bibirnya sudah bergetar. “Yang pandan itu enak.”
“Dia menang dua lawan satu, Bu.”
Ibu tertawa. Mula-mula pendek, tertahan, lalu pecah sampai bahunya berguncang dan Paman melirik dari kemudi dengan alis naik. Tawa itu berlangsung lama, dan di tengahnya Ibu mengusap sudut mata dengan ujung jilbab, tidak lagi menyembunyikan apa pun.
“Paman ingin lihat rumah itu, ngomong-ngomong,” kata Paman tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. “Ahad sesudah walimah, sebelum pulang.”
“Insya Allah, Paman.”
“Dan bawa Adam,” tambah Paman. “Paman mau tahu apakah ia berani bilang rumahnya bocor di depan Paman, atau diam saja seperti lelaki yang malu.”
“Atapnya memang perlu dicek, Paman. Adam sendiri yang bilang.”
“Bagus. Berarti dia sudah mulai mengaku sebelum ditanya.”
Ponsel Hana bergetar di pangkuan. Foto dari Mbak Hawa: bagasi mobil terbuka, penuh karung tepung terigu ditumpuk sampai menyentuh atap, dengan keterangan di bawahnya. Besok jam tiga pasukan dapur datang. Siapkan celemek. Bu Malik minta kamu jangan protes.