Pasukan dapur datang pukul tiga kurang sepuluh, dan Ibu, yang sejak pagi sudah menggeser panci dan menyingkirkan toples dari meja, mengeluh bahwa mereka terlalu awal.
“Terlalu awal itu pertanda niat, Bu,” kata Bu Malik sambil menyerahkan sebungkus apron berpita kuning ke tangan Ibu. “Saya bawakan enam, kalau-kalau ada yang lupa membawa.”
“Saya punya apron.”
“Punya Ibu sudah pudar.”
“Memang. Tapi dia sudah mengerti tangan saya.”
Hawa berdiri di antara mereka dengan senyum polos dan membagi apron seperti membagi surat undangan. Dalam sepuluh menit dapur sempit itu penuh. Mira mencuci tangan di wastafel dengan lengan baju digulung sampai siku, Sita menarik kursi plastik ke dekat oven dan menyatakan bahwa ia hanya mau bertugas di bagian “yang tidak butuh mikir”, dan Rika, yang bayinya tertidur di gendongan kain di dadanya, masuk terakhir dengan wajah orang yang sudah bangun sejak subuh dan tidak menyesalinya.
“Gue bawa penonton,” kata Rika, menunjuk bayinya. “Dia tidur sampai maghrib. Kalau bangun, kalian semua gantian gendong.”
“Gantian gendong,” ulang Sita, mundur setengah langkah. “Nanti ketularan pengin.”
“Itu namanya doa, Ta,” kata Mira kalem, menepuk meja. “Sekarang kita mulai dari adonan. Satu hal dulu.” Ia menoleh ke semua orang. “Niatkan tiap kue yang kalian buat jadi doa untuk orang yang nanti memakannya. Tiga ratus tamu, tiga ratus doa. Kerja yang berat jadi ringan kalau tahu untuk siapa.”
Hana, yang sedang menimbang tepung di timbangan digital, merasa tenggorokannya hangat. Ia menunduk dan menuangkan tepung ke baskom besar.
Mereka bekerja seperti pabrik kecil yang tidak sepakat soal aturannya. Ibu memegang adonan, Bu Malik bersikeras memegang pasta isian pandan, dan keduanya berebut sendok kayu yang sama sampai Hawa menggantinya dengan dua sendok yang persis sama. Rika mengeluh punggungnya sakit tapi tidak mau duduk. Sita menghitung loyang yang keluar dari oven dengan jari, lalu salah hitung, lalu menghitung ulang dengan suara keras. Loyang pertama gosong di bagian bawah karena Bu Malik menceritakan resepsi Diana kepada Hawa dan lupa melirik jam. Ibu menatap loyang itu tanpa suara, mengangkat satu kue hitam, dan menyatakan bahwa itu kue sus cokelat edisi terbatas. Bu Malik, yang wajahnya merah sampai telinga, berjanji tidak bicara lagi selama oven menyala. Janji itu bertahan sebelas menit.
Loyang kedua mengembang tinggi, retak sedikit di puncaknya, dan Ibu mengangkatnya dengan dua jari seperti mengangkat bayi.
“Ini yang pertama,” katanya.
“Dua ratus sembilan puluh sembilan lagi,” kata Bu Malik, dan keduanya tertawa pada saat yang sama, lalu cepat-cepat memandang ke arah lain.
===
Pukul sembilan malam, ketika loyang kesembilan belas keluar dan vla pandan sudah mengisi tiga baskom, pintu dapur diketuk dua kali. Adam berdiri di ambang dengan dua peti telur di tangan dan keringat di dahinya, mengenakan kaus hitam yang jelas dipilih tanpa niat bertemu orang.
“Mentega dan telur dari Papa,” katanya. “Kata Papa, jangan sampai kehabisan di tengah malam.”
“Taruh di situ,” kata Ibu, menunjuk pojok.
Adam menaruhnya dengan hati-hati. Ia mengangkat kepala untuk pamit, dan pandangannya jatuh pada Paman, yang duduk di kursi rotan dekat pintu ruang makan dengan secangkir teh dan kacamata di ujung hidung. Paman tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengangkat satu jari dan menunjuk kursi kosong di sisi meja panjang.
“Duduk,” kata Paman. “Sita, kasih dia kantung vla.”
“Saya cuma antar telur, Paman.”
“Antar telur, lalu bantu mengisi. Orang yang mau membangun rumah tidak cuma mengantar bata.”
Sita sudah menyodorkan kantung segitiga berisi vla sebelum Adam sempat menolak, dengan senyum yang memperlihatkan semua giginya. Adam duduk. Di meja panjang itu, Hana sudah berada di ujung dengan baskom berisi kue sus dingin yang menunggu diisi. Satu baskom besar lain ditaruh Hawa dengan sigap di tengah, di antara mereka.
“Tekan pelan,” kata Hana tanpa menoleh. “Ujungnya masuk dulu, baru ditekan.”
“Pelan,” kata Adam. “Aku sudah punya motto itu sejak Ahad.”
“Yang itu soal tajwid.”
“Soal vla juga.” Ia menekan, dan vla pandan melonjak keluar dari sisi kue seperti pasta gigi yang baru dibuka. “Oke. Soal vla belum.”
Hana menggigit bibir, menahan tawa, dan memindahkan kue yang bocor itu ke piring terpisah. “Yang ini buat Sita.”
“Sita mau!” seru Sita dari dekat oven.
“Ini sisa produksi, bukan hadiah.”
“Sisa produksi itu rezeki, Mbak.”
Adam menunduk menatap kue di tangannya, dan suaranya turun satu nada. “Besok,” katanya. “Kalau aku grogi dan qabul-nya keluar kayak orang membaca daftar belanja?”
“Qabul itu satu kalimat, Nak,” kata Paman dari kursi rotan, tanpa mengangkat mata dari tehnya. “Sekali jalan, jelas, tidak perlu merdu. Salah ya diulang.”
“Diulang berapa kali pun boleh?”
“Sampai penghulu capek.”
“Aku tunggu,” kata Hana. Kalimat itu keluar sebelum ia sempat memikirkannya.
Adam menatapnya sekilas, hanya sekilas, lalu kembali pada kue sus. “Itu yang aku takutkan,” katanya pelan. “Kamu menunggu.”
Mereka bekerja berdampingan tanpa bersentuhan. Baskom berada di tengah, dan setiap kali tangan Hana bergerak ke tengah, tangan Adam berhenti di tepi meja. Ketika Adam mengambil kue dari baskom bagian Hana dan ujung jari mereka hampir bertemu di udara, keduanya menarik tangan serentak, lalu saling pandang, dan Paman, tanpa mengangkat mata dari tehnya, berdeham sekali.
“Aku cuma ambil kue,” kata Adam.
“Aku juga.”
“Ambil dari baskom aku saja,” kata Hana. “Yang ini sudah kuhitung.”
“Kamu menghitung kue?”
“Aku menghitung semuanya, Dam. Dua puluh tahun lagi aku masih hitung.”
Bu Malik, yang berdiri di belakang mereka dengan loyang di tangan, berpura-pura sibuk dengan oven, tetapi bahunya bergetar. Ibu menghapus tepung di dagunya dengan lengan baju. Pukul sebelas, vla pandan tinggal sepertiga baskom, dan dapur mulai kehilangan suara satu per satu: Rika yang pertama pulang, bayinya menggeliat di dada, lalu Mira dan Sita dijemput, dan Bu Malik menyerah dan mengaku kakinya sudah tidak punya rasa.
===
Menjelang tengah malam, Adam melepas apron kuning pinjaman Hawa dan menggantungkannya di paku dekat pintu. Hasil kerjanya di baskom paling ujung tampak seperti tangan seorang lelaki yang berniat baik dan tidak ahli: tiga puluh kue, dua puluh dengan vla menyembul dari samping. Hana menatapnya, lalu menatap Adam yang berdiri kikuk di ambang pintu belakang.
Ia mengambil kotak plastik kecil dari rak, menyusun lima kue bocor itu di dalamnya, dan menaruhnya di meja dekat pintu, jauh dari tangan Adam.
“Buat Papa,” katanya. “Bilang itu karya anaknya.”
“Papa bakal bilang bentuknya mirip aku.”
“Kenapa?”
“Isinya terlalu banyak, dan keluar ke mana-mana.”
Dari dalam, Bu Malik tertawa terbahak sampai harus menyandarkan tangan ke lemari. Ibu, yang berdiri di sebelahnya, ikut tertawa sambil mengelap tepung dari pipi, dan Hana baru menyadari betapa jarang ia melihat dua perempuan itu tertawa pada hal yang sama tanpa saling melirik lebih dulu.
“Tiga ratus,” katanya. “Hampir.”
“Dua ratus delapan puluh delapan,” koreksi Ibu dari dekat oven. “Dua belas sisanya besok pagi, sebelum subuh.”
“Aku bisa ikut sebelum subuh.”
“Kamu mau tidur,” kata Paman. Ia bangkit dari kursi rotan, melipat korannya, dan berhenti tepat di depan Adam. Tingginya hanya sampai dagu lelaki itu, tapi tatapannya membuat Adam menegakkan punggung secara otomatis. “Besok jangan telat.”
Adam mengangguk. Sebentar. Lalu ia tersenyum, kecil, dan matanya melewati bahu Paman, mencari Hana.
“Kali ini aku datang lebih awal,” katanya.