“Mas Bos udah datang!”
Sita menjerit dari jendela kamar depan, tangannya menyingkap tirai selebar telapak, dan Hana yang duduk di kursi rias dengan jarum pentul ketiga di kerudungnya hampir menusuk dagunya sendiri. Mira langsung menangkap pergelangan tangannya dengan lembut dan memutarnya kembali menghadap cermin.
“Diam,” kata Mira. “Dua pentul lagi.” Ia menyematkan satu, lalu menambahkan lebih pelan, “Satu hal, Hana. Sesudah kata sah, orang-orang akan mendoakan kalian, barakallahu laka wa baraka ’alaika. Jangan sibuk menangis. Aminkan satu per satu. Doa orang pada hari seperti ini jangan disia-siakan.”
“Jam berapa, Ta?” tanya Hawa dari depan lemari, tanpa menoleh.
“Enam dua puluh! Mas Bos pakai jas, jas gading, Mbak, bagus banget, dia berdiri di pagar kayak orang disuruh nunggu padahal nggak ada yang nyuruh.” Sita menempelkan dahi ke kaca. “Pak Haji lihat jam tangan. Wah. Pak Haji senyum, tapi tipis banget, kayak takut ketahuan.”
Hana menghembuskan napas lewat bibir. Di cermin, wajahnya tampak seperti wajah orang lain, dengan alis yang dirapikan Mira dan bedak tipis yang membuat tulang pipinya lebih tajam. Kebaya putih bersulam perak itu pas di pinggang sekarang. Di dada kirinya, Ibu sudah menyematkan bros melati kecil, bukan emas, hanya perak sederhana yang dipakainya sendiri dulu di hari ia disalami tamu.
“Aku datang lebih awal,” kata Rika, yang baru masuk dengan bayinya, dengan suara yang dibuat berat. “Itu kata Adam semalam, kan? Gue dengar dari Hawa. Makhluk itu betul-betul menepati.”
“Jangan bikin gue ketawa,” kata Hana. “Bedak gue retak.”
“Retak itu tanda hidup.”
Ibu masuk terakhir dalam kebaya hijau tua, dengan mata yang sudah merah sejak subuh. Ia berdiri di belakang kursi Hana, meletakkan kedua tangan di bahu putrinya, dan menatap bayangan mereka berdua di cermin.
“Satu setengah jam lagi penghulu datang,” katanya. “Han, kamu mau Ibu bilang apa?”
“Bilang saja Hana tidak gemetar.”
“Kamu gemetar.”
“Sedikit.”
“Sedikit itu wajar,” kata Ibu. “Yang tidak wajar kalau tidak gemetar sama sekali.”
===
Di teras, Adam berdiri dengan dua tangan di belakang punggung, menjaga jarak tiga langkah dari Paman. Jas gading hasil fitting ulang Kamis lalu itu agak longgar di bahu, karena seminggu ini ia lebih sering lupa makan daripada lupa salat. Ia sudah tiba satu jam empat puluh menit sebelum waktu yang dijanjikan penghulu, dan sejak ia berdiri di pagar ia menghitung berapa kali ia berniat mengetuk pintu dan berapa kali ia mengurungkannya.
“Kamu tidur semalam?” tanya Paman.
“Dua jam, Paman. Tiga alarm.”
“Itu cukup.” Paman menatap sepatunya, lalu wajahnya. “Dengar baik-baik. Nanti Paman menyebut nama kakak Paman, dan Paman tidak tahu suara Paman akan bagaimana. Kalau Paman berhenti, jangan kamu isi. Tunggu.”
“Saya tunggu, Paman.”
“Dan waktu giliranmu, jangan menjawab seperti orang yang takut kehilangan kesempatan. Tidak ada yang akan mengambilnya dari kamu.” Paman terdiam sejenak. “Sebenarnya, Paman cuma ingin kamu tidak tergesa. Sekali saja dalam hidupmu, tidak tergesa.”
Pak Malik datang dari belakang dan menaruh telapak tangannya di punggung anaknya. Tidak berkata apa-apa. Hanya menaruhnya di sana, besar dan hangat, selama sepuluh detik penuh, sampai napas Adam yang tadi pendek-pendek menjadi teratur.
Zafran muncul di pagar pukul tujuh kurang, dalam batik cokelat dan peci hitam, membawa mushaf kecil di tangan kiri dan tumbler kopi di tangan kanan. Ia berhenti di depan Adam, menatapnya dari atas ke bawah, dan mengangguk puas.
“Rapi,” katanya. “Cuma matamu merah.”
“Gue nggak nangis.”
“Gue nggak bilang nangis.” Zafran menepuk bahu sahabatnya sekali. “Pelan, Dam. Itu satu-satunya yang gue minta. Pelan.”
===
Ruang tamu sudah ditata ulang sejak subuh. Meja ditarik ke dinding, dan di tengah ruangan terbentang karpet hijau dengan bantal kecil di hadapan Paman dan Adam yang duduk berhadapan. Hana duduk di kursi di sisi paling dalam, dekat pintu dapur, dengan Ibu di sebelah kiri dan Hawa di kanan. Pintu depan terbuka lebar dan tamu duduk berjejer sampai teras. Dari tempatnya ia hanya melihat punggung Adam, jas gading yang rapi, tengkuk yang basah. Rama duduk di pangkuan Mas Ardi dalam baju koko hijau sage, memeluk mushaf cokelat tua di atas bantal yang lebih besar dari tubuhnya. Di barisan paling belakang, Zafran duduk bersila dengan tumbler kopi yang ia sembunyikan di balik lutut.
Penghulu berkacamata tebal membuka dengan salam dan khutbah singkat. “Akad ini disebut mitsaqan ghalizha, perjanjian yang berat,” katanya. “Yang menimbangnya bukan kita, tetapi Allah.”
Pak Malik dan Ustadz Hasan duduk di kiri-kanan sebagai saksi. Mahar dibuka satu per satu: seperangkat alat salat, sajadah katun hijau pupus, tasbih kayu, dan mushaf cokelat tua bercoret pensil di pinggir halaman. Rama menyerahkannya dengan dua tangan dan satu kalimat yang ia latih sejak semalam: “Ini buat Ate Hana, dari Om Adam.”
Adam menengok ke belakang, sekilas, hanya sepersekian detik. Hana tidak yakin apakah ia dicari atau Ibu di sebelahnya. Ia menunduk, dan ujung jarinya meremas sapu tangan sampai kusut.
Paman dan Adam berjabat tangan di atas bantal, tangan keriput pensiunan guru menggenggam tangan lelaki yang gemetar. Paman menarik napas panjang. “Ananda Adam Rizki Pratama bin Malik,” katanya. Suaranya mantap pada nama itu. “Saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan keponakan saya, Rayhana Putri Dewi binti ...”
Ia berhenti.
Hana mengangkat kepala. Paman tidak menunduk, tidak mengusap mata. Ia hanya menatap lurus ke bantal mushaf dengan rahang bergerak tanpa suara. Nama yang tak sampai ke bibirnya itu nama kakaknya, yang jarang sekali ia ucapkan keras-keras sejak hari pemakaman, dan Hana melihat bagaimana sebuah nama bisa terasa berat di mulut lelaki tua.
“Pelan, Pak Haji,” kata penghulu. “Kami tunggu.”
Adam tidak bergerak. Tidak sepatah kata pun mengisi diam itu. Hana melihat punggungnya menegang karena menahan diri, dan dadanya sendiri menghangat.
Paman menarik napas sekali lagi, lalu mengucapkan nama itu. Utuh. Suaranya pecah di tengah, tetapi nama itu sampai. Ia melanjutkan sampai selesai: “... dengan mas kawin seperangkat alat salat dan mushaf Al-Qur’an, dibayar tunai.”
Ruangan sunyi. Bahkan bayi Rika berhenti merengek.
Di barisan belakang, Zafran mengangkat telapak tangannya setinggi dada dan menurunkannya pelan, dua kali. Pelan. Hana melihat bahu Adam naik, turun, naik lagi, dan ia menahan napas bersamanya tanpa sadar.
“Saya terima nikah dan kawinnya Rayhana Putri Dewi binti ...” Suara Adam bergetar, tetapi kalimatnya tidak putus. Ia menyebut nama itu dengan jelas, nama yang sama dengan yang baru dipecah Paman, lalu menyelesaikan, “... dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.”
Satu tarikan napas. Dari awal sampai akhir, tanpa jeda, tanpa salah.
Dari barisan belakang terdengar bisikan yang untungnya hanya sampai ke deretan ketiga: “Itu bukan pelan, Dam.” Beberapa tamu menahan tawa. Pak Malik memejamkan mata sambil tersenyum, dan penghulu, yang sudah memimpin ratusan akad, hanya menaikkan alis lalu menunduk menulis.
“Bagaimana, saksi?” tanya penghulu.
“Sah,” kata Pak Malik, suaranya patah di huruf terakhir.
“Sah,” kata Ustadz Hasan.
“Sah,” kata penghulu, dan dari belakang bergulung “alhamdulillah” yang lama sampai ke teras. Hana merasa kedua pipinya basah tanpa tahu kapan air itu mulai jatuh. Ibu sudah menutup mulut dengan telapak tangan, bahunya naik-turun, dan ketika Hana menoleh, Ibu menariknya, memeluknya erat sekali, sampai bros melati di dada mereka beradu dengan bunyi kecil.
“Ayahmu dengar, Nak,” bisik Ibu di telinganya. “Ibu yakin dia dengar.”
Dari balik bahu Ibu, Hana melihat Adam akhirnya menoleh. Kali ini tidak sekilas. Ia menatap lurus melewati karpet, bantal, dan lutut Paman, dengan mata basah dan bibir yang membentuk satu kata tanpa suara: istriku.