Tanda tangan Hana di buku nikah miring ke kanan, dan ia tahu persis kenapa: tangannya belum selesai gemetar.
“Tidak apa-apa, Mbak,” kata penghulu ramah. “Banyak yang lebih miring. Yang penting namanya sendiri.”
Ia menyerahkan pena kepada Adam, yang duduk di sisi lain bantal dengan jarak sehasta dari Hana, lebih dekat daripada yang pernah mereka duduki seumur kenal, dan masih tidak bersentuhan. Hana memperhatikan Adam menandatangani. Tanda tangan itu besar, tergesa, dengan ekor huruf terakhir yang panjang sekali, seakan ia berusaha menuliskan seluruh namanya dalam satu tarikan.
“Pelan, Dam,” gumam Zafran dari belakang, dan beberapa tamu tertawa lagi.
“Tadi sudah pelan,” sahut Adam, tanpa menoleh.
Penghulu membereskan berkas, lalu menegakkan punggung. “Sekarang, Mbak Hana, silakan mencium tangan suaminya. Dan Mas Adam, boleh mencium kening istrinya.” Ia berhenti sebentar, tersenyum tipis ke arah Paman. “Kalau keduanya sudah mengizinkan.”
Ruang tamu mendadak sunyi. Hana mendengar detak jam dinding, desis kipas angin, dan kain batik Bu Malik yang bergeser di lantai. Adam menoleh padanya. Wajahnya pucat, matanya merah, dan tangan kanannya, telapak terbuka, ia letakkan di atas lututnya sendiri, tidak diulurkan. Ia hanya menatap, dan dalam tatapan itu Hana menemukan satu pertanyaan yang selama ini selalu ia jawab tidak dengan kata-kata: boleh?
Hana mengangguk. Kecil, hampir tak terlihat.
Baru kemudian Adam mengulurkan tangannya. Hana menerimanya dengan kedua tangan, dan kulit lelaki itu hangat, lembap, dan bergetar. Ia membungkuk, menempelkan punggung tangan itu ke keningnya, lalu ke bibirnya, sebentar, seperti yang diajarkan Ibu sejak ia kecil. Itu sentuhan pertama yang bukan akibat tersedak, bukan akibat rangkulan yang tak diminta. Itu yang ia pilih.
Ketika ia menegakkan kepala, Adam masih menatapnya.
“Boleh?” bisik Adam, kali ini dengan bibir, tanpa suara.
“Boleh.”
Adam membungkuk dan mengecup keningnya. Singkat. Hangat. Bibirnya sedikit gemetar di kulit Hana, dan ia menahan di sana satu detik lebih lama dari yang sopan, lalu mundur seolah tersadar, dan Hana mendengar bisikan yang hanya sampai ke telinganya:
“Aku nggak ke mana-mana lagi, Han.”
Hana memejamkan mata, dan air matanya jatuh tanpa permisi.
“Alhamdulillah,” kata Paman keras-keras dari tempat duduknya. Ia menyeka sudut mata dengan lengan baju, tanpa malu. “Sudah. Jangan lama-lama. Penghulunya harus pulang.” Ia menoleh kepada Adam. “Dan kamu, Nak, malam ini tidur di rumah Papamu dulu. Walimah dulu, baru pintu kamar. Itu syarat Paman.”
===
Sesudah itu semua orang ingin menyalami Hana sekaligus. Rika datang pertama, dengan bayi yang terbangun dan mulai merengek, dan memeluk Hana dengan satu tangan saja.
“Gue bilang apa, Han?” katanya, di dekat telinga. “Proses.”
“Lo bilang tenang itu cukup untuk mulai.”
“Dan?”
“Dan cinta dirawat.” Hana mengusap pipi dengan pangkal tangan. “Gue masih belajar bagian itu.”
“Seumur hidup, Han. Bagian itu seumur hidup.” Rika mengusap mata, galak, lalu menyerahkan bayinya ke pelukan Mira tanpa permisi. “Pegang. Gue mau nangis dulu.”
Mira, yang sekarang menggendong bayi mungil itu dengan wajah yang tak bisa dibaca, hanya tersenyum kepada Hana dan menggeleng pelan: nanti, katanya tanpa suara, aku baik-baik saja.
Adam sempat mendekat satu langkah. Ia berdiri di sisi Hana, tidak terlalu dekat, di bawah mata Paman yang mengawasi dari kursi rotan di pojok.
“Tanganku masih gemetar,” katanya pelan. Ia menunjukkan telapaknya, dan memang bergetar halus. “Kelihatan?”
“Kelihatan. Tanda tanganmu juga.”
“Tanda tanganku selalu begitu.”
“Nanti kuajari menulis pelan.”
“Kamu pasti mengajari semuanya.” Adam tersenyum, matanya merah, dan ia menunduk menatap sepatunya. “Aku nggak keberatan. Asal bukan tajwid lagi.”
“Tajwidmu tetap urusan Zafran.”
“Dengar itu, Zaf?”
“Gue dengar!” seru Zafran dari ujung ruangan, entah bagaimana tetap mengikuti percakapan itu sambil menyalami Pak Malik.
===
Foto keluarga besar diatur di halaman belakang rumah, di depan pagar yang dirambati melati dan kain latar putih yang sudah dipasang Hawa sejak subuh. Tukang foto, anak muda berkaus hitam yang memanggil semua orang “Bapak” atau “Ibu” tanpa pandang usia, berdiri di atas bangku plastik dan mengatur barisan sampai ia sendiri kehabisan akal.
“Yang tinggi di belakang, Pak. Yang pendek di depan, Bu. Anak-anak duduk di tengah.”
“Rama itu anak-anak,” kata Rama. “Tapi Rama tinggi.”
“Kamu di tengah, tapi berdiri di bangku.”
Hawa dan Mas Ardi di kiri. Pak Malik dan Bu Malik di kanan, dengan baju hijau sage yang serasi dari ujung kerudung sampai ujung sepatu. Ibu di sebelah Hana, Paman di sebelah Ibu. Hana berdiri di tengah dengan kebaya putih, dan Adam, jas gading yang kini sudah kusut di bagian siku, berdiri di sebelahnya, bukan lebih dekat dari satu jengkal, tetapi dengan bahu yang tidak lagi tegang.
Ia melihat kain latar putih itu dan merasakan sesuatu yang aneh di dadanya. Dulu, di foto biru yang dipajang Bu Malik di ruang tamunya, Hana berdiri di ujung barisan dan membatin cemas: semoga foto ini tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Dan masalah memang datang, dalam bentuk gosip, pesan suara, centang biru, dan sebuah ruang tamu yang pernah menjadi tempat sebuah pembatalan. Tapi foto biru itu pula yang membawa Ibu dan Bu Malik duduk berhadapan dengan secangkir teh.
“Zafran!” panggil Adam tiba-tiba. “Mana lo?”
Zafran, yang sedang berdiri di pinggir halaman dengan tumbler kopi dan niat jelas untuk pulang sebelum orang lain sempat menahannya, membeku. “Gue nggak perlu ikut. Itu foto keluarga.”
“Lo yang ngajarin gue baca Ar-Rahman.”
“Itu bukan alasan.”
“Itu alasan yang cukup,” kata Adam. Suaranya tenang, tapi tidak membuka ruang untuk membantah. “Lo ke sini, Zaf.”
Zafran menatap Bu Malik, mungkin berharap ia menolak. Bu Malik justru melambaikan tangan lebar-lebar, matanya sudah basah lagi sejak tadi. “Zafran, sini, Nak. Dari kecil kamu main ke rumah Ibu. Kamu sudah Ibu anggap anak sendiri.”
“Bu, saya ...”
“Kamu ngapain berdiri di situ kayak orang numpang foto? Cepat. Ibu belum selesai marah soal yang dulu.”
Zafran tertawa, tawa pendek yang tampak seperti ia berusaha tidak menangis, lalu melangkah dan berdiri di ujung barisan paling kanan, di sebelah Mas Ardi, dengan tumbler yang diserahkan ke Rama untuk dipegang.
“Siap?” teriak tukang foto. “Satu, dua ...”
Rama mengangkat kedua tangan, memamerkan tumbler seperti piala. Bu Malik menggenggam lengan Ibu, dan Ibu, yang biasanya canggung dengan lensa, tidak mengelak. Dari sudut matanya Hana melihat Paman melepas kacamata dan menaruhnya di saku baju koko, entah mengapa, mungkin karena ia ingin hari ini terlihat seperti dirinya sendiri.
“Tiga!”
Cahaya lampu kilat putih menyapu halaman. Tukang foto turun dari bangku, memeriksa layar kameranya, dan mengangguk puas.
“Ulang sekali, buat jaga-jaga!”
Dalam jeda itu Bu Malik mendekat dan memeluk Hana dari samping, sebelah lengan melingkar di pundaknya, bau parfum melati dan bedak yang sudah luntur di pipinya. “Han,” bisiknya. “Kali ini fotonya benar.”
“Iya, Bu.”
“Tidak ada biru.”
“Tidak ada biru,” kata Hana, dan ia tertawa, tawa basah yang ia lepas di bahu perempuan yang kini menjadi mertuanya.
Rama menarik ujung jas Adam. Ia mendongak, menatap bergantian pada Om dan Ate yang kini berdiri berdampingan di bawah kain latar putih, dan alisnya mengerut seperti sedang menghitung sesuatu yang sangat rumit.
“Om,” katanya. “Sekarang Ate jadi tante-ku beneran?”