“Beneran,” kata Adam.
Ia berlutut di atas rumput halaman belakang dalam jas gading yang kusut, supaya wajahnya sejajar dengan Rama, dan Hana melihat bagaimana lelaki yang tadi pagi hampir tidak sanggup menyelesaikan satu kalimat sekarang menjawab pertanyaan lima tahun tanpa ragu sedikit pun. “Ate Hana sekarang tantemu beneran. Tante, bukan Ate. Tapi kalau kamu masih mau panggil Ate, Tante nggak marah.”
“Nggak marah?”
“Nggak,” kata Hana. Ia berlutut juga, kebayanya menyapu rumput. “Asal kamu nggak panggil Tante dengan teriak dari ujung gang.”
Rama berpikir keras. “Kalau Tante sama Om udah beneran,” katanya perlahan, “berarti dedek bayi gembulnya ...”
“Rama!” seru Hawa dari belakang, setengah tertawa, setengah panik, dan menyambar anaknya sebelum kalimat itu rampung.
===
Ahad paginya, ruang serbaguna Milk’s Heaven tidak lagi berbau cat. Sejak pukul tujuh kursi-kursi sudah tersusun, seratus dua puluh di dalam dan seratus delapan puluh di halaman beralaskan terpal hijau, berbaris panjang seperti pagar. Mas Ardi memasang papan nama kecil di tiap meja, dan Hawa berjalan dari ujung ke ujung dengan papan jepit seperti komandan upacara. Hana, yang duduk di pelaminan sederhana berhias melati dan daun hijau, melihat barisan itu dari jauh dan menyadari ada sesuatu yang membuat dadanya sesak: semua kursi terisi. Dan di antara tamu yang rapi, ada enam puluh anak berbaju batik seragam.
Mita dan Rendi berdiri di pintu masuk dengan kemeja dan kerudung putih. Rendi membungkuk dalam-dalam pada tiap tamu seperti petugas protokol, dan Mita menyalami dengan dua tangan, wajahnya merah sampai telinga. Pukul sepuluh, anak-anak panti naik ke panggung kecil di samping pelaminan dan membaca shalawat, sebagian terlalu cepat, sebagian terlalu pelan, Eliza terlalu keras di bait terakhir, dan tak seorang pun menyuruh mereka berhenti. Hana menunduk, dan di sampingnya Adam, dengan tangan di atas lutut dan jarak sejengkal dari lengan baju Hana, berbisik, “Ini lebih bagus dari tilawah profesional mana pun.”
Ustadz Hasan memberi sambutan sesudahnya, hanya tiga menit, dan karena singkat orang mendengarkan. “Rumah tangga bukan tempat dua orang yang sudah sempurna bertemu,” katanya. “Ia tempat dua orang yang sepakat saling memperbaiki tanpa saling menghakimi. Kalau salah satunya lupa jalan, yang lain tidak menertawakan. Ia menunjukkan arah ke masjid, lalu berangkat bersama.”
Sita muncul di anak tangga pelaminan sambil mengusap hidung dengan punggung tangan. Seragam Milk’s Heaven-nya diganti kebaya biru tua yang dipinjam entah dari siapa.
“Mbak. Mas Bos.” Hidungnya merah. “Sita bilang juga apa.”
“Ta ...”
“Dari dulu Sita bilang pasutri! Dari waktu Mbak pertama kali datang bawa panci!” Ia mengusap pipi dengan kasar. “Nggak ada yang percaya sama Sita.”
“Gue percaya,” kata Adam, dan terbahak ketika Sita menatapnya curiga. “Beneran. Sejak hari lo bilang kami mirip pasutri sambil bawa nampan.”
“Bohong.”
“Sedikit.”
Tamu berdatangan dalam arus yang tak berhenti. Risa dan Riana datang bersama, memeluk Hana dan berseru bahwa pengantin tidak boleh secantik ini tanpa memberi aba-aba dulu, dan Hana tertawa karena pujian itu terasa ringan. Mira datang dengan kebaya hijau zaitun dan berbisik, “Doaku sampai?” dan Hana, yang dadanya terlalu penuh, hanya mengangguk.
Lutfi dan Arin menyusul sesudah tengah hari. Arin, dengan perut yang sudah membulat di balik gamis krem, menggenggam kedua tangan Hana sambil tersenyum lebar. “Mbak Hana cantik banget.”
“Kamu yang cantik, Rin.” Hana menahan napas sejenak, menunggu gelombang itu lewat. Gelombang itu tidak datang. “Sehat? Dedeknya?”
“Sehat, Mbak. Tendang-tendang terus.”
Lutfi berdiri satu langkah di belakang istrinya, dengan senyum ramah yang dulu tak pernah Hana sangka bisa ia lihat tanpa nyeri. Ia mengulurkan tangan ke Adam. “Selamat, Dam. Jaga dia.”
“Pasti.” Adam menjabat tangan itu dan menatap Lutfi lurus-lurus. “Terima kasih sudah datang.”
“Hana,” kata Lutfi. “Saya senang kamu bahagia.”
“Terima kasih, Fi.” Hana tersenyum. “Aku juga senang kalian datang.”
Itu saja, dan itu cukup.
Diana datang bersama suaminya sebelum makan siang. Ia memeluk Hana singkat, wangi bunga, dan mendekat ke telinganya. “Dia lebih rapuh dari kelihatannya. Jangan bilang aku yang bilang.”
“Aku tahu,” bisik Hana.
Zafran datang terakhir dari rombongan sahabat, tumbler di tangan kiri, kotak kado kecil di tangan kanan. Ia menyerahkan kotak itu kepada Adam tanpa basa-basi. Isinya mushaf tajwid berwarna, setiap hukum bacaan ditandai warna berbeda.
“Biar lo nggak nyasar lagi di mad,” katanya. “Dan Hana.” Ia menoleh dan mengangguk hormat. “Selamat. Semoga kamu sabar.”
“Insya Allah, Mas Zafran. Terima kasih sudah mengajar.”
“Dua pekan sudah lewat, tapi mad lazim lo belum lulus.” Zafran menyeringai pada Adam. “Gue lanjut gratis. Lo masih berutang kopi.”
===
Pukul dua, ketika matahari mulai turun dan halaman separuh terlindung bayangan, Bu Salma datang. Hana melihatnya dari pelaminan: perempuan kecil dalam gamis abu-abu, berjalan sendirian melewati barisan kursi dengan tas kecil di bawah lengan, sementara suaminya dan Zafran menunggu di dekat gerbang. Bu Salma tidak langsung menuju pelaminan. Ia mencari, menelusuri wajah di tiap meja, lalu berhenti di meja dekat pintu dapur, tempat Ibu sedang menuang teh untuk tamu panti.
Ibu menegakkan badan. Percakapan di sekitar mereka melambat, bukan karena ada yang menyuruh, hanya karena orang dewasa tahu kapan sesuatu sedang terjadi.
“Bu Ranti,” kata Bu Salma. Suaranya cukup keras untuk didengar tiga meja. “Selamat. Putri Ibu perempuan yang sangat terhormat. Saya tahu itu sekarang, dan saya menyesal tahu terlambat.”
Ibu menatapnya, lama, lalu menaruh teko di meja. Ia mengambil kedua tangan Bu Salma. Tidak memeluk, belum, tetapi menggenggam.
“Terima kasih sudah datang, Bu Salma,” katanya. “Kue sus pandan sudah habis diserbu. Tapi yang cokelat masih ada, saya simpan satu kotak.” Ia menarik kotak putih berpita dari kolong meja dan menyerahkannya dengan dua tangan.
Bu Salma mengerjap. Lalu, tanpa diduga, ia tertawa kecil, canggung, dengan mata berkaca-kaca. “Zafran suka yang cokelat.”
“Saya tahu,” kata Ibu. “Anak Ibu juga lebih suka yang cokelat kalau lagi sedih.”
Hana, yang melihat semuanya dari pelaminan, merasakan sesuatu yang tinggi dan ringan naik di dadanya. Di sebelah, Adam mengikuti arah tatapannya dan tidak berkata apa pun. Ia hanya menggeser tangannya lima sentimeter, lebih dekat, sampai ujung kelingking mereka berjarak setipis kertas, lalu berhenti, menunggu.
Hana membiarkannya.
Menjelang pukul empat, tamu terakhir pamit. Hawa berjalan menyusuri halaman dengan papan jepit dan menghitung ulang, dan di wajahnya yang kelelahan muncul senyum aneh. “Tiga ratus delapan,” katanya. “Delapan orang lebih banyak dari undangan, dan semua dapat kursi. Nggak ada yang berdiri, Han.”
“Makanannya?”
“Habis sembilan puluh delapan persen. Dua persen sisanya dibungkus Mita dan Rendi untuk satpam, tukang parkir, dan tiga keluarga di belakang gedung.”
Hana memandang barisan kursi panjang yang sekarang kosong, lipatan terpal hijau yang kusut, dan sepasang orang tua yang masih duduk di dekat pagar. Ibu dan Pak Malik. Mereka sedang tertawa, bahu bergoyang, entah karena apa, dan Ibu menutup mulut dengan ujung kerudung seperti gadis yang tidak ingin ketahuan. Di antara mereka, tergeletak satu kotak lagi kue sus cokelat, simpanan kedua yang sengaja Ibu tidak sebut kepada siapa pun.