“Pelan-pelan, Nak,” kata Ibu di ambang kamar, dan Hana tidak tahu apakah itu nasihat untuk dirinya atau untuk Adam.
Ahad malam, pukul sembilan, rumah itu akhirnya sunyi. Semalam, sesudah ijab dan foto, Adam menuruti syarat Paman dan pulang ke rumah orang tuanya, dan Hana tidur ditemani Ibu yang pura-pura tidak menangis. Tamu terakhir sudah pulang, kursi sewaan sudah diangkut truk, dan tumpukan kado menggunung di sudut ruang tamu seperti benteng kecil. Pak Malik dan Bu Malik pamit sejam lalu, Hawa membawa Rama yang tertidur di pundak Mas Ardi, dan Paman sudah masuk ke kamar tamu di belakang tanpa berkata apa-apa kecuali, “Subuh nanti Paman bangun lebih dulu.” Yang tersisa di ruang depan hanya Ibu dengan kotak kue sus cokelat di tangan, Adam dengan kemeja yang sudah diganti kaus putih bersih, dan Hana yang berdiri di pintu kamarnya sendiri, kamar yang ia tempati dua puluh tujuh tahun, dan malam ini rasanya seperti kamar orang lain.
“Ini buat kalian,” kata Ibu, menyerahkan kotak itu. “Satu untuk malam, satu untuk subuh. Jangan dimakan semua.”
“Bu, kami nggak ...”
“Kalian akan lapar,” kata Ibu tanpa menoleh dari kotak kue. “Ibu pernah muda.” Ia menepuk lengan Hana dua kali, lalu menoleh pada Adam. “Nak Adam. Pintu kamar ini tebalnya dua senti. Ibu tidur di kamar belakang, dengan penutup telinga.”
“Ibu!” seru Hana.
“Selamat malam.” Ibu berjalan pergi tanpa menoleh, bahunya bergetar.
Paman muncul dari lorong belakang dengan sarung dan peci lusuh, berhenti di samping Adam, dan menatap lurus ke depan seperti sedang bicara pada dinding. “Tiga syarat Paman berlaku seumur hidup,” katanya. “Selebihnya urusan kamu dengan istrimu.” Ia berjalan lagi, lalu berhenti satu langkah di depan pintu kamar tamu. “Dan tutup pintunya pelan-pelan. Rumah ini sudah tua.”
Wajah Adam memerah dari leher sampai telinga. “Siap, Paman.”
Mereka berdua berdiri canggung di tengah kamar. Seprai baru berbunga melati terbentang di ranjang. Mukena putih sulam melati peninggalan Ayah tergantung di balik pintu lemari, dan Hana menyadari Ibu pasti baru menaruhnya di sana siang tadi, tanpa berkata apa-apa. Adam melihatnya juga. Ia berdiri lama di depan mukena itu.
“Itu ... mukena dari Ayah?”
“Iya. Ibu menyimpannya untuk hari ini.”
“Kamu mau pakai?”
“Ibu bilang pakai pertama kali untuk salat syukur.” Hana mengangguk. “Sekalian Isya. Kamu imamnya.”
Adam menelan ludah. Lalu, seperti anak yang ketahuan membawa contekan, ia merogoh saku celana dan mengeluarkan secarik kertas lipat yang sudah lusuh.
“Papa nulis doanya,” katanya. “Aku nggak hafal. Aku tahu itu memalukan.”
“Dam.” Hana mengambil kertas itu, membaca tulisan tangan Pak Malik, huruf tegak yang rapi dan tebal. “Ini bukan memalukan. Ini bukti kamu mau diajari.”
Mereka salat syukur dua rakaat, lalu Isya empat rakaat. Sajadah hijau pupus mahar itu digelar di lantai kamar, dan Hana berdiri di belakang Adam dengan mukena Ayah, merasakan bahan kainnya yang halus dan sedikit wangi kapur barus. Bacaan Adam pelan. Terlalu pelan, malah, seperti orang yang berjalan di atas lantai licin, dan di rakaat kedua ia salah satu kata dan mengulang tanpa ragu, tanpa gugup. Hana tersenyum di balik kain mukena, dan dadanya hangat.
Selesai salam, Adam berbalik. Ia tidak mendekat. Ia menatap Hana, lalu kertas di tangannya, lalu Hana lagi.
“Boleh?” tanyanya.
“Boleh.”
Ia menaruh telapak tangan di ubun-ubun Hana, sedikit gemetar, dan membaca dari kertas dengan suara hampir berbisik. “Allahumma inni as’aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha ’alaih ... wa a’udzu bika min syarriha wa syarri ma jabaltaha ’alaih.” Ia berhenti, mengerjap. “Ya Allah, aku mohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan yang Engkau tetapkan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya.” Ia menurunkan tangan, hati-hati. “Papa tulis artinya di bawah. Biar aku mengerti yang aku baca.”
Hana tidak bisa bicara, jadi ia hanya mengangguk.
===
Mereka duduk di tepi ranjang, tidak berdempetan, dengan kotak kue sus di antara mereka seperti pagar kecil. Hana membuka mukena dan melipatnya di pangkuan. Adam menatap lantai.
“Aku mau bilang sesuatu,” kata Hana akhirnya. “Boleh?”
“Kamu nggak perlu minta izin untuk bicara.”
“Aku takut.” Kalimat itu keluar lebih mudah daripada yang ia kira. “Bukan karena kamu. Aku takut aku nggak tahu caranya. Seumur hidup aku diajari menjaga jarak. Sekarang tiba-tiba semua aturan itu dibalik dalam satu kata ‘sah’, dan tubuhku belum ikut.”
Adam tidak buru-buru menjawab. Ia memutar jam tangannya satu putaran penuh, lalu menaruh kedua tangannya di lutut.
“Aku juga takut,” katanya. “Aku mantan playboy, Han. Orang pasti mengira aku paling tahu.” Ia tertawa tanpa suara. “Padahal yang kutahu dulu cuma cara bikin orang pura-pura ketawa. Ini lain. Aku belum pernah jadi suami siapa pun, dan aku nggak mau gagal di malam pertama jadi suamimu.”
Hana menatap profil wajah itu, rahang yang masih tegang, pelipis yang berkeringat, dan sesuatu di dalam dirinya mengendur.
“Kamu nggak perlu buru-buru,” lanjut Adam. “Aku nggak mau malam ini jadi sesuatu yang harus selesai. Aku mau kamu yang memutuskan langkahnya. Satu langkah, terus kamu bilang lanjut atau berhenti. Berhenti itu jawaban yang sah. Selalu.”
“Selalu?”
“Selalu.” Ia menatapnya sekarang. “Itu janjiku. Paman minta aku jangan menyembunyikan apa pun, jadi aku bilang sekarang: kalau kamu bilang berhenti, aku berhenti, dan aku nggak akan kecewa.”
Hana menarik napas dalam. Ia mengulurkan tangan, perlahan, dan meletakkan jemarinya di atas punggung tangan Adam. Kulit itu hangat, dan bergetar.
“Lanjut,” bisiknya.
Adam memejamkan mata sebentar, seolah ingin menyimpan kata itu. Ia bangkit, memastikan jendela terkunci dan lampu meja kecil tetap menyala redup, lalu berjalan ke pintu dan memegang gagangnya. Di tengah kamar, Hana masih duduk di tepi ranjang dengan tangan terlipat di pangkuan, menatapnya dengan mata yang tidak lagi takut, hanya sangat sadar.
Pintu kamar itu ditutup dengan pelan. Klik kecil, nyaris tak terdengar.
===
Hana terbangun karena bau air wudhu.
Cahaya abu-abu menyelinap lewat celah tirai. Bantal di sisi kirinya sudah kosong, dan dari kamar mandi sempit di sudut terdengar bunyi keran ditutup. Ia berbaring diam sebentar, mendengarkan debar yang aneh di dadanya, rasa berat yang hangat di seluruh badan, dan Adam yang berdeham pelan di balik pintu, seakan mengatur suara supaya tidak mengejutkan siapa pun.
Pintu terbuka. Adam keluar dengan rambut basah, ujung lengan kaus digulung sampai siku, wajah yang masih sedikit malu. Semalam ia nyaris tak berani menatap Hana lama-lama. Sekarang ia menatap, dan menunduk, dan menatap lagi.
“Alarm ketiga belum bunyi,” katanya. “Aku menang.”
“Kamu bangun sebelum alarm?”
“Aku nggak tidur nyenyak.” Ia duduk di tepi ranjang dengan hati-hati, mengusap tengkuknya. “Alasannya bagus, kok.”
Hana menutup separuh wajah dengan selimut, dan tawa Adam pecah, tertahan, mirip anak kecil yang menang undian.
Kemudian ia menunduk, mendekat sampai bayangannya menutupi cahaya tirai, dan menirukan suara cempreng yang Hana kenal dengan sangat baik.
“Ate Hana, subuh.”
“Dam!” Hana melempar bantal, dan bantal itu mengenai bahunya telak.
“Itu suara Rama kalau bangunin Mama.” Adam tertawa sampai harus memegang perutnya. “Aku mau mencoba. Berhasil, kan?”
Di balik pintu, terdengar langkah sandal, lalu bunyi sendok beradu dengan cangkir. Ibu sudah bangun, menyeduh sesuatu di dapur, dan sedang berpura-pura tidak mendengar apa pun.