“Kopi?” tanya Ibu, tanpa menoleh dari kompor.
Tiga cangkir sudah berjejer di meja dapur, uapnya naik tipis, dan di sebelahnya tergeletak sepiring pisang goreng yang jelas tidak dibuat sepuluh menit lalu. Ibu mengenakan daster rumah dan sandal jepit, rambut terikat kendur, dan wajahnya begitu biasa sampai Hana curiga bahwa semua kebiasaan di rumah itu sengaja ditata ulang untuk pura-pura tak ada apa-apa.
“Tidur nyenyak?” lanjut Ibu.
Adam, yang berdiri di ambang pintu dapur dengan sarung dan baju koko putih yang masih lembap di bahu, tersedak ludahnya sendiri. “Nyenyak, Bu. Alhamdulillah.”
“Syukurlah. Nak Adam makan pisang goreng?”
“Siap, Bu.”
“Dua cangkir ini buat kalian. Satu lagi buat Paman, nanti selesai salat.” Ibu mengaduk sesuatu di panci dan baru menoleh sekarang, dengan senyum sangat tenang, sangat sopan, dan sama sekali tidak menyembunyikan apa-apa. “Han, jilbabmu miring.”
Hana menyentuh kerudungnya dengan panik. Tidak miring. Ibu hanya ingin melihatnya menyentuhnya.
Sesudah sarapan, Paman bersikeras melihat rumah tiga blok itu sebelum naik bus siang ke luar kota, jadi mereka berempat berjalan ke sana, Adam di depan membawa kunci. Itu pertama kalinya Hana masuk. Lantainya kusam, dapurnya kosong dan menghadap timur, dan Ibu langsung membuka lemari dapur seperti pembeli yang curiga. Paman memeriksa atap dari tangga lipat, mengetuk dinding kamar belakang yang lembap, lalu turun dan berkata tanpa ditanya, “Atapnya bocor di sudut.”
“Saya tahu, Paman,” sahut Adam cepat. “Mau saya bilang sebelum Paman tanya.”
Paman menyipitkan mata, lalu menoleh kepada Ibu. “Anak ini sudah mengaku sebelum Paman tanya. Jadi Paman maafkan.”
Adam menunduk, dan Hana melihat bahunya turun lega.
Selasa sampai Rabu, Robi dan Sari datang sepulang kerja membawa cat, dan Adam sendiri berdiri di atas tangga tiap sore sampai Isya. Kamis pagi rumah itu sudah selesai, berbau cat putih dan sedikit kayu basah.
===
Mobil bak pinjaman Pak Malik berhenti di depan rumah Ibu pukul sembilan. Barang yang mereka bawa tidak banyak: kasur, lemari pakaian kecil, dua kardus peralatan dapur, kardus ketiga berisi kado-kado yang belum sempat dibuka, dan satu tas besar berisi seluruh mushaf, sajadah, tasbih, dan buku catatan cokelat Adam. Robi mengangkat kasur sendirian sampai wajahnya merah. Rama, yang diizinkan ikut dengan syarat tidak menyentuh apa pun yang mudah pecah, mengangkat bantal dan terus-terusan mengumumkan bahwa itu bantal Tante.
Ibu berdiri di gerbang sambil memegang gagangnya. Ia mengenakan kerudung terbaiknya dan tersenyum.
Terlalu lebar.
“Bu,” kata Hana, meletakkan kardus di bak, “senyum Ibu kelihatan semua giginya.”
“Ibu bahagia.”
“Iya, tapi itu bukan senyum bahagia. Itu senyum orang yang nahan sesuatu.”
“Ibu baik-baik saja, Han.” Ibu menegakkan badan. “Pergi. Nanti keburu siang dan Nak Adam kepanasan.”
Adam maju selangkah dan meletakkan sebuah kunci berbenang merah di telapak Ibu. “Pintu rumah kami nggak perlu diketuk, Bu.” Ibu menatap kunci itu, menggenggamnya sampai buku jarinya memutih, dan hanya berkata, “Pergi,” lebih pelan.
Hana memeluknya. Lama. Ibu membalas dengan dua tangan yang ragu sebentar, lalu erat. Dari balik bahu Ibu, ia melihat pintu rumah masa kecilnya, jendela kamar yang ia tempati sejak lahir, dan jemuran di pagar yang masih menggantung dua mukena berbeda ukuran.
“Garam, Bu,” bisik Hana. “Hana minta garam malam ini.”
“Garam kamu sudah dibelikan sekilo oleh Mbak Hawa,” sahut Ibu, tapi suaranya bergetar. “Pergi.”
Rumah baru itu cuma tiga blok. Mobil bak hanya butuh dua menit untuk sampai, dan Hana yang berjalan kaki bersama Adam di belakangnya menghitung langkah, tujuh ratus, kurang lebih. Tujuh ratus langkah dari pagar rumah ibunya ke pagar rumahnya. Ia mengulang jumlah itu pelan sampai terdengar seperti doa.
Di depan pintu rumah baru, Adam berhenti dan merogoh sakunya. Ia mengeluarkan dua kunci yang diikat satu per satu dengan benang merah.
“Satu untukmu,” katanya, meletakkan kunci pertama di telapak Hana, hati-hati, tidak menyentuh kulitnya. “Satu aku pegang. Yang ketiga tadi kutitip ke Ibu, supaya Ibu bisa mampir tanpa mengetuk. Kalau malam terlalu sepi di rumah sana, Ibu bisa ke sini.”
Hana memegang kunci itu sampai logamnya hangat. “Kamu yang mikir ini sendiri?”
“Papa. Tapi aku yang bilang setuju lebih dulu.” Adam mendorong pintu. Bau cat putih menyambut mereka, bersama cahaya pagi dari dapur yang menghadap timur, jatuh persis di atas meja kayu kosong. “Selamat datang di rumah, Han.”
Hana berdiri di ambang. Tujuh ratus langkah dari rumah Ibu, dan ia merasa sama sekali tidak jauh.
===
Pukul tujuh malam, Hana berdiri di depan pintu rumah Ibu dengan sebuah mangkuk kosong.
Ia tidak mengabari Adam. Setelah Isya, ketika Adam masih sibuk memasang rak di dapur, Hana berkata ia mau keluar sebentar mencari angin, mengenakan sandal, dan berjalan. Tujuh ratus langkah. Ia tidak mengetuk. Pintu depan tidak dikunci seperti biasa, dan ia mendorongnya pelan.
Lampu dapur menyala. Dari ruang makan terdengar bunyi sendok beradu dengan piring dan aroma yang sangat ia kenal: sayur asem dengan jagung manis, ikan asin goreng, sambal terasi yang terlalu pedas untuk Paman, dan tahu isi. Hana berhenti di ambang pintu.
Meja makan sudah ditata untuk dua orang. Dua piring, dua gelas, dua sendok. Ibu duduk di salah satu kursi dengan piring yang belum disentuh, menatap kursi kosong di seberang, dan baru menyadari kehadiran Hana ketika mangkuk di tangan Hana beradu dengan kusen.
“Han!” Ibu terlonjak, lalu cepat-cepat berdiri. “Kamu ... kamu kenapa ke sini? Ada apa? Adam mana?”
“Minta garam, Bu.”
Ibu memandang mangkuk kosong itu, lalu Hana, dan wajahnya perlahan berubah dari terkejut jadi sesuatu yang sangat dalam. “Ibu masak untuk dua orang tanpa sadar,” katanya pelan. “Dua puluh tujuh tahun, kebiasaannya tidak mau hilang.”
“Ibu ...”
“Jangan nangis, nanti sayur asemnya keasinan.”
Hana menaruh mangkuk, memeluk Ibu dengan dua tangan, dan membenamkan wajah di bahunya yang berbau bawang goreng dan kapur barus. Ia tidak berkata apa-apa. Ibu juga tidak.
Pintu depan berderit lagi.
“Han?” Suara Adam, terengah, dari ruang tamu. “Kamu di sini? Aku nyari ke mana-mana, rak sudah selesai, aku ...” Ia muncul di ambang pintu ruang makan, berhenti, dan matanya jatuh pada dua piring, dua gelas, dan dua perempuan yang berpelukan. Ia tidak bertanya. Ia hanya tersenyum, tipis dan mengerti, lalu menarik kursi ketiga dari bawah meja.
“Bu,” katanya. “Boleh numpang makan?”
“Kamu sudah makan di rumah?”
“Belum. Aku nunggu Hana.” Adam duduk. “Dan Bu, aku mau bilang, kami putuskan kalau tiga kali seminggu kami makan di sini. Selasa, Kamis, Ahad. Kalau Ibu keberatan, Ibu boleh menolak. Tapi aku sudah catat di buku.”
“Kamu sudah catat di buku,” ulang Ibu.
“Di buku Papa.” Adam mengangkat bahu. “Kalau sudah ditulis, aku nggak berani melanggar.”
Ibu menatapnya lama, lalu merogoh saku daster dan memperlihatkan sebuah kunci berbenang merah, yang sejak pagi ia genggam sampai bekasnya tertinggal di telapak. “Ibu sudah dikasih ini,” katanya. “Tapi Ibu tidak enak pakai di malam pertama.” Lalu ia tertawa pendek sambil menyeka mata dengan ujung lengan. “Duduk, Han. Ambil piring ketiga. Dan jangan lupa garamnya.”
===
Kamis malam, ketukan di pintu depan datang pukul delapan kurang sepuluh. Bu Malik dan Pak Malik berdiri di teras dengan baju koko dan kerudung sederhana, Pak Malik membawa kantong plastik berisi mushaf kecil dan Bu Malik menenteng rantang besar.
“Malam Jumat,” kata Bu Malik, mengangkat rantang. “Yasinan. Saya bawa kue sus pandan buatan tadi sore, masih hangat. Besan, jangan marah.”
“Marah kenapa?” tanya Ibu, dari ambang pintu.
“Karena saya menang soal pandan.”
“Dua lawan satu itu berat.” Ibu mundur selangkah, membuka pintu lebih lebar. “Besan, silakan masuk.”
Hana, yang berdiri di belakang Ibu dengan piring di tangan, merasakan sesuatu mengembang di dadanya. Dua kata itu diucapkan tanpa hiasan, di ambang pintu, oleh dua perempuan yang beberapa bulan lalu belum saling mengenal wajah. Pak Malik menatap Adam, mengangkat alis, dan Adam hanya mengedikkan kepala.