Empat hari sesudah yasinan malam Jumat, rumah tiga blok dari Ibu belum punya tirai di kamar depan, tetapi sudah punya satu kebiasaan: Hana bangun lebih dulu daripada alarm mana pun.
Senin itu ia membuka mata dan langsung tahu ada yang salah. Kamar terlalu terang. Cahaya yang menembus kaca jendela telanjang bukan abu-abu subuh yang biasa, melainkan kuning pucat yang naik dari pinggir pagar. Bantal di sebelahnya kosong dan dingin. Hana melirik jam dinding, lalu melompat.
Lima belas menit sebelum matahari terbit.
“Dam?”
Tidak ada jawaban. Ia menyambar kerudung dan berlari ke dapur, lantainya dingin di telapak kaki, dan menemukan suaminya duduk di kursi dekat meja kayu dengan kepala terkulai di atas lipatan tangan. Di bawah sikunya terbuka sebuah buku besar bergaris, kalkulator, dan tiga lembar kertas penuh angka yang ditulis dengan pensil. Lampu meja masih menyala. Ponsel Adam tergeletak di samping kalkulator dengan layar gelap, kabel pengisinya tergantung di stopkontak, tidak tersambung ke apa pun.
“Adam!”
Adam terbangun dengan seruan pendek, setengah bangkit, dan menatap sekeliling dengan mata merah, memastikan di mana ia berada. “Han? Jam berapa? Alarm ...”
“Alarmmu mati. Ponselnya mati. Lima belas menit lagi matahari terbit.”
Wajahnya berubah dalam satu detik, dari bingung ke panik ke malu. “Astaghfirullah.”
Mereka salat berdua di kamar dengan gerakan tergesa. Hana berdiri di belakang Adam dan mendengarkan bacaannya yang terlalu cepat, bukan karena ia lupa pelan, tetapi karena waktu menyempit. Selesai salam, Adam tidak langsung berbalik. Ia duduk diam menatap sajadah.
Hana melipat mukenanya dengan gerak kaku.
“Jam berapa kamu tidur?” tanyanya.
“Tiga.”
“Tiga.” Ia mengulang pelan. “Kamu ngapain di dapur jam tiga?”
Adam memutar badan, akhirnya. Ia mengusap muka dengan kedua telapak. “Aku menghitung pembukuan kios. Kamu nyebut Sabtu kemarin kamu bingung soal pengeluaran bulan lalu. Aku mau bantu supaya kamu nggak pusing.”
“Aku nggak minta kamu begadang untuk itu.”
“Aku nggak mikir itu begadang. Aku pikir sebentar saja ...”
“Sebentar itu sampai jam tiga?” Suara Hana naik setengah nada. “Dam, tiga alarm. Kamu bilang di depan Paman, di depan Ibu, di depan Papa. Tiga alarm, itu janji kamu!”
“Ponselku mati!”
“Karena kamu nggak mencolokkannya! Itu bukan ponsel yang mati, itu kamu yang lupa!”
Kalimat itu keluar lebih tajam dari yang ia niatkan. Hana langsung menyesalinya, tetapi sudah terlambat. Adam menutup mulut, rahangnya mengeras, dan ia berdiri.
“Aku salah,” katanya, lebih datar. “Aku sudah bilang aku salah. Aku nggak ngelak.”
“Nggak ngelak, tapi kamu juga nggak ...”
“Nggak apa?”
“Nggak kelihatan menyesal.”
Itu kalimat yang tidak boleh diucapkan. Hana sadar begitu kata terakhirnya jatuh ke lantai. Di wajah Adam tidak ada marah, hanya sesuatu yang lebih sulit dibaca, dan itu jauh lebih membuatnya gelisah daripada kemarahan.
“Aku ke dapur,” kata Adam. “Aku buat teh.”
Ia pergi. Hana duduk di tepi ranjang, mukena tergulung di pangkuan, dengan perasaan tidak enak yang ia kenal tetapi belum bisa ia namai.
===
Ia baru mengenali rasa itu setelah beberapa menit, dan asalnya tidak ia duga. Selembar kertas yang disodorkan Bu Salma dulu di ruang tamu Ibu: permintaan tertulis, rapi, penuh syarat. Keluar dari Milk’s Heaven. Putuskan semua hubungan. Buktikan dulu, baru kami percaya.
Ia duduk lama. Dari dapur terdengar air mendidih, lalu bunyi cangkir. Di luar jendela telanjang, matahari akhirnya naik dan menyirami lantai dengan cahaya pagi.
Ia mengingat dirinya di ruang tamu itu, tegak dan tenang, berkata bahwa ia tidak bisa berjanji memutus hubungan. Ia ingat betapa sakit rasanya dituntut menjadi sempurna sebagai bukti, bukan karena dicintai tetapi supaya diterima. Dan barusan, di kamar sempit ini, ia melakukan hal yang sama pada lelaki yang sedang berusaha, yang begadang menghitung angka untuknya, hanya karena satu pagi ponselnya mati.
“Astaghfirullah,” bisik Hana. “Hana.”
Ia bangkit dan berjalan ke dapur. Adam berdiri membelakangi pintu, menuang teh ke dua cangkir, dan bahunya tampak lebih kecil dari biasanya. Hana berhenti satu langkah di belakangnya.
“Dam.”
“Hm.”
“Aku minta maaf.” Kalimat itu terasa kasar di lidah, tapi ia terus. “Aku bilang kamu nggak menyesal. Itu nggak benar. Aku melihat kamu menyesal waktu kamu bangun. Aku cuma ... aku panik, dan aku mengubah panikku jadi tuntutan.”
Adam meletakkan teko, perlahan. “Kamu nggak salah, Han. Aku yang bikin janji tiga alarm itu dan nggak menepatinya.”
“Tiga alarm itu bukan untuk menghakimi kamu. Itu supaya kamu nggak sendirian.” Hana menarik napas. “Aku menuntut kamu seperti Bu Salma dulu menuntut aku. Aku nggak mau jadi orang itu.”
Adam menoleh. Matanya masih merah, tapi ia tersenyum sedikit, sedih dan tulus. “Kamu bukan Bu Salma. Bu Salma nggak pernah bikin pisang goreng untuk lawan debatnya.”
“Aku belum bikin pisang goreng.”
“Kamu lagi mikir bikin. Kelihatan di alismu.”
Hana tertawa, pendek, dan matanya basah. “Duduk.”
Mereka duduk berhadapan di meja kayu, dan secangkir teh yang uapnya masih naik di antara mereka terasa seperti perjanjian kecil.
“Aku harus jujur,” kata Adam. “Aku menghitung jam tiga bukan cuma karena kios. Aku juga takut. Aku takut kamu kecewa kalau aku nggak bisa jadi suami yang kamu bayangkan. Jadi aku mencoba berguna dengan cara yang aku kuasai, angka dan kerja. Yang aku nggak kuasai itu bangun dan salat tepat waktu setelah begadang.”
“Jadi aturannya apa?”
“Aku tidur sebelum jam sepuluh kalau besok ada kerjaan pagi. Kalau terpaksa begadang, aku bilang dulu ke kamu. Ponsel dicolok sebelum aku duduk di meja.”
“Dan alarm?”
“Dua. Satu di ponsel, satu jam beker yang kemarin Zafran titipkan lewat Robi, yang bunyinya kayak kereta api.”
“Dan aku,” kata Hana, “yang menyiapkan kopi. Bukan paksaan. Kopinya ditaruh di meja samping tempat tidur pukul empat, supaya baunya yang bangunin kamu sebelum aku.”
“Pukul empat kurang?”
“Pukul empat. Aku yang bangun lebih dulu.”
Adam mengulurkan tangan melintasi meja, tidak langsung menyentuh, hanya meletakkannya terbuka di atas kayu. Hana menatap tangan itu sebentar, lalu menaruh tangannya di atasnya.
===
Pukul tujuh, setelah sarapan seadanya, mereka salat dhuha berdua di kamar yang cahayanya sudah terang. Dua rakaat, pelan. Adam membaca surat pendek dengan lambat, memberi tiap huruf waktunya, dan di akhir salam ia tidak berkata apa-apa. Hana juga tidak. Dari kejauhan terdengar suara pintu pagar tetangga, anak berangkat sekolah, dan deru motor yang makin kecil.
“Han,” kata Adam. “Soal salat subuh tadi. Kita bisa mengqadha, nggak?”
“Waktunya masih ada tadi, Dam, walau tinggal sedikit. Sah. Tapi Allah menyukai yang awal.” Hana menyandarkan punggung ke dinding. “Dan kamu belajar. Itu yang dihitung.”
“Aku nggak mau belajarnya sambil bikin kamu marah.”
“Aku juga belajar.”
Ponsel Adam, yang sekarang sudah tersambung ke kabel di dekat bantal, bergetar menandakan satu pesan masuk. Ia menatap layar dan tersenyum geli. “Zafran. Dia nulis: ‘Jam bekernya sudah dipakai?’”
“Dari mana dia tahu?”
“Dia nggak tahu. Dia cuma tahu aku.”