Jam beker pinjaman dari Zafran berbunyi seperti kereta api yang kehilangan rem, dan selama lima hari Adam melompat dari ranjang sebelum bunyi itu sempat habis. Hari keempat Hana sudah menaruh kopi di meja samping tempat tidur lebih dulu, dan Adam, dengan rambut berdiri dan mata setengah terbuka, mengucapkan “Terima kasih” kepada cangkir itu sebelum kepada istrinya.
Sabtu pagi, Dapur Ranti ramai sejak pukul tujuh. Kios di pinggir jalan raya itu dindingnya dicat krem, dengan kaca besar yang berembun oleh uap oven, dan tungku ketiga sudah terpasang sejak Rabu dengan bagi hasil bulan pertama. Pesanan kue sus berderet di rak kaca. Ibu berdiri di balik meja kasir dengan celemek yang pudar dan kacamata di ujung hidung, menghitung uang kembalian dengan lebih serius daripada bank mana pun.
Mira datang pukul sembilan, saat antrean mereda. Ia mengenakan gamis hijau muda dan kerudung putih, dan ada sesuatu di langkahnya yang berbeda: tidak lagi menunduk-nunduk sopan seperti biasa, tapi lurus, ringan.
“Teteh!” seru Hana dari dapur kios, tangannya masih berlumur adonan. “Masuk, masuk! Mau kue sus yang mana?”
“Mau kamu,” kata Mira. “Sepuluh menit saja. Ada yang mau aku ceritakan.”
Mereka duduk di dua bangku kayu di belakang, di lorong sempit antara kulkas dan rak tepung, dengan dua gelas teh yang sebenarnya belum diseduh matang. Hana membersihkan tangan dengan serbet dan menunggu. Mira menatap gelasnya agak lama.
“Aku menutup akunnya,” katanya. “Senin lalu.”
“Akun ...”
“Yang kubuka diam-diam tiap malam untuk melihat dia masih bahagia atau tidak.” Mira tersenyum miring, getir tapi tenang. “Aku bilang di pengajian waktu itu, Hana, aku masih membuka akun mantan calonku. Kamu masih ingat?”
“Ingat, Teh.”
“Dua pekan lalu Ustadz Hasan datang ke rumah. Beliau bawa selembar kertas, CV seorang lelaki yang beliau kenal dari kajian, dan beliau tanya apakah aku mau membaca.” Mira menghela napas. “Aku nggak langsung jawab. Aku pulang, aku istikharah tiga malam. Malam ketiga aku bangun jam tiga dan sadar aku nggak takut lagi.”
Hana tidak bernapas.
“Aku belum bertemu dia, Han. Aku belum tahu wajahnya. Nanti kalau nadzor, aku lihat, aku tanya, aku nilai. Tapi aku sudah menjawab ya untuk proses. Bukan untuk dia, untuk proses.” Suaranya mulai bergetar. “Terlalu lama aku menunggu lelaki yang sudah menikah dengan orang lain. Terlalu lama, Han. Dan aku baru sadar aku bukan menunggu dia. Aku menunggu supaya aku boleh terus menyalahkan diri sendiri.”
Hana mengulurkan kedua tangan dan menggenggam tangan Mira. “Teteh nggak salah.”
“Aku tahu sekarang. Dulu aku bilang ke kamu, orang lupa dalam tiga bulan, yang tidak lupa adalah apa yang kita lakukan dengan luka. Aku sendiri memegang kata-kata itu terlalu lama.” Mira tertawa dan air matanya jatuh bersamaan. “Aku ajari anak-anak panti mengaji tiap Kamis, Hana. Itu satu-satunya bagian yang benar dari aku selama masa itu.”
“Itu bukan satu-satunya.”
“Dua, ya. Aku juga pandai membuat teh.”
Hana tertawa, terisak, dan tertawa lagi, dan keduanya berpelukan di lorong sempit itu dengan dahi berbenturan, sampai terdengar ketukan di pintu dapur dan suara Ibu dari balik tirai: “Anak-anak, ada pesanan seratus kotak. Tangisannya bisa diteruskan nanti.”
Mira pulang membawa sekotak kue sus yang diselipkan Ibu ke tangannya tanpa permisi. “Untuk Ustadzah,” kata Ibu, “dan sisanya untuk kamu. Perempuan yang berani bilang ya pada proses harus makan yang manis.” Mira mencium tangan Ibu dengan mata basah, dan Ibu, yang tidak biasa dipeluk perempuan lain di kasir, menepuk punggungnya dua kali dengan canggung dan tulus.
===
Pukul empat sore, Hawa mengantar Rama ke rumah baru dengan tas dinosaurus dan satu bantal yang lebih besar dari badannya.
“Nginap ya, Tante,” kata Rama di ambang pintu, dengan wajah polos. “Bunda sama Ayah mau ke nikahan teman. Aku nggak boleh ikut karena nanti aku nanya terlalu banyak.”
“Kamu memang nanya terlalu banyak,” kata Hawa. Ia mencium kening anaknya. “Han, kalau dia berisik, tutup saja dengan selimut. Jangan sampai jam sembilan masih melek.”
Rama makan malam dengan lahap, memuji nasi goreng Adam yang kali ini tidak gosong, dan menyelesaikan tiga puzzle di lantai ruang tamu.
“Om,” kata Rama di tengah suapan, “kata Bunda, Om dulu kebo.”
“Om dulu kebo,” aku Adam. “Sekarang Om kebo yang punya jam kereta api.”
“Jam kereta api itu apa?”
“Jam yang bunyinya bikin Om lompat dari kasur.” Adam melirik Hana. “Tante yang taruh kopi di sampingnya, jadi Om nggak sempat marah.”
Pukul delapan Rama mengantuk. Adam menggendongnya ke kamar tamu yang sudah disiapkan kasur kecil, menyelimutinya sampai dagu, dan membaca doa sebelum tidur sampai napas anak itu berubah panjang.
Hana menunggu di ruang makan dengan dua cangkir cokelat hangat. Adam duduk di seberangnya, mengusap tengkuk, dan menatap uap yang naik.
“Han,” katanya. “Aku mau tanya sesuatu. Dan aku mau kamu jawab jujur.”
“Silakan.”
“Soal anak.” Adam menatapnya lurus. “Kamu mau menunda dulu atau nggak?”
Hana menahan napas sebentar, lalu menggeleng pelan. “Aku nggak mau menunda. Tapi aku juga nggak mau menjadikannya target. Ibu bilang, anak itu amanah, bukan prestasi.”
“Setuju.” Adam tersenyum. “Aku juga takut, jujur. Aku takut jadi ayah yang molor, yang kurang sabar, yang nggak bisa mengajari. Tapi aku lebih takut kalau nunggu sempurna dulu.”
“Nggak ada yang sempurna dulu, Dam.”
“Itu yang Papa bilang.” Adam mengaduk cokelatnya. “Papa bilang, jadi ayah itu dilatih sambil jalan, kayak naik sepeda.”
“Kalau lama?” tanya Hana, dan suaranya mengecil. “Kalau Allah belum memberi? Aku nggak mau kamu kecewa. Aku nggak mau Ibu kecewa.”
“Kita tetap berdoa.” Adam meraih tangan Hana di atas meja, perlahan, dan Hana membiarkannya. “Zakariya berdoa bertahun-tahun, dan doanya tidak pernah berubah kata: ‘Rabbi hab li min ladunka dzurriyyatan thayyibah.’ Ya Rabb, anugerahkan kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik. Kita yang menyiapkan hati. Waktunya urusan Allah.”
Hana tidak menjawab. Ia menunduk ke tangan mereka yang bertaut, tangan lelaki yang dulu menarik pergelangannya tanpa izin, yang kini menunggu sampai ia mengangguk. Di luar jendela, lampu jalan menyala satu per satu.
“Sekarang?” bisiknya.
“Sekarang apa?”
“Kita berdoa. Sekarang.”
Adam tersenyum, matanya melembut. Mereka berdiri, menggelar sajadah di ruang tengah, dan baru menegakkan badan untuk dua rakaat ketika terdengar suara sandal anak kecil di lantai.
Rama berdiri di ambang kamar tamu dengan bantal di pelukan dan rambut mencuat ke segala arah. Matanya setengah terbuka, tapi telinganya jelas bekerja penuh.
“Om,” katanya, serak. “Tante. Tadi aku dengar kata ‘anak’.” Ia mengucek mata. “Dedek bayi gembulnya kapan?”
Adam dan Hana saling pandang. Lalu Adam berjongkok, membuka lengannya, dan Rama berlari masuk ke pelukannya.
“Kita minta sama Allah dulu,” kata Adam di rambut anak itu. “Rama mau ikut berdoa?”
“Mau.” Rama mendongak. “Yang kenceng, ya, Om.”