Tiga bulan lebih sudah lewat sejak malam Rama bertanya soal dedek bayi gembul, dan selama itu jam beker Zafran berpindah tugas dari kamar ke kamar mandi, kios Dapur Ranti menambah tungku keempat, serta Adam berhenti melompat dari ranjang karena sekarang ia bangun sebelum kopinya selesai diseduh.
Kamis malam itu rumah Ibu penuh seperti pada hari akad, hanya lebih tenang. Yasinan malam Jumat sudah selesai, dan Adam yang memimpinnya. Hana duduk di baris perempuan dan mendengarkan suaminya membaca surat itu dari awal sampai akhir, pelan, dengan mad enam harakat yang tidak lagi diburu, qalqalah yang loncat tepat, dengung yang sembunyi di balik hidung. Paman, di kursi rotan, menutup mata sepanjang bacaan. Selesai doa, ia hanya berkata, “Paman tidak akan bilang bagus. Paman akan bilang tidak ada yang perlu dikoreksi,” dan itu pujian terbesar yang pernah Hana dengar keluar dari mulutnya.
“Dulu Papa mencoret bacaanmu pakai pensil,” kata Pak Malik pada anaknya, suaranya tidak sepenuhnya stabil. “Malam ini Papa tidak punya satu coretan pun.”
“Mushaf mahar itu masih kusimpan, Pa,” jawab Adam. “Coretan Papa nggak kuhapus. Tiap kali baca, aku lihat pinggirnya: ‘Pelan.’”
Sekarang semua orang duduk di sekeliling meja makan yang ditambah dua papan, dengan nasi kuning di tengah dan kue sus pandan di piring besar. Pak Malik dan Bu Malik duduk berdampingan di sisi Ibu, yang satu menceritakan sesuatu dengan tangan terbuka, yang lain menyahut dengan alis terangkat, dua perempuan yang sekarang berselisih tentang pandan hanya demi bersenang-senang. Hawa menyuapi Rama yang menolak makan sayur. Mas Ardi dan Paman, entah sejak kapan, bertukar pandangan tentang harga beras. Rika duduk dengan bayinya, yang sudah bisa duduk sendiri di pangkuannya dan sibuk menggigit ujung kerudung ibunya, dan di ujung meja Mira menyeruput teh dengan gerak yang lebih tenang daripada yang pernah Hana lihat.
“Ahad kemarin nadzor,” kata Mira, ketika Rika mendesaknya untuk keempat kalinya. “Beliau menunduk sepanjang waktu. Ditawari teh dua kali, baru mau.”
“Terus?” desak Rika.
“Terus aku tanya, apa yang ia lakukan kalau ia salah.” Mira tersenyum kecil. “Dia mikir lama. Dan jawabannya jujur. Aku belum bilang apa-apa. Tapi aku nggak lari.”
“Itu sudah banyak,” kata Ibu lembut.
Hana meletakkan sendok. Perutnya terasa penuh sejak sore, bukan mual, hanya seperti ada rahasia yang menekan dari dalam dan minta dikeluarkan. Ibu menuangkan teh manis ke gelasnya seperti biasa, dan Hana menggeleng.
“Air putih saja, Bu.”
Ibu berhenti menuang. Biasanya Hana minta teh dua gelas. Dari sebelah, Adam menegakkan punggung, tahu persis apa yang akan terjadi, dan tangannya di bawah meja menemukan tangan Hana.
“Bu,” kata Hana. Suaranya terdengar lebih kecil dari yang ia rencanakan. “Hana punya kabar. Untuk Ibu. Hana mau Ibu yang pertama dengar.”
Seisi meja berhenti. Sendok Bu Malik tertahan di udara. Ibu menaruh teko perlahan, kedua tangannya bertumpu di tepi meja, dan ia menatap Hana lama tanpa berkedip.
“Cucu?” tanyanya.
“Empat belas pekan, Bu.” Hana tersenyum, dan air matanya jatuh lebih dulu daripada kata berikutnya. “Dokter bilang sehat.”
Ibu tidak berteriak. Ia menutup mulut dengan kedua tangan, bahunya naik, dan dari balik telapak itu keluar bunyi yang tidak bisa dibilang tangis atau tawa, melainkan kedua-duanya yang bertabrakan. Bu Malik mendahului: “Ya Allah! Besan! Cucu kita!” dan kursinya jatuh ke belakang saat ia berdiri. Hawa menjerit sambil memeluk Rama. Rika menyeka mata dengan ujung selimut bayinya. Pak Malik berdeham dua kali, menunduk, dan menepuk punggung Paman yang wajahnya sama sekali tidak bisa ditebak.
“Ibu takut,” kata Ibu akhirnya, dengan suara pecah. “Ibu takut Ibu pergi sebelum sempat ... kamu ingat, Han, Ibu takut itu bertahun-tahun.”
“Hana ingat.”
“Sekarang Ibu mau sehat. Sehat sekali.” Ibu bangkit, mengitari meja, dan memeluk Hana dari samping dengan seluruh badannya. “Ibu mau gendong. Ibu mau ajari dia bikin kue sus dengan tangannya sendiri.”
“Bu, nanti dulu, lahirnya masih ...”
“Ibu tahu. Ibu sabar.” Ibu menatap Adam, matanya basah dan berbinar. “Nak Adam. Terima kasih sudah menepati.”
Adam menunduk. “Aku cuma datang lebih awal, Bu.”
Rama, yang sejak tadi duduk di pangkuan Hawa dengan mulut penuh nasi, tiba-tiba menelan, berdiri di atas kursi, dan mengangkat kedua tangan ke udara.
“DEDEK BAYI GEMBUL!”
Seluruh meja pecah tertawa. Bu Malik menyeka air mata dengan serbet, Paman menutup wajah dengan telapak tangan dan bahunya bergetar, dan Adam, yang sudah tak sanggup menahan, menyambar Rama dari kursi, menggendongnya tinggi-tinggi sampai anak itu menjerit riang.
“Rama menang!” seru Adam. “Rama boleh minta apa pun!”
“Es krim!”
“Besok.”
“Sekarang!”
“Nggak ada es krim jam sembilan malam, Ram,” kata Hawa. “Tapi ada kue sus.”
Rama mempertimbangkannya dengan serius. “Yang pandan.”
===
Menjelang pukul sepuluh, ketika piring-piring sudah ditumpuk dan Ibu masih menolak dibantu mencuci, Hana duduk di teras rumah Ibu. Lampu jalan menyorot kuning di pagar yang dirambati melati. Adam keluar membawa dua gelas, satu air putih, satu teh, dan duduk di kursi rotan di sebelahnya. Jaraknya tidak lagi sehasta. Bahu mereka bersentuhan, dan tak ada yang menghitungnya.
“Kamu tahu aku mikirin apa?” kata Hana.
“Kue sus.”
“Bukan.”
“Rama.”
“Bukan, Dam.” Hana tertawa kecil. “Witing tresno jalaran soko kulino.”
Adam menoleh. “Cinta tumbuh karena terbiasa. Itu pepatah Jawa, kan? Kenapa tiba-tiba?”
“Dulu aku sering mengulangnya dalam hati, waktu masih diam-diam mencintai Lutfi. Kupikir artinya cinta datang karena terbiasa melihat orang yang sama tiap hari.” Hana menatap lampu jalan. “Dulu kupikir itu perangkap. Kalau terbiasa dengan orang yang salah, hati bisa tersangkut.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku kira artinya lain.” Ia memutar gelas di tangannya. “Terbiasa dengan hal yang benar. Terbiasa mengaku waktu salah. Terbiasa bangun subuh walau mengantuk. Terbiasa menunggu waktu yang pas. Terbiasa ditunggu.” Ia tersenyum. “Cinta bukan jatuh, Dam. Cinta dirawat sampai ia tumbuh. Seperti kata Rika.”
Adam diam lama. Dari dalam rumah terdengar tawa Bu Malik dan sendok beradu piring. Ia mengambil tangan Hana dan menempelkannya di dadanya sendiri, di tempat jantungnya berdetak tidak teratur.
“Dulu kamu tanya kenapa aku,” katanya pelan. “Aku jawab sembarangan. Sekarang aku bisa jawab yang benar. Karena kamu menunggu aku jadi orang yang layak, dan nggak pernah menyuruhku jadi orang lain.”
“Karena kamu datang,” jawab Hana. “Walau terlambat. Walau berantakan. Kamu datang.”
Di langit di atas pagar, satu bintang muncul di sela awan, kecil dan jauh. Dari kamar tamu, suara Rama yang terlalu keras menanyakan sesuatu tentang dedek bayi lagi, dan jawaban Hawa yang menyuruhnya tidur. Hana bersandar di bahu suaminya. Ia tidak lagi mencari cinta yang datang dari tempat yang jauh. Cinta itu sudah tumbuh di tempat paling dekat, dari kopi pukul empat, dari sajadah hijau pupus, dari pintu yang selalu terbuka dan kemudian ditutup dengan pelan.
Dulu, dalam doa sepertiga malam, ia bertanya takdir macam apa yang menunggu di ujungnya. Ternyata bukan lelaki yang paling lama ia sebut namanya, melainkan lelaki yang datang, mau diajari, dan tidak pernah menyuruhnya menjadi orang lain.
Ia memejamkan mata. Witing tresno jalaran soko kulino, dan ia sudah sangat terbiasa.
TAMAT