Masih berada dilingkungan Taman Flamboyan, Aidan, Davina dan juga Rini. Mereka masih asik dengan bercerita tentang Deska yang sebenarnya, kehidupan Deska begitu menarik bagi siapa saja yang mendengarnya. Pemuda dengan usia muda dan menyelesaikan kuliahnya dengan biaya yang ditanggung sendiri, dan menghidupi kedua anak gelandangan untuk tinggal bersama dan menjadi adik angkatnya. Menarik bukan?
“Bagaimana kalian bisa akrab dengan lelaki muda itu?” desis Rini yang juga tampaknya tertarik dengan cerita itu.
“Kebetulan saja kami satu kampus, hanya saja kami berlainan tingkat. Hanya aku dan Vicky yang sama. Semula Deska adalah ketua senat, tetapi sekarang sudah diganti. Ia sebentar lagi telah selesai seluruh program studinya.”
“Apakah dia orang Bali?” tanya Fany yang agaknya mendengar semua itu dari belakang.
Aidan menoleh dan tersenyum pada gadis itu, kelompok belibis cantik ini memang memiliki personal yang menarik. Masing-masing mempunyai kelebihan. Tak dapat dibedakan mana sebetulnya yang cantik, Davina atau Rini, Fany atau Ayu, dan juga Nadine. Semuanya seperti memancarkan daya tarik tersendiri.
“Bukan dia orang Jawa asli.”
“Nama lengkapnya?”
“Deska Egi Pratama.”
“Nama yang hebat, tampaknya orang tuanya sengaja memberikan nama yang hebat. Agar kelak dia akan menjadi anak yang hebat!”
“Kau tahu artinya?” tanya Aidan pada Rini.
“Hehe aku tidak tahu, tapi menurutku nama itu sangat bagus dan memiliki makna yang dalam.” Ucap Rini.
“Orangnya juga hebat!” desis Kenzie pula.
Davina, Rini, dan Fany menarik nafas panjang. Mereka terus berlari mengitari Taman Flamboyan, tampak mereka sudah mulai berkeringat. Dibelakang mereka kelompok anak muda lainnya juga begitu. Minggu pagi, Taman Flamboyan memang penuh dengan anak muda dan orang tua.
Mereka sampai didepan Deska yang masih menunduk memetik gitar. Aidan yang pertama berhenti. Ia mengajak Rini mendekat, dan yang lain juga begitu. Mereka melangkah kearah Deska yang masih asyik dengan denting gitarnya. Rini dan Davina hampir berbarengan menarik nafas panjang.
“Deska..” panggil Aidan.
Deska tersentak. Ia menatap orang-orang muda didepannya, kemudian tersenyum teduh kepada gadis-gadis itu. Davina bergetar, akan tetapi ia juga terkesiap karena melihat mendung di kedalam telaga mata itu.
“Hei, sudah selesai?” tanya Deska pada mereka.
“Sudah, dua putaran saja!”
“Tak kuat lima?”
“Ya, sebenarnya masih kuat. Tapi ada baiknya kau ku kenalkan pada sahabat-sahabat yang cantik ini. Ayo, bangkitlah Deska!”
Laki-laki muda itu tertawa kecil, ia mengalami satu persatu gadis itu. Dari mulai Ayu, Rini, Fany, dan juga Nadine. Kini ia berhadapan dengan Davina.
“Nama anda Davina, bukan?” tanya Deska pada Davina.
“Eh! Tahu dari mana?” tanya Davina kembali.
Deska tersenyum tipis, “saya sering melihat anda memasuki kampus tehnik sipil.” Kata lelaki muda itu sambil duduk diatas sebuah jok sepeda motor. Senyumnya begitu memikatnya, tapi tetap saja Davina menangkap kegetiran dibalik senyum itu.
“Iya saya memang kuliah di tehnik sipil, dan anda tahu nama saya dari mana?”
“Anda tentu ingat seorang anak penjual koran yang pernah anda beri uang lima ratus ribu rupiah karena menemukan dompet anda, bukan?
“Eh iya, dari mana anda tahu?” tanya Davina penasaran.
“Saya sebenarnya yang menemukan dompet anda, dan anak penjual koran itu adalah adik angkat saya yang saya suruh mengembalikan kepada anda.” Kata Deska. Ia tersenyum kecil, menatap acuh gadis cantik yang terbelalak karena terkejut itu.
“Kalau begitu saya harus berterimakasih dong kepada anda?”
“Tidak perlu, anda telah mengucapkannya pada anak kecil. Dan telah memberikannya uang lima ratus ribu rupiah, terima kasih atas perhatian anda kepadanya. Uang itu datangnya tepat!” ujar Deska lagi.
“Eh?”
“Pada saat itu Bayu dan Aji memang sedang membutuhkan uang untuk bayar sekolah. Kebetulan aku memang sedang tanggung bulan, tak ada sepeserpun uang melekat dikantong saya. Dan anda telah memberikannya, terima kasih. Mereka dua anak kecil itu adalah adik angkat saya.” Ujar Deska terus terang.
“Tapi didalam dompet saya ada lebih dari satu juta rupiah, kenapa anda tidak memakainya saja?”
Deska tersenyum kecil lagi. “Itu milik anda bukan?
“Ya, masih utuh.”
“Nah, saya telah tanamkan pada kedua adik saya untuk tidak punya keinginan memiliki barang yang bukan miliknya. Apakah uang itu berkurang sampai ditangan anda?” tanya Deska.
“Tidak, masih utuh. Bahkan SIM dan STNK mobil saya serta surat penting saya juga masih utuh, anda terlalu jujur!”
“Anda tidak berhati-hati, dompet itu saya temukan di kampus anda. Ketika anda tengah bercanda dengan beberapa anak kampus!”
“Ah, biarlah itu sebagai pelajaran buat saya. Tapi anda telah menunjukkan bahwa di Jakarta ini masih banyak orang-orang jujur. Tapi ada sesuatu yang hilang, namun tak berharga!”
“Apakah itu sebuah foto?”
“Ya!”
Kembali Deska tersenyum getir, ia mengambil dompetnya. Menyerahkan sebuah foto berwarna ukuran enam sembilan dsn menyerahkan kepada Davina.
“Maaf, tatkala saya meneliti seluruh isi dompet itu, tak sengaja foto anda tertinggal dikamar saya. Sudah lama saya ingin mengembalikan kepada anda, sayang kita tidak pernah berjumpa. Baru Minggu kemarin aku lihat anda joging bersama teman-teman berlima ini. Aku pikir tak ada buruknya aku menjumpai anda dan menyerahkan foto itu!”
“Ah, saya masih punya. Buat kamu aja!” kata Davina sambil bersemu merah dadu pipinya. Keangkuhannya selama ini terhadap laki-laki menjadi luluh melihat sinar mata Deska yang lembut dan penuh kejantanan. Laki-laki muda yang simpatik. Desis gadis itu dalam hati.
“Anda tak keberatan?” tanya Deska.
Davina menggelengkan kepalanya, dan tersenyum lembut. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan disekitar tempat itu. Delapan orang muda tampak tersenyum-senyum menatap dua orang itu.
“Asikkk, sebuah pemandangan mata yang indah, bukan?” kata Candra kepada Deska. Deska hanya tersenyum tipis saja. Ia memasukkan kembali foto itu kedalam dompet dan memasukkan pula dalam saku jeans nya.
“Terimakasih!” desah lelaki itu.
“Sama-sama.”
“Oh ya, kurasa saya harus pulang. Ayo Aidan, Candra, Ken.”
“Kok tergesa-gesa?”
“Kehadiran kami hanya mengganggu anda.” Ucap Deska lirih.
“Hei, kami tidak terganggu. Bagaimana kalau kelompok kita bergabung saja?” kata Rini. Ia menatap Deska yang berbalik badan. Laki-laki muda itu menarik nafas panjang dan menatap teman-temannya.
“Bagaimana?” tanya Deska.
“Terserah mas Deska!” ucap Candra, yang paling muda itu.
“Jika kalian ingin bergabung dengan kelompok mereka, bergabunglah! Susun program kegiatan yang baik, tapi maaf aku mungkin tidak bisa aktif bertemu dengan kalian. Banyak perkerjaan yang memang harus saya selesaikan setiap hari. Oke, kita telah membuka pintu, siapapun tentu memperbolehkan kita saling berkunjung, bukan?”
“Tentu saja.” Desis Ayu. Gadis itu sejak tadi menunduk saja. Entah kenapa kalau menatap Deska ia tak mampu. Hatinya bergetar hebat setiap kali membentur sinar mata lelaki itu. Padahal ia tahu, Deska begitu besar perhatiannya kepada Davina.
“Kalau begitu sementara kami tinggal dulu, ya?” kata Deska. Ia melangkah menuju sepeda motor trail nya, dan menghidupkan mesin motor itu. Aidan juga demikian, yang lain mengikutinya.
Sementara lima gadis cantik itu menatap kelima lelaki itu dengan pandangan dan kata hati yang berbeda. Taka ada yang dapat menebak hati masing-masing temannya. Sementara Davina hanya menarik nafas panjang. Matanya menjadi luruh menatap ke asap yang mengepul disana. Ia seperti merasakan ada sesuatu yang terbawa pergi. Entah apa namanya.
⚫⚫⚫