Davina masih menatap kejauhan sana, entah mengapa tiba-tiba hatinya merasakan begitu sepi. Sebuah perasaan yang jarang sekali hadir dalam hatinya. Mengherankan memang, akan tetapi itulah kenyataannya. Lelaki muda yang tampak acuh dan murung itu sedikit banyak mampu mengusik ketenangan perasaannya. Ia sendiri tidak mengerti. Selama ini sebenarnya ia masih enggan mengenal laki-laki, sejak ia kecewa di SMA dulu. Walau dirumahnya banyak lelaki muda, terutama teman Mas Pras, kakaknya. Dengan mereka ia bisa akrab, bisa bercanda. Akan tetapi tak ada satupun yang mampu menyita perhatiannya begitu besar.
"Hei! Ayo pulang Davina!" kata Rini sambil menepuk bahu sahabatnya. Ia tahu Davina tentu terpesona dengan penampilan laki-laki yang agak kumuh itu. Laki-laki yang harus diakuinya begitu simpatik dan ganteng. Ia tak menyalahkan kalau Davina jatuh hati. Davina menarik nafas panjang.
"Laki-laki yang simpatik, bukan?" desis Fany disisi Davina. Gadis itu hanya tersenyum.
"Ganteng, sederhana, tidak sombong tapi luruh!" Kata Nadine memberi komentar. Hanya Ayu yang sejak tadi terdiam. Ia menarik nafas panjang, ia tak menyalahkan teman-temannya jika mengagumi laki-laki muda itu. Ia juga tak menyalahkan Davina, kalau gadis yang selama ini dikenal paling dingin dengan lelaki itu jatuh hati kepada Deska. Ia sendiri merasakan getaran di setiap denyut nadinya setiap kali pandangannya membentur bola mata perkasa itu. Deska lelaki yang patut dikagumi. Desis Ayu dalam hati.
"Kalau gak ingat Davina, bisa-bisa aku jatuh cinta sama Deska!" desis Nadine. Gadis itu tersenyum menggoda. Davina hanya mencubit lengan sahabatnya dengan pelan.
"Kenapa mesti ingat aku?" tanya Davina sambil membelalakkan matanya yang bagus itu. Nadine tertawa kecil.
"Habis diantara kita yang belum punya doi cuma kamu, kan?"
"Hush! Kau pikir Rini punya?" kata Fany.
"Aku sudah punya!" desis Rini.
"Eh, siapa Rin?" tanya Fany.
"Itu masih dirahasiakan dong!"
"Eh, beneran nih?"
"Ya, tapi kalian bakalan akan tahu kok!"
"Bagaimana dengan kau, Ayu?"
"Aku?" desah Ayu sambil tersenyum tipis.
"Iya dong kamu, siapa lagi coba!"
"Aku sudah punya dua." kata Ayu menjawab.
"Siapa Yu?" Mereka semua hampir bersamaan mengatakan pertanyaan itu
"Kalian mau tau? Yakin?" kata Ayu.
"Iya yakin, jangan muter-muter yaa Yu!" desah Fany.
"Hehe iya, gak kok!"
"Siapa dong kalau gitu?" tanya Rini.
"Aku punya Mama dan Papa!" Ayu tersenyum simpul.
"Wah, kalau itu sih semua juga punya Ayu!"
"Hehe, mana mungkin wanita seperti ku bisa dapet doi."
"Jangan putus asa ya ayu, semangat terus!" kata Nadine.
"Tapi bisa-bisa Davina dan Ayu bersaing nih!" kata Nadine sambil menatap Davina dan Ayu secara bergantian.
Tentu saja kata-kata yang spontan yang keluar dari bibir mungil Nadine, mengejutkan Davina dan Ayu. Tanpa sadar keduanya saling bertatapan, tapi Davina dan Ayu adalah dua gadis yang sama-sama matang. Mereka dapat menyembunyikan perasaannya dengan tersenyum. Bahkan si pendiam Ayu sudah dapat tertawa.
"Wah, mana bisa aku bersaing dengan Davina? Tongkrongannya, wajah dan segalanya aku kalah. Tentu tak mudah bukan, aku keluar dari kompetisi?" tanya Ayu.
"Mana aku bersaing denganmu? Kalaupun lelaki yang kita kagumi sama, tentu aku akan lebih senang mengalah untukmu!" kata Davina tak mau kalah. Ia tersenyum dan merangkul Ayu tampak akrab. Namun hanya hati mereka yang tahu apa yang sebenarnya bergolak pada perasaan mereka.
Davina kemudian mengajak teman-temannya melanjutkan berlari, mereka menuju sebuah mobil carry putih. Kemudian mereka bersama-sama pulang, tentu saja yang paling akhir adalah Davina. Ia harus mengantar keempat teman-temannya. Sampai dirumah gadis itu tampak letih, tapi wajahnya tampak bercahaya.
"Hei, tampak gembira anak Mama ini?"
"Coba Ma, tebak. Apa yang buat hati Davina gembira?"
"Wah, mana Mama tahu?"
"Ternyata yang menemukan dompetku dulu adalah seorang laki-laki muda yang gagah dan menarik. Ia hampir selesai kuliah di arsitek!"
"Loh, kamu bilang seorang anak penjual koran?"
"Anak-anak itu disuruh lelaki muda itu untuk mengantarkannya kepadaku. Dua anak itu ternyata menjadi adik angkat laki-laki tersebut, hebat bukan, Ma?"
"Hebat?" tanya Mama Davina.
"Ya, tentu saja! Dia laki-laki muda, gagah dan tampan. Sudah bekerja, hidup mandiri dan mengangkat dua anak gelandangan untuk disekolahkan. Siapa yang mampu dengan tulus seperti itu?"
"Hei! Laki-laki macam apa dia?"
"Laki-laki sentimental, namun simpatik!" tutur Davina.
"Wah, agaknya anak Mama baru jatuh cinta nih?"
"Belum sejauh itu, Ma. Tapi kemungkinan itu tidak tertutup!"
"Tapi kau harus hati-hati, selidiki dengan benar siapa laki-laki itu!"
"Jangan khawatir, banyak temannya yang kukenal dengan baik. Merekalah yang tadi mengenalkan kepada kami di Taman Flamboyan."
"Di Taman Flamboyan?"
"Iya, bukankah kami baru saja selesai joging? Dan laki-laki itu acuh memetik gitar ditaman, sementara teman-temannya mengikuti kami memutari lapangan itu. Wajahnya tampak murung."
"Kenapa?"
"Entahlah, setiap kali ada yang memancing nama orang tuanya. Tampak ia tak begitu suka, kata Aidan temannya itu ia hidup mandiri disebuah apartemen mungil. Bekerja pada sebuah real estate, menyelesaikan studinya atas biaya sendiri. Kini bahkan mengangkat dua anak kecil menjadi adiknya. Mereka disekolahkan, dan di biayainya."
"Menarik sekali, ingin Mama berkenalan dengannya!"
"Benarkah itu, Ma?"
"Tentu saja, tapi kau harus bilang ke Papa dulu. Kau ingat karyawan muda Papa dulu?"
"Iya, kenapa dengan dia?"
"Papa bermaksud menjodohkan mu dengan insinyur muda itu!" kata Mama Davina memberitahu.
"Mama yakin itu?
Perempuan yang masih tampak garis-garis kecantikannya itu menarik nafas panjang. Ia mengusap rambut anaknya.
"Papa pernah membicarakan mu, ia menginginkan kau mengenalnya dengan baik. Ia mengagumi laki-laki muda itu. Dinamis, baik dan suka bekerja keras. Sudah sarjana pula!" desis Mama Davina.
"Mama menyetujui itu?"
Kembali perempuan itu menarik nafas panjang. "Belum, tentu saja semua tergantung kamu. Tapi Mama juga tidak melihat hal buruk pada lelaki itu. Ia sopan, ramah, tidak sombong dan pandai membawa diri. Kurasa kau pun tak akan kecewa mendapatkannya!" kata perempuan itu. Ia tersenyum lembut kepada Davina Veronica, anaknya.
Gadis itu menarik nafas getir. Apa yang ia takutkan selama ini menjadi kenyataan. Memang tampaknya kedua orang tuanya sengaja memberikan waktu kepada laki-laki muda itu. Baron memang ramah, tampan dan menarik. Tapi itu bukan berarti ia menyukai lelaki itu. Ia hanya merasa senang mengenalnya. Tidak ada getaran di dadanya sama sekali, Baron baik. Itu saja yang ia rasakan, tak ada kelebihan lainnya.
⚫⚫⚫
Sementara kehidupan Deska Egi Pratama seakan menawarkan sesuatu kepadanya. Ia tidak mengerti dalam bentuk apa sesuatu itu. Tapi rasanya memang sikap dan penampilan laki-laki muda yang acuh dan murung itu menarik perhatiannya. Bahkan ia merasakan sepi yang menggigit tatkala laki-laki itu melangkah menuju motornya, dan pergi meninggalkannya.
"Bagaimana kalau aku tak mencintai Mas Baron, Ma?" tanya Davina kepada ibunya.
Perempuan itu tersenyum mengerti.
"Bagi mama yang penting kebahagian mu, siapa pun laki-laki yang kau pilih tentu yang terbaik untuk mu?"
"Aku belum memilih siapa pun, juga dengan Deska."
"Siapa Deska itu?"
"Laki-laki yang ku kagumi , masih sebatas rasa itu. Mungkin saja suatu kali nanti aku cinta sama Mas Baron. Tapi mungkin juga tidak, jalan masih panjang. Hidup masih membutuhkan pemahaman, Ma. Apakah Mama sependapat?"
"Hei, tentu saja Mama sependapat. Davina, tampaknya kau lebih cocok di filsafat ketimbang di tehnik!"
"Davina menyukai tehnik, Ma. Aku menyukai pemikiran dan rasio. Cabang-cabang yang menyita perasaan aku kurang suka. Walaupun begitu bukan berarti aku anti seni, atau filsafat. Keduanya bukankah menunjang tehnik? Tanpa seni dan filsafat tehnik tak bisa berdiri tegar. Demikian juga seni, ia akan makin mendapat penghargaan jika berjalan bersama tehnik dengan baik!"
"Kau nampaknya menyukai hukum keseimbangan?"
"Iya dong, aku betah dirumah. Karena selama ini aku melihat kedamaian ada disini. Juga keseimbangan antar kasih sayang dan materi. Pengertian dan kemauan, sikap dan kenyataan. Jadi aku menghargainya!"
"Kau makin dewasa Davina!" ucap ibu Davina.
Gadis itu tersenyum. Ia menuju keruang fitness keluarga, sejenak bermain-main dengan alat-alat olahraga mahal itu. Sengaja Papa dan Mama nya membelikan semua itu, untuk kepentingan keluarga. Dan yang paling banyak menggunakan tentu saja Davina dan Andi.
⚪⚪⚪
Sementara itu dirumah, Ayu langsung membantu mamanya memasak sarapan pagi. Gadis lembut itu memang mempunyai kesenangan membantu mamanya didapur. Kasihan mama, ia terlalu repot mengurus rumah tangga.
"Mama tidak berniat untuk mengambil pembantu lagi?" tanya Ayu disela-sela kesibukannya.
"Apakah begitu perlu?"
"Kalau memang mama terlalu repot."
Perempuan itu tersenyum teduh.
"Mama rasa tidak usah, bukankah masih ada kau, Bagas, dan Indira?"
"Sebentar lagi Mbak Indira tentu akan menikah kalau sudah punya pilihan. Mas Bagas juga begitu, tentu mama membutuhkan pembantu dong!"
"Atau engkau yang mulai enggan membantu mama?"
"Bukan begitu ma, Ayu senang melakukan apa saja demi Mama. Asal itu menyenangkan hati Ayu, dan dirumah ini apa yang tidak menyenangkan? Mas Bagas juga tampak betah di rumah, mama dan papa baik. Hanya saja aku sering kasihan melihat mama repot, sementara tenaga Ayu juga cuma satu tak bisa berlipat ganda."
Perempuan itu tertawa kecil. Ia merangkul bahu anaknya dengan akrab.
"Bagi mama, melihat kalian sehat itu sudah satu kebahagiaan tersendiri. Jangan berpikir yang tidak-tidak, Ayu. Ini kewajiban seorang perempuan. Kau pun jika kelak bekerja, jangan lupakan pekerjaan yang satu ini. Suamimu akan bahagia menikmati masakan mu!" ucap ibunya.
"Ah, Mama. Sudah pasti aku melakukan yang terbaik untuk suamiku, aku hanya berfikir dengan mengambil pembantu berarti Mama telah membantu mengurangi pengangguran kan?"
Ibu Ayu mendengar anaknya berbicara seperti itu tersenyum.
"Ayu, Ayu! Apalah artinya kita dibanding dengan Indonesia yang luas ini. Toh jika kita mengambil sepuluh pembantu, tetap saja pengangguran itu ada dan Beratus ribu jumlahnya. Bukankah dengan mengambil pembantu justru kita yang menganggur? Ayu, Ayu! Kita ini apa? Mama tidak bekerja, Papa mu hanya seorang pegawai negeri. Berapakah gaji Papa mu? Bisa menyekolahkan kalian sampai perguruan tinggi saja sudah bagus, jangan terlalu jauh. Sebab, sementara kita memang tidak membutuhkan pembantu itu. Kecuali kalau Mama nanti benar-benar tidak berdaya!" ujar Mamanya terus terang.
"Ih jangan gitu dong!"
⚪⚪⚪