Tidak sampai disitu, obrolan anak dan ibu masih berlanjut.
"Nah, kita semua ini sebetulnya bisa menjadi pembantu yang baik dirumah kita sendiri. Papa juga senang dirumah, senang mencari kesibukan rumah. Indira kakakmu senang membuat kue-kue. Juga Bagas, bukankah Mas mu itu yang membereskan keadaan halaman sekitar yang kotor? Apa masih perlu kita mencari pembantu?"
"Ya sudah, Ayu cuma menyayangi Mama. Tentu saja Ayu tak ingin Mama sakit."
"Kau memang anak yang baik, Ayu." ucap Mamanya terharu.
"Ma, sebenarnya Ayu sudah boleh pacaran atau belum?"
Perempuan itu menatap anaknya dalam-dalam, dan gadis itu tersenyum malu. Ia menunduk, menatapi dinginnya lantai dapur.
"Berapa umurmu sekarang Ayu?" tanya Mamanya.
"Dua puluh dua, Ma."
"Sudah boleh, asal masih memegang batas-batasnya. Nampaknya kau lagi jatuh cinta?"
"Aku tidak tahu, Ma. Apakah ini jatuh cinta atau bukan, tapi setiap kali mata ini membentur pandang dengan lelaki muda itu. Hati ini berdesir, apakah ini cinta?"
Perempuan itu menarik nafas panjang, Ayu memang sudah dewasa. Tapi ia memang belum pernah melihat anaknya pacaran dengan lelaki muda manapun. Kini nampaknya hati anaknya memang sedang tergoncang, dan ia memaklumi. Tentu anaknya mulai jatuh cinta pada seorang lelaki muda, sebagai orang tua tentu ia harus mengarahkan. Maklum Ayu sama sekali belum berpengalaman dengan lelaki.
"Kalau Mama boleh tau, siapa nama lelaki itu?" tanya Mamanya.
"Apa itu harus ku jawab?"
"Kau minta pendapat Mama, bukan? Apa buruk jika Mama menanyakan namanya?"
"Ehm, namanya Deska, Ma."
"Deska?"
"Iya, namanya Deska Egi Pratama."
"Nama yang baik, lelaki yang penuh simpatik nampaknya." ujar Dewi Mamanya Ayu. Ibu Ayu yang bernama Dewi Pertiwi itu sangat menyayangi anaknya.
" Begitulah, Ma."
"Apa kau sudah lama mengenal pria itu?"
"Baru tadi pagi."
"Apa saat kau sedang joging dengan temanmu?" tanya Dewi antusias, sedangkan yang ditanya hanya menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kalian bisa mengenal? Apa dia mengikuti mu berlari?"
"Tidak, Ma. Dia tidak ikut berlari seperti teman-temannya."
"Dimana dia, dan apa yang membuat kalian bisa saling mengenal?" tanya perempuan itu sambil mematikan kompor gas. Mereka memang sudah selesai memasak.
"Satu Minggu yang lalu ia bersama teman-temannya. Ia berlari. Namun tidak menyapa kami, meski sering mendahului kami. Cuma teman-temannya yang genit, dan tadi pagi ia melihat kami tapi tidak ikut lari. Ia malah asik bermain gitar, menyendiri. Aidan temannya dan juga teman Rini cerita kalau laki-laki muda itu kuliah di arsitektur tingkat terakhir. Malah sudah bekerja disebuah perusahaan real estate entah dimana. Hidup sendiri dan membiayai sekolah sendiri. Punya adik angkat yang diasuhnya sendiri, ketika kami semua berkenalan dengannya. Ia hanya menyebutkan namanya, tak banyak bicara. Sorot matanya murung, tapi setiap kali menatap matanya aku bergetar. Ia pun tak pernah memandangku lama-lama."
"Mungkin benar, kau mulai tertarik kepada laki-laki muda itu."
"Aku ragu memulai pembicaraan dengannya."
"Apa dia sama tidak mau memulai pembicaraan?"
"Ya, kami hanya berjabat tangan saja, saling menyebutkan nama masing-masing itu saja. Kemudian ia mengajak teman-temannya pergi, tampaknya ia memang berpengaruh di kelompoknya."
"Kau benar-benar jatuh cinta padanya?"
"Apa aku salah?"
"Tidak, itu wajar saja dalam usiamu. Tapi kau perlu selidiki lebih jauh lagi, siapa laki-laki itu bertanggungjawab atau tidak."
"Ia mengambil dua gelandangan yang dan membiayai sekolahnya, Ma. Dua anak yatim-piatu yang menjual koran dan menyemir sepatu. Ia juga yang menemukan dompet Davina , kemudian melalui dua anak kecil itu untuk mengembalikannya." ujar Ayu.
"Lelaki yang baik, tapi kau perlu tahu banyak tentang dia, Ayu. Ajak saja main kerumah ini suatu kali nanti."
"Mama gak keberatan?"
"Loh, asal dia lelaki yang baik buat kamu. Tentu saja Mama tidak keberatan, sudah mari kita sarapan. Panggil Papa, Mbak Indira dan Mas Bagas, kita sarapan sama-sama."
Ayu menarik nafas panjang, ia kemudian menuju taman belakang. Ia tadi melihat Mbak Indira ada disana, juga Mas Bagas yang sedang membetulkan selokan bersama Papa.
Gadis itu melangkah ke taman samping, dan ia melihat kakaknya berada disana.
"Mbak Indira." panggilnya.
"Ya, Ayu? Ada apa sayang?"
"Sarapannya sudah siap Mbak, Mama nunggu."
"Oke, aku selesaikan ini dulu ya."
"Mas Bagas sama Papa mana, mbak?"
"Ada, mereka ada disebelah sana." ucap Indira.
Indira, gadis yang cantik namun lembut itu menunjuk ke suatu parit dimana Bagas dan ayahnya sedang membersihkan got tersebut.
"Pa, Mas."
"Hei, ada apa nona manis?" sapa Bagas kepada adiknya.
"Mas, sama Papa disuruh mandi dulu habis itu kita sarapan."
"Oke baik, tuan putri."
Dua orang lelaki berbeda usia itu membersihkan alat-alat tersebut, itulah sebagian kegiatan dihari minggu bagi mereka dan Bagas merengkuh bahu Ayu.
"Bagaimana acara mu tadi pagi?" tanya Bagas pada Ayu.
"Aku boleh nanya enggak, Mas?"
"Boleh, kamu mau nanya apa?"
"Mas Bagas kenal sama Deska enggak?"
Bagas menatap adiknya dalam-dalam.
"Dia temanku, kenapa?"
"Aku tahu Mas Bagas di arsitektur, makanya aku bertanya tentang Deska Egi Pratama. Mas kenal dekat dengannya kan?"
"Iya, ia hampir selesai, kenapa?" tanya Bagas merasa penasaran terhadap adiknya satu ini.
"Tadi pagi aku berkenalan dengannya, tapi aku enggak cerita kalau Mas Bagas juga kuliah di arsitektur. Aku juga enggak cerita tentang Mas Bagas padanya, kebetulan saja kami kenalan hanya sebentar kok." jelas Ayu terus terang.
"Terus, apa kau jatuh cinta padanya?"
"Ih, bagaimana Mas Bagas bisa menebak sejauh itu?"
"Gampang kok, ia ganteng, simpatik dan pendiam. Aku enggak yakin kalau dia banyak berbicara didepan mu, ia terlalu pendiam. Nah, jika kau tanyakan tentang dia padaku, aku yakin kau mengagumi laki-laki itu, bukan?"
" Bagaimana aku mengagumi dia, kalau pribadinya saja tidak tahu. Kebetulan saja aku tahu namanya, karena dia hanya menyebutkan itu. Terus justru dari temannya kutahu dia kuliah di arsitektur. Suatu kebetulan, bukan?"
"Dia lelaki yang baik, aku kenal benar dirinya."
"Syukurlah, jadi tak salah dong kalau aku menyukai dirinya."
"Nah, keceplosan kan!" ejek Bagas.
"Belum separah itu."
"Tapi hati-hati dengannya, dia sangat sensitif sekali. Pemurung dan lebih senang menyendiri, bukan kawan berbincang yang baik. Tapi mempunyai jiwa yang halus, jangan tanyakan tentang orang tuanya ia akan tersinggung."
"Kenapa?"
"Tak ada seorang pun yang tahu, sebab ia selalu menutup diri jika pembicaraan sudah menyinggung tentang orang tuanya. Mungkin ada semacam lembaran pahit yang tak mudah di lupakan nya." kata Bagas.
"Jadi selama ini tak seorang sahabatnya yang tahu, siapa kedua orang tuanya?" tanya Ayu semakin tertarik.
"Iya."
"Tampaknya lelaki yang pendendam." desis Ayu.
"Ia laki-laki yang lembut, pada siapapun. Lelaki yang ramah kepada yang ia sukai, hanya satu yang membuta tiba-tiba ia akan berubah kalau saja pembicaraan dengannya mengarah kepada orang tuanya. Aku sering menjumpai dia murung setelah itu, Deska tampaknya lebih suka tak mengenal seorang gadis. Jika perempuan itu selalu menanyakan tentang kedua orang tuanya, ia lelaki sentimental."
"Apakah aku bisa menjadi sahabatnya?"
"Bagaimana dengan perkenalan mu tadi pagi?"
"Tidak ada pembicaraan apa-apa, kecuali hanya menyebutkan nama masing-masing. Aku tiba-tiba tidak bisa bicara, berhadapan dengannya. Apa Mas Bagas bisa mengajaknya bermain ke sini?"
"Hei! Apa kau benar-benar jatuh hati?"
Ayu menarik nafas panjang, ia sudah biasa terbuka dengan seluruh isi rumah ini. Ia sudah terbiasa minta pendapat mereka kalau ada hal yang perlu di pertimbangkan. Juga tentang Deska, ia tak ingin menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
"Aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat."
"Kau serius?"
"Tentu saja aku serius."
Bagas mengerti maksud adiknya, Deska memang ganteng dan lembut. Ia memiliki sepasang mata yang melelapkan, ia baik. Lelaki yang bertanggungjawab, ia pantas berdekatan dengan adiknya. Toh Ayu belum punya pacar.
"Baiklah!"
Ayu tersenyum, ia mengungkapkan terima kasih pada kakaknya. Hatinya berbunga-bunga, jalan memang masih panjang. Tapi kini tampak membentang lebar, diam-diam kerinduan itu hadir di hatinya, entah kenapa.
****