Paviliun barat berdebu dan dingin, tetapi Ratna menolak pelayan yang ditawarkan Patih Suryaning. Ia hanya menerima Nyai Tirta, yang ikut serta dalam perjalanan, dan dua dayang tua yang dulu mengabdi pada ibunya—keduanya ia panggil sendiri dari barak abdi, karena ia tahu kesetiaan lama lebih dapat dipercaya daripada kesetiaan yang dibeli.
Malam turun perlahan. Lampu minyak berkedip di sudut ruangan ketika Resi Patala datang, sendirian, tanpa pengiring.
"Tutup pintunya," kata Ratna pada Nyai Tirta. "Dan jaga jangan sampai ada yang mendekat."
Ketika mereka berdua sendirian, Ratna tidak basa-basi. "Ayahku menyebut namaku sebelum mangkat. Hanya namaku. Kenapa? Aku putri dari selir yang sudah lama mati. Aku disingkirkan sebelum aku cukup besar untuk mengingat alasannya. Kenapa beliau memilihku?"
Resi Patala duduk perlahan di atas tikar, lipatan jubahnya gemerisik. Cahaya lampu memahat garis-garis tua di wajahnya. "Karena Gusti satu-satunya yang beliau percaya tidak akan haus darah."
"Itu bukan jawaban."
"Itu jawaban yang paling jujur yang bisa hamba berikan." Resi itu menatapnya. "Gusti Putri, izinkan hamba bertanya. Tahukah Gusti kenapa Gusti disingkirkan ke desa sepuluh tahun lalu?"
Ratna terdiam. Pertanyaan itu telah menghantuinya seumur hidup. "Karena ibuku jatuh dari kepercayaan. Karena ia hanya selir."
"Bukan." Suara Resi Patala menurun. "Ibunda Gusti, Dyah Pramesti, bukan sekadar selir. Beliau perempuan paling cerdas yang pernah menginjak keraton ini. Beliau membaca peta kekuasaan lebih baik daripada semua patih. Dan karena itulah... beliau dianggap ancaman. Bukan oleh Sang Prabu—Sang Prabu mencintainya. Tetapi oleh mereka yang takut seorang perempuan dari keluarga rendah bisa membisiki raja."
Jantung Ratna berdegup. "Mereka membunuhnya."
"Mereka meracuninya." Resi Patala mengangguk pelan. "Dan Sang Prabu, untuk menyelamatkan Gusti—satu-satunya anak Dyah Pramesti—menyingkirkan Gusti ke desa. Disembunyikan. Dianggap mati. Itu satu-satunya cara membuat Gusti tetap hidup."
Ratna merasakan sesuatu yang panas naik ke matanya, tetapi ia menahannya. Air mata adalah kemewahan yang tidak ia mampu di tempat ini. "Lalu kenapa sekarang? Kenapa beliau memanggilku kembali ke sarang yang sama yang membunuh ibuku?"
"Karena beliau sekarat, dan beliau tahu bahwa setelah beliau tiada, yang tersisa hanyalah serigala." Resi Patala mencondongkan tubuh. "Adipati Krendrawira menginginkan takhta dengan pedang. Patih Suryaning menginginkannya dengan tipu daya. Keduanya akan menumpahkan darah seluruh Wilwa demi kursi itu. Sang Prabu memilih Gusti bukan karena Gusti yang terkuat, tetapi karena Gusti satu-satunya yang mungkin memimpin tanpa membakar segalanya."
Ratna terdiam lama. Lampu minyak berkedip. "Aku tidak punya pasukan. Tidak punya sekutu. Tidak punya harta. Aku gadis desa dengan sebilah keris dan sebuah nama. Bagaimana mungkin aku menang melawan dua singa?"
Resi Patala tersenyum tipis—senyum yang penuh kelelahan dan kelicikan tua. "Gusti salah, Gusti Putri. Gusti memiliki sesuatu yang tidak dimiliki keduanya."
"Apa?"
"Hukum." Resi itu mengeluarkan sebuah gulungan lontar dari balik jubahnya. "Menurut Kitab Pranata Praja, hukum tertua kerajaan ini, seorang raja baru harus diangkat dalam dewan agung yang terdiri dari para sesepuh, brahmana, dan adipati. Tanpa kesepakatan dewan, tidak ada raja yang sah—hanya perampas. Patih Suryaning memegang segel, tetapi segel bukan mahkota. Adipati Krendrawira punya pedang, tetapi pedang yang merampas takhta akan dilawan oleh setiap adipati lain yang takut giliran mereka berikutnya."
Mata Ratna menyipit, memahami. "Jadi siapa pun yang ingin jadi raja, harus memenangkan dewan terlebih dahulu."
"Tepat. Dan dewan agung akan berkumpul dalam empat puluh hari, saat masa berkabung berakhir." Resi Patala menyerahkan lontar itu. "Empat puluh hari, Gusti. Untuk mengubah seorang putri terbuang menjadi calon ratu yang tak bisa diabaikan dewan. Itu mustahil."
Ratna mengambil lontar itu. Jari-jarinya yang biasa menumbuk padi kini menelusuri aksara kuno di permukaannya. Untuk pertama kalinya, ia tersenyum—bukan senyum manis yang ia berikan pada Patih Suryaning, tetapi sesuatu yang lebih tajam.
"Mustahil," ulang Ratna. "Ibuku juga mustahil, kata mereka. Seorang gadis dari keluarga rendah yang nyaris menjadi permaisuri." Ia menggulung kembali lontar itu dan menggenggamnya erat. "Aku akan menyelesaikan apa yang mereka mulai padanya, Resi. Empat puluh hari. Aku terima."
Di luar, angin malam menderu melewati tembok keraton. Dan di suatu tempat di kegelapan, seseorang yang menguping di balik dinding bergegas pergi membawa kabar.