Pagi pertama Ratna di keraton dimulai dengan racun.
Bukan dalam makanannya—ia terlalu berhati-hati untuk itu, dan Nyai Tirta mencicipi setiap suapan lebih dulu, sebuah kebiasaan menyakitkan yang Ratna benci tetapi tidak berani hentikan. Racun pagi itu datang dalam bentuk undangan.
"Patih Suryaning mengundang Gusti sarapan di pendopo timur," lapor seorang abdi muda. "Bersama para bangsawan terhormat."
Nyai Tirta mengerutkan kening. "Jangan pergi, Nduk. Itu jebakan."
"Tentu saja jebakan." Ratna sedang menyisir rambutnya yang panjang dan hitam. "Tapi kalau aku tidak datang, aku tampak takut. Dan ketakutan adalah darah di air bagi hiu." Ia bangkit. "Bantu aku berpakaian. Yang sederhana, Nyai. Jangan sutra. Aku ingin mereka melihat gadis desa."
"Tapi kau seorang putri—"
"Justru itu." Ratna tersenyum. "Kalau aku datang berbalut sutra dan emas, mereka akan menertawakanku—gadis desa yang berlagak bangsawan. Tapi kalau aku datang sederhana, dengan kepala tegak, mereka akan bingung. Dan orang yang bingung membuat kesalahan."
Pendopo timur dipenuhi keharuman. Hidangan tersaji di atas tikar—nasi kuning, daging rusa, buah-buahan, kue dari beras ketan. Para bangsawan duduk melingkar, mengenakan pakaian terbaik mereka, dan ketika Ratna masuk dengan kain katun sederhananya, ia melihat tepat apa yang ia harapkan: kebingungan, lalu remehan, lalu—pada beberapa yang lebih cerdas—kewaspadaan.
"Gusti Putri." Patih Suryaning bangkit dengan senyum madunya. "Silakan duduk di tempat kehormatan."
Ratna duduk. Seorang dayang menuangkan wedang ke cangkirnya. Ratna tidak menyentuhnya.
"Kami mendengar Gusti hidup di desa selama ini," kata seorang bangsawan gemuk, Adipati kecil dari wilayah selatan. "Pasti berat. Tanpa pelayan, tanpa kemewahan. Bagaimana Gusti bertahan?"
"Dengan bekerja," jawab Ratna sederhana. "Aku menumbuk padi. Mengajar anak-anak membaca. Membantu juru tulis kademangan menghitung pajak."
Beberapa bangsawan saling pandang, menahan tawa. "Menghitung pajak," ulang seseorang dengan nada geli. "Sungguh keahlian yang... agung untuk seorang putri."
"Lebih agung daripada yang kalian kira." Ratna meletakkan tangannya di pangkuan. "Tahukah kalian bahwa kademangan Walangan menyetor pajak lebih tinggi tahun lalu, padahal panen lebih rendah? Aku menemukan kenapa. Seorang pemungut pajak menggelapkan selisihnya, lalu membebankan kekurangan itu pada rakyat dengan memalsukan angka panen." Ia menatap berkeliling, suaranya tetap ringan. "Aku tahu cara membaca angka yang berbohong. Itu keahlian yang berguna, kurasa, di tempat seperti istana."
Hening menyergap pendopo. Senyum-senyum geli memudar. Patih Suryaning, yang mengelola perbendaharaan kerajaan, menatap Ratna dengan tatapan baru—tatapan yang sedikit lebih dingin.
"Gusti rupanya cermat," kata Patih. "Tetapi mengelola sebuah desa sangat berbeda dengan mengelola kerajaan. Wilwa luas. Rumit. Penuh bahaya yang tidak terlihat oleh mata yang belum terlatih." Ia mengangkat cangkirnya. "Maka, demi kebaikan Gusti sendiri, mungkin lebih bijak bila Gusti membiarkan urusan negara pada mereka yang telah lama mengabdi. Gusti cukup beristirahat, menikmati hak kebangsawanan Gusti. Hidup tenang, jauh dari beban berat."
Ah, pikir Ratna. Inilah madunya. Tawaran untuk menjadi putri hiasan—diberi kemewahan, asal diam dan tidak mengganggu.
"Tawaran yang baik hati, Patih," kata Ratna manis. "Tapi aku penasaran. Bila urusan negara sudah ada yang mengurus, kenapa Wilwa hampir berperang dengan dirinya sendiri? Kenapa Adipati Krendrawira mengumpulkan pasukan di barat? Apakah 'mereka yang telah lama mengabdi' sedang gagal mengurus, atau justru sedang berebut?"
Cangkir di tangan Patih Suryaning berhenti di udara.
Seorang bangsawan tua di sudut—yang sejak tadi diam—tiba-tiba terkekeh pelan. "Anak ini," gumamnya pada dirinya sendiri, "punya lidah ibunya."
Ratna menoleh ke arah suara itu. Lelaki tua itu, berjenggot putih dan bermata jeli, menatapnya dengan sesuatu yang nyaris seperti rasa hormat.
"Maaf, Gusti," lelaki tua itu membungkuk. "Hamba Ki Demang Anggralocana, sesepuh dewan agung. Hamba mengenal ibunda Gusti. Beliau juga selalu bertanya pertanyaan yang membuat ruangan menjadi sunyi."
Ratna menyimpan nama itu baik-baik. Sesepuh dewan agung. Salah satu suara yang kelak akan menentukan raja.
Sarapan itu berakhir dengan basa-basi dingin. Tetapi saat Ratna berjalan kembali ke paviliunnya, ia tahu ia telah memenangkan sesuatu hari ini. Bukan dewan. Bukan takhta. Tetapi perhatian. Mereka tidak lagi melihatnya sebagai gadis desa yang bisa diabaikan.
Sayangnya, perhatian di sarang ular punya harga. Dan harga itu akan ditagih lebih cepat dari yang ia kira.