Malam itu, seseorang mencoba membunuh Ratna.
Ia terbangun bukan oleh suara, tetapi oleh ketiadaan suara. Jangkrik yang biasa bernyanyi di taman paviliun barat tiba-tiba diam. Ratna, yang tidur dengan kerisnya di bawah bantal—kebiasaan yang ia bawa dari desa tempat ular kadang masuk gubuk—membuka mata dalam gelap.
Sebuah bayangan bergerak di ambang pintu.
Ratna tidak berteriak. Teriakan akan membuat penyusup itu panik dan menyerang cepat. Sebaliknya, ia mengatur napasnya, berpura-pura masih tidur, dan menggenggam keris Naga Sasra erat-erat di balik selimut.
Bayangan itu mendekat. Selangkah. Dua langkah. Ratna mendengar gemerisik pelan—kain yang bergesek, dan sesuatu yang lebih halus. Sehelai kain panjang, mungkin, untuk mencekik. Pembunuh yang baik tidak menggunakan pisau jika bisa membuat kematian tampak seperti tidur.
Ketika bayangan itu cukup dekat, Ratna bergerak.
Ia berguling ke samping, menghindari tangan yang menjulur, dan mengayunkan keris ke arah suara. Bilahnya menyobek sesuatu—kain, lalu daging. Sebuah erangan tertahan. Penyusup itu mundur, tetapi Ratna sudah melompat dari ranjang, punggungnya ke dinding, keris terangkat.
"Nyai!" teriaknya. "Lampu!"
Dari ruang sebelah, terdengar gerakan panik. Penyusup itu—sosok berpakaian gelap dengan wajah terbungkus kain—menimbang sejenak antara menyelesaikan tugas atau melarikan diri. Ratna melihat keraguan itu, dan ia tahu ia harus memanfaatkannya.
"Pengawal!" ia berteriak sekuat tenaga. "Pembunuh! PEMBUNUH!"
Suara itu memecah malam. Di kejauhan terdengar derap kaki. Penyusup itu mengambil keputusan: ia berbalik dan melompat ke jendela. Tetapi tepat saat ia hendak lolos, pintu paviliun terhempas terbuka, dan sesosok lelaki masuk dengan pedang terhunus.
Ratna mengenalinya—perwira muda dari pelataran kemarin. Yang mengamatinya seperti pemburu.
Kedua lelaki itu bentrok di dekat jendela. Pedang beradu dengan belati pendek. Dalam cahaya redup yang akhirnya dibawa Nyai Tirta dengan tangan gemetar, Ratna melihat pertarungan yang singkat dan brutal. Perwira itu cepat, tetapi penyusup lebih licin. Setelah beberapa tebasan, sang penyusup melemparkan sesuatu ke lantai—asap putih membumbung—dan ketika asap menipis, ia telah lenyap melalui jendela ke dalam kegelapan taman.
Perwira muda itu hendak mengejar, tetapi Ratna berkata, "Jangan. Taman itu gelap. Kau akan terjebak."
Ia berhenti, lalu menoleh padanya. Napasnya memburu, ada goresan di lengannya. "Gusti tidak apa-apa?"
"Aku hidup." Ratna menurunkan kerisnya, tetapi tidak melepaskannya. "Siapa kau?"
"Bayangkara Arga," jawabnya, menyarungkan pedang. "Perwira pengawal istana. Hamba kebetulan berpatroli di dekat sini."
"Kebetulan." Ratna menatapnya tajam. Cahaya lampu menampakkan wajah yang keras tetapi muda, dengan mata yang tidak mengelak dari tatapannya. "Perwira pengawal kebetulan berpatroli di sayap paling terpencil keraton, tepat saat seorang pembunuh datang. Kau mengikutiku."
Arga diam sejenak. Lalu, alih-alih membantah, ia mengangguk. "Ya, Gusti. Hamba mengikuti Gusti."
Kejujuran itu mengejutkan Ratna. "Atas perintah siapa?"
"Tidak ada yang memerintah hamba." Arga menatap goresan di lengannya, lalu menatap Ratna kembali. "Hamba mengikuti Gusti karena hamba ingin tahu apakah Gusti seperti yang dikatakan orang—gadis desa yang akan mati dalam tiga hari di tempat ini. Ternyata Gusti melukai pembunuh bayaran sebelum hamba sempat masuk." Ada sesuatu yang nyaris menyerupai kekaguman di suaranya. "Gusti tidak akan mati dalam tiga hari, sepertinya."
Ratna menatapnya lama. Di tempat ini, di mana setiap senyum menyembunyikan pisau, kejujuran terang-terangan seperti ini adalah hal langka—dan karena itu, mencurigakan. Tetapi instingnya, insting yang menjaganya tetap hidup sepuluh tahun di desa dan baru saja malam ini, mengatakan sesuatu yang berbeda tentang lelaki ini.
"Goresanmu perlu dirawat," kata Ratna akhirnya. "Nyai, ambilkan ramuan daun yang kubawa dari Walangan."
Arga tampak terkejut. "Gusti tidak perlu—"
"Kau berdarah karena melindungiku, baik atas perintah maupun bukan. Aku membayar utangku." Ratna menatapnya. "Dan kalau kau benar-benar tidak punya tuan, Bayangkara Arga, maka mungkin aku punya tawaran untukmu nanti. Tapi malam ini, duduk dan biarkan luka itu dirawat."
Saat Nyai Tirta membalut lengan Arga, Ratna berlutut di samping jendela. Di lantai, di antara serpihan asap putih yang tertinggal, ia menemukan sesuatu—sehelai benang dari pakaian penyusup. Benang berwarna nila tua.
Warna abdi dalem istana.
Ratna menggenggam benang itu, dan rahangnya mengeras. Pembunuh itu bukan orang luar. Ia datang dari dalam tembok ini. Dan itu berarti seseorang—seseorang dengan kuasa atas para abdi—sudah memutuskan bahwa Ratna lebih baik mati daripada hidup.
Pertanyaannya bukan lagi apakah mereka akan mencoba lagi.
Tetapi siapa, dan kapan.