"Patih Suryaning yang mengirim pembunuh itu," kata Nyai Tirta keesokan paginya, sambil menumbuk ramuan untuk luka Arga yang menginap di serambi paviliun. "Pasti dia. Benang nila itu—"
"Mungkin." Ratna duduk bersila di lantai, gulungan lontar Kitab Pranata Praja terbuka di hadapannya. "Atau justru bukan dia."
Arga, yang lengannya kini terbalut rapi, mengernyit. "Bagaimana mungkin bukan? Benang itu warna abdi dalem. Patih menguasai seluruh abdi dalem keraton."
"Justru karena itu." Ratna mengangkat wajahnya. "Kalau aku Patih Suryaning, dan aku ingin membunuh seseorang, apakah aku akan mengirim pembunuh berpakaian warna yang langsung menunjuk padaku? Patih bukan orang bodoh. Benang itu terlalu mudah ditemukan. Terlalu rapi sebagai bukti." Ia menggeleng. "Ada dua kemungkinan. Pertama, pembunuh itu memang dikirim Patih, dan Patih ceroboh—yang kuragukan. Kedua, seseorang ingin aku menyalahkan Patih. Seseorang yang diuntungkan bila aku dan Patih saling baku hantam sementara dia menonton."
Arga terdiam, mencerna. "Adipati Krendrawira."
"Atau orang lain yang belum kita kenal." Ratna menggulung lontar. "Itulah masalah tempat ini. Setiap kebenaran punya tiga bayangan. Aku belum bisa percaya pada apa pun—termasuk pada bukti yang terlalu mudah ditemukan."
Ia bangkit dan berjalan ke jendela. Taman paviliun barat terbengkalai, penuh ilalang dan patung-patung tua yang retak. Tetapi di sela kerusakan itu, Ratna melihat tulang-tulang kekuatan lama: kolam yang dulu indah, jalur batu menuju paviliun-paviliun lain, sisa-sisa kejayaan ibunya.
"Arga," katanya tanpa menoleh. "Kau bilang kau tidak punya tuan. Kenapa? Seorang perwira sepertimu pasti bisa mengabdi pada bangsawan mana pun dan mendapat kedudukan."
Arga terdiam lama. Lalu ia berkata pelan, "Karena hamba pernah punya tuan. Pangeran Jayanagara. Putra mahkota."
Ratna berbalik.
"Hamba pengawal pribadinya," lanjut Arga, suaranya datar tetapi matanya menyimpan sesuatu yang dalam. "Ketika beliau gugur dalam pemberontakan pesisir utara tahun lalu, hamba ada di sana. Hamba melihat bagaimana beliau mati." Ia menatap Ratna. "Dan hamba tahu, Gusti, bahwa pemberontakan itu bukan kebetulan. Bukan sekadar rakyat yang lapar. Seseorang dari dalam keraton ini memancing Pangeran ke utara, ke perangkap. Pangeran Jayanagara tidak gugur karena perang. Beliau dibunuh."
Hening menyergap serambi. Bahkan Nyai Tirta berhenti menumbuk.
"Kau punya bukti?" tanya Ratna.
"Tidak." Arga mengepalkan tangan. "Hanya keyakinan seorang prajurit yang melihat tuannya dijebak. Tidak ada yang mau mendengar. Mereka bilang hamba berduka dan mencari kambing hitam. Maka hamba menyimpannya. Menunggu." Ia menatap Ratna. "Menunggu seseorang yang juga punya alasan untuk menggali kebenaran. Seseorang yang darah raja, tetapi tidak bagian dari para serigala yang membunuh tuan hamba."
Ratna memahami sekarang. Arga tidak mengikutinya karena rasa ingin tahu belaka. Ia mengikutinya karena Ratna adalah kesempatan—mungkin satu-satunya—untuk membongkar kematian Jayanagara. Dan bila Pangeran benar-benar dibunuh oleh orang dalam, maka pembunuh itu kemungkinan besar orang yang sama yang kini berebut takhta.
"Kalau Pangeran Jayanagara dibunuh," kata Ratna pelan, merangkai benang-benang dalam pikirannya, "maka ayahku mangkat tanpa pewaris bukan karena nasib. Tetapi karena seseorang menyingkirkan setiap penghalang menuju takhta. Putra mahkota mati. Lalu Sang Prabu... " Ia berhenti, sebuah pikiran dingin menjalar. "Resi Patala bilang asma ayahku memburuk tiba-tiba di malam purnama. Bagaimana kalau itu juga bukan kebetulan?"
Arga menatapnya. "Gusti berpikir Sang Prabu juga dibunuh?"
"Aku berpikir," kata Ratna, "bahwa ada seseorang yang sangat sabar dan sangat haus kuasa, yang telah merencanakan ini selama bertahun-tahun. Membersihkan jalan satu per satu. Dan sekarang hampir tiba di garis akhir." Ia menatap keris Naga Sasra di pinggangnya. "Kecuali bahwa ayahku, di saat terakhir, melempar sebuah batu ke jalan mereka. Batu bernama Ratnaswari."
Itulah, ia sadari, mengapa pembunuh datang begitu cepat. Ia bukan sekadar putri yang merepotkan. Ia adalah pengacau dalam rencana yang nyaris sempurna.
"Maka kita punya tujuan yang sama," kata Ratna, mengulurkan tangannya pada Arga—sebuah gerakan yang tidak lazim antara putri dan prajurit, tetapi Ratna bukan putri yang lazim. "Kau ingin tahu siapa yang membunuh Pangeran. Aku ingin tahu siapa yang ingin membunuhku, dan siapa yang merebut takhta ayahku. Jalan kita sama, Bayangkara Arga. Maukah kau berjalan di sisiku?"
Arga menatap tangan itu. Lalu, perlahan, ia berlutut dan menyentuhkan dahinya ke punggung tangan Ratna—sumpah seorang prajurit pada tuannya.
"Hingga kebenaran terungkap, Gusti," katanya. "Atau hingga hamba mati."
Ratna merasakan sesuatu yang langka di tempat ini: bukan lagi sendirian. Tetapi ia juga tahu, satu sekutu di tengah lautan musuh hanyalah awal. Untuk memenangkan dewan dalam empat puluh hari—kini tinggal tiga puluh lima—ia butuh lebih banyak. Dan setiap sekutu di keraton ini punya harga, dan punya bahaya.
Langkah berikutnya, ia tahu, adalah yang paling berbahaya dari semua: menemui sang singa yang sebenarnya.