Adipati Krendrawira tiba di ibu kota pada hari ketujuh belas masa berkabung.
Ia datang bukan dengan bisik-bisik seperti Patih Suryaning, tetapi dengan derap. Lima ratus prajurit berkuda mengiringinya melalui gerbang kota, panji-panji merah berkibar, tombak-tombak berkilau di bawah matahari. Rakyat berdesakan menonton, sebagian dengan takut, sebagian dengan kagum. Sang Adipati duduk di atas kuda hitam besar, tubuhnya tegap meski usianya sudah lewat lima puluh, wajahnya berbekas luka perang lama. Inilah lelaki yang menumpas tiga pemberontakan di perbatasan barat. Inilah singa Wilwa.
Patih Suryaning menyambutnya di pelataran agung dengan senyum yang terlalu lebar. "Adipati Krendrawira, sungguh kehormatan. Tetapi... lima ratus prajurit? Di masa berkabung? Bukankah itu sedikit berlebihan?"
"Di masa seperti ini, Patih," balas Krendrawira dengan suara serak berat, "seorang adipati yang datang tanpa pengawal adalah seorang adipati yang ingin mati. Aku sudah terlalu tua untuk percaya pada kesopanan ibu kota."
Tatapan kedua lelaki itu bertemu—dua predator yang saling mengukur. Dan di antara mereka, di tangga pendopo, berdiri Ratna.
Ia telah memilih untuk hadir. Resi Patala memperingatkannya agar tetap di paviliun, menjauh dari benturan dua kekuatan ini. Tetapi Ratna tahu, bila ia bersembunyi sekarang, ia akan dianggap tidak relevan—dan yang tidak relevan akan dilindas saat dua singa bertarung. Ia harus terlihat. Harus diperhitungkan.
Mata Adipati Krendrawira menemukannya. Ia turun dari kuda, melangkah mendekat, dan menatap Ratna dari atas ke bawah—penilaian seorang panglima terhadap medan yang belum dikenalnya.
"Jadi ini putri yang bangkit dari kubur," katanya. "Putri Ratnaswari. Anak Dyah Pramesti."
"Adipati mengenal ibuku?" tanya Ratna.
"Aku mengenal semua orang yang pernah membuat keraton ini gemetar." Krendrawira tersenyum tipis, dan luka di pipinya menarik wajahnya jadi seringai. "Ibumu nyaris mengubah arah dinasti ini dengan kata-kata saja. Berbahaya. Para penjilat di sini takut padanya. Aku tidak." Ia mencondongkan tubuh sedikit. "Aku menghormatinya."
Ratna menyimpan kata-kata itu. Di antara semua bangsawan, hanya Krendrawira dan Ki Demang Anggralocana yang berbicara tentang ibunya dengan rasa hormat alih-alih remehan. Sebuah catatan kecil, tetapi penting.
"Adipati datang untuk takhta," kata Ratna langsung. Di sekeliling, beberapa bangsawan tersentak oleh keterusterangan itu.
Krendrawira tertawa—tawa kasar seorang prajurit. "Anak ini bicara seperti ibunya. Ya, Gusti Putri. Aku datang untuk takhta. Aku tidak bersembunyi di balik senyum seperti Patih kita yang terhormat. Wilwa butuh raja yang bisa memegang pedang, bukan raja yang bisa menghitung pajak. Para pemberontak di perbatasan mencium kelemahan. Kerajaan tetangga mengasah parang. Bila takhta dibiarkan kosong terlalu lama, Wilwa akan dikoyak dari luar sebelum sempat berkelahi dari dalam."
Ada kebenaran dalam kata-katanya, Ratna mengakui dalam hati. Itulah yang membuat Krendrawira lebih berbahaya daripada Patih. Patih hanya menginginkan kuasa. Tetapi Krendrawira—Krendrawira benar-benar percaya ia menyelamatkan Wilwa. Dan orang yang percaya pada kebenarannya sendiri tidak bisa ditawar dengan logika.
"Lalu kenapa Adipati berbicara padaku," tanya Ratna, "alih-alih mengabaikanku seperti yang lain?"
Krendrawira menatapnya lama. "Karena kau, Gusti Putri, memegang sesuatu yang tidak kupunya. Darah yang murni. Dewan agung tidak akan pernah merestui seorang adipati merebut takhta dengan pedang—mereka terlalu takut pada presedennya. Tetapi seorang adipati yang menikahi darah raja..." Ia membiarkan kalimat itu menggantung. "Itu cerita yang berbeda."
Hening tajam menyergap pelataran. Bahkan Patih Suryaning membeku.
Ratna memahami seketika. Krendrawira tidak menawarinya aliansi. Ia menawarinya pernikahan—sebuah jalan untuk menyatukan pedangnya dengan darahnya, membuatnya tak terbantahkan di mata dewan. Dan dalam pernikahan itu, Ratna akan menjadi apa? Permaisuri hiasan. Cap stempel pada kekuasaan lelaki ini. Hidup, mungkin, tetapi dikurung dalam sangkar emas, persis seperti yang diinginkan Patih dengan cara yang lebih halus.
"Adipati menyanjungku," kata Ratna, suaranya tetap tenang meski jantungnya berpacu. "Tetapi ayahku baru tujuh belas hari mangkat. Berbicara tentang pernikahan di masa berkabung... bahkan seorang singa pun harus menghormati adat."
Krendrawira menyipitkan mata, lalu tertawa lagi. "Pandai. Kau menolak tanpa menolak. Baiklah, Gusti Putri. Aku lelaki yang sabar—lebih sabar dari yang dikira orang." Ia berbalik untuk pergi, lalu berhenti. "Tetapi sabarku ada batasnya. Masa berkabung empat puluh hari. Saat dewan berkumpul, salah satu dari kita akan duduk di takhta itu. Akan lebih baik bila kau memilih untuk berada di sisi yang menang."
Ia berlalu dengan derap kaki yang menggetarkan lantai. Dan Ratna berdiri di tangga pendopo, terjepit di antara dua singa yang kini sama-sama menatapnya—Patih dengan racunnya, Adipati dengan pedangnya. Keduanya menginginkan dirinya sebagai alat, bukan sebagai ratu.
Malam itu, Ratna menulis di lontarnya dengan tangan yang mantap: Untuk menang, aku tidak boleh menjadi alat siapa pun. Aku harus membuat mereka saling membutuhkan diriku—dan membuat dewan membutuhkanku lebih dari mereka.
Ia belum tahu caranya. Tetapi ia tahu di mana harus mulai mencari: dalam rahasia-rahasia yang dikubur keraton ini. Termasuk rahasia tentang kematian ayahnya.