"Aku ingin melihat kamar tempat ayahku mangkat," kata Ratna pada Resi Patala.
Penasihat agung itu tampak terkejut, lalu waspada. "Kamar peraduan Sang Prabu sudah disegel, Gusti. Hanya boleh dibuka saat raja baru bertakhta. Itu adat."
"Adat dibuat oleh manusia, dan manusia membuatnya untuk alasan tertentu." Ratna menatapnya. "Resi, kau bilang asma ayahku memburuk tiba-tiba di malam purnama. Tetapi aku sudah bicara dengan dayang-dayang tua yang mengabdi padanya. Mereka bilang Sang Prabu sehat sepanjang bulan itu. Berburu, bahkan, sepuluh hari sebelum mangkat. Lalu tiba-tiba, dalam semalam, beliau wafat." Ia merendahkan suaranya. "Aku ingin tahu apa yang ada di kamar itu. Dan kupikir, kau juga ingin tahu—kalau tidak, kau tidak akan menjadi saksi wasiat di saat-saat terakhir beliau."
Resi Patala terdiam lama. Cahaya senja menerpa wajahnya yang tua. Akhirnya ia menghela napas. "Gusti benar. Hamba pun menyimpan keraguan yang sama sejak malam itu. Tetapi hamba terlalu takut—atau terlalu tua—untuk menggalinya sendiri." Ia bangkit. "Ikut hamba. Tetapi kita harus cepat, dan diam-diam. Bila Patih tahu kita membuka segel..."
Mereka pergi saat para abdi sedang sibuk menyiapkan upacara malam. Arga mengawal dari kejauhan, matanya mengawasi setiap lorong. Resi Patala membuka segel kamar peraduan dengan kunci yang hanya dimiliki penasihat agung, dan mereka menyelinap masuk.
Kamar itu gelap dan pengap, berbau cendana yang sudah memudar dan sesuatu yang lebih pahit di baliknya. Ranjang besar berukir masih tertata, seakan menunggu pemiliknya kembali. Ratna berdiri di ambang, dan untuk sesaat ia hanya merasakan kehadiran ayahnya—lelaki yang nyaris tidak ia kenal, tetapi yang di saat terakhir hidupnya, mempercayakan kerajaan padanya.
Lalu ia mulai bekerja.
Ratna memeriksa segala sesuatu dengan ketelitian yang ia pelajari dari memeriksa angka pajak yang berbohong. Cawan-cawan minum. Sisa ramuan obat di meja kecil. Pakaian. Bantal. Ia membaui, menyentuh, mengamati. Resi Patala memegang lampu dengan tangan gemetar.
"Di sini," kata Ratna akhirnya, berhenti di depan sebuah pembakaran dupa kecil di sudut. Ia mengaduk abu di dalamnya dengan ujung kerisnya. Di antara abu kelabu, ada serpihan yang berbeda—hitam, mengkilap, seperti getah kering. "Resi, kemari. Cium ini."
Resi Patala mendekat, lalu wajahnya pucat. "Ini... bunga kecubung yang dibakar. Kalau dibakar perlahan di kamar tertutup, asapnya... dalam dosis kecil, hanya membuat orang mengantuk dan lemah. Tetapi malam demi malam..."
"Malam demi malam, ia akan membuat seorang lelaki sehat tampak seperti sekarat karena asma," sambung Ratna, suaranya dingin. "Tanpa jejak racun di makanan atau minuman. Tanpa kecurigaan. Hanya 'asma yang memburuk'." Ia menggenggam serpihan itu. "Ayahku tidak mangkat karena sakit, Resi. Ia diasapi sampai mati. Perlahan. Oleh seseorang yang punya akses ke kamar peraduannya setiap malam."
Resi Patala terhuyung, bersandar ke tiang ranjang. "Astaga. Hamba duga... hamba selalu duga... tetapi melihat buktinya..."
"Siapa yang bertanggung jawab atas pembakaran dupa di kamar ini?" tanya Ratna tajam.
"Para dayang dalam. Tetapi mereka diawasi oleh... " Resi Patala menelan ludah. "Oleh kepala rumah tangga istana. Nyai Gandes. Dan Nyai Gandes... mengabdi langsung di bawah perintah Patih Suryaning."
Maka benang itu menunjuk pada Patih lagi. Tetapi Ratna teringat pelajaran semalam: setiap kebenaran di tempat ini punya tiga bayangan. Apakah ini bukti sungguhan, atau jejak yang sengaja ditinggalkan agar ia menyalahkan Patih?
"Jangan beri tahu siapa pun," kata Ratna. "Kita segel kembali kamar ini seperti semula. Bukti ini terlalu berharga untuk dibuang dengan tuduhan terburu-buru." Ia membungkus serpihan kecubung yang terbakar itu dengan kain dan menyimpannya. "Kalau aku menuduh Patih sekarang, ia akan menyangkal, menghancurkan bukti, dan membunuhku sebelum fajar. Tetapi kalau aku menunggu, dan menemukan siapa dalang sebenarnya..." Matanya berkilat. "Maka aku punya senjata untuk menghancurkan siapa pun yang kuinginkan, di hadapan dewan agung itu sendiri."
Resi Patala menatapnya dengan campuran kekaguman dan ketakutan. "Gusti... Gusti berpikir seperti seorang raja."
"Tidak, Resi." Ratna menatap ranjang kosong ayahnya untuk terakhir kali sebelum mereka pergi. "Aku berpikir seperti seseorang yang tidak ingin berakhir seperti ibuku. Atau seperti ayahku."
Mereka menyelinap keluar dan menyegel kembali pintu itu. Tetapi saat mereka berbalik di lorong gelap, sebuah suara menghentikan langkah mereka.
"Berjalan-jalan di tempat yang dilarang, Gusti Putri?"
Di ujung lorong, dengan lampu di tangan dan senyum dingin di wajahnya, berdiri seorang perempuan tua berkain hitam. Wajahnya keras, matanya tajam seperti mata burung pemangsa.
Nyai Gandes. Kepala rumah tangga istana. Orang yang baru saja mereka curigai.
Dan ia telah melihat mereka keluar dari kamar peraduan yang tersegel.