Untuk sesaat, lorong itu membeku.
Resi Patala pucat pasi. Ratna bisa merasakan sang penasihat agung gemetar di sisinya—seorang tua yang seketika menyadari bahwa nyawanya kini tergantung di ujung lidah perempuan berkain hitam itu. Bila Nyai Gandes melapor pada Patih bahwa mereka membongkar kamar peraduan, keduanya akan dituduh menodai kesucian raja yang mangkat. Sebuah dosa yang cukup untuk menghukum mati siapa pun, bahkan seorang putri.
Tetapi Ratna tidak menunjukkan ketakutan. Ia telah belajar, di desa dan kini di sini, bahwa pemangsa menyerang yang lari, bukan yang berdiri.
"Nyai Gandes," kata Ratna, melangkah maju alih-alih mundur. Suaranya tenang, nyaris ramah. "Justru kau yang kucari."
Mata perempuan tua itu menyipit, terkejut oleh respons yang tidak ia duga. "Mencari hamba, Gusti?"
"Tentu." Ratna berhenti tepat di hadapannya, cukup dekat untuk berbisik. "Aku ingin tahu tentang malam-malam terakhir ayahku. Dan siapa lagi yang lebih tahu daripada kepala rumah tangga yang mengurus segala kebutuhan beliau?" Ia menatap mata burung pemangsa itu lurus-lurus. "Termasuk dupa yang dibakar di kamar peraduan setiap malam."
Sesuatu berkelebat di mata Nyai Gandes—kaget, lalu waspada, lalu sesuatu yang lebih dalam. Ketakutan.
Ratna menangkapnya. Dan dalam sekejap, ia memahami: perempuan ini tahu. Nyai Gandes tahu tentang kecubung itu. Tetapi caranya tampak takut—bukan takut ketahuan, melainkan takut pada sesuatu yang lebih besar—membuat Ratna mengubah seluruh perhitungannya.
"Hamba tidak tahu apa yang Gusti maksud," kata Nyai Gandes, tetapi suaranya bergetar tipis.
"Kupikir kau tahu." Ratna merendahkan suaranya lagi, hingga hanya mereka bertiga yang bisa mendengar. "Dan kupikir kau melakukannya bukan karena kau ingin. Aku melihat banyak hal, Nyai. Aku melihat tanganmu gemetar. Aku melihat matamu saat kusebut dupa itu. Kau bukan dalang. Kau alat. Sama sepertiku, kau sedang dipaksa oleh seseorang." Ratna membiarkan kata-kata itu meresap. "Pertanyaannya, Nyai—apakah kau mau terus jadi alat sampai mereka tidak membutuhkanmu lagi dan membuangmu seperti saksi yang berbahaya? Atau kau mau, untuk sekali ini, memilih sisi yang mungkin melindungimu?"
Nyai Gandes menatapnya lama. Lampu di tangannya bergetar, menari-narikan bayangan di dinding. Di balik wajah keras itu, Ratna melihat retakan—retakan dari seseorang yang telah lama hidup dalam ketakutan, melakukan hal-hal yang membuatnya tidak bisa tidur.
"Gusti tidak tahu apa yang Gusti hadapi," bisik Nyai Gandes akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Orang yang... orang itu... bukan Patih. Bukan pula Adipati. Mereka berdua hanya bidak, sama seperti hamba. Sama seperti Gusti." Matanya melebar oleh teror. "Ada tangan lain. Tangan yang tidak terlihat. Yang menggerakkan semuanya dari balik tirai. Bahkan hamba tidak tahu wajahnya. Hamba hanya menerima pesan, dan ancaman, dan—"
Ia berhenti tiba-tiba, kepalanya menoleh ke arah lorong, seakan mendengar sesuatu.
"Hamba sudah berkata terlalu banyak," desisnya, ketakutan kembali mencengkeram wajahnya. "Bila Gusti ingin hidup, lupakan kamar peraduan. Lupakan dupa. Dan jangan—" suaranya tercekat, "—jangan percaya pada siapa pun yang tampak menjadi sekutu Gusti. Tangan itu menanam orangnya di mana-mana. Bahkan di tempat yang paling Gusti percaya."
Lalu Nyai Gandes berbalik dan bergegas pergi ke dalam kegelapan, lampunya berkedip menjauh, meninggalkan Ratna dan Resi Patala dalam keremangan.
Resi Patala menghembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. "Gusti... apakah ia berkata jujur? Atau ini jebakan lain?"
"Aku tidak tahu," kata Ratna pelan, menatap ke arah perempuan itu menghilang. Tetapi sesuatu di dalam dirinya tahu—rasa takut yang ia lihat di mata Nyai Gandes tidak bisa dipalsukan. Itu takut sejati. Takut seseorang yang berdiri di tepi jurang yang lebih dalam dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Tangan yang tidak terlihat. Bukan Patih, bukan Adipati. Sebuah kekuatan ketiga, lebih sabar dan lebih berbahaya, yang telah menggerakkan seluruh tragedi ini—kematian Pangeran Jayanagara, racun di paru-paru ayahnya, pembunuh di kamarnya sendiri—seperti seorang dalang menggerakkan wayang di balik kelir.
Dan kata-kata terakhir Nyai Gandes berdengung di telinga Ratna seperti lonceng yang tak mau berhenti: Jangan percaya pada siapa pun yang tampak menjadi sekutu Gusti.
Ratna menoleh perlahan pada Resi Patala. Pada lelaki tua yang mengaku saksi wasiat ayahnya. Yang menuntunnya ke kamar peraduan. Yang tahu setiap rahasia keraton ini.
Lalu pikirannya melayang ke Arga—prajurit yang muncul tepat saat pembunuh datang. Yang kejujurannya begitu sempurna hingga nyaris terlalu sempurna.
Bahkan di tempat yang paling Gusti percaya.
Untuk pertama kalinya sejak tiba di keraton, Ratna merasakan sesuatu yang lebih dingin daripada ancaman pisau di malam hari: keraguan terhadap satu-satunya orang yang ia anggap berada di pihaknya.